Blog

Visa Jepang Diperketat Lagi

image

Ilustrasi Cap Visa Imigrasi Jepang (Image by: The Japan Times)

Langkah-langkah pengendalian imigrasi Jepang yang semakin ketat menunjukkan hasil yang terukur dalam dua tahun terakhir, meskipun jumlah kedatangan warga asing mencapai rekor tertinggi. Berdasarkan data Badan Layanan Imigrasi Jepang, kedatangan warga asing pada tahun 2025 melampaui 42,4 juta, untuk pertama kalinya menembus angka 40 juta. Pada saat yang sama, jumlah penduduk asing yang tinggal di Jepang juga mencapai rekor 4,13 juta.

Lonjakan tersebut terjadi bersamaan dengan penerapan kebijakan pengetatan imigrasi yang dikenal sebagai “Rencana Nol Warga Asing Ilegal untuk Keselamatan dan Keamanan Masyarakat di Jepang” atau “Rencana Nol”. Diluncurkan pada Mei 2025, kebijakan ini bertujuan mengurangi pelanggaran izin tinggal melalui pemeriksaan yang lebih ketat, percepatan proses suaka, dan peningkatan deportasi.

Dari sisi penegakan hukum, jumlah pelanggar izin tinggal turun menjadi 68.488 orang per 1 Januari, berkurang 6.375 kasus dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini menandai tren penurunan tahunan kedua berturut-turut. Selain itu, pada tahun 2025 terdapat 18.442 kasus pelanggaran imigrasi, dengan 72,9% di antaranya terbukti bekerja secara ilegal.

Dalam hal deportasi, sebanyak 17.352 orang meninggalkan Jepang melalui deportasi atau perintah keberangkatan. Meskipun total deportasi turun 1,8%, deportasi yang didanai pemerintah dan disertai pengawalan meningkat 27,7% menjadi 318 kasus, angka tertinggi yang pernah tercatat. Selain itu, pengecualian penangguhan deportasi juga meningkat signifikan menjadi 59 kasus.

image

Ilustrasi pengunjung yang sedang berkunjung di jepang (Image by: donnykimball.com)

Pencabutan status izin tinggal warga negara asing juga meningkat menjadi 1.446 kasus pada tahun 2025, naik 262 kasus dari tahun sebelumnya. Sebagian besar kasus melibatkan peserta pelatihan teknik dan pelajar, dengan warga negara Vietnam menjadi kelompok terbesar yang terdampak.

Di sisi perbatasan, penegakan imigrasi juga semakin ketat. Sebanyak 8.546 warga asing ditolak masuk ke Jepang pada tahun 2025, terutama karena kecurigaan terhadap tujuan kedatangan yang dinyatakan. Meski demikian, arus masuk tetap meningkat, dengan Korea Selatan, Tiongkok, dan Taiwan menjadi penyumbang terbesar, didominasi pengunjung jangka pendek.

Kebijakan suaka juga mengalami perubahan signifikan. Jumlah permohonan pengungsi turun menjadi 11.298 kasus pada tahun 2025. Sementara itu, kasus “Kategori B” meningkat tajam lebih dari 20 kali lipat menjadi 1.615 kasus, akibat penyaringan yang lebih ketat terhadap klaim yang dianggap tidak memenuhi standar Konvensi Pengungsi.

Dengan target pemerintah untuk memangkas waktu proses suaka menjadi enam bulan pada 2030 dan menekan imigrasi ilegal hingga nol, Jepang diperkirakan akan terus memperketat kebijakan imigrasi. Namun, tantangan tetap muncul terkait keseimbangan antara penegakan hukum dan kebutuhan tenaga kerja asing di tengah penurunan populasi negara tersebut.

Pria Masuk Rel Shinkansen

image

Jalur Shinkansen Tokaido Terganggu (Image by : SoraNews24)

Jika seseorang sampai nekat turun ke rel kereta api aktif, tentu dibutuhkan alasan yang tidak biasa. Entah itu alasan yang benar-benar mendesak, atau bahkan alasan yang terdengar “gila” bagi orang lain. Tindakan seperti ini bukan hanya berbahaya bagi diri sendiri, tetapi juga bisa mengganggu sistem transportasi yang digunakan oleh ribuan orang setiap harinya.

Kereta api di Jepang terkenal dengan ketepatan waktunya yang hampir sempurna. Sistemnya yang terorganisir dengan baik membuat keterlambatan menjadi hal yang sangat jarang terjadi. Namun, bukan berarti gangguan tidak pernah ada. Bahkan layanan cepat seperti Shinkansen pun bisa terhenti jika terjadi situasi darurat, termasuk kejadian yang tidak terduga seperti seseorang memasuki rel.

Insiden tersebut terjadi pada Selasa sore sekitar pukul 4 di Stasiun Shizuoka, yang merupakan salah satu titik penting di jalur Shinkansen Tokaido. Jalur ini menghubungkan kota-kota besar seperti Tokyo, Kyoto, dan Osaka, sehingga gangguan sekecil apa pun dapat berdampak luas. Pada saat itu, seorang pria terlihat melompat dari peron Shinkansen dan berjalan di atas rel menuju arah timur laut, memicu penghentian sementara layanan demi keselamatan.

Sekitar 30 menit kemudian, pria tersebut terdeteksi berada di Stasiun Higashi Shizuoka, yang merupakan stasiun berikutnya di jalur kereta biasa (non-Shinkansen). Ia terlihat melompati pagar sebagai upaya keluar dari area rel dan kembali ke lingkungan stasiun. Aksinya akhirnya dihentikan oleh petugas peron yang langsung mengamankannya sebelum situasi menjadi lebih berbahaya.

Pria tersebut diketahui merupakan warga negara Brasil berusia 39 tahun dengan nama keluarga Yamaguchi. Setelah diamankan, ia mengakui perbuatannya, namun memberikan alasan yang cukup mengejutkan. Ia mengaku sedang dikejar oleh yakuza dan merasa terpaksa turun ke rel untuk menyelamatkan diri dari ancaman tersebut.


Meski demikian, hingga saat ini belum ada bukti maupun saksi yang dapat mengonfirmasi klaim tersebut. Polisi masih terus menyelidiki kebenaran pengakuannya. Terlepas dari motif yang sebenarnya, kejadian ini menjadi pengingat bahwa di Jepang tersedia fasilitas keamanan seperti koban (pos polisi kecil) di hampir setiap stasiun besar. Dalam situasi darurat, mencari bantuan resmi tentu jauh lebih aman dibanding mengambil tindakan berisiko tinggi seperti turun ke rel kereta.

Kecelakaan Proyek Di Kawasaki

image

Scaffolding Yang Runtuh Di Kawasaki (Image by Japan Today)

Sebuah kecelakaan kerja yang tragis terjadi di lokasi pembongkaran di Kawasaki, Prefektur Kanagawa, pada Selasa sore. Runtuhnya struktur perancah (scaffolding) di area proyek tersebut menyebabkan dua pekerja kehilangan nyawa setelah dilaporkan terjatuh dari ketinggian sekitar 40 meter. Insiden ini langsung memicu kepanikan dan respons darurat, setelah laporan awal menyebutkan beberapa pekerja jatuh secara bersamaan dari struktur tinggi tersebut.

Peristiwa nahas ini terjadi sekitar pukul 16.25 di dalam kompleks pabrik baja milik JFE Steel, tepatnya di fasilitas East Japan Works yang terletak di kawasan pelabuhan. Area ini dikenal sebagai salah satu pusat industri berat, dengan aktivitas bongkar muat dan pekerjaan konstruksi skala besar yang berlangsung hampir tanpa henti setiap harinya. Karena kompleksnya pekerjaan di lokasi tersebut, standar keselamatan kerja menjadi perhatian utama, meskipun kecelakaan tetap dapat terjadi.

Selain dua korban meninggal dunia, tiga pekerja lain juga terdampak dalam insiden yang terjadi saat proses pembongkaran crane. Pihak berwenang melaporkan bahwa satu orang masih dinyatakan hilang, sementara dua lainnya telah berhasil dievakuasi dan saat ini tengah menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Kondisi korban yang selamat masih terus dipantau oleh tim medis.

Pekerja yang hilang diduga kuat terjatuh ke laut di sekitar lokasi kejadian, mengingat area proyek berada di dekat perairan. Upaya pencarian terus dilakukan oleh tim penyelamat dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk penjaga pantai dan tim penyelam. Sementara itu, salah satu korban yang berhasil diselamatkan dilaporkan sempat dalam kondisi tidak sadarkan diri dan mengalami luka serius, menunjukkan betapa kerasnya dampak kecelakaan tersebut.

Dugaan awal menyebutkan bahwa kecelakaan dipicu oleh terlepasnya beban penyeimbang (counterweight) dari crane dengan berat mencapai sekitar 500 ton. Beban besar tersebut diyakini menghantam struktur perancah sebelum akhirnya jatuh ke tanah, menyebabkan kerusakan besar dan menciptakan lubang di area kerja. Insiden ini menimbulkan pertanyaan serius terkait prosedur keselamatan, pengawasan teknis, serta kondisi peralatan yang digunakan dalam proyek tersebut.

Pada saat kejadian, wilayah Kawasaki diketahui tengah berada dalam status peringatan angin kencang, yang kemungkinan turut memperburuk situasi di lapangan. Seorang pria berusia 65 tahun yang sedang memancing di seberang lokasi mengaku terkejut mendengar suara benturan logam yang sangat keras, disusul dengan munculnya kepulan debu besar dari arah pabrik. Insiden ini terjadi di kawasan industri di pulau buatan Ogishima, yang terletak di selatan JR Ogimachi Station, dan kini tengah dalam penyelidikan lebih lanjut oleh pihak berwenang untuk memastikan penyebab pasti serta mencegah kejadian serupa di masa depan.

Kejutan Manis 7-Eleven Jepang

image

7 Cafe Bakery (Image by: soranews24.com)

7-Eleven merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari di Jepang. Di hampir setiap sudut kota, Anda bisa menemukan minimarket ini dengan mudah. Namun, meskipun terlihat seragam, tidak semua cabang menawarkan produk yang sama. Beberapa gerai tertentu menghadirkan lini 7 Cafe Bakery, di mana berbagai roti dan pastry dipanggang langsung di dalam toko, memberikan pengalaman yang lebih segar, hangat, dan terasa seperti dari toko roti profesional.

Salah satu produk yang paling menarik dari lini ini adalah Sugar Palmier, camilan yang tergolong cukup langka. Nama “palmier” sendiri berasal dari bentuknya yang menyerupai daun atau pucuk pohon palem. Biasanya, kue ini hanya dijual di toko roti kelas atas atau pastry shop, sehingga kehadirannya di 7-Eleven menjadi kejutan yang menyenangkan sekaligus terasa lebih “mewah” dibandingkan camilan minimarket pada umumnya.

Untuk menikmatinya, pembeli hanya perlu memesan di konter dengan harga sekitar 220 yen. Setelah itu, staf akan memanggang palmier tersebut langsung di oven sebelum diserahkan kepada pelanggan. Proses ini membuat kue disajikan dalam kondisi hangat, bahkan masih terasa panas saat dipegang. Sensasi ini menjadi nilai tambah tersendiri, karena memberikan pengalaman seperti membeli pastry yang baru keluar dari oven.

image

Kue ini dinamai dari bentuknya yang menyerupai daun pohon palem (Image by: soranews24.com)


Dari segi tampilan, Sugar Palmier terlihat sangat elegan dan menggugah selera. Bentuknya menyerupai hati dengan lapisan gula yang berkilau di permukaannya, menciptakan kesan manis sekaligus premium. Meski dibuat dari bahan sederhana, presentasinya mampu memberikan nuansa mewah, apalagi jika disajikan di atas piring seperti hidangan kafe.

Saat digigit, rasa palmier ini benar-benar memenuhi ekspektasi. Aroma mentega yang kaya langsung terasa, berpadu sempurna dengan manisnya gula yang sedikit karamel. Tekstur luarnya renyah seperti pai, sementara bagian dalamnya tetap lembut dan sedikit berlapis seperti Danish pastry. Kombinasi rasa dan tekstur ini menciptakan sensasi yang seimbang dan memuaskan di setiap gigitan.

Saat ini, Sugar Palmier hanya tersedia di beberapa cabang 7 Cafe Bakery di Tokyo serta wilayah sekitarnya seperti Chiba dan Kanagawa. Ketersediaannya yang terbatas justru menambah daya tarik tersendiri. Bagi Anda yang sedang berada di area tersebut, camilan ini sangat layak untuk dicoba—bukan hanya karena rasanya yang lezat, tetapi juga karena pengalaman unik menikmati pastry premium dari sebuah minimarket.

Jepang Perketat Syarat Visa

image

Pemerintah Jepang berencana memperketat persyaratan untuk memperoleh status tempat tinggal (Image by Kyodo)

Pemerintah Jepang berencana memperketat persyaratan untuk memperoleh status tempat tinggal “Insinyur, Humaniora, dan Layanan Internasional,” khususnya bagi pekerjaan yang menggunakan bahasa Jepang. Berdasarkan wawancara dengan pejabat pemerintah, ke depan akan diwajibkan adanya bukti kemampuan bahasa Jepang bagi pekerja yang menjalankan tugas dalam bahasa tersebut. Kebijakan ini diambil untuk memastikan kesesuaian antara kemampuan pekerja dan tuntutan pekerjaan.

Langkah ini juga dilatarbelakangi oleh meningkatnya kasus penyalahgunaan status visa, di mana individu masuk ke Jepang melalui jalur pekerja terampil namun kemudian bekerja pada pekerjaan sederhana yang sebenarnya tidak diperbolehkan. Kondisi ini dinilai menyimpang dari tujuan awal pemberian status tersebut.

Sebagai respons, pemerintah akan merevisi pedoman pada pertengahan April guna memperketat proses pemeriksaan. Revisi ini diharapkan dapat menutup celah yang selama ini dimanfaatkan untuk praktik yang tidak sesuai aturan, sekaligus menjaga kualitas tenaga kerja asing di Jepang.

Dalam pedoman terbaru, pemohon diwajibkan menyerahkan dokumen yang membuktikan kemampuan bahasa Jepang minimal pada level B2 berdasarkan standar internasional CEFR. Tingkatan ini setara dengan level N2 dalam Tes Kemahiran Bahasa Jepang (JLPT), yang menunjukkan kemampuan memahami dan menggunakan bahasa Jepang dalam konteks profesional.

Sebelumnya, persyaratan utama hanya mencakup latar belakang pendidikan seperti lulusan universitas atau pengalaman kerja yang relevan, tanpa kewajiban kemampuan bahasa Jepang. Aturan baru ini akan berlaku terutama bagi pendatang baru yang melamar melalui jalur pekerja terampil untuk pekerjaan berbahasa Jepang, sementara mahasiswa internasional yang ingin mengubah status visa akan dikecualikan.

Selain itu, pedoman tersebut juga memperketat ketentuan bagi perusahaan penerima tenaga kerja. Perusahaan yang pernah dikenai sanksi, seperti kasus kekerasan atau tidak membayar upah dalam program magang teknis atau keterampilan tertentu, akan dilarang menerima pekerja dengan status “Insinyur, Humaniora, dan Layanan Internasional” selama masa penangguhan hingga lima tahun.

Tokyo Perluas WiFi Gratis

image

Bilik Telepon Di Tokyo menjadi WiFi Gratis (Image by : SoraNews24)

Layanan penting yang perlu Anda ketahui jika terjadi bencana kini semakin berkembang, terutama di Jepang. Meskipun penggunaan telepon umum terus menurun di seluruh dunia karena hampir semua orang memiliki ponsel, pemerintah Jepang tetap mempertahankannya sebagai jalur komunikasi vital saat darurat. Berdasarkan undang-undang telekomunikasi, telepon umum diklasifikasikan sebagai “layanan universal” yang wajib tersedia untuk masyarakat.


Di Tokyo, kondisi ini justru dimanfaatkan sebagai peluang untuk meningkatkan konektivitas kota. Pemerintah Metropolitan Tokyo mengusung strategi “Tokyo Terhubung”, yaitu menciptakan lingkungan di mana penduduk, wisatawan, dan pelaku bisnis dapat tetap terhubung melalui jaringan 5G dan Wi-Fi publik, terutama saat bencana terjadi.

Sebagai bagian dari inisiatif ini, banyak bilik telepon umum diubah menjadi hotspot Wi-Fi gratis. Proyek ini dijalankan bekerja sama dengan Nippon Telegraph and Telephone East Corporation (NTT East), yang menargetkan sekitar 1.500 dari total lebih dari 10.000 bilik telepon untuk dilengkapi fitur Wi-Fi berbasis OpenRoaming.

OpenRoaming sendiri merupakan sistem yang memungkinkan pengguna mendapatkan akses Wi-Fi gratis dan aman di lebih dari 3,5 juta lokasi di seluruh dunia, hanya dengan satu kali pendaftaran. Setelah terdaftar, pengguna tidak perlu login ulang dan bisa langsung terhubung secara otomatis di berbagai titik yang mendukung layanan ini.

image

Setiap bilik telepon yang dilengkapi Wi-Fi memiliki poster dengan kode QR (Image by : SoraNews24)


Cara menggunakannya pun cukup mudah. Setiap bilik telepon yang sudah dilengkapi Wi-Fi memiliki poster dengan kode QR. Pengguna hanya perlu mengaktifkan Wi-Fi dan memilih jaringan “START_TOKYO_Wi-Fi”, lalu mengikuti proses pendaftaran. Setelah selesai, perangkat akan otomatis terhubung ke jaringan “TOKYO_FREE_Wi-Fi” di lokasi-lokasi yang tersedia.

Menurut Gubernur Yuriko Koike, proyek ini sangat penting karena komunikasi menjadi prioritas utama saat bencana. Selain membantu warga lokal, fasilitas ini juga memberikan kemudahan bagi wisatawan. Dengan perluasan hingga sekitar 3.600 titik dalam beberapa tahun ke depan, Tokyo memastikan bahwa akses komunikasi tetap terjaga, bahkan dalam situasi darurat.

Jepang Buka Perburuan Paus

image

Jepang Berhasil Menangkap Paus Minke Pertama Tahun Ini (Image by : Japan Today)

Jepang berhasil menangkap paus minke pertama tahun ini pada hari Rabu, menandai dibukanya musim perburuan paus komersial di lepas pantai Hokkaido. Dua ekor paus betina ditangkap di pelabuhan Nemuro, menurut laporan dari badan industri terkait. Peristiwa ini menjadi sorotan karena menandai dimulainya kembali tradisi perburuan paus yang kontroversial di Jepang.

Dua paus tersebut ditangkap di lepas pantai Hokkaido, sementara satu paus lainnya ditangkap di lepas pantai Prefektur Aomori di timur laut Jepang. Musim penangkapan paus di Aomori biasanya dimulai pada bulan Maret, sesuai jadwal yang ditetapkan oleh Asosiasi Perburuan Paus Tipe Kecil Jepang, yang bertanggung jawab atas kegiatan penangkapan ini.

Kedua paus yang ditangkap memiliki ukuran yang cukup besar, masing-masing sekitar 8,2 meter dan 7,7 meter panjangnya. Perusahaan yang menangkap paus-paus tersebut menyatakan bahwa hewan ini akan diproses di fasilitas pengolahan di Kushiro, Hokkaido, sebelum dikirim ke berbagai wilayah di seluruh Jepang.

"Kami berhasil menangkap paus yang relatif besar, menandai awal musim yang lancar. Kami berharap masyarakat di seluruh negeri dapat menikmatinya," kata Kinya Higashi, manajer operasional di Asosiasi Koperasi Perikanan Taiji, yang bekerja sama dalam penangkapan ini. Pernyataan ini menunjukkan pentingnya perburuan paus bagi industri perikanan lokal, meskipun masih menuai kritik dari kelompok konservasi internasional.

Jepang secara resmi menarik diri dari Komisi Perburuan Paus Internasional pada tahun 2019 dan melanjutkan perburuan paus komersial pada tahun yang sama. Langkah ini memicu perdebatan global terkait konservasi laut, hak hewan, dan tradisi lokal, dengan Jepang menekankan bahwa perburuan paus dilakukan sesuai kuota nasional dan standar regulasi mereka sendiri.

Menurut Badan Perikanan Jepang, kuota tangkapan nasional tahun ini ditetapkan sebanyak 145 ekor paus, dengan 33 ekor dialokasikan khusus untuk perairan di lepas pantai Nemuro dan Laut Okhotsk. Sebagai perbandingan, tahun lalu sebanyak 88 ekor paus ditangkap secara nasional dari kuota 144 ekor, menunjukkan adanya penyesuaian dalam pemanfaatan sumber daya laut yang dikelola secara resmi.

Kebakaran Truk Sampah Shibuya

image

Ilustrasi Truk Sampah Jepang (Image by : Google)

Pada 31 Maret 2026, akun resmi X milik Distrik Shibuya, yaitu X (Twitter) dengan nama pengguna City of Shibuya (@city_shibuya), melaporkan terjadinya insiden kebakaran pada sebuah truk sampah di wilayah Shibuya, Tokyo. Insiden tersebut terjadi saat proses pengumpulan sampah yang tidak mudah terbakar. Unggahan tersebut juga memperlihatkan kondisi jalan yang dipenuhi sampah berserakan akibat kebakaran, sehingga langsung menarik perhatian luas dari pengguna media sosial.

Menurut penjelasan yang disampaikan melalui situs resmi Distrik Shibuya serta unggahan pada tanggal yang sama, kebakaran sebenarnya terjadi lebih awal, yakni pada 20 Maret 2026. Api diduga berasal dari korek api dan tabung gas kecil yang berada di dalam kompartemen truk sampah. Kedua benda tersebut terbakar dan kemudian menyulut sampah lain di sekitarnya, hingga akhirnya memicu kebakaran yang cukup besar dan memerlukan penanganan dari Tokyo Fire Department.

Pihak pemerintah distrik menjelaskan bahwa insiden ini kemungkinan besar disebabkan oleh kesalahan dalam pemilahan sampah. Korek api dan tabung gas yang seharusnya dipisahkan atau dikosongkan terlebih dahulu ternyata dibuang tanpa prosedur yang benar. Akibatnya, benda-benda tersebut menjadi sumber api yang berbahaya saat mengalami tekanan atau gesekan di dalam truk pengangkut sampah.

image

Sampah Yang Terbakar Di Dalam Truk Sampah (Image by : @city_shibuya)

Melalui pernyataan resminya, Distrik Shibuya menegaskan bahwa kebakaran seperti ini dapat memberikan dampak serius terhadap operasional pengumpulan, pengangkutan, hingga proses pengolahan limbah. Mereka pun mengimbau masyarakat untuk lebih disiplin dalam memilah sampah. Secara khusus, warga diminta untuk memastikan isi korek api telah habis sebelum dibuang sebagai limbah tidak dapat dibakar, serta memastikan tabung gas sudah kosong sebelum dibuang sebagai barang daur ulang.

Unggahan tersebut juga dilengkapi dengan dua foto yang cukup menggambarkan situasi di lokasi kejadian. Foto pertama memperlihatkan petugas pemadam kebakaran yang sedang menangani truk sampah, dengan kondisi muatan yang tumpah dan berserakan di jalan. Sementara itu, foto kedua menunjukkan bagian sampah yang terbakar, dengan bekas hangus yang menjadi indikasi titik awal munculnya api.

Peristiwa ini dengan cepat menjadi perhatian publik, dengan jumlah tayangan mencapai lebih dari 1,2 juta kali hingga pukul 18.30 pada hari yang sama. Banyak warganet menyampaikan kekhawatiran dan simpati terhadap petugas kebersihan, serta menilai bahwa kejadian ini seharusnya dapat dicegah dengan kehati-hatian dalam membuang sampah. Selain itu, Distrik Shibuya juga mengingatkan bahwa insiden serupa pernah terjadi sebelumnya, seperti pada tahun 2013 dan 2011 yang melibatkan baterai isi ulang kecil. Oleh karena itu, mereka menekankan tiga penyebab utama kebakaran, yaitu baterai isi ulang, korek api sekali pakai, serta kaleng semprot dan tabung gas, sekaligus mengajak masyarakat untuk lebih bertanggung jawab dalam pengelolaan sampah.

Jalur Rumoi Resmi Ditutup

image

warga menjadi saksi penutupan sekaligus mengucapkan selamat tinggal (Image by Google)

Jalur Rumoi, yang membentang sepanjang 14,4 kilometer, dikenal sebagai jalur kereta api utama terpendek di Jepang. Meski pendek, jalur ini memiliki nilai sejarah dan emosional yang besar bagi masyarakat setempat. Pada hari terakhir operasinya, jalur ini dipadati oleh pengunjung, pecinta kereta, serta warga yang ingin menjadi saksi penutupan sekaligus mengucapkan selamat tinggal.

Suasana haru begitu terasa di berbagai stasiun sepanjang jalur tersebut. Banyak orang datang dengan perasaan campur aduk antara nostalgia dan kesedihan. Beberapa pengunjung bahkan terlihat mengabadikan momen terakhir dengan foto dan video, sementara warga setempat mengungkapkan bahwa kepergian jalur ini akan membuat lingkungan mereka terasa lebih sunyi dari biasanya.

Sejak dibuka pada tahun 1910, Jalur Rumoi telah menjadi bagian penting dalam perjalanan sejarah wilayah tersebut. Jalur ini bukan sekadar sarana transportasi, tetapi juga menjadi penghubung kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat selama lebih dari satu abad. Tak heran jika penutupannya terasa begitu emosional bagi banyak pihak.


Pada masa kejayaannya, jalur ini berperan besar dalam mendukung industri lokal, khususnya dalam pengangkutan batu bara dan kayu. Aktivitas tersebut menjadi tulang punggung ekonomi daerah. Namun, seiring dengan penutupan tambang batu bara serta berkurangnya populasi akibat urbanisasi, jumlah penumpang menurun drastis hingga akhirnya operasional jalur tidak lagi dapat dipertahankan.

Penutupan ini juga menimbulkan kekhawatiran nyata bagi warga, terutama mereka yang tidak memiliki kendaraan pribadi. Layanan bus yang menjadi alternatif dinilai kurang fleksibel dan memakan waktu lebih lama. Hal ini berdampak pada aktivitas penting seperti pergi ke rumah sakit, bekerja, atau berbelanja, yang kini membutuhkan perencanaan lebih matang dan waktu perjalanan yang lebih panjang.

Meskipun jalur ini telah resmi ditutup, harapan untuk masa depan tetap ada. Stasiun Ishikari-Numata diperkirakan akan tetap menjadi pusat aktivitas penting bagi kota. Pihak pemerintah dan tim revitalisasi daerah menekankan pentingnya menjaga warisan sejarah jalur ini, sekaligus mencari cara baru untuk menghidupkan kembali kawasan tersebut melalui inovasi dan pengembangan yang berkelanjutan.

Jepang Hentikan SSW Restoran

image

“Pekerja Terampil Khusus No. 1” (Specified Skilled Worker/SSW) industri jasa makanan atau restoran (Image by Google)

Pemerintah Jepang pada tanggal 27 secara resmi mengumumkan kebijakan penangguhan penerimaan pekerja asing baru dengan status “Pekerja Terampil Khusus No. 1” (Specified Skilled Worker/SSW) khusus untuk industri jasa makanan atau restoran. Langkah ini diambil karena jumlah tenaga kerja asing di sektor tersebut diperkirakan akan segera mencapai batas maksimum yang telah ditetapkan pemerintah, yaitu 50.000 orang. Penangguhan ini akan mulai diberlakukan pada 13 April, dan pemerintah juga membuka kemungkinan untuk kembali menerima pekerja jika terdapat ruang kuota, misalnya akibat perpindahan tenaga kerja ke sektor lain.

Sebelumnya, pada Januari tahun ini, kabinet Jepang telah menetapkan batas maksimum jumlah pekerja asing untuk masing-masing sektor industri dalam kerangka kebijakan hingga Maret. Untuk sektor restoran, angka batas atas ditetapkan sebesar 50.000 orang. Namun, perkembangan di lapangan menunjukkan lonjakan yang sangat cepat. Dalam kurun waktu sekitar dua bulan, jumlah pekerja meningkat drastis dari sekitar 13.000 orang pada awal Desember menjadi sekitar 46.000 orang pada awal Februari. Kenaikan tajam ini membuat kuota diperkirakan akan penuh jauh lebih cepat dari yang direncanakan.

Sebagai tindak lanjut, Badan Layanan Imigrasi Jepang memutuskan untuk menghentikan sementara penerbitan “Sertifikat Kelayakan” (Certificate of Eligibility/CoE), yang merupakan dokumen wajib bagi warga negara asing untuk masuk ke Jepang dengan status visa tersebut. Kebijakan ini akan mulai berlaku pada 13 April. Meski demikian, pemerintah tetap memberikan kelonggaran terhadap beberapa kondisi, seperti permohonan yang telah diajukan sebelum 12 April yang masih akan diproses, serta pekerja yang sudah berada di Jepang dan ingin berpindah perusahaan dalam sektor restoran, selama kuota yang tersedia masih mencukupi.

Di sisi lain, Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan sebagai pihak yang membawahi sektor jasa makanan menjelaskan bahwa meskipun terjadi peningkatan signifikan jumlah pekerja asing, proporsi mereka sebenarnya masih sangat kecil, yakni hanya sekitar 1% dari total tenaga kerja di industri tersebut. Penetapan batas atas ini bukan semata-mata untuk membatasi tenaga kerja asing, tetapi juga bertujuan untuk mendorong efisiensi industri, meningkatkan produktivitas, serta mendorong perusahaan untuk lebih aktif merekrut tenaga kerja domestik dengan memperbaiki kondisi kerja, termasuk gaji dan kesejahteraan.

Selain penangguhan penerimaan, pemerintah juga menginstruksikan penghentian sementara pelaksanaan ujian Keterampilan Khusus No. 1 untuk sektor jasa makanan, baik di Jepang maupun di luar negeri. Hal ini berdampak langsung pada proses rekrutmen, karena pendaftaran dan pemesanan jadwal ujian juga ikut ditangguhkan hingga ada pemberitahuan lebih lanjut. Namun demikian, untuk kategori lain seperti Keterampilan Khusus No. 2 di sektor restoran, serta Keterampilan Khusus No. 1 dan No. 2 di sektor manufaktur makanan dan minuman, ujian tetap dilaksanakan sesuai jadwal dan proses pendaftaran tetap dibuka.

Kebijakan penangguhan ini pada dasarnya merupakan konsekuensi dari proyeksi pemerintah yang menunjukkan bahwa jumlah pekerja asing di sektor restoran akan melampaui target lima tahun yang telah ditetapkan untuk periode 2024 hingga 2028. Hingga saat ini, belum ada kepastian mengenai kapan kebijakan ini akan dicabut atau kapan ujian akan kembali dibuka. Oleh karena itu, para calon pekerja, lembaga pelatihan, serta pihak terkait lainnya diimbau untuk terus memantau informasi resmi dari pemerintah Jepang, khususnya melalui Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan serta Badan Layanan Imigrasi Jepang, guna mendapatkan pembaruan kebijakan terbaru.