Dua Topan Ancam Pesisir Jepang

Dua Topan Ancam Pesisir Jepang Saat Libur Tiga Hari

newnew

(Image by: Our Japan)

Dua topan yang bergerak di Samudra Pasifik diperkirakan memengaruhi kondisi laut di Jepang selama libur tiga hari pada 10–12 Oktober 2026. Topan Nomor 28 dan Nomor 29 berpotensi membawa gelombang tinggi serta angin kencang ke Kepulauan Ogasawara. Gelombang dari arah timur juga diperkirakan berdampak pada sejumlah wilayah pesisir di pantai Pasifik Jepang bagian timur.

Topan Nomor 28, Noru, diprakirakan bergerak perlahan ke arah utara sebelum berubah menjadi sistem tekanan rendah ekstratropis di sebelah timur Jepang pada Minggu, 11 Oktober. Meskipun diperkirakan tidak melintas dekat Kepulauan Ogasawara, gelombang dari arah timur yang ditimbulkannya masih berpotensi mencapai kawasan tersebut.

Sementara itu, sistem Nomor 29, Koguma, yang telah berkembang menjadi badai kuat, diperkirakan mendekati perairan sekitar Kepulauan Ogasawara selama periode libur. Sistem ini diprakirakan bergerak ke barat laut sebelum berbelok ke utara. Jalurnya diperkirakan lebih dekat dengan kepulauan tersebut dibandingkan Noru, dengan area angin badai yang masih berpotensi terjadi.

Pengaruh kedua sistem cuaca tersebut secara berurutan dapat membuat kondisi laut di sekitar Kepulauan Ogasawara tetap bergelombang selama beberapa hari. Gelombang dari Noru diperkirakan datang lebih dahulu, kemudian disusul pengaruh Koguma yang berpotensi membawa gelombang dan angin lebih kuat. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko aktivitas pelayaran dan kegiatan di laut.

Di pesisir Pasifik Jepang bagian timur, perhatian utama selama libur tiga hari tertuju pada gelombang yang datang dari arah timur. Gelombang tersebut dapat meningkatkan tinggi ombak meskipun lokasi yang terdampak berada jauh dari pusat kedua sistem cuaca. Arah datangnya gelombang kali ini juga berbeda dari periode sebelumnya ketika gelombang besar datang dari arah selatan.

Masyarakat yang berencana mengunjungi pantai, memancing, atau beraktivitas di pelabuhan selama libur akhir pekan diimbau untuk memperhatikan prakiraan gelombang terbaru. Kondisi laut yang berbahaya dapat terjadi meskipun cuaca di daratan terlihat relatif tenang. Karena itu, kondisi cuaca di darat tidak selalu mencerminkan keamanan perairan di sekitarnya.

Weathernews juga menyarankan warga dan wisatawan, khususnya yang berada di Kepulauan Ogasawara serta pesisir Pasifik Jepang bagian timur, untuk terus memantau perkembangan jalur kedua sistem cuaca, prakiraan angin, dan kondisi gelombang sepanjang periode libur. Informasi terbaru diperlukan untuk membantu masyarakat menyesuaikan rencana kegiatan dengan kondisi cuaca setempat.

Dengan dua sistem cuaca yang berpotensi memengaruhi perairan secara berurutan, masyarakat yang beraktivitas di kawasan pesisir Jepang perlu memperhatikan peringatan cuaca resmi selama 10–12 Oktober 2026. Risiko gelombang tinggi tidak hanya bergantung pada jarak pusat badai dari daratan, tetapi juga pada arah dan jangkauan gelombang yang ditimbulkan oleh sistem cuaca tersebut.

 

9 Ibis Jambul Kembali ke Alam

9 Ibis Jambul Dilepasliarkan di Jepang

image

Burung ibis jambul terlihat di dalam kandang sementara di Nakanoto, Prefektur Ishikawa pada 25 September 2026, menjelang pelepasan mereka ke alam liar. (Image by: Pemerintah prefektur Ishikawa | Kyodo)

Sembilan ekor burung ibis jambul (crested ibis) dilepasliarkan di Prefektur Ishikawa, Jepang, pada Rabu (7/10). Pelepasliaran ini menjadi yang kedua kalinya dilakukan di Pulau Honshu sebagai bagian dari upaya meningkatkan kembali populasi burung yang terancam punah tersebut.

Pelepasliaran berlangsung di Nakanoto, Ishikawa. Sebelumnya, sebanyak 18 ekor ibis jambul telah dilepasliarkan di Hakui, prefektur yang sama, pada Mei dan Juni tahun ini. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari program untuk memperluas habitat burung ini di Jepang.

Selama ini, upaya konservasi dan pengembangbiakan ibis di alam liar berpusat di Pulau Sado, Prefektur Niigata. Pemerintah Jepang berupaya memperluas wilayah hidup spesies tersebut ke wilayah lain, termasuk Honshu, pulau utama Jepang.

Sembilan burung yang dilepas kali ini berusia antara 1 hingga 13 tahun. Burung-burung tersebut lahir di sejumlah fasilitas penangkaran, termasuk fasilitas di Tokyo serta Prefektur Niigata dan Shimane yang berada di sepanjang pesisir Laut Jepang.

Pelepasliaran dilakukan sekitar pukul 11.30 waktu setempat setelah kandang sementara dibuka. Kesembilan burung ibis tersebut kemudian terbang keluar secara bertahap, dengan seluruhnya meninggalkan kandang dalam waktu sekitar satu setengah jam.

Kegiatan tersebut digelar bersama oleh Kementerian Lingkungan Hidup Jepang dan kelompok yang terdiri dari Pemerintah Prefektur Ishikawa, pemerintah daerah setempat, serta sejumlah organisasi terkait. Pemerintah dan pihak terkait berharap pelepasliaran ini dapat mendukung keberadaan ibis di wilayah tersebut.

Dalam upacara peringatan, Wali Kota Nakanoto Tameyuki Miyashita mengatakan bahwa pemerintah daerah ingin bekerja sama dengan masyarakat setempat untuk menciptakan wilayah tempat burung tersebut dapat hidup berdampingan dengan masyarakat dan alam.

Ibis jambul asli Jepang dinyatakan punah pada 2003 setelah populasinya menurun akibat perburuan berlebihan dan kerusakan habitat yang berkaitan dengan penggunaan pestisida. Setelah Jepang menerima sepasang burung tersebut dari China untuk program pengembangbiakan, pelepasliaran pertama di Pulau Sado dilakukan pada 2008. Populasi liar di Sado kini telah berkembang menjadi sekitar 500 ekor, sementara pelepasliaran berikutnya direncanakan berlangsung di Izumo, Prefektur Shimane, tahun depan.

Sumber: KYODO

Kompetisi Tidur Berhadiah Rp220 Juta

Kompetisi Tidur Jepang Berhadiah Rp220 Juta

image

Foto Peserta Lomba tidur yan diadakan oleh brand Kasur di Tokyo pada hari senin. (Image by: AFP | JapanToday)

Jepang menggelar kompetisi tidur bertajuk Matt Race di Tokyo pada Senin (5/10/2026). Acara yang diselenggarakan oleh perusahaan kasur Koala Sleep Japan ini mengajak puluhan peserta untuk beradu kemampuan tidur paling cepat dan nyenyak, dengan hadiah utama lebih dari 2 juta yen atau sekitar Rp220 juta.

Dalam kompetisi tidur tersebut, para peserta berbaring di atas kasur nyaman selama maksimal 90 menit sambil mengenakan perangkat pemantau tidur. Pemenang ditentukan berdasarkan seberapa cepat peserta tertidur dan seberapa nyenyak mereka selama kompetisi berlangsung.

Suasana perlombaan berlangsung di ruangan dengan pencahayaan redup. Sejumlah peserta terlihat tidur dengan alat pemantau yang terpasang di kepala, sementara beberapa lainnya memeluk boneka saat berbaring di kasur masing-masing.

Riichiro Nakama, direktur kreatif Koala Sleep Japan, mengatakan bahwa Jepang kerap digambarkan sebagai negara yang mengalami masalah kekurangan tidur. Menurutnya, masyarakat Jepang juga dikenal memiliki etos kerja yang tinggi. Melalui kompetisi tidur ini, penyelenggara berharap dapat meningkatkan perhatian masyarakat terhadap pentingnya tidur.

image

Foto Peserta Lomba tidur yan diadakan oleh brand Kasur di Tokyo pada hari senin. (Image by: AFP | JapanToday)

Data Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) pada 2021 menunjukkan bahwa rata-rata waktu tidur masyarakat Jepang hanya sekitar 7 jam 24 menit per hari. Angka tersebut merupakan yang terendah di antara negara-negara anggota OECD yang diteliti. Jam kerja yang panjang, waktu perjalanan menuju tempat kerja, serta aktivitas malam hari disebut sebagai sejumlah faktor yang berkontribusi terhadap kondisi tersebut.

Salah satu peserta, Chisato Honda, 32 tahun, mengaku menikmati pengalaman mengikuti kompetisi tersebut. Ia mengatakan bahwa waktu perlombaan terasa berlalu dengan sangat cepat, bahkan membuatnya berharap bisa tidur sedikit lebih lama. Honda juga menyebut kompetisi itu sebagai pengalaman yang menyenangkan.

Pemenang kompetisi tidur ini adalah peserta bernama Suimii, yang hanya menggunakan nama panggilan. Ia berencana memanfaatkan hadiah uang yang diperolehnya untuk membiayai kepindahan ke tempat tinggal sendiri. Selain itu, Suimii juga ingin membeli tempat tidur yang menurutnya terlihat seperti tempat tidur seorang putri.

Melalui Matt Race, Koala Sleep Japan menghadirkan kompetisi yang menjadikan kualitas tidur sebagai unsur utama perlombaan. Acara ini berlangsung di tengah perhatian terhadap kebiasaan tidur masyarakat Jepang, yang berdasarkan data OECD masih memiliki rata-rata waktu tidur terendah di antara negara-negara anggota yang diteliti.

 

Hokkaido Jadi Prefektur Terpopuler

Hokkaido Pertahankan Gelar Terfavorit

image

Potret Hokkaido (Image by: JapanToday)

TOKYO – Hokkaido kembali menempati posisi pertama sebagai prefektur paling menarik di Jepang dalam survei tahunan Brand Research Institute yang dirilis pada Sabtu. Hasil tersebut membuat Hokkaido mempertahankan peringkat teratas selama 18 tahun berturut-turut sejak survei dimulai pada 2009.

Dalam survei terbaru, Hokkaido memperoleh penilaian tinggi dalam sejumlah kategori, terutama terkait keinginan untuk mengunjungi wilayah tersebut sebagai destinasi wisata. Kyoto berada di posisi kedua, sedangkan Okinawa menempati peringkat ketiga. Keduanya mempertahankan posisi yang sama seperti tahun sebelumnya.

Survei Brand Research Institute mencakup seluruh 47 prefektur di Jepang. Sementara Hokkaido kembali berada di posisi teratas, Saga di barat daya Jepang menjadi prefektur dengan peringkat terendah, yakni posisi ke-47, setelah sebelumnya berada di peringkat ke-45.

Survei daring tersebut dilakukan pada Juni hingga Juli tahun ini dengan melibatkan 31.666 responden laki-laki dan perempuan berusia 20 hingga 70-an. Para responden menjawab 91 pertanyaan yang mencakup berbagai aspek, termasuk tingkat pengenalan dan daya tarik masing-masing prefektur.

image

Potret Hokkaido (Image by: JapanToday)

Selain Hokkaido yang mempertahankan posisi teratas, sejumlah prefektur juga mengalami peningkatan peringkat. Nagasaki naik tiga posisi menjadi peringkat kedelapan. Brand Research Institute menyebut penyelenggaraan berbagai acara berskala besar, termasuk festival musik, sebagai salah satu faktor yang berkaitan dengan kenaikan tersebut.

Osaka juga mengalami peningkatan dua posisi dan kini berada di peringkat keenam. Prefektur di Jepang bagian barat tersebut menjadi tuan rumah World Expo 2025, sementara Hokkaido tetap mempertahankan popularitasnya sebagai salah satu wilayah yang banyak diminati dalam survei tersebut.

Niigata mencatat kenaikan paling besar di antara beberapa wilayah yang disebutkan, dengan naik enam posisi menjadi peringkat ke-22. Kenaikan tersebut diperkirakan berkaitan dengan meningkatnya pengenalan terhadap kompleks tambang emas dan perak di Pulau Sado, yang ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada 2024.

Di wilayah timur Jepang, Saitama naik ke posisi ke-44 setelah menempati peringkat terakhir pada tahun sebelumnya. Ibaraki tetap berada di posisi ke-46. Brand Research Institute menyatakan bahwa prefektur yang mengalami peningkatan minat dari wisatawan juga cenderung mencatat kenaikan peringkat dalam survei tersebut.

Source: KyodoNews | JapanToday

</p style="text-align:>

Anime Jepang Hadapi Tantangan Baru

Industri Anime Jepang Hadapi Tantangan Global

Industri anime Jepang terus memperluas jangkauannya ke pasar internasional. Namun, popularitas yang semakin besar juga menghadirkan tantangan baru, mulai dari perbedaan budaya dan aturan hukum hingga kritik di media sosial. Kondisi ini membuat perusahaan produksi harus mencari keseimbangan antara menjangkau penonton global dan mempertahankan kebebasan berekspresi.

image

Foto dari manga "Chainsmoker Cat" ciptaan Nyan Nyan Factory (Image by: Kodansha Ltd. | KyodoNews)

Salah satu contoh terjadi pada anime Yani-Neko atau Chainsmoker Cat, yang mulai tayang pada Juli dan diadaptasi dari manga terbitan Kodansha Ltd. Serial ini menampilkan karakter kucing antropomorfik yang kerap terlihat merokok. Setelah dirilis di luar Jepang, penayangannya di Hong Kong dihentikan menyusul keluhan mengenai kemunculan merek rokok berulang kali. Pihak berwenang menilai penggambaran tersebut berpotensi dianggap sebagai iklan tembakau dan melanggar peraturan setempat. Komite produksi menyatakan pada akhir Agustus bahwa pihaknya tengah berdiskusi dengan pemegang lisensi lokal untuk mencari cara distribusi yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Perdebatan tersebut mencerminkan tantangan yang semakin relevan bagi industri anime Jepang. Menurut Association of Japanese Animations, nilai pasar anime Jepang mencapai sekitar 3,8 triliun yen pada 2024, dengan pasar luar negeri melampaui 2,1 triliun yen dan lebih besar daripada pasar domestik. Pemerintah Jepang juga menargetkan peningkatan penjualan konten ke luar negeri, dari sekitar 5,8 triliun yen pada 2023 menjadi 20 triliun yen pada 2033. Seiring dengan ekspansi tersebut, kreator dan perusahaan distribusi perlu mempertimbangkan perbedaan regulasi serta norma budaya di berbagai negara.

image

Foto Cosplayer yang sedang berfoto di Bioskop di Shanghai November 13, 2025.(Image by: KyodoNews)

Tantangan serupa pernah dialami Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba. Pada November 2019, Aniplex Inc. menghentikan pengiriman dan menarik volume keempat Blu-ray serta DVD setelah audio azan atau panggilan salat dalam Islam digunakan secara tidak tepat pada CD bonus. Perusahaan menjelaskan bahwa audio tersebut dibuat menggunakan materi yang tersedia secara komersial, tetapi kemudian menyadari bahwa penggunaannya bersama suara lain tidak sesuai dengan sensitivitas keagamaan umat Islam. Aniplex pun menyampaikan permintaan maaf. Selain itu, desain anting karakter Tanjiro Kamado mendapat kritik di Korea Selatan karena dinilai menyerupai Bendera Matahari Terbit, sehingga desainnya diubah pada layanan streaming di negara tersebut.

Ryo Koarai, profesor madya di Miyagi Gakuin Women's University yang mengkhususkan diri pada bisnis anime, menilai bahwa karya Jepang kini menjangkau penonton internasional yang belum tentu memahami budaya Jepang secara mendalam. Menurutnya, kreator perlu semakin memperhatikan konteks budaya, agama, hukum, dan standar etika di negara tujuan. Media sosial dan fitur penerjemahan juga membuat kritik dari luar negeri lebih mudah tersebar di Jepang. Perbedaan cara pandang pun dapat memicu perdebatan, terutama ketika sebagian penggemar menekankan kebebasan kreator, sementara pihak lain menginginkan perubahan pada karya yang dianggap bermasalah.

Meski demikian, Koarai mengingatkan bahwa terlalu berfokus pada reaksi penonton berisiko menghilangkan karakter khas sebuah karya. Ia menilai bahwa tidak semua kritik yang ramai di media sosial mewakili pandangan seluruh penggemar. Sebagian penonton internasional tetap ingin menikmati anime sesuai dengan konsep aslinya. Karena itu, proses lokalisasi dinilai perlu melibatkan orang-orang yang memahami budaya dan kondisi sosial setempat, tanpa langsung menganggap bahwa pembatasan ekspresi yang lebih ketat selalu menjadi solusi terbaik.

image

Cosplayer yang sedang berpose di Japan Festival di Sao Paulo Brazil pada Juli 12, 2024.(Image by: KyodoNews)

Sejumlah perusahaan Jepang juga mulai membangun mekanisme untuk mengidentifikasi potensi masalah terkait ekspresi kreatif. Bandai Namco Holdings Inc. menerapkan kebijakan kelompok mengenai etika dan ekspresi, serta membentuk subkomite etika pada tahun fiskal 2019 untuk meninjau berbagai persoalan terkait produk dan karya kreatif. Di Bandai Namco Filmworks Inc., perusahaan yang memproduksi anime seperti Gundam, staf memberikan masukan kepada sutradara dan produser apabila terdapat bentuk ekspresi yang berpotensi menimbulkan persoalan. Namun, masukan tersebut bersifat konsultatif, sedangkan keputusan akhir tetap berada di tangan sutradara dan produser demi menjaga kebebasan kreatif.

Jun Takei dari bagian dukungan kekayaan intelektual di departemen hukum Bandai Namco Filmworks mengatakan bahwa perusahaan berupaya mencegah kesalahpahaman atau reaksi negatif yang tidak disengaja tanpa menghilangkan pesan utama karya. Menurutnya, tantangan untuk menyeimbangkan sensitivitas budaya dan kebebasan berekspresi tidak memiliki satu jawaban yang berlaku untuk semua situasi. Perusahaan perlu mempertimbangkan bagaimana sebuah adegan diterima oleh penonton, tetapi tetap memberi ruang bagi kreator untuk menyampaikan gagasannya. Dengan semakin luasnya pasar internasional, industri anime Jepang dituntut untuk terus mencari pendekatan yang dapat menjaga identitas karya sekaligus mempertimbangkan keragaman audiens global.

Source: KyodoNews

 

Sushi Bus Hadir di Tokyo 10 Oktober

image

Foto yang diambil dari bagian dalam Sushi Bus yang rencana akan beroperasi dari tanggal 10 Oktober. (Image by: Engoo.com)

Sushi Bus Mulai Beroperasi di Tokyo

Konsep Sushi Bus, bus tingkat dengan fasilitas makan sushi berjalan, akan mulai beroperasi di Tokyo pada 10 Oktober 2026. Layanan ini dikembangkan oleh SUSHI BUS bersama WILLER ACROSS dengan menggabungkan bus wisata atap terbuka dan konsep conveyor belt sushi dalam satu kendaraan. Reservasi untuk layanan tersebut juga telah dibuka sejak 30 September.

Bus ini menggunakan kendaraan tingkat dengan area makan di lantai dua. Di sepanjang sisi tempat duduk terdapat conveyor belt yang membawa sushi untuk para penumpang. Sementara itu, sushi disiapkan di dapur yang berada di lantai pertama, kemudian dibawa menggunakan elevator ke lantai dua sebelum ditempatkan di jalur conveyor belt.

image

Foto yang diambil dari bagian dalam Sushi Bus yang rencana akan beroperasi dari tanggal 10 Oktober.
(Image by: SoraNews24)

SUSHI BUS memiliki kapasitas sebanyak 20 penumpang. Titik keberangkatannya berada di Kajibashi Parking Lot, yang terletak sekitar tiga hingga lima menit berjalan kaki dari Tokyo Station. Rute detailnya masih disesuaikan dengan kondisi seperti waktu, cuaca, musim, dan situasi jalan, tetapi bus direncanakan melewati sejumlah kawasan wisata di Tokyo.

Setiap perjalanan berlangsung sekitar 70 menit tanpa tujuan akhir tertentu karena konsepnya merupakan perjalanan keliling Tokyo. Beberapa lokasi yang disebut dalam rencana perjalanan antara lain Tokyo Tower, Ginza, Asakusa Kaminarimon, dan Tokyo Skytree. Kecepatan bus diperkirakan sekitar 30 kilometer per jam berdasarkan pengujian rute yang telah dilakukan.

image

Ilustrasi Sushi Bus yang rencana akan beroperasi dari tanggal 10 Oktober.
(Image by: SoraNews24)

Untuk menjaga keamanan makanan selama perjalanan, penyelenggara menyebut telah melakukan lebih dari 100 kali pengujian, termasuk pengujian saat pengereman mendadak. Sushi juga tidak dipotong atau diolah saat bus sedang berjalan. Bahan yang telah diproses sebelumnya disiapkan di dapur lantai pertama sebelum dibawa ke lantai dua.

Dari sisi makanan, SUSHI BUS bekerja sama dengan perusahaan grosir dari Toyosu Market untuk memasok sekitar 10 hingga 15 jenis bahan sushi. Bahan tersebut dikirim langsung dan telah dipotong sesuai ukuran yang ditentukan sehingga proses persiapan di dalam bus dapat diminimalkan. Layanan ini juga menyediakan sushi secara all-you-can-eat selama perjalanan.

image

Foto sushi yang akan hadir di Sushi Bus yang rencana akan beroperasi dari tanggal 10 Oktober.
(Image by: SoraNews24)

Tarif reguler Sushi Bus ditetapkan mulai dari 16.000 yen per orang, termasuk makanan dan minuman. Selain kursi reguler, tersedia dua Premium Seats yang berada di bagian paling depan lantai dua dengan tarif 20.000 yen per orang. Bus memiliki atap transparan yang dapat ditutup ketika hujan, sementara saat cuaca memungkinkan area lantai dua dapat digunakan dalam kondisi terbuka.

Operasional Sushi Bus direncanakan berlangsung setiap hari, meskipun dapat mengalami hari libur karena perawatan kendaraan dan kondisi tertentu. Saat ini terdapat lima jadwal perjalanan yang direncanakan setiap hari, yaitu pukul 11.00, 13.00, 15.00, 17.00, dan 19.00. Reservasi telah dibuka secara online melalui situs resmi SUSHI BUS, dengan layanan yang ditujukan terutama bagi wisatawan, tetapi tidak terbatas untuk wisatawan asing saja.

 

Harga Makanan Jepang Naik Oktober

3.153 Produk Jepang Naik

image

(Image by: Kyodo News)

TOKYO – Sebanyak 3.153 produk makanan dan minuman di Jepang dijadwalkan mengalami kenaikan harga pada Oktober 2026. Berdasarkan survei Teikoku Databank Ltd. yang dirilis Rabu, penyesuaian tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya biaya kemasan dan pelemahan yen yang membuat biaya impor lebih tinggi.

Kenaikan pada Oktober terjadi setelah 4.965 produk mengalami atau dijadwalkan mengalami penyesuaian pada September. Teikoku Databank menyebut perkembangan selama dua bulan tersebut sebagai gelombang kenaikan harga berikutnya.

Meningkatnya harga minyak mentah dan nafta akibat memburuknya situasi di Timur Tengah turut mendorong biaya bahan kemasan. Di sisi lain, pelemahan yen membuat barang impor menjadi lebih mahal. Sejumlah perusahaan kemudian meneruskan peningkatan biaya tersebut kepada konsumen.

Sepanjang 2026, sebanyak 20.187 produk makanan dan minuman telah atau dijadwalkan mengalami kenaikan. Angka tersebut kembali melampaui 20.000 item untuk tahun kedua berturut-turut, menurut data Teikoku Databank.

Berdasarkan kategori, minuman beralkohol dan minuman lainnya mencatat jumlah penyesuaian harga terbesar untuk Oktober, yaitu 1.399 item. Berikutnya terdapat bumbu dan penyedap sebanyak 820 item serta makanan olahan dengan 668 item.

Sejumlah produsen bir besar juga akan menaikkan harga minuman seperti happoshu atau bir rendah malt dan minuman bir kategori ketiga. Penyesuaian tersebut berkaitan dengan kenaikan tarif pajak minuman beralkohol untuk kategori tersebut.

Perubahan tarif juga terjadi pada sektor restoran dan rekreasi. Jaringan restoran yakitori Torikizoku akan menaikkan harga menu seragamnya dari 390 yen menjadi 410 yen. Sementara itu, Oriental Land Co., operator Tokyo Disney Resort, akan menaikkan tiket masuk maksimumnya mulai Oktober.

Sektor energi rumah tangga turut mengalami penyesuaian. Seluruh 10 perusahaan listrik besar di Jepang akan menaikkan tarif untuk pemakaian Oktober yang ditagihkan pada bulan berikutnya. Kenaikan mencapai hingga 1.578 yen untuk rumah tangga standar, sementara perusahaan gas kota besar juga akan menaikkan tarif.

 

Hujan 34 Hari, Tokyo Catat Rekor Baru

Tokyo Pecahkan Rekor Hujan Sejak 1886

Tokyo, Jepang — Tokyo mencatat 34 hari berturut-turut dengan presipitasi hingga Selasa, 29 September 2026. Rangkaian tersebut menjadi periode terpanjang dalam catatan pengamatan cuaca di pusat ibu kota Jepang sejak Badan Meteorologi Jepang (JMA) memulai pencatatan pada 1886.

image

(Image by: Pakutaso)

Rangkaian ini dimulai pada 27 Agustus 2026 dan terus berlanjut hingga 29 September. Dengan catatan tersebut, Tokyo melewati rekor sebelumnya yang berlangsung selama 33 hari, yaitu dari 27 Juni hingga 29 Juli 2019.

Meski disebut sebagai rangkaian hari dengan presipitasi, tidak semua hari mengalami hujan deras. Berdasarkan data JMA, hari dengan curah hujan kurang dari 0,5 milimeter tetap dihitung dalam rangkaian tersebut. Dari 34 hari yang tercatat, terdapat 10 hari dengan curah hujan di bawah angka tersebut.

Beberapa periode dengan curah hujan tinggi juga terjadi selama rangkaian ini. Pada 21 September, Tokyo menerima curah hujan harian sebesar 156 milimeter. Pada waktu tersebut, Topan Dujuan mendekati Jepang dan membawa hujan ke sejumlah wilayah.

Jumlah curah hujan pada September juga berada di atas rata-rata. Hingga 28 September, pusat Tokyo mencatat sekitar 629 milimeter sepanjang bulan tersebut. Angka ini menjadi salah satu jumlah curah hujan September tertinggi dalam catatan pengamatan di wilayah ibu kota.

image

Foto yang diambil oleh Japan Today di Akihabara pada hari Selasa (Image by: Pakutaso)

Kondisi cuaca tersebut dipengaruhi oleh beberapa sistem atmosfer yang berada di sekitar Jepang. Sejumlah topan mendekati negara tersebut, sementara front hujan musim gugur bertahan di sekitar Jepang dan memengaruhi wilayah timur, termasuk Tokyo.

Rangkaian ini masih dapat bertambah jika presipitasi kembali tercatat setelah 29 September. Prakiraan cuaca pada periode tersebut juga menunjukkan adanya kemungkinan hujan di sejumlah wilayah Jepang bagian timur akibat pengaruh front yang masih berada di sekitar kawasan tersebut.

Dengan catatan selama 34 hari berturut-turut, Tokyo kini memiliki rekor baru untuk periode dengan presipitasi terpanjang sejak pencatatan dimulai pada 1886. Rekor sebelumnya selama 33 hari yang tercatat pada 2019 telah terlampaui.

 

Jepang Uji Gerbang Face Recognition

image

(Image by: Soranews24)

Jepang terus mengembangkan teknologi transportasi dengan menghadirkan gerbang tiket yang memungkinkan penumpang melewati stasiun tanpa perlu menempelkan kartu atau memindai tiket. Salah satunya adalah sistem “Face Pass” berbasis pengenalan wajah yang digunakan di Osaka Metro.

Salah satu gerbang tersebut ditemui di Stasiun Dobutsuen-mae, Osaka, pada September 2026. Gerbang serupa juga tersedia di Stasiun Namba. Di wilayah lain, teknologi pengenalan wajah juga mulai diperkenalkan oleh sejumlah operator kereta di Jepang.

image

(Image by: Soranews24)

image

(Image by: Soranews24)

Untuk menggunakan sistem tersebut, pengguna di Jepang harus terlebih dahulu melakukan registrasi data wajah dan menghubungkannya dengan tiket digital tertentu. Proses ini dilakukan melalui layanan yang disediakan oleh operator transportasi terkait.

Berbeda dengan kartu transportasi IC yang cukup ditempelkan pada mesin pembaca, sistem di Jepang ini menggunakan data wajah sebagai bagian dari proses autentikasi. Pengguna tetap perlu memiliki tiket digital yang sesuai sebelum dapat melewati gerbang.

Dalam percobaannya, reporter SoraNews24 mencoba menggunakan gerbang pengenalan wajah di Osaka. Namun, proses autentikasi tidak langsung berhasil sehingga reporter tersebut harus mencoba beberapa kali sebelum akhirnya menggunakan gerbang biasa.

image

(Image by: Soranews24)

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa penggunaan teknologi baru di Jepang tetap membutuhkan proses registrasi dan autentikasi sebelum dapat digunakan. Pada saat yang sama, reporter juga melihat pengguna lain berhasil melewati gerbang tersebut.

Menurut informasi resmi Osaka Metro, kamera pada gerbang digunakan untuk mendeteksi dan mencocokkan wajah pengguna dengan data yang telah didaftarkan. Operator menyatakan bahwa data karakteristik wajah yang digunakan untuk proses pencocokan akan dihapus setelah proses verifikasi selesai.

Teknologi pengenalan wajah menjadi salah satu perkembangan sistem tiket digital di Jepang. Osaka Metro telah memasang gerbang tersebut di sebagian besar stasiunnya, sehingga penumpang yang telah melakukan registrasi dapat melewati gerbang tanpa perlu menempelkan kartu secara langsung.

Jepang Hadapi Lonjakan Peserta JLPT

Jepang Hadapi Lonjakan Pendaftar JLPT

image

Seorang wanita menerima pelajaran bahsa Jepang di Osaka pada 25 September 2026. (Image by: Kyodo)

Pemerintah Jepang meminta sekolah-sekolah bahasa Jepang di seluruh negeri mempertimbangkan penggunaan ujian kemampuan bahasa selain JLPT. Permintaan tersebut disampaikan setelah jumlah pendaftar meningkat tajam dan mulai menimbulkan kendala dalam penyediaan tempat serta penyelenggaraan ujian.

Peningkatan jumlah pendaftar terjadi setelah pemerintah Jepang memperluas persyaratan kemampuan bahasa Jepang untuk berbagai jenis pekerjaan sejak Oktober tahun lalu. Kebijakan tersebut diterapkan di tengah meningkatnya kebutuhan Jepang terhadap tenaga kerja asing.

Ujian yang terdiri dari lima tingkat ini diselenggarakan dua kali dalam setahun oleh Japan Foundation dan Japan Educational Exchanges and Services (JEES). Tes tersebut banyak digunakan oleh warga negara asing untuk memenuhi persyaratan bahasa dalam berbagai status tinggal, termasuk untuk bekerja dan belajar di Jepang.

Jumlah pendaftar terus meningkat setiap tahun setelah pandemi COVID-19. Berdasarkan perhitungan sementara, sebanyak 943.671 orang di Jepang dan luar negeri mendaftar untuk ujian pada Juli tahun ini. Jumlah tersebut menjadi rekor tertinggi untuk pelaksanaan sesi Juli.

Lonjakan pendaftar juga berdampak pada ujian sesi Desember. Pendaftaran untuk sesi tersebut bahkan ditutup lebih awal dari jadwal yang telah ditentukan. Sejumlah tes kemampuan bahasa Jepang lainnya juga menghadapi peningkatan jumlah peserta dan keterbatasan kapasitas.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olahraga, Sains dan Teknologi Jepang (MEXT) menyampaikan kondisi tersebut dalam dokumen bertanggal 11 September yang dikirim kepada sekitar 100 lembaga pendidikan bahasa Jepang yang telah mendapatkan sertifikasi pemerintah. MEXT menjelaskan bahwa peningkatan pendaftar membuat penyediaan tempat yang mencukupi serta pelaksanaan ujian secara tepat menjadi semakin sulit.

MEXT kemudian meminta lembaga-lembaga tersebut mempertimbangkan ujian alternatif, salah satunya BJT Business Japanese Proficiency Test. Badan Layanan Imigrasi Jepang juga menyampaikan permintaan serupa kepada sekitar 800 sekolah bahasa Jepang lainnya yang belum termasuk dalam lembaga pendidikan bersertifikasi pemerintah.

Sementara itu, penyelenggara Test of Practical Japanese atau J.TEST, yang dilaksanakan enam kali dalam setahun, juga memperingatkan bahwa pendaftaran untuk sesi November dapat ditutup sebelum batas waktu apabila jumlah pendaftar mencapai kapasitas yang tersedia. Yoshihisa Saito, associate professor di Kobe University yang meneliti kebijakan terkait warga negara asing, mengatakan peningkatan pendaftar seharusnya sudah dapat diperkirakan setelah persyaratan kemampuan bahasa Jepang diberlakukan untuk sejumlah status tinggal. Ia juga menyatakan bahwa pemerintah perlu memastikan ujian dapat diakses oleh seluruh peserta yang membutuhkannya.