Tokyo Naikkan Pajak Hotel

Pemerintah Metropolitan Tokyo mengumumkan perubahan besar pada sistem pajak akomodasi yang akan mulai berlaku pada April 2027. Kebijakan ini menggantikan sistem tarif tetap yang selama ini digunakan menjadi skema berbasis persentase dari biaya menginap. Perubahan tersebut akan berlaku untuk seluruh tamu, baik warga Jepang maupun wisatawan mancanegara.

image

(Image by: Pakutaso)

Saat ini, tamu yang menginap di hotel atau ryokan (penginapan tradisional Jepang) dikenakan pajak sebesar 100 yen per orang per malam untuk tarif kamar antara 10.000 hingga 15.000 yen. Sementara itu, kamar dengan tarif 15.000 yen atau lebih dikenakan pajak sebesar 200 yen per orang per malam. Akomodasi dengan harga di bawah 10.000 yen per orang per malam masih dibebaskan dari pajak.

Mulai April 2027, batas minimum kamar yang bebas pajak akan dinaikkan menjadi 13.000 yen per orang per malam. Untuk tarif di atas angka tersebut, pajak akomodasi akan dihitung sebesar tiga persen dari biaya menginap, sehingga besaran pajak yang dibayarkan akan menyesuaikan dengan harga kamar.

Sebagai contoh, apabila dua orang menginap di kamar hotel dengan tarif 30.000 yen per malam, maka pajak akomodasi yang dikenakan mencapai 900 yen per malam atau 450 yen untuk setiap tamu. Jumlah tersebut lebih dari dua kali lipat dibandingkan sistem yang berlaku saat ini, di mana total pajak untuk kamar dengan harga yang sama hanya sebesar 400 yen per malam.

image

(Image by: Pakutaso)

Perubahan lainnya adalah perluasan cakupan objek pajak. Jika sebelumnya akomodasi seperti rumah liburan sewa dan guesthouse berlisensi tidak dikenakan pajak akomodasi, mulai April 2027 jenis penginapan tersebut juga akan dikenakan tarif yang sama. Dengan demikian, tamu yang menginap di akomodasi bergaya Airbnb maupun penginapan sejenis akan dikenai pajak sesuai nilai biaya menginap.

Pemerintah Tokyo menegaskan bahwa kebijakan baru ini diterapkan tanpa membedakan kewarganegaraan maupun tempat tinggal tamu. Menurut pemerintah, sistem tersebut dibuat berdasarkan aktivitas menginap, karena verifikasi status setiap pengunjung dinilai tidak praktis untuk diterapkan.

Melalui perubahan ini, Pemerintah Metropolitan Tokyo memperkirakan penerimaan pajak akomodasi dapat mencapai sekitar 19 miliar yen setiap tahun. Dana tersebut direncanakan untuk mendukung berbagai program terkait pariwisata, seperti meningkatkan kenyamanan wisatawan, membantu daerah yang terdampak tingginya jumlah pengunjung, memperkuat layanan akomodasi, serta mendorong pengembangan pariwisata yang lebih bersih dan berkelanjutan.

Kebijakan ini juga mencerminkan tren yang mulai diterapkan di berbagai wilayah Jepang dalam menghadapi meningkatnya jumlah wisatawan. Kota-kota seperti Kyoto, Osaka, Fukuoka, dan Kanazawa telah lebih dahulu memberlakukan pajak akomodasi, sementara sejumlah daerah wisata lainnya juga tengah mempertimbangkan kebijakan serupa. Bagi wisatawan yang berencana mengunjungi Tokyo mulai April 2027, biaya pajak menginap diperkirakan akan lebih tinggi dibandingkan sebelumnya, terutama untuk hotel dengan tarif menengah hingga premium.

Source: Sora News 24

 

Shizuoka Setujui Jalur Maglev

Pemerintah Prefektur Shizuoka resmi memberikan izin kepada Central Japan Railway Co. (JR Central) untuk memulai pembangunan bagian jalur di wilayah Shizuoka dalam proyek kereta cepat Linear Chuo Shinkansen yang akan menghubungkan Tokyo dan Nagoya. Keputusan tersebut diumumkan langsung oleh Gubernur Shizuoka, Yasutomo Suzuki, dalam sidang majelis prefektur pada Selasa.

image

Foto kendaraan test untuk Linear Chuo Shinkansen. (Image by: Central Japan Railway Co. | Kyodo)

Persetujuan ini menjadi titik balik penting bagi proyek yang selama bertahun-tahun mengalami penundaan. Sejak 2017, pembangunan sempat terhambat karena penolakan mantan Gubernur Heita Kawakatsu yang menyoroti potensi dampak lingkungan, terutama kemungkinan berkurangnya debit air di Sungai Oi yang menjadi sumber air penting bagi wilayah Shizuoka.

Sebagai tindak lanjut, Pemerintah Prefektur Shizuoka dijadwalkan menandatangani perjanjian dengan JR Central pada 18 Juli berdasarkan peraturan konservasi lingkungan alam yang berlaku. Kesepakatan tersebut merupakan syarat administratif yang harus dipenuhi sebelum pekerjaan konstruksi dapat dimulai.

Setelah seluruh prosedur selesai, pembangunan di wilayah Shizuoka diperkirakan dapat dimulai pada tahun ini. Proses konstruksi untuk bagian tersebut diperkirakan membutuhkan waktu sedikitnya 10 tahun sehingga jalur Tokyo–Nagoya diproyeksikan baru dapat beroperasi paling cepat pada tahun 2036.

image

Foto kendaraan test untuk Linear Chuo Shinkansen. (Image by: Central Japan Railway Co. | Kyodo)

Gubernur Yasutomo Suzuki menjelaskan bahwa keputusan memberikan izin diambil setelah melihat adanya peningkatan pemahaman masyarakat terhadap proyek tersebut. Meski demikian, ia mengakui masih ada sebagian warga yang menyampaikan kekhawatiran mengenai dampak pembangunan terhadap kondisi Sungai Oi.

Suzuki juga meminta JR Central memastikan seluruh proses pembangunan berjalan seiring dengan upaya pelestarian sumber daya air dan lingkungan. Pemerintah Prefektur Shizuoka menyatakan akan terus melakukan pemantauan selama tahap konstruksi berlangsung agar komitmen tersebut dapat dipenuhi.

image

(Image by: Kyodo)

Sebelum izin diberikan, JR Central diwajibkan memberikan penjelasan secara menyeluruh kepada masyarakat setempat mengenai rencana pembangunan. Hingga Maret lalu, panel ahli bentukan pemerintah prefektur telah menyatakan seluruh 28 poin perlindungan lingkungan yang diminta kepada perusahaan telah dipenuhi, sehingga keputusan akhir berada di tangan gubernur.

Proyek Linear Chuo Shinkansen awalnya ditargetkan menghubungkan Stasiun Shinagawa di Tokyo dengan Stasiun Nagoya pada 2027. Namun, pada Maret 2024 JR Central mengakui target tersebut tidak dapat tercapai akibat tertundanya pembangunan di Shizuoka. Jalur yang melintasi wilayah ini memiliki panjang sekitar 8,9 kilometer dan merupakan bagian dari Terowongan Southern Alps yang membentang di Prefektur Yamanashi, Shizuoka, dan Nagano. Sungai Oi yang melintasi kawasan tersebut memiliki peran penting sebagai sumber irigasi bagi lahan persawahan dan perkebunan teh khas Prefektur Shizuoka.

 

WNI Tewas Ditusuk di Jepang

image

(Image by: Pakutaso)

Seorang warga negara Indonesia (WNI) berusia 20 tahun meninggal dunia setelah mengalami penusukan di apartemen tempat tinggalnya di Kota Hamamatsu, Prefektur Shizuoka, Jepang, pada Senin (7/7). Kepolisian Prefektur Shizuoka saat ini masih menyelidiki kasus tersebut, termasuk kemungkinan keterkaitannya dengan seorang pria yang tewas tertabrak kereta tidak lama setelah kejadian.

Korban diketahui bernama Keiko Altaira Hanafi. Berdasarkan keterangan kepolisian, ia tinggal bersama kedua orang tuanya di sebuah apartemen di Hamamatsu. Seorang petugas polisi menemukan korban sekitar pukul 11.40 waktu setempat dalam kondisi kritis akibat mengalami beberapa luka tusuk. Korban kemudian dilarikan ke rumah sakit, namun dinyatakan meninggal dunia setelah mendapatkan penanganan medis.

Kasus ini pertama kali terungkap setelah seorang tetangga menghubungi layanan darurat. Dalam laporannya, saksi mengaku mendengar teriakan seorang perempuan dari apartemen di sebelah tempat tinggalnya. Selain itu, saksi juga melaporkan melihat seorang pria berpakaian serba hitam meninggalkan area apartemen sesaat setelah teriakan tersebut terdengar.

Tidak lama setelah laporan penusukan diterima, seorang pria dilaporkan meninggal dunia setelah tertabrak kereta di Jalur JR Tokaido. Polisi kini menyelidiki apakah terdapat hubungan antara kematian pria tersebut dengan kasus penusukan yang menewaskan perempuan asal Indonesia itu. Hingga saat ini, pihak kepolisian belum mengungkap identitas pria yang tewas maupun hubungan keduanya.

image

(Image by: Pakutaso)

Keterangan juga diperoleh dari masinis kereta yang terlibat dalam insiden tersebut. Menurut penyidik, masinis melihat seseorang berpakaian hitam melompati pagar pembatas sebelum memasuki jalur rel sesaat sebelum kereta melintas. Keterangan tersebut kini menjadi bagian dari proses penyelidikan yang sedang dilakukan oleh pihak kepolisian.

Lokasi penusukan berada di kawasan permukiman yang berjarak sekitar 500 meter di sebelah barat Stasiun JR Maisaka, Kota Hamamatsu, Prefektur Shizuoka. Aparat kepolisian telah melakukan olah tempat kejadian perkara di area apartemen serta mengumpulkan keterangan dari sejumlah saksi untuk membantu mengungkap kronologi peristiwa.

Salah seorang saksi yang berusia sekitar 70 tahun mengatakan bahwa ia melihat jejak darah membentang dari pintu masuk apartemen hingga area parkir di luar bangunan. Informasi tersebut turut dicatat oleh penyidik sebagai bagian dari pemeriksaan di lokasi kejadian, bersamaan dengan pengumpulan barang bukti lainnya.

Hingga berita ini ditulis, Kepolisian Prefektur Shizuoka masih melanjutkan penyelidikan untuk mengungkap kronologi lengkap serta memastikan apakah terdapat hubungan antara pria yang tewas tertabrak kereta dengan kasus penusukan tersebut. Polisi juga belum menyampaikan informasi lebih lanjut mengenai motif maupun pihak yang bertanggung jawab atas peristiwa itu.

Sumber: Kyodo News, Mainichi Japan

 

Jepang Perkuat Industri Konten

Pemerintah Jepang tengah mempertimbangkan peningkatan anggaran dukungan bagi industri konten, seperti anime, game, manga, musik, film, dan drama. Berdasarkan informasi dari sejumlah sumber yang mengetahui pembahasan tersebut, nilai dukungan yang disiapkan diperkirakan mencapai sekitar 100 miliar yen per tahun sebagai bagian dari strategi memperkuat daya saing industri kreatif Jepang di pasar internasional.

Rencana tersebut menjadi bagian dari target pemerintah untuk mengamankan sedikitnya 500 miliar yen dalam lima tahun ke depan guna mendukung ekspansi industri konten ke luar negeri. Kebutuhan anggaran itu akan dimasukkan ke dalam usulan anggaran tahun fiskal 2027 yang dijadwalkan mulai disusun pada musim panas tahun ini.

FILE2

Ilustrasi merch anime (Image by: Pakutaso)

Pembahasan mengenai kebijakan baru ini juga berkaitan dengan evaluasi terhadap Cool Japan Fund Inc., perusahaan patungan publik-swasta yang dibentuk lebih dari satu dekade lalu untuk mempromosikan budaya dan produk kreatif Jepang di luar negeri. Dalam beberapa tahun terakhir, lembaga tersebut mencatat akumulasi kerugian besar akibat kinerja yang kurang baik dari sejumlah perusahaan yang menerima investasinya.

Pemerintah Jepang menargetkan arah kebijakan baru ini dapat diputuskan sebelum akhir tahun. Meski demikian, efektivitas penambahan anggaran masih menjadi perhatian karena pemerintah perlu memastikan bahwa dukungan baru tersebut mampu menghasilkan dampak nyata bagi pertumbuhan industri konten Jepang.

Industri konten sendiri saat ini menjadi salah satu dari 17 sektor prioritas yang didorong pemerintah untuk menerima investasi pertumbuhan, bersama sektor strategis lainnya seperti semikonduktor. Nilai penjualan industri konten Jepang di pasar luar negeri telah mencapai sekitar 6 triliun yen per tahun, bahkan melampaui nilai ekspor semikonduktor. Pemerintah pun menargetkan angka tersebut meningkat menjadi 20 triliun yen pada tahun 2033.

Di sektor anime dan manga, pemerintah berencana memberikan dukungan dalam bentuk pelatihan penerjemah serta pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membantu menghasilkan karya yang lebih mudah diterima oleh audiens internasional. Selain itu, pemerintah juga akan memperkuat upaya pemberantasan pembajakan digital yang dilakukan melalui situs-situs luar negeri.

FILE

Foto Akihabara (Image by: Pakutaso)

Sementara itu, pada industri game, pemerintah akan mendorong pengembangan pasar untuk game smartphone dan komputer yang dinilai masih memiliki peluang pertumbuhan lebih besar dibandingkan game konsol rumahan. Dukungan serupa juga akan diberikan kepada industri musik, film, dan drama melalui program pengembangan talenta serta perluasan pasar di luar Jepang.

Dukungan pemerintah terhadap industri konten juga menjadi tren di berbagai negara. Korea Selatan, misalnya, mengalokasikan anggaran sekitar 76 miliar yen pada tahun 2023 untuk sektor serupa. Di Jepang sendiri, kalangan dunia usaha telah lama meminta peningkatan dukungan pemerintah, sementara sekelompok anggota parlemen dari Partai Demokrat Liberal (LDP) turut mengusulkan penyediaan anggaran minimal 500 miliar yen selama lima tahun guna memperkuat daya saing industri kreatif Jepang di tingkat global.

 

WNI Ditangkap Buka Bank Ilegal

Polisi Prefektur Aichi menangkap pasangan suami istri berkewarganegaraan Indonesia yang diduga mengoperasikan layanan transfer uang ilegal atau underground bank (bank bawah tanah) di Jepang. Keduanya diduga menjalankan jasa pengiriman uang ke Indonesia tanpa memperoleh izin resmi sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Perbankan Jepang.

image

(image by: Pakutaso)

Kedua tersangka adalah Enrico Mai Dani (42), seorang wiraswasta yang tinggal di Kota Koshigaya, Prefektur Saitama, dan istrinya, Riska Oktaviamis (33). Mereka ditangkap pada 27 Juni 2026 atas dugaan menjalankan usaha pengiriman uang tanpa lisensi dari otoritas Jepang.

Berdasarkan keterangan kepolisian, Enrico dan Riska diduga menerima permintaan pengiriman uang dari beberapa orang selama periode Juni 2023 hingga Juni 2025. Dalam kurun waktu tersebut, keduanya diduga menerima delapan kali transaksi dengan total nilai sekitar 893.850 yen sebelum dana tersebut dikirim ke rekening tujuan di Indonesia.

Saat menjalani pemeriksaan, Enrico membantah tuduhan yang dialamatkan kepadanya dengan menyatakan tidak melakukan perbuatan tersebut. Sementara itu, Riska mengakui dugaan pelanggaran yang disampaikan penyidik. Kepolisian masih terus mendalami kasus ini untuk mengungkap seluruh aktivitas yang diduga dilakukan oleh keduanya.

underground

(image by: Pakutaso)

Hasil penyelidikan sementara menunjukkan bahwa aktivitas pengiriman uang tanpa izin tersebut diduga telah berlangsung sejak sekitar tahun 2015. Polisi juga menduga pasangan tersebut memperoleh biaya jasa sekitar 500 hingga 1.000 yen untuk setiap transaksi. Total dana yang diduga telah dikirim melalui layanan tersebut diperkirakan mencapai sekitar 1 miliar yen.

Di Jepang, istilah underground bank merujuk pada aktivitas perantara pengiriman uang atau transaksi valuta yang dilakukan oleh pihak selain bank maupun penyedia jasa transfer dana yang telah memperoleh izin resmi. Berdasarkan Undang-Undang Perbankan Jepang, kegiatan tersebut dapat dikenai sanksi pidana apabila dilakukan tanpa lisensi dan dengan tujuan memperoleh imbalan.

yen resize

(image by: Pakutaso)

Data Badan Layanan Imigrasi Jepang mencatat bahwa hingga akhir 2025 terdapat 266.069 warga negara Indonesia yang tinggal di Jepang, menjadikan Indonesia sebagai kelompok warga negara asing terbesar keenam di negara tersebut. Prefektur Aichi menjadi wilayah dengan jumlah warga Indonesia terbanyak, yakni sekitar 21.153 orang, sedangkan Prefektur Saitama berada di peringkat keempat dengan sekitar 14.497 orang.

Polisi menduga layanan transfer uang ilegal tersebut dimanfaatkan oleh sebagian warga Indonesia yang tidak menggunakan jalur pengiriman uang resmi, termasuk mereka yang mengalami kendala dalam memenuhi persyaratan administrasi. Hingga kini, penyidik masih menelusuri aliran dana, rekening tujuan, serta kemungkinan adanya pihak lain yang terlibat. Kasus ini masih dalam proses penyidikan dan belum ada putusan pengadilan terhadap kedua tersangka.

 

West Express Ginga Kembali

image

West Express Ginga (Image by: JR West

Kereta wisata malam West Express Ginga kembali beroperasi untuk musim panas tahun ini dengan menghadirkan perjalanan yang menghubungkan Kyoto dan Shingu di Semenanjung Kii, Jepang. Layanan yang dioperasikan oleh JR West (West Japan Railway Company) tersebut mulai berjalan pada 3 Juli dan menawarkan pengalaman perjalanan yang memadukan pemandangan pesisir, kuliner lokal, hingga berbagai aktivitas budaya selama di dalam kereta maupun di sejumlah stasiun pemberhentian.

Memasuki tahun keenam pengoperasiannya di rute Semenanjung Kii, West Express Ginga dijadwalkan melayani 24 perjalanan pulang pergi hingga 30 September. Penumpang dapat memilih layanan siang maupun malam. Kereta malam berangkat dari Kyoto pada pukul 21.13 dan tiba di Shingu keesokan harinya pukul 09.35, sedangkan perjalanan siang dari Shingu menuju Kyoto berangkat pukul 13.05 dan tiba pukul 20.53.

image

West Express Ginga (Image by: Japan.Travel)

Selama perjalanan malam, penumpang akan mendapatkan berbagai informasi mengenai destinasi wisata dan produk khas wilayah Wakayama bagian selatan. Pemandu juga memberikan penjelasan mengenai kawasan geopark di sepanjang jalur antara Kushimoto dan Shingu. Selain itu, tersedia sesi pengenalan mengenai roket dan eksplorasi luar angkasa yang mencerminkan keterkaitan kawasan tersebut dengan industri antariksa Jepang.

Salah satu daya tarik utama perjalanan ini adalah pemberhentian lebih lama di Stasiun Wakayama. Pada kesempatan tersebut, penumpang dapat membeli Wakayama ramen untuk dibawa ke dalam kereta. Setelah itu, kereta juga berhenti sekitar satu jam di Stasiun Kushimoto, di mana wisatawan dapat menikmati paket burger tuna katsu melalui reservasi terlebih dahulu atau menggunakan bus khusus menuju formasi batu terkenal Hashigui-iwa.

Setibanya di Shingu, penumpang memiliki kesempatan mengikuti tur berpemandu ke Kumano Hayatama Taisha, salah satu dari tiga kuil utama di kawasan Kumano. Sementara itu, layanan perjalanan siang lebih menitikberatkan pada interaksi dengan masyarakat setempat melalui penjualan produk daerah, kuis, serta berbagai kegiatan yang diselenggarakan di ruang komunal kereta.

image

West Express Ginga (Image by: Japan.Travel)

Di sejumlah stasiun sepanjang rute, para penumpang juga akan disambut dengan makanan khas dan aktivitas lokal. Di Stasiun Kushimoto, pelaku usaha serta organisasi pariwisata setempat membuka stan khusus untuk menyambut wisatawan, sementara maskot persahabatan Jepang-Turki milik Kota Kushimoto, MaguToru, turut hadir menyapa para penumpang. Kereta juga berhenti di Stasiun Kainan, tempat berbagai kuliner khas seperti sushi hamo dan hayanarezushi tersedia untuk dibeli, dengan beberapa menu memerlukan pemesanan sebelumnya.

Keterlibatan masyarakat lokal juga menjadi bagian penting dari pengalaman West Express Ginga. Mahasiswa dari Kinokuni Line Revitalisation Project milik Universitas Wakayama ikut membagikan peta rute yang dirancang khusus, memberikan pengumuman selama perjalanan, serta mengadakan kuis bagi para penumpang. Sebagai tambahan baru pada musim operasi tahun ini, JR West juga menghadirkan stempel eksklusif West Express Ginga di sejumlah stasiun yang dilalui, terpisah dari program stempel stasiun reguler yang populer di kalangan penggemar kereta.

Menurut JR West, tiket untuk perjalanan perdana musim ini telah habis terjual. Operator kereta tersebut menyebut kombinasi panorama Samudra Pasifik, kawasan geopark, serta kesempatan berinteraksi langsung dengan masyarakat lokal menjadikan West Express Ginga sebagai salah satu kereta wisata paling unik di Jepang bagian barat dan tetap diminati wisatawan setiap musim panas.

 

Kamera Tilang Dicuri di Jepang

Sebuah kamera tilang portabel milik Polisi Prefektur Saitama dilaporkan hilang saat sedang digunakan dalam operasi penindakan pelanggaran kecepatan di Jepang. Insiden yang tergolong tidak biasa ini terjadi pada malam 18 Juni 2026 di sepanjang Rute Nasional 125, Kota Kazo, Prefektur Saitama. Hingga kini, kepolisian masih menyelidiki kasus pencurian tersebut sekaligus memburu pelaku yang membawa kabur perangkat bernilai tinggi itu.

Di Jepang, operasi penindakan pelanggaran batas kecepatan umumnya dilakukan secara terkoordinasi oleh beberapa petugas. Seorang polisi bertugas mengoperasikan alat pengukur kecepatan, sementara petugas lain menghentikan kendaraan yang terdeteksi melanggar di lokasi berbeda. Metode ini dipilih agar penindakan dapat dilakukan tanpa perlu melakukan pengejaran berkecepatan tinggi yang berisiko terhadap keselamatan pengguna jalan maupun petugas.

image

Ilustrasi polisi jepang (image by: pakutaso)

Dalam beberapa tahun terakhir, kepolisian mulai memanfaatkan kamera tilang portabel otomatis yang dapat memotret pelat nomor kendaraan pelanggar sehingga surat tilang dapat diproses tanpa harus menghentikan kendaraan secara langsung. Polisi Prefektur Saitama diketahui mengoperasikan lima unit perangkat tersebut sebagai bagian dari upaya meningkatkan efisiensi penegakan hukum di jalan raya.

Pada malam kejadian, dua petugas memasang kamera tilang tersebut di atas tripod di trotoar, kemudian memarkir mobil patroli sekitar 100 meter dari lokasi agar tetap dapat melakukan pengawasan tanpa terlihat oleh pengendara. Namun, antara pukul 22.50 hingga 23.24 waktu setempat, perangkat tersebut ternyata berhasil dicuri tanpa diketahui oleh petugas yang sedang berjaga.

Perangkat yang hilang memiliki ukuran sekitar 50 × 50 × 20 sentimeter dengan berat kurang lebih 20 kilogram. Nilainya diperkirakan mencapai sekitar 9 juta yen atau setara puluhan ribu dolar Amerika Serikat. Polisi juga mengungkapkan bahwa di dalam memori kamera tersebut tersimpan data berupa foto pelat nomor sekitar 10 kendaraan yang diduga melakukan pelanggaran kecepatan. Meski demikian, hingga saat ini tidak ditemukan indikasi bahwa data pribadi tersebut telah bocor atau disalahgunakan.

image

Ilustrasi polisi jepang (image by: pakutaso)

Kasus ini disebut sebagai pencurian pertama terhadap kamera tilang jenis "portable Orbis" di Jepang. Istilah "Orbis" sendiri telah lama digunakan sebagai sebutan umum untuk sistem kamera pengawas kecepatan di negara tersebut, meskipun perangkat yang digunakan saat ini diproduksi oleh perusahaan yang berbeda dari sistem Orbis generasi awal yang mulai diperkenalkan pada era 1970-an.

Peristiwa ini memicu beragam tanggapan dari masyarakat Jepang. Banyak warganet mempertanyakan bagaimana perangkat tersebut bisa hilang dalam waktu lebih dari 30 menit tanpa diketahui petugas. Sebagian juga menilai pencurian aset kepolisian bernilai tinggi tersebut menjadi evaluasi penting terhadap prosedur pengawasan saat operasi penegakan hukum berlangsung.

Polisi Prefektur Saitama menyatakan telah membuka penyelidikan penuh untuk mengungkap pelaku pencurian dan menemukan kembali kamera tilang yang hilang. Selain kerugian materiil yang cukup besar, kasus ini juga menjadi perhatian karena melibatkan perangkat resmi kepolisian yang digunakan dalam penegakan aturan lalu lintas di Jepang.

 

Kastil Hikone Terdampak Topan

Sebagian tembok batu di Kastil Hikone, Prefektur Shiga, dilaporkan runtuh setelah wilayah tersebut diguyur hujan lebat yang dipicu oleh Topan No. 7 dan No. 8. Pemerintah Kota Hikone menyatakan bahwa bagian yang mengalami kerusakan adalah tembok batu Komegura Suimon yang berada di sepanjang parit bagian dalam kastil. Area yang runtuh diperkirakan memiliki lebar sekitar 6,5 meter dengan tinggi sekitar 2,5 meter. Tidak ada korban luka maupun korban jiwa dalam peristiwa tersebut.

image

Bagian tembok batu di Kastil Hikone yang ambruk setelah terkena banjir akibat angin topan (Image by: TBS News Dig)

Menurut pemerintah kota, hujan deras yang terjadi selama dua topan tersebut diduga menjadi penyebab utama runtuhnya tembok batu. Lokasi yang terdampak sebelumnya juga pernah mengalami kerusakan akibat hujan lebat pada Juli 2024. Saat ini, pihak berwenang tengah mempertimbangkan langkah-langkah perbaikan untuk menjaga kelestarian bangunan bersejarah tersebut.

Kastil Hikone merupakan salah satu kastil asli dari periode Edo yang masih bertahan hingga sekarang. Bangunan ini berdiri di atas sebuah bukit di Kota Hikone, dekat Danau Biwa, dan mulai dibangun pada 1603 setelah kemenangan Tokugawa Ieyasu dalam Pertempuran Sekigahara. Proses pembangunannya selesai sekitar tahun 1622 dan sejak itu menjadi pusat pemerintahan Domain Hikone di bawah kekuasaan keluarga Ii.

image

Bagian tembok batu di Kastil Hikone yang ambruk setelah terkena banjir akibat angin topan (Image by: TBS News Dig)

Sebelum Kastil Hikone dibangun, wilayah tersebut berada di bawah pengaruh Kastil Sawayama yang dikuasai oleh Ishida Mitsunari. Setelah Mitsunari kalah dalam Pertempuran Sekigahara, Tokugawa Ieyasu menempatkan Ii Naomasa untuk mengendalikan kawasan tersebut. Klan Ii kemudian menjadikan Kastil Hikone sebagai pusat politik dan militer mereka selama lebih dari 250 tahun pada masa Keshogunan Tokugawa.

Nilai sejarah Kastil Hikone semakin tinggi karena bangunan ini berhasil bertahan dari gelombang pembongkaran kastil yang terjadi setelah Restorasi Meiji pada akhir abad ke-19. Berbeda dengan banyak kastil lain di Jepang yang dibangun ulang pada era modern, Kastil Hikone masih mempertahankan sebagian besar struktur aslinya, termasuk menara utama, gerbang, parit, tembok batu, serta tata letak pertahanan yang digunakan pada awal periode Edo.

Menara utama Kastil Hikone yang terbuat dari kayu dan terdiri dari tiga lantai termasuk salah satu dari hanya 12 menara utama kastil asli yang masih tersisa di Jepang. Selain itu, bangunan ini juga merupakan satu dari lima kastil yang menara utamanya telah ditetapkan sebagai Harta Nasional Jepang, sejajar dengan Kastil Himeji, Matsumoto, Inuyama, dan Matsue.

image

Foto Kastil Hikone dari  (Image by: TBS News Dig)

Selain nilai sejarahnya, Kastil Hikone juga menjadi salah satu destinasi wisata terkenal di Prefektur Shiga. Kompleks kastil ini menawarkan pemandangan Danau Biwa, taman lanskap tradisional Genkyuen, serta kawasan kota kastil yang masih mempertahankan jejak tata ruang pada masa feodal Jepang. Sejak 1992, Kastil Hikone juga telah masuk dalam daftar sementara Jepang untuk nominasi Warisan Dunia UNESCO.

Kerusakan pada tembok batu Komegura Suimon menjadi perhatian karena bagian tersebut merupakan salah satu elemen asli kompleks kastil yang telah bertahan selama lebih dari empat abad. Pemerintah Kota Hikone menyatakan akan mempelajari metode restorasi yang tepat agar proses pelestarian Kastil Hikone tetap berjalan, sekaligus menjaga salah satu peninggalan bersejarah paling penting dari periode Edo di Jepang.

 

Prank Hama Sushi Berujung Denda

Seorang pria di Jepang dijatuhi denda sebesar 500.000 yen setelah terbukti mengganggu operasional restoran Hama Sushi dengan mengunggah video aksi isengnya ke media sosial. Kasus ini kembali menjadi perhatian publik karena dilakukan di salah satu jaringan restoran sushi conveyor belt yang populer di Jepang.

image

Logo dari Hama-Sushi (Image by: saitama-np-co.jp)

Menurut laporan, pria berusia 43 tahun tersebut mendatangi cabang Hama Sushi di Kota Tsurugashima, Prefektur Saitama, pada 27 Mei 2026. Ia kemudian mengambil sepiring sushi tuna yang telah tiba di mejanya melalui ban berjalan, lalu mengeluarkan sebuah botol yang menyerupai wadah sabun cuci piring dan menyemprotkan cairan ke atas sushi tersebut sambil merekam aksinya.

Video itu kemudian diunggah ke media sosial. Dalam pemeriksaan, pria tersebut mengaku melakukan tindakan tersebut dengan tujuan agar videonya mendapatkan banyak penonton dan menjadi viral. Namun, aksinya justru berujung pada proses hukum setelah video tersebut diketahui oleh pihak restoran dan kepolisian.

image

Video prank viral yang terjadi di Hama-Sushi (Image by: jin115.com)

Pria itu kemudian ditangkap dengan tuduhan menghalangi kegiatan usaha secara paksa. Pengadilan Distrik Kawagoe di Prefektur Saitama akhirnya menjatuhkan hukuman berupa denda sebesar 500.000 yen, atau sekitar Rp55 juta jika dikonversikan dengan kurs saat ini.

Dalam persidangan terungkap bahwa cairan yang disemprotkan diduga hanyalah air yang sebelumnya dimasukkan ke dalam botol sabun cuci piring. Selain itu, sushi yang digunakan dalam video merupakan pesanan yang berhenti otomatis di meja pria tersebut, sehingga tidak diambil oleh pelanggan lain. Meski demikian, tindakan tersebut tetap dianggap mengganggu operasional restoran.

Setelah video beredar, pihak Hama Sushi melakukan disinfeksi pada area yang berpotensi terdampak sebagai langkah pencegahan. Karyawan restoran juga harus meluangkan waktu untuk menangani berbagai pertanyaan dan kekhawatiran pelanggan terkait insiden tersebut. Dampak terhadap operasional inilah yang menjadi salah satu dasar putusan pengadilan.

image

ilustrasi sushi (Image by: Soranews)

Kasus ini kembali mengingatkan pada pentingnya menjaga etika di restoran sushi conveyor belt yang mengandalkan kepercayaan antara pelanggan dan pengelola. Sistem penyajian makanan melalui ban berjalan hanya dapat berjalan dengan baik apabila seluruh pengunjung mematuhi aturan kebersihan dan tidak melakukan tindakan yang merugikan pihak lain.

Meski sebagian warganet Jepang menilai besaran denda tersebut masih tergolong ringan, pengadilan memutuskan bahwa hukuman tersebut sudah sesuai dengan pelanggaran yang dilakukan. Kasus ini sekaligus menjadi peringatan bahwa tindakan yang dilakukan demi konten media sosial dapat menimbulkan konsekuensi hukum apabila mengganggu kegiatan usaha maupun meresahkan masyarakat.

Source: SoraNews24

 

Wahana Maut Huis Ten Bosch

Taman hiburan Huis Ten Bosch di Prefektur Nagasaki, Jepang, akan menghadirkan atraksi baru bertema Alice in Borderland yang menawarkan pengalaman permainan bertahan hidup secara imersif. Wahana bernama Alice in Borderland Immersive Death Game ini dijadwalkan mulai beroperasi pada 27 Agustus dan menghadirkan konsep permainan yang terinspirasi dari serial live-action Netflix, manga, serta anime dengan judul yang sama.

image

Huis Ten Bosch. (Image by: PR Times)

Selama ini, Huis Ten Bosch lebih dikenal sebagai taman hiburan yang mengusung suasana khas Belanda dengan arsitektur bergaya Eropa, taman bunga yang luas, serta kanal-kanal yang menjadi daya tarik utama. Berbeda dengan taman hiburan lain di Jepang yang identik dengan roller coaster, Huis Ten Bosch lebih menonjolkan pengalaman wisata yang tenang dan pemandangan yang estetik.

Melalui wahana terbaru ini, pengunjung akan mengikuti permainan bertahan hidup yang berlangsung sekitar 30 menit. Pihak taman menyebut permainan tersebut sebagai pengalaman yang "benar-benar tidak masuk akal", di mana peserta akan dihadapkan pada tekanan terus-menerus untuk mengambil keputusan, mempermainkan, hingga mengkhianati peserta lain dalam sebuah pertarungan strategi.

image

Game Alice in Borderland Immersive Death Game. (Image by: PR Times)

Salah satu elemen yang membuat wahana ini terasa lebih nyata adalah penggunaan "kalung bom" yang akan dipasang di leher setiap peserta sebelum permainan dimulai. Perangkat tersebut menjadi bagian dari mekanisme permainan dan dirancang untuk meningkatkan sensasi ketegangan selama berlangsungnya tantangan.

image

Ilustrasi kalung bomb yang dipasang pada leher pemain. (Image by: PR Times)

Apabila seorang peserta melakukan kesalahan sesuai aturan permainan, kalung tersebut akan aktif. Berdasarkan materi promosi yang dirilis, perangkat itu tidak menimbulkan ledakan sungguhan, melainkan mengeluarkan semburan asap sebagai penanda bahwa pemain telah "gugur" dari permainan. Meski demikian, tampilannya dibuat menyerupai perangkat berbahaya sehingga memberikan pengalaman yang lebih dramatis.

Karena tema dan intensitas permainannya, Huis Ten Bosch menetapkan bahwa anak-anak berusia di bawah 15 tahun tidak diperbolehkan mengikuti wahana ini. Kebijakan tersebut diberlakukan untuk menyesuaikan dengan karakter permainan yang mengandung unsur tekanan psikologis selama sesi berlangsung.

Pengunjung tidak perlu membayar tiket tambahan untuk menikmati Alice in Borderland Immersive Death Game karena wahana ini sudah termasuk dalam harga tiket masuk reguler taman. Namun, pihak pengelola memperkirakan minat pengunjung akan tinggi sehingga menyarankan penggunaan tiket masuk dengan waktu tertentu yang detailnya akan diumumkan kemudian. Selain itu, tersedia pula Express Pass berbayar bagi pengunjung yang ingin mengurangi waktu antre.

image

Evangelion theater yang pernah di release di Huis Ten Bosch. (Image by: PR Times)

image

Miffy Wonder Square yang ada di Huis Ten Bosch. (Image by: PR Times)

Penambahan wahana ini menjadi bagian dari upaya Huis Ten Bosch menghadirkan lebih banyak atraksi modern. Sebelumnya, taman hiburan tersebut telah meluncurkan wahana teater bergerak bertema Evangelion, sementara roller coaster pertama mereka dijadwalkan dibuka pada tahun depan. Di sisi lain, pengunjung yang menginginkan suasana santai masih dapat menikmati area Miffy Wonder Square, yang menawarkan pengalaman bermain bertema karakter kelinci asal Belanda tanpa konsep permainan menegangkan.

Source: SoraNews24