Jepang Terapkan Sistem JESTA 2028

image

Foto menunjukkan para pelancong di bandara Haneda di Tokyo pada 18 Februari 2026 (Image by: Kyodonews.net)

Pemerintah Jepang tengah menyiapkan langkah untuk menyederhanakan prosedur masuk bagi wisatawan asing seiring meningkatnya jumlah kunjungan internasional dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu upaya yang dipertimbangkan adalah penerapan sistem penyaringan perjalanan secara daring sebelum wisatawan berangkat menuju Jepang.

Langkah tersebut akan dilakukan melalui sistem Japan Electronic System for Travel Authorization (JESTA). Badan Layanan Imigrasi Jepang menyatakan bahwa sistem ini direncanakan mulai diperkenalkan pada tahun fiskal 2028 sebagai bagian dari upaya memperkuat pemeriksaan awal sekaligus membantu mempercepat proses kedatangan di bandara.

Melalui sistem ini, wisatawan dari negara atau wilayah yang saat ini memperoleh pembebasan visa untuk kunjungan jangka pendek akan diminta mengirimkan informasi perjalanan secara daring sebelum keberangkatan. Data tersebut kemudian akan digunakan oleh otoritas imigrasi untuk melakukan penyaringan awal terhadap calon pengunjung yang berencana masuk ke Jepang.

image

Foto Pesawat di bandara Haneda di Tokyo (Image by: Getty Images)

Setelah informasi diperiksa, otoritas imigrasi dapat memberikan atau menolak izin perjalanan sebelum keberangkatan. Jika terdapat indikasi pelanggaran aturan imigrasi, seperti kemungkinan tinggal melebihi batas waktu yang diizinkan, calon pengunjung dapat ditolak untuk menaiki pesawat menuju Jepang.

Penerapan sistem ini juga berkaitan dengan meningkatnya jumlah wisatawan asing yang datang ke Jepang dalam beberapa tahun terakhir. Jepang mencatat lebih dari 40 juta pengunjung internasional pada tahun 2025, dan pemerintah menargetkan jumlah tersebut meningkat hingga 60 juta wisatawan pada tahun 2030.

Pemerintah berharap penerapan sistem penyaringan pra-perjalanan ini dapat membantu memperlancar proses kedatangan wisatawan sekaligus memperkuat pengawasan imigrasi di tengah meningkatnya arus perjalanan internasional ke Jepang.

Tsukuba Terima Sopir Asing

image

Foto Wataketiya Walawwe Kavinda yang sedang bekerja sebagai driver bus (Image by: Japannews.yomiuri.co.jp

Di tengah kekurangan tenaga kerja yang semakin terasa di sektor transportasi Jepang, seorang sopir bus asing pertama di Prefektur Ibaraki mulai bekerja di Kota Tsukuba pada Februari lalu dengan status visa Pekerja Terampil Tertentu (Specified Skilled Worker). Ia kini bertugas mengemudikan bus sekolah yang mengantar dan menjemput siswa setiap hari. Kehadirannya tidak hanya membantu operasional perusahaan, tetapi juga menjadi contoh baru bagi perekrutan tenaga kerja asing di industri transportasi Jepang.

Sopir tersebut adalah Wataketiya Walawwe Kavinda Bandara Senevirathna, pria asal Sri Lanka yang datang ke Jepang pada tahun 2023 sebagai mahasiswa di sekolah bahasa Jepang yang dioperasikan oleh perusahaan bus Jyonan Kotsu. Di negara asalnya, ia memiliki pengalaman sebagai pengemudi truk berat. Pengalaman tersebut membuatnya bercita-cita untuk tetap bekerja di bidang transportasi ketika berada di Jepang.

Kesempatan itu baru terbuka pada tahun 2024 ketika pemerintah Jepang menambahkan sektor transportasi otomotif—termasuk pengemudi bus—ke dalam kategori visa Pekerja Terampil Tertentu Kategori I. Kebijakan ini diterapkan untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja yang semakin parah di industri transportasi, sekaligus membuka peluang bagi warga negara asing untuk bekerja sebagai pengemudi kendaraan komersial di Jepang.

image

Ilustrasi Foto bus yang ada di Ibaraki, tepatnya di kota Tsukuba (Image by: Japantravel.navitime.com)

Setelah lulus dari sekolah bahasa Jepang pada Juni 2025, Kavinda direkrut oleh Jyonan Kotsu dan mulai mempersiapkan diri untuk menjadi sopir bus. Ia harus memperoleh SIM kendaraan besar Kelas 2 yang menjadi syarat untuk mengemudikan kendaraan komersial seperti bus. Selain itu, ia juga perlu mengurus perubahan status visanya agar dapat bekerja secara resmi di sektor tersebut.

Salah satu tantangan terbesar yang ia hadapi adalah mempelajari karakter kanji yang digunakan dalam rambu lalu lintas dan berbagai dokumen kerja. Untuk membantu proses tersebut, rekan kerjanya, Chiaki Nidaira, turut mendampingi dengan menjelaskan arti kanji agar lebih mudah dipahami. Berkat ketekunan dan kerja kerasnya, Kavinda berhasil lulus ujian SIM pada September 2025 dan memperoleh status visa Pekerja Terampil Tertentu pada akhir tahun yang sama.

Setelah menjalani pelatihan mengemudi bersama pengemudi senior di rute sebenarnya, ia mulai mengemudikan bus sekolah secara mandiri pada Februari. Kepribadiannya yang ramah membuatnya cepat disukai oleh para siswa yang menjadi penumpangnya setiap hari. Sementara itu, perusahaan Jyonan Kotsu berharap perekrutan pengemudi asing seperti Kavinda dapat membantu mengatasi kekurangan sopir, terutama karena usia rata-rata pengemudi mereka saat ini telah mencapai sekitar 58 tahun.

Marugame X Dragon Ball

image

Udonuts Dragon Ball (Image by: soranews24.com)

Kolaborasi antara Marugame Seimen dan Dragon Ball menjadi salah satu kampanye kuliner paling menarik di Jepang tahun ini. Dengan mengangkat simbol kura-kura khas pada nama “Marugame” yang selaras dengan lambang di pakaian Son Goku, kolaborasi ini terasa bukan sekadar promosi, tetapi seperti pertemuan dua identitas yang memang sudah “ditakdirkan” cocok sejak awal.

Program ini resmi dimulai pada 3 Maret dan langsung menarik perhatian publik, terutama penggemar anime dan pelanggan setia restoran. Tidak hanya menghadirkan menu baru, kolaborasi ini juga menyuguhkan pengalaman tematik yang kuat mulai dari visual, kemasan, hingga konsep makanan yang terinspirasi langsung dari dunia Dragon Ball. Ini membuat pengunjung merasa seolah-olah mereka sedang “masuk” ke dalam cerita, bukan sekadar makan di restoran.

Salah satu menu utama yang menjadi sorotan adalah tempura Kacang Senzu. Dalam cerita Dragon Ball, kacang ini dikenal sebagai item penyembuh yang mampu memulihkan energi secara instan. Di versi nyata, makanan ini dikemas dengan ilustrasi Yajirobe, karakter yang dikenal sebagai penjaga kacang Senzu, serta gambar Gohan bersama Goku, menciptakan daya tarik koleksi bagi penggemar.

image

Kacang Senzu di dunia nyata sebenarnya adalah edamame yang digoreng (Image by: soranews24.com)

Ketika dibuka, isi kacang Senzu ini ternyata berupa edamame goreng tepung tempura. Meski tidak memiliki kekuatan super seperti di anime, cita rasa yang dihadirkan justru menjadi keunggulan utama. Perpaduan antara rasa alami edamame yang ringan dengan lapisan tempura yang renyah menghasilkan sensasi makan yang unik. Bahkan, banyak yang merasa camilan ini lebih cocok sebagai “comfort food” dibanding sekadar gimmick kolaborasi.

Tidak kalah menarik adalah Dragon Ball Udonuts, yang menghadirkan reinterpretasi kreatif dari bola naga legendaris. Dibuat dari adonan udon, camilan ini memiliki tekstur kenyal khas yang berbeda dari donat biasa. Lapisan cokelat oranye yang cerah membuat tampilannya menyerupai Dragon Ball, sementara tambahan permen kecil berbentuk bintang memungkinkan pembeli untuk menghias sendiri sebelum difoto sebuah detail kecil yang sangat efektif untuk menarik perhatian di media sosial.

Dari sisi strategi, kolaborasi ini menunjukkan bagaimana brand makanan dapat memanfaatkan kekuatan budaya pop untuk meningkatkan daya tarik. Bukan hanya menjual rasa, Marugame Seimen juga menjual pengalaman, nostalgia, dan interaksi visual. Hal ini terlihat dari antusiasme pelanggan yang tidak hanya datang untuk makan, tetapi juga untuk berfoto dan membagikan pengalaman mereka secara online.

Perlu dicatat bahwa menu tempura Kacang Senzu hanya tersedia dalam waktu terbatas hingga 16 Maret, sebelum digantikan oleh menu baru bertema Spirit Bomb Rice Ball yang juga terinspirasi dari jurus ikonik di Dragon Ball. Sementara itu, Dragon Ball Udonuts memiliki periode penjualan lebih panjang hingga 6 April, memberi kesempatan lebih luas bagi pengunjung untuk mencoba dan menikmati kolaborasi unik ini sebelum berakhir.

Jepang Terapkan Harga Ganda

image

Jepang Hadapi Masalah Overtourism (Image by Google)

Pemerintah Jepang berencana menyusun pedoman terkait penerapan sistem harga ganda di fasilitas wisata publik. Kebijakan ini muncul di tengah meningkatnya praktik pembedaan harga antara penduduk lokal dan wisatawan, yang dinilai sebagai salah satu cara untuk mengatasi masalah overtourism.

Menteri transportasi Jepang, Yasushi Kaneko, menyampaikan bahwa meskipun penetapan harga pada dasarnya menjadi kewenangan masing-masing operator, pemerintah tetap perlu memberikan panduan agar kebijakan tersebut berjalan seimbang dan adil.

Ia menekankan pentingnya penetapan harga yang mampu menjaga keberlanjutan operasional dan kualitas layanan fasilitas wisata. Dengan demikian, pelaku usaha tetap dapat memberikan layanan optimal di tengah meningkatnya jumlah pengunjung.



Kementerian Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, Transportasi, dan Pariwisata Jepang berencana melibatkan panel ahli untuk membahas detail pedoman tersebut. Langkah ini diharapkan dapat menghasilkan kebijakan yang komprehensif dan dapat diterapkan secara luas.

Lonjakan jumlah wisatawan asing ke Jepang menjadi salah satu latar belakang kebijakan ini. Pada tahun lalu, jumlah pengunjung mancanegara bahkan melampaui 40 juta orang untuk pertama kalinya, yang turut memicu berbagai persoalan seperti kepadatan dan perilaku wisatawan yang kurang tertib.

Beberapa daerah telah mulai menerapkan atau mempertimbangkan sistem harga ganda. Di Himeji, misalnya, tarif masuk Kastil Himeji dinaikkan bagi non-penduduk, sementara Kyoto juga mempertimbangkan kebijakan serupa untuk tarif transportasi umum. Selain itu, pemerintah juga mendorong museum nasional untuk mengadopsi sistem ini paling lambat Maret 2031.

Juara Turnamen Karuta Takinogawa

image

Klub Karuta Takinogawa yang berlokasi di Distrik Kita, Tokyo (Image by Google)

Selama bulan-bulan musim dingin di Jepang, berbagai turnamen karuta kompetitif digelar di berbagai daerah. Musim ini dianggap sebagai waktu yang ideal karena para pemain dapat fokus berlatih dan bertanding tanpa gangguan aktivitas luar ruangan yang padat seperti di musim panas. Karuta, khususnya yang menggunakan kartu klasik Hyakunin Isshu, bukan sekadar permainan, tetapi juga warisan budaya yang menggabungkan kecepatan, konsentrasi, dan pemahaman sastra Jepang kuno.

Salah satu ajang yang paling menarik perhatian adalah turnamen nasional untuk siswa sekolah dasar. Kompetisi ini mempertemukan anak-anak berbakat dari seluruh Jepang yang telah berlatih sejak usia dini. Meskipun masih muda, para peserta menunjukkan kemampuan luar biasa dalam menghafal ratusan puisi dan merespons dengan kecepatan tinggi saat pembacaan kartu dimulai.

Tahun ini, sorotan tertuju pada Klub Karuta Takinogawa yang berlokasi di Distrik Kita, Tokyo. Klub tersebut berhasil mencetak prestasi gemilang dengan meraih posisi juara dan runner-up dalam turnamen nasional tersebut. Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa pembinaan sejak dini serta latihan yang konsisten mampu menghasilkan pemain karuta berkualitas tinggi.

image

Kartu Klasik Hyakunin Isshu (Image by Google)

Fenomena ini juga menarik perhatian media. Penyiar berita Karikawa Kurumi melakukan liputan langsung dan wawancara mendalam dengan para pemain muda. Dalam liputannya, ia menggambarkan bagaimana dunia karuta yang selama ini dikenal melalui karya populer kini benar-benar hidup di dunia nyata, bahkan di kalangan anak-anak.

Popularitas karuta di kalangan generasi muda tidak lepas dari pengaruh karya seperti Chihayafuru, yang berhasil memperkenalkan permainan tradisional ini dengan cara yang menarik dan emosional. Banyak anak yang mengaku mulai tertarik bermain karuta setelah menonton anime tersebut, lalu bergabung dengan klub lokal untuk berlatih secara serius.

Dengan semakin banyaknya anak yang terlibat, karuta kini tidak hanya menjadi simbol budaya klasik, tetapi juga aktivitas kompetitif yang modern dan dinamis. Turnamen seperti ini menunjukkan bahwa tradisi dapat terus hidup dan berkembang, selama mampu beradaptasi dan menarik minat generasi berikutnya.

Sensasi Burger Matsuya Famima

image

Burger Uma Toma kolaborasi Family Mart × Matsuya (Image by: soranews24.com)

Rilisan edisi terbatas ini langsung menarik perhatian di dunia maya karena keunikannya. Di Jepang, perbedaan antara suku kata “gu” dan “ga” sangat penting dalam dunia kuliner, terutama setelah kata “hanba”. Jika memesan “hanbagu”, Anda akan mendapatkan hamburger steak (patty daging tanpa roti, biasanya dengan nasi). Sementara itu, “hanbaga” merujuk pada hamburger ala Barat, yaitu patty daging diapit roti.

Kini, di Family Mart, hadir produk unik yang menggabungkan keduanya dalam satu sajian: Uma Toma Hamburger. Menu ini merupakan rilisan terbatas hasil kolaborasi dengan Matsuya, jaringan restoran gyudon terkenal di Jepang.

Burger ini menggunakan patty “Uma Toma Hamburg” khas Matsuya di mana “uma” berasal dari kata “umai” (lezat) dan “toma” dari “tomat”. Patty tersebut kemudian dimasukkan ke dalam roti, menciptakan sensasi “hamburger di dalam hamburger” yang unik dan menarik perhatian banyak orang.

image

Uma Toma Hamburger (Image by: soranews24.com)

Hidangan Uma Toma sebelumnya sudah populer saat dirilis dalam bentuk rice bowl di Matsuya tahun lalu. Versi burger ini hadir untuk memberikan pengalaman yang lebih praktis dan mudah dibawa, tanpa mengurangi cita rasa khasnya. Saat kemasan dibuka, aroma bawang putih langsung terasa, dan semakin kuat setelah dipanaskan sebentar di microwave.

Ketika dibelah, burger ini menampilkan penampang yang menggugah selera dengan saus melimpah di kedua sisi patty. Rasanya pun tak mengecewakan sensasi bawang putih yang kuat di awal langsung diikuti oleh rasa umami tomat yang kaya, menciptakan perpaduan rasa yang intens dan memanjakan lidah.

Dengan roti yang lembut, daging yang juicy, serta saus “Umatoma” yang melimpah, burger ini terasa jauh lebih mewah dari harganya. Dijual hanya sekitar 200 yen, produk ini bahkan lebih murah dibanding burger minimarket pada umumnya. Tak heran jika burger ini dianggap sebagai temuan viral, meskipun hanya tersedia dalam waktu terbatas di Jepang (kecuali Okinawa).

Tsukuba Rekrut Anjing Pekerja

image

Seekor anjing pekerja terlihat di Rumah Sakit Universitas Tsukuba (Image by : Yomiuri Shimbun)

Rumah Sakit Universitas Tsukuba di Tsukuba, Prefektur Ibaraki, berencana mempekerjakan seekor anjing pekerja mulai April tahun depan untuk menemani anak-anak yang dirawat, agar mereka merasa lebih tenang selama perawatan dan pemeriksaan. Ini akan menjadi kali pertama di Jepang sebuah rumah sakit yang berafiliasi dengan universitas negeri menggunakan anjing pekerja sebagai anggota tim medis.

Direktur rumah sakit, Yuji Hiramatsu, memperkenalkan anjing tersebut pada konferensi pers di Universitas Tsukuba. Anjing itu mendemonstrasikan kemampuannya dengan meletakkan wajah di pangkuan seseorang, sebuah pemandangan yang membuat semua orang di ruangan merasa nyaman. Hiramatsu mengatakan, “Kami telah memutuskan untuk merekrut anggota staf baru yang cakap.”

Menurut Shine On! Kids, organisasi nirlaba di Tokyo yang melatih anjing pekerja, hewan-hewan ini pertama kali diperkenalkan di ruang sidang AS dan sejak itu menyebar ke rumah sakit dan sekolah untuk anak berkebutuhan khusus. Di Jepang, anjing-anjing pekerja mulai digunakan di Rumah Sakit Anak Shizuoka pada 2010, serta di beberapa rumah sakit di Tokyo dan Prefektur Kanagawa.

Rumah Sakit Universitas Tsukuba menyediakan perawatan medis tingkat lanjut, dengan bangsal anak sekitar 50 tempat tidur dan unit perawatan intensif neonatal bagi anak-anak dengan penyakit serius, seperti kanker dan penyakit sulit disembuhkan, dari seluruh negeri. Hiramatsu percaya bahwa dukungan emosional dari anjing pendamping dapat membantu anak-anak memiliki kekuatan lebih besar untuk menghadapi penyakit mereka.

Rumah sakit berencana mempekerjakan satu anjing baik Labrador Retriever, Golden Retriever, atau campuran kedua ras yang dikenal tenang dan cerdas. Seekor kandidat anjing saat ini sedang menjalani pelatihan di rumah sakit lain. Namun, tantangan finansial cukup besar, dengan biaya awal sekitar ¥7 juta untuk persiapan fasilitas dan pelatihan pawang, serta biaya tahunan sekitar ¥12 juta untuk personel, vaksinasi, dan pelatihan. Untuk membantu pendanaan, Rumah Sakit Universitas Tsukuba akan mengumpulkan ¥22 juta melalui crowdfunding di situs web rumah sakit mulai 4 Maret hingga 1 Mei, dengan dukungan dari Sekisho Corp. dan pihak lain. Hiramatsu menegaskan, “Kita tidak boleh melupakan pentingnya kehangatan dalam memberikan layanan kesehatan, karena itulah yang menyembuhkan hati anak-anak. Kami dengan tulus ingin memohon dukungan dan kerja sama Anda.”

Tarif Bus Kyoto untuk Turis Naik

image

Penumpang mengantri untuk menaiki bus di luar Stasiun Kyoto (Image by: Japantoday.com)

Pemerintah Kyoto tengah mempertimbangkan kebijakan baru berupa kenaikan tarif bus umum khusus bagi wisatawan mulai tahun fiskal 2027. Wacana ini muncul sebagai respons atas meningkatnya tekanan pariwisata berlebihan yang dirasakan di berbagai area kota bersejarah di Jepang barat tersebut.

Dalam skema yang diusulkan, tarif bus bagi wisatawan akan dinaikkan menjadi sekitar 350 hingga 400 yen. Sementara itu, penduduk lokal justru akan mendapatkan penurunan tarif dari 230 yen menjadi 200 yen. Jika diterapkan, ini akan menjadi sistem harga bertingkat pertama di Jepang yang secara jelas membedakan tarif antara warga lokal dan pengunjung.

Kebijakan ini diharapkan dapat membantu menciptakan keseimbangan antara kebutuhan pariwisata dan kenyamanan kehidupan warga. Selain itu, kenaikan tarif juga mencerminkan kondisi ekonomi saat ini, termasuk inflasi serta meningkatnya biaya tenaga kerja di sektor transportasi.

image

Ilustrasi bus yang beroperasi di Kyoto (Image by: kyoto.travel)

Wali Kota Koji Matsui menyampaikan bahwa meskipun wisatawan akan menanggung biaya lebih tinggi, pihaknya berharap kebijakan tersebut masih dapat diterima secara wajar. Pernyataan ini disampaikan setelah rencana tersebut dipresentasikan kepada dewan kota.

Untuk mendukung implementasi, pemerintah kota berencana menggunakan sistem kartu transportasi IC yang terintegrasi dengan kartu identitas nasional “My Number”. Sistem ini akan berfungsi untuk membedakan antara penduduk lokal dan wisatawan secara teknis.

Meski demikian, kebijakan ini masih dalam tahap pembahasan lebih lanjut. Revisi peraturan direncanakan pada tahun fiskal 2026 sebelum diajukan untuk mendapatkan persetujuan dari Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, Transportasi, dan Pariwisata. Pemerintah juga sedang mengkaji dampaknya terhadap pengguna non-penduduk yang rutin menggunakan bus untuk bekerja atau bersekolah, serta memastikan kebijakan ini tidak melanggar hukum transportasi Jepang terkait larangan diskriminasi yang tidak adil.

Tokyo Uji Perdana Mobil Terbang

image

esawat tanpa awak SkyDrive terbang selama demonstrasi di Tokyo pada 24 Februari 2026 (Image by: Kyodo)

Demonstrasi penerbangan pertama mobil terbang digelar pada 24 Februari di Distrik Koto, Tokyo. Kegiatan ini merupakan bagian dari proyek yang dikembangkan Pemerintah Metropolitan Tokyo bersama perusahaan swasta untuk mengatasi kemacetan lalu lintas di masa depan.

Pemerintah Tokyo bekerja sama dengan berbagai perusahaan dalam mengembangkan teknologi ini. Proyek tersebut menargetkan agar mobil terbang dapat dioperasikan secara komersial di dalam kota pada tahun 2030.

Selain untuk mengurangi kemacetan, mobil terbang juga diharapkan dapat mempercepat distribusi barang. Dengan memanfaatkan jalur udara, waktu pengiriman dinilai bisa menjadi lebih efisien dibandingkan transportasi darat.

image

Foto pesawat SkyDrive menjelang penerbangan demonstrasi di Tokyo pada tanggal 24 Februari 2026 (Image by: Kyodo)

Uji coba penerbangan perdana dilakukan di area parkir Tokyo Big Sight yang berada di Distrik Koto. Lokasi ini dipilih sebagai tempat simulasi awal dalam lingkungan perkotaan.

Pesawat yang digunakan merupakan kendaraan kecil berkapasitas tiga orang yang dikembangkan oleh perusahaan rintisan Jepang. Dalam demonstrasi ini, penerbangan dilakukan tanpa awak dan dikendalikan dari jarak jauh.

Saat uji coba berlangsung, pesawat lepas landas secara vertikal sebelum melanjutkan penerbangan. Metode ini menjadi salah satu keunggulan mobil terbang karena tidak memerlukan landasan pacu panjang.

image

Foto seteelah pesawat SkyDrive setelah penerbangan demonstrasi di Tokyo pada 24 Februari 2026 (Image by: Kyodo)

Pesawat tersebut kemudian menempuh jarak sekitar 150 meter dalam waktu kurang lebih tiga setengah menit. Uji ini menunjukkan kemampuan dasar kendaraan dalam melakukan perjalanan jarak pendek.

Selain pengujian penerbangan, simulasi operasional penumpang juga turut dilakukan. Sebuah terminal sementara didirikan untuk meniru proses layanan di masa depan.

Dalam simulasi tersebut, pengunjung dapat melakukan check-in menggunakan teknologi pengenalan wajah serta menjalani prosedur pemeriksaan keamanan. Pihak Pemerintah Metropolitan Tokyo menyatakan bahwa demonstrasi ini menjadi langkah penting untuk menguji keseluruhan alur layanan menuju implementasi mobil terbang di masa depan.

Harapan Anak Asing Memudar

image

“pesta menyenangkan” di Hadano Kodomo-kan (Image by : Mainichi)

Program dukungan bahasa Jepang dan akademis gratis bagi anak-anak asing di wilayah Jepang timur kini menghadapi ancaman berhenti, seiring rencana penutupan Divisi Perguruan Tinggi Junior Universitas Sophia di Hadano, Prefektur Kanagawa, pada akhir Maret tahun ini. Sejak diluncurkan pada 1988, program ini telah membantu lebih dari 400 keluarga asing dalam proses adaptasi pendidikan dan kehidupan di Jepang.

Kegiatan program ini tidak hanya berupa pembelajaran formal, tetapi juga interaksi sosial yang hangat. Dalam acara tahunan seperti “pesta menyenangkan” di Hadano Kodomo-kan, anak-anak asing dari berbagai latar belakang berkumpul untuk bernyanyi, mewarnai, dan berkomunikasi dalam bahasa Jepang maupun bahasa ibu mereka. Relasi yang terbangun antara anak-anak dan para relawan menciptakan rasa percaya dan kenyamanan yang kuat.

Mahasiswa yang terlibat memberikan dukungan dalam dua bentuk utama: kunjungan langsung ke sekolah-sekolah dasar dan menengah, serta kegiatan di fasilitas umum untuk membantu anak-anak dari prasekolah hingga SMA. Selain pelajaran bahasa Jepang, mereka juga membantu persiapan ujian, pengajuan beasiswa, dan kebutuhan pendidikan lainnya. Program ini bahkan berkembang menjadi mata kuliah resmi sejak 2019, memungkinkan mahasiswa mendapatkan kredit akademik.

image

Poster-poster yang dibuat oleh mahasiswa di Divisi Perguruan Tinggi Junior Universitas Sophia (Image by : Mainichi)

Latar belakang berdirinya program ini berawal dari keprihatinan terhadap isolasi sosial yang dialami pengungsi asing di Jepang. Insiden tragis pada 1987 yang melibatkan seorang pengungsi Kamboja di Hadano menjadi titik balik kesadaran akan pentingnya dukungan komunitas. Seorang suster dari Spanyol yang mengajar di perguruan tinggi tersebut kemudian menggagas inisiatif untuk membantu keluarga asing beradaptasi dan membangun hubungan dengan masyarakat lokal.

Seiring waktu, meningkatnya jumlah keluarga asing terutama dari Amerika Selatan membuat kebutuhan akan dukungan bahasa Jepang semakin besar. Program ini menjadi ruang aman bagi anak-anak untuk mengekspresikan identitas budaya mereka, sesuatu yang sering sulit dilakukan di sekolah umum. Di sini, mereka tidak hanya belajar, tetapi juga merasa diterima dan menjadi diri sendiri.

Namun, dengan penutupan perguruan tinggi, keberlanjutan program ini menjadi tidak pasti. Meski telah dicoba inisiatif lanjutan seperti “Proyek Bahasa Jepang Sophia,” program tersebut tidak dapat diteruskan dalam bentuk yang sama. Meski demikian, ada harapan bahwa semangat dukungan ini akan tetap hidup melalui komunitas lokal dan lembaga lain di Hadano, di tengah tantangan globalisasi dan meningkatnya isu integrasi budaya.