Shelter Instan untuk Korban Gempa Kumamoto

Foto menunjukkan "Rumah Instan" yang dipasang di Hikawa, Prefektur Kumamoto, setelah gempa bumi dahsyat melanda prefektur tersebut beberapa minggu sebelumnya. (Image by : Kyodo)
Shelter instan mulai digunakan untuk membantu warga yang terdampak gempa di Prefektur Kumamoto, Jepang. Hunian sementara yang dikenal sebagai “Instant House” ini dirancang sebagai tempat berlindung yang dapat dipasang dengan cepat di lokasi terdampak bencana.
“Instant House” dikembangkan oleh Keisuke Kitagawa, profesor di Nagoya Institute of Technology sekaligus presiden LIFULL ArchiTech. Konsep tersebut dikembangkan sebagai hunian sementara dengan struktur ringan dan material yang relatif mudah dibawa ke wilayah yang membutuhkan bantuan.
Untuk penggunaan di luar ruangan, shelter ini menggunakan material membran yang menyerupai bahan tenda. Struktur tersebut dibentuk dengan bantuan blower yang mengisi udara ke dalam membran. Setelah bentuknya terbentuk, bagian dalamnya diberi lapisan busa poliuretan yang berfungsi sebagai insulasi.

Foto "Rumah instan" terlihat di dekat perumahan yang runtuh di Hikawa prefektur Kumamoto pada 6 Agustus. (Image by : Yomiuri Shinbun)
Menurut informasi dari pemerintah Jepang, versi luar ruangan dapat menampung hingga sekitar 10 orang. Proses pemasangannya juga dapat dilakukan dalam waktu sekitar satu hingga dua jam, sehingga shelter tersebut dapat digunakan sebagai tempat berlindung sementara di wilayah yang membutuhkan penanganan cepat.
Selain versi luar ruangan, terdapat pula shelter untuk penggunaan di dalam ruangan. Shelter jenis ini dibuat menggunakan material karton dan dapat dipasang di fasilitas seperti gedung olahraga yang digunakan sebagai tempat pengungsian. Struktur tersebut juga dapat memberikan ruang yang lebih privat bagi para pengungsi.
Teknologi Instant House sebelumnya telah digunakan dalam penanganan bencana, termasuk setelah gempa Noto pada Januari 2024. Saat itu, 10 unit berbahan karton dibawa ke sebuah tempat pengungsian di Wajima. Setelah mendapatkan dukungan melalui donasi, produksi kemudian diperluas sehingga sekitar 250 unit luar ruangan dan 1.250 unit dalam ruangan dipasang di berbagai tempat pengungsian di wilayah Noto.
Pengembangan Instant House bermula setelah gempa dan tsunami Jepang Timur pada 2011. Saat mengunjungi tempat pengungsian di Ishinomaki, Miyagi, Kitagawa mendapat pertanyaan mengenai mengapa pembangunan rumah sementara membutuhkan waktu yang cukup lama. Pengalaman tersebut kemudian mendorongnya mengembangkan konsep hunian yang dapat didirikan dengan lebih cepat.
Penggunaan shelter instan di Kumamoto menjadi bagian dari upaya menyediakan tempat berlindung bagi warga yang terdampak gempa dan masih menghadapi kerusakan tempat tinggal. Dengan proses pemasangan yang relatif cepat, shelter ini menjadi salah satu bentuk hunian sementara yang dapat digunakan selama proses pemulihan pascabencana.






























