Jepang Hentikan SSW Restoran

image

“Pekerja Terampil Khusus No. 1” (Specified Skilled Worker/SSW) industri jasa makanan atau restoran (Image by Google)

Pemerintah Jepang pada tanggal 27 secara resmi mengumumkan kebijakan penangguhan penerimaan pekerja asing baru dengan status “Pekerja Terampil Khusus No. 1” (Specified Skilled Worker/SSW) khusus untuk industri jasa makanan atau restoran. Langkah ini diambil karena jumlah tenaga kerja asing di sektor tersebut diperkirakan akan segera mencapai batas maksimum yang telah ditetapkan pemerintah, yaitu 50.000 orang. Penangguhan ini akan mulai diberlakukan pada 13 April, dan pemerintah juga membuka kemungkinan untuk kembali menerima pekerja jika terdapat ruang kuota, misalnya akibat perpindahan tenaga kerja ke sektor lain.

Sebelumnya, pada Januari tahun ini, kabinet Jepang telah menetapkan batas maksimum jumlah pekerja asing untuk masing-masing sektor industri dalam kerangka kebijakan hingga Maret. Untuk sektor restoran, angka batas atas ditetapkan sebesar 50.000 orang. Namun, perkembangan di lapangan menunjukkan lonjakan yang sangat cepat. Dalam kurun waktu sekitar dua bulan, jumlah pekerja meningkat drastis dari sekitar 13.000 orang pada awal Desember menjadi sekitar 46.000 orang pada awal Februari. Kenaikan tajam ini membuat kuota diperkirakan akan penuh jauh lebih cepat dari yang direncanakan.

Sebagai tindak lanjut, Badan Layanan Imigrasi Jepang memutuskan untuk menghentikan sementara penerbitan “Sertifikat Kelayakan” (Certificate of Eligibility/CoE), yang merupakan dokumen wajib bagi warga negara asing untuk masuk ke Jepang dengan status visa tersebut. Kebijakan ini akan mulai berlaku pada 13 April. Meski demikian, pemerintah tetap memberikan kelonggaran terhadap beberapa kondisi, seperti permohonan yang telah diajukan sebelum 12 April yang masih akan diproses, serta pekerja yang sudah berada di Jepang dan ingin berpindah perusahaan dalam sektor restoran, selama kuota yang tersedia masih mencukupi.

Di sisi lain, Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan sebagai pihak yang membawahi sektor jasa makanan menjelaskan bahwa meskipun terjadi peningkatan signifikan jumlah pekerja asing, proporsi mereka sebenarnya masih sangat kecil, yakni hanya sekitar 1% dari total tenaga kerja di industri tersebut. Penetapan batas atas ini bukan semata-mata untuk membatasi tenaga kerja asing, tetapi juga bertujuan untuk mendorong efisiensi industri, meningkatkan produktivitas, serta mendorong perusahaan untuk lebih aktif merekrut tenaga kerja domestik dengan memperbaiki kondisi kerja, termasuk gaji dan kesejahteraan.

Selain penangguhan penerimaan, pemerintah juga menginstruksikan penghentian sementara pelaksanaan ujian Keterampilan Khusus No. 1 untuk sektor jasa makanan, baik di Jepang maupun di luar negeri. Hal ini berdampak langsung pada proses rekrutmen, karena pendaftaran dan pemesanan jadwal ujian juga ikut ditangguhkan hingga ada pemberitahuan lebih lanjut. Namun demikian, untuk kategori lain seperti Keterampilan Khusus No. 2 di sektor restoran, serta Keterampilan Khusus No. 1 dan No. 2 di sektor manufaktur makanan dan minuman, ujian tetap dilaksanakan sesuai jadwal dan proses pendaftaran tetap dibuka.

Kebijakan penangguhan ini pada dasarnya merupakan konsekuensi dari proyeksi pemerintah yang menunjukkan bahwa jumlah pekerja asing di sektor restoran akan melampaui target lima tahun yang telah ditetapkan untuk periode 2024 hingga 2028. Hingga saat ini, belum ada kepastian mengenai kapan kebijakan ini akan dicabut atau kapan ujian akan kembali dibuka. Oleh karena itu, para calon pekerja, lembaga pelatihan, serta pihak terkait lainnya diimbau untuk terus memantau informasi resmi dari pemerintah Jepang, khususnya melalui Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan serta Badan Layanan Imigrasi Jepang, guna mendapatkan pembaruan kebijakan terbaru.

Jepang Berlakukan Tilang Sepeda

image

Ilustrasi polisi yang sedang memantau pesepeda yang sedang lewat (image by:Asahi Shinbun)

Mulai 1 April 2026, Jepang akan menerapkan aturan baru bagi pesepeda melalui sistem yang dikenal sebagai “tiket biru”. Dalam aturan sepeda Jepang 2026 ini, polisi dapat memberikan denda langsung di tempat kepada pesepeda yang melanggar peraturan lalu lintas tertentu.

Sebelumnya, pelanggaran lalu lintas oleh pesepeda di Jepang umumnya berujung pada peringatan atau proses pidana. Dalam banyak kasus, pelanggar menerima teguran tanpa denda. Sementara itu, pelanggaran yang lebih serius dapat diproses melalui jalur hukum.

image

Ilustrasi polisi yang sedang menilang pesepeda yang sedang lewat (image by:JapanNews Yomiuri)

Melalui sistem tiket biru Jepang, pelanggaran tertentu akan dikenai sanksi administratif berupa denda tanpa melalui proses pengadilan. Kebijakan ini diterapkan oleh otoritas kepolisian untuk menangani pelanggaran lalu lintas oleh pesepeda secara lebih langsung.

Aturan ini berlaku bagi pesepeda berusia 16 tahun ke atas. Pelanggar yang menerima tiket biru diwajibkan membayar denda dalam batas waktu yang ditentukan. Pembayaran biasanya dilakukan melalui bank atau kantor pos untuk menyelesaikan pelanggaran tersebut.

image

Ilustrasi polisi yang sedang memantau pesepeda yang sedang lewat (image by:Asahi Shinbun)

Beberapa contoh pelanggaran yang dapat dikenai denda antara lain menggunakan ponsel saat bersepeda, tidak menyalakan lampu pada malam hari, serta tidak mematuhi rambu atau lampu lalu lintas. Besaran denda berbeda tergantung jenis pelanggaran yang dilakukan.

Untuk pelanggaran tertentu, seperti penggunaan ponsel saat bersepeda, denda dapat mencapai sekitar ¥12.000. Pelanggaran lain seperti tidak menyalakan lampu atau perilaku bersepeda yang mengganggu keselamatan dapat dikenai denda sekitar ¥5.000 hingga ¥6.000. Sementara itu, pelanggaran berat seperti bersepeda dalam keadaan mabuk tetap dapat diproses melalui jalur pidana sesuai hukum yang berlaku.

Jepang Daur Ulang Popok Bekas

image

Kebutuhan akan popok dijepang terutama untuk lansia meningkat (Image by: AFP)

Di Shibushi, Jepang, sebuah proyek percontohan daur ulang popok sedang dijalankan untuk mengurangi limbah. Program ini dipimpin oleh Unicharm dan disebut sebagai yang pertama di dunia dalam upaya menggunakan kembali bahan utama popok untuk produksi baru.

Setiap tahun, miliaran popok di Jepang dibuang dengan cara dikubur atau dibakar. Volume limbah ini menjadi perhatian karena meningkatnya penggunaan popok, terutama di tengah perubahan demografi masyarakat Jepang.

Dalam proyek ini, popok bekas yang telah dikumpulkan diproses dengan cara diparut, dicuci, dan dipisahkan menjadi beberapa komponen, yaitu bubur kertas, plastik, dan polimer super-penyerap (SAP). Proses ini memungkinkan masing-masing bahan untuk digunakan kembali.

image

Sampah Popok yang menumpuk di jepang (Image by: AFP)

Unicharm menggunakan perlakuan ozon dalam proses tersebut untuk sterilisasi, pemutihan, dan penghilangan bau. Dengan metode ini, bubur kertas hasil daur ulang dapat digunakan kembali sebagai bahan dalam produksi popok.

Saat ini, bahan hasil daur ulang juga digunakan untuk produk dengan persyaratan sanitasi yang lebih rendah, seperti kertas toilet. Penggunaan kembali bubur kertas untuk popok menjadi salah satu perkembangan terbaru dalam proyek ini.

Proyek ini dijalankan di Shibushi dan Osaki, dua kota di Jepang selatan yang memiliki tingkat daur ulang sekitar 80 persen dari sampah rumah tangga. Upaya ini dilakukan sebagai bagian dari kebijakan jangka panjang untuk mengurangi limbah dan memperpanjang usia tempat pembuangan akhir.

image

Ilustrasi kebutuhan popok di kehidupan sehari-hari dijepang (Image by: AFP)

Menurut data industri, penggunaan popok dewasa di Jepang telah melampaui popok bayi. Pada tahun 2024, produksi popok dewasa mencapai 9,6 miliar unit, dibandingkan dengan sekitar 8 miliar popok bayi. Tren ini diperkirakan akan terus meningkat seiring bertambahnya populasi lansia.

Ke depan, Unicharm menargetkan pengembangan lebih lanjut, termasuk daur ulang plastik dan bahan penyerap untuk digunakan kembali dalam produksi popok pada tahun 2028. Pemerintah Jepang juga menargetkan setidaknya 100 kota mulai menerapkan atau mempertimbangkan daur ulang popok pada tahun 2030. © 2026 AFP

Campak Merebak di Tokyo

image

Virus Campak (Image by : Yomiuri Shimbun)

Empat orang yang dipastikan terinfeksi campak di Tokyo antara 17 hingga 20 Maret diduga telah melakukan kontak dengan banyak orang, termasuk di pesawat dan area bandara. Pemerintah metropolitan Tokyo menyampaikan bahwa mobilitas tinggi para pasien meningkatkan potensi penyebaran, terutama di lokasi dengan lalu lintas manusia yang padat.

Jumlah kumulatif kasus campak di Tokyo tahun ini telah mencapai 41 kasus, melampaui total 34 kasus sepanjang tahun sebelumnya. Lonjakan ini memicu kekhawatiran akan kemungkinan terjadinya klaster baru, mengingat campak dikenal sebagai penyakit yang sangat mudah menular melalui udara dan kontak langsung.

Salah satu kasus melibatkan seorang pria berusia 20-an yang tinggal di luar Tokyo. Ia menaiki penerbangan All Nippon Airways Flight 850 dari Bangkok dan tiba di Bandara Haneda pada pukul 05.45 pagi tanggal 10 Maret. Diketahui bahwa ia sudah mulai mengalami gejala sejak 7 Maret, namun baru dikonfirmasi positif pada 17 Maret.

image

Haneda International Airport (Image by : Yomiuri Shimbun)

Setelah tiba, pria tersebut berada di berbagai area bandara dalam rentang waktu yang cukup panjang. Ia sempat berada di lobi kedatangan Terminal 1 serta area basement antara pukul 08.00–13.00 dan 16.00–20.00, kemudian berpindah ke lobi keberangkatan Terminal 3 antara pukul 13.00–16.00. Pergerakan ini meningkatkan risiko paparan bagi penumpang lain maupun staf bandara yang berada di lokasi yang sama.

Kasus lain melibatkan pria berusia 30-an yang tinggal di Tokyo. Ia melakukan perjalanan dari Bandara Narita menuju Bandara Incheon di Korea Selatan pada 7 Maret menggunakan maskapai Jin Air, lalu kembali ke Jepang keesokan harinya. Ia mulai menunjukkan gejala pada 8 Maret dan dinyatakan positif pada 18 Maret.

Selama periode 10 hingga 16 Maret, pria tersebut rutin mengunjungi sebuah supermarket di kawasan Shinjuku setiap malam selama sekitar 15 menit. Selain itu, beberapa pasien lain juga dilaporkan sempat berada di fasilitas umum seperti lobi rumah sakit dan tempat hiburan pachinko. Meskipun belum dipastikan apakah seluruhnya menggunakan transportasi udara, aktivitas mereka di ruang publik yang ramai memperbesar kemungkinan penyebaran virus kepada masyarakat luas, sehingga pemerintah mengimbau warga yang merasa pernah berada di lokasi-lokasi tersebut untuk segera memeriksakan diri jika mengalami gejala.

Angka Kelahiran Terus Menurun

image

64,7 persen wanita menyatakan tidak ingin memiliki anak (Image by Kyodo News)

Lebih dari 60 persen anak muda lajang di Jepang menyatakan tidak ingin memiliki anak pada tahun 2025, menunjukkan perubahan besar dalam pola pikir generasi muda. Angka ini meningkat dari 56,6 persen pada tahun 2024, berdasarkan survei yang dilakukan oleh Rohto Pharmaceutical pada bulan Desember. Tren ini memperlihatkan bahwa keengganan untuk membangun keluarga kini bukan lagi fenomena kecil, melainkan kecenderungan sosial yang semakin menguat dari tahun ke tahun.

Survei tersebut melibatkan 400 responden berusia 18 hingga 29 tahun, dan menemukan bahwa 62,6 persen dari mereka tidak ingin memiliki anak. Alasan utama yang diungkapkan berkaitan dengan kondisi ekonomi yang tidak stabil, meningkatnya biaya hidup, serta kekhawatiran akan beban finansial jangka panjang dalam membesarkan anak. Selain itu, banyak anak muda merasa bahwa memiliki anak dapat menghambat perkembangan karier dan kebebasan pribadi mereka.

Faktor psikologis dan sosial juga turut berperan. Banyak responden mengaku bahwa paparan media sosial, terutama konten mengenai kehamilan, persalinan, dan tantangan dalam mengasuh anak, justru memicu rasa cemas. Alih-alih memberikan gambaran positif, konten tersebut sering kali memperlihatkan sisi sulit dari menjadi orang tua, sehingga membuat generasi muda semakin ragu untuk mengambil keputusan tersebut.

Jika dilihat berdasarkan gender, sebanyak 64,7 persen wanita menyatakan tidak ingin memiliki anak, lebih tinggi dibandingkan pria yang berada di angka 60,7 persen. Ini merupakan pertama kalinya sejak tahun 2020 angka wanita melampaui pria dalam survei tersebut. Hal ini mengindikasikan bahwa tekanan sosial, beban biologis, serta tantangan karier yang lebih besar bagi wanita menjadi faktor penting dalam keputusan untuk tidak memiliki anak.

Tren hidup tanpa anak sendiri terus meningkat secara signifikan sejak tahun 2020, ketika angkanya masih berada di 44,0 persen. Angka tersebut kemudian menembus 50 persen pada tahun 2023 dan terus naik hingga sekarang. Kecenderungan ini menunjukkan adanya perubahan nilai dalam masyarakat Jepang, di mana kebahagiaan dan pencapaian hidup tidak lagi selalu dikaitkan dengan pernikahan dan memiliki keturunan.

Di sisi lain, pemerintah Jepang menghadapi tantangan besar dalam membalikkan tren ini. Perdana Menteri Sanae Takaichi bahkan menyebut penurunan angka kelahiran sebagai “darurat senyap” yang dapat mengancam masa depan negara. Meskipun berbagai kebijakan telah disiapkan, seperti perluasan tunjangan penitipan anak dan peningkatan manfaat cuti orang tua, hasilnya masih belum signifikan. Data terbaru menunjukkan bahwa jumlah kelahiran pada tahun 2025 turun menjadi 705.809, menandai rekor terendah selama sepuluh tahun berturut-turut. Kondisi ini menegaskan bahwa solusi yang lebih menyeluruh, termasuk perubahan budaya kerja dan dukungan sosial yang lebih kuat, sangat dibutuhkan untuk mengatasi krisis demografi yang sedang berlangsung.

Karaage Raksasa di Undian 7-Eleven

image

(Image By: Siaran Pers, Happy Kuji)

image

(Image By: Siaran Pers, Happy Kuji)

7-Eleven Jepang menghadirkan undian berhadiah bertema makanan melalui program Happy Kuji yang mulai tersedia pada 13 Maret 2026. Program ini menawarkan berbagai merchandise unik yang terinspirasi dari produk populer konbini tersebut. Dengan membeli satu tiket undian seharga sekitar 850 yen, pelanggan berkesempatan mendapatkan berbagai hadiah dengan tingkat kelangkaan berbeda di setiap toko yang berpartisipasi.
image

Karaage Plushie Dari Happy Kuji (Image by: 

Salah satu hadiah yang paling mencuri perhatian adalah boneka karaage-bo berukuran raksasa. Karaage-bo sendiri merupakan sate ayam goreng yang cukup populer di 7-Eleven Jepang. Dalam versi merchandise ini, makanan tersebut diubah menjadi boneka plush sepanjang sekitar 90 sentimeter, dengan potongan “ayam goreng” yang dapat dilepas sehingga tampil menyerupai produk aslinya.

Boneka karaage tersebut termasuk dalam kategori hadiah kelas spesial dalam undian Happy Kuji. Setiap toko biasanya hanya memiliki satu hadiah spesial seperti ini, sehingga membuatnya menjadi salah satu item yang paling dicari oleh penggemar merchandise unik dari 7-Eleven Jepang.

image

Selimut berbentuk Pizza Dari Happy Kuji (Image by: Siaran Pers, Happy Kuji)

Selain itu, rangkaian hadiah juga mencakup berbagai barang rumah tangga dengan desain makanan. Di antaranya adalah selimut yang meniru kemasan produk makanan beku dari seri Seven Premium Gold, termasuk desain yang terlihat seperti pizza dan steak hamburger. Merchandise lain juga mengambil inspirasi dari berbagai produk roti populer yang dijual di toko tersebut.

image

Macam-macam varian selimut bertema makanan lainnya (Image by: Siaran Pers, Happy Kuji)

Untuk ukuran yang lebih kecil, tersedia pula berbagai aksesori seperti wadah kompak yang terinspirasi dari menu Cup Deli, gantungan kunci berbentuk cangkir kopi Seven Cafe, hingga handuk dengan desain kemasan es krim buah beku seri Maru De. Ada juga kategori “Rubber Collection” yang berisi coaster, gantungan kunci, pengikat kabel, dan jepit rambut dengan desain khas 7-Eleven.

image

Macam macam hadiah kecil dari Happy Kuji 7-Eleven (Image by: Siaran Pers, Happy Kuji)

image

Macam macam hadiah kecil dari Happy Kuji 7-Eleven (Image by: Siaran Pers, Happy Kuji)

image

Macam macam hadiah kecil dari Happy Kuji 7-Eleven (Image by: Siaran Pers, Happy Kuji)

image

Macam macam hadiah kecil dari Happy Kuji 7-Eleven (Image by: Siaran Pers, Happy Kuji)

image

Macam macam hadiah kecil dari Happy Kuji 7-Eleven (Image by: Siaran Pers, Happy Kuji)

Sementara itu, hadiah “last prize” dalam undian ini adalah bantal berbentuk roti chigiri, roti manis yang biasanya dipanggang berkelompok sehingga dapat disobek menjadi beberapa bagian. Dalam sistem Happy Kuji, hadiah terakhir ini akan diberikan kepada pelanggan yang menarik undian terakhir di sebuah toko setelah semua hadiah lainnya habis.

image

Roti Chigiri dari Happy Kuji 7-Eleven (Image by: Siaran Pers, Happy Kuji)

Punch, Bayi Monyet Viral Jepang

image

Potret foto Punch yang sedang viral di Jepang (Image by: reuters.com)

Sebuah kebun binatang di Jepang memberikan klarifikasi setelah muncul kekhawatiran luas di media sosial mengenai kondisi seekor bayi monyet bernama Punch yang menjadi sensasi internet. Pihak kebun binatang membantah bahwa Punch mengalami perundungan, meskipun video yang memperlihatkan ia dikejar monyet lain sempat memicu kekhawatiran publik.

Punch, bayi kera berusia tujuh bulan yang dirawat di Kebun Binatang Kota Ichikawa di luar Tokyo, sebelumnya menarik perhatian setelah terlihat memeluk boneka orangutan dari IKEA untuk mencari kenyamanan. Ia diketahui ditinggalkan oleh induknya sejak lahir pada Juli tahun lalu dan kemudian dirawat dalam lingkungan buatan oleh staf kebun binatang.

Kontroversi muncul setelah pihak kebun binatang menulis di platform X bulan lalu bahwa Punch “telah dimarahi berkali-kali oleh monyet lain”. Unggahan tersebut disertai video yang menunjukkan Punch dikejar oleh anggota kelompoknya, sehingga memicu klaim di dunia maya bahwa bayi monyet itu sedang mengalami intimidasi dari monyet lain.

image

Potret foto Punch yang sedang viral di Jepang (Image by: worldanimalprotection.org.au)

Menanggapi reaksi tersebut, pengelola kebun binatang pada Selasa menyatakan telah menerima banyak pesan keprihatinan dari masyarakat di Jepang maupun luar negeri. Mereka menjelaskan bahwa tindakan yang terlihat dalam video merupakan bagian dari dinamika sosial alami dalam kelompok kera, bukan bentuk penyiksaan seperti yang dipahami dalam konteks manusia.

Pihak kebun binatang juga menyampaikan bahwa Punch kini semakin tidak bergantung pada boneka tersebut karena mulai sering dirawat dan diajak bermain oleh monyet lain dalam kelompoknya. Mereka menambahkan bahwa sebagian besar waktu Punch dihabiskan dengan tenang dan proses integrasinya dengan kelompok berjalan secara bertahap.

Pengelola juga memperingatkan bahwa memisahkan Punch dari kelompoknya saat ini dapat berisiko membuatnya tidak pernah bisa kembali hidup dalam komunitas kera. Meski demikian, organisasi hak-hak hewan People for the Ethical Treatment of Animals (PETA) tetap mengkritik kondisi tersebut dan menyerukan agar Punch dipindahkan ke tempat perlindungan hewan yang dinilai lebih alami.
 © AFP (2026)

Pizza Ramen Ie-kei Jepang

image

Pamflet Ramen Pizza yang berkolaborasi dengan restoran ramen Yoshimuraya (Image by: Pizza Hut)

Pizza Hut Jepang kembali menghadirkan menu unik yang menggabungkan dua hidangan populer: ramen dan pizza. Kali ini, mereka memperkenalkan Yokohama Ie-kei Ramen Pizza, sebuah pizza yang terinspirasi dari ramen ie-kei, salah satu jenis ramen paling terkenal di Jepang. Menu ini mencoba memadukan dua makanan yang sekilas berbeda, tetapi sebenarnya memiliki kesamaan dalam komposisi bahan seperti daging, karbohidrat, dan sayuran.

Ramen dan pizza sama-sama dikenal sebagai makanan rumahan yang sederhana namun lezat. Keduanya juga memiliki sejarah panjang dan berbagai variasi yang terus berkembang. Dalam dunia kuliner modern, para koki kerap bereksperimen dengan menggabungkan konsep dari berbagai hidangan. Perbedaan utama antara ramen dan pizza sebenarnya hanya terletak pada bentuk penyajian serta penggunaan kaldu dan saus yang memiliki tingkat kekentalan berbeda.

image

Penampakan Pizza Ramen Ie-kei Pizza hut x Yoshimuraya (Image by: Pizza Hut)

Inspirasi utama menu ini berasal dari ramen ie-kei, gaya ramen yang berasal dari kota Yokohama, sekitar 30 menit dari Tokyo. Ramen ini pertama kali diciptakan oleh Minoru Yoshimura, yang sebelumnya bekerja sebagai sopir truk jarak jauh. Pada tahun 1974, ia membuka restoran Yoshimuraya di Yokohama dan menciptakan ramen dengan perpaduan kaldu tonkotsu (tulang babi) yang kaya dan kecap asin khas Jepang timur.

Perpaduan tersebut menghasilkan kuah ramen yang kental, gurih, dan kaya rasa, sehingga gaya ie-kei berkembang menjadi genre ramen tersendiri di Jepang. Hingga kini, Yoshimuraya masih dianggap sebagai pelopor sekaligus salah satu tempat terbaik untuk menikmati ramen ie-kei. Karena pengaruh dan reputasinya yang kuat, Pizza Hut Jepang memilih Yoshimuraya sebagai mitra dalam kolaborasi menu pizza ramen terbaru ini.

image

Minoru Yoshimura 78th di sebelah kiri, bekerja sama dengan staff Pizza Hut untuk mendapatkan cita rasa Pizza Ramen Yokohama Ie-Kei yang sempurna (Image by: Pizza Hut)

Dalam menu Yokohama Ie-kei Ramen Pizza, Pizza Hut tetap menggunakan adonan pizza klasik sebagai dasar. Namun, toppingnya terbilang tidak biasa karena menggunakan mi ramen yang lebar dan kenyal seperti yang disajikan di Yoshimuraya. Pizza ini juga dilengkapi irisan daging babi chashu serta bayam, yang biasanya ditemukan dalam semangkuk ramen ie-kei.

Saus pada pizza ini dibuat dengan dasar kaldu tonkotsu yang diperkaya kaldu ayam untuk menciptakan rasa gurih yang mirip dengan ramen aslinya. Pizza Hut juga menyertakan paket cuka bawang putih dan nori kering agar pelanggan dapat menambahkan rasa khas ramen sesuai selera. Menu Yokohama Ie-kei Ramen Pizza dijual dengan harga 2.230 yen untuk ukuran sedang dan tersedia di Jepang dalam waktu terbatas hingga 31 Maret.

Jepang Naikkan Biaya Izin Tinggal

image

Foto pesawat (Image by: Google.com)

Pemerintah Jepang pada Selasa, 10 Maret 2026, menyetujui rancangan undang‑undang untuk merevisi Undang‑Undang Pengendalian Imigrasi dan Pengakuan Pengungsi, yang akan memperkenalkan sistem penyaringan pra‑masuk daring bernama JESTA (Japan Electronic System for Travel Authorization). Kabinet telah mengesahkan draf ini, yang kini akan diajukan ke sidang Parlemen (Diet) untuk pembahasan dan pengesahan akhir.

Pemerintah menargetkan penerapan JESTA pada tahun fiskal 2028 sebagai bagian dari upaya memperkuat pengawasan keamanan perbatasan dan mencegah masuknya individu yang berpotensi melakukan terorisme, pekerjaan ilegal, atau pelanggaran lainnya. Sistem ini mirip dengan model elektronik untuk otorisasi perjalanan yang diterapkan di beberapa negara lain, yang mengharuskan pelamar dari negara yang saat ini mendapatkan bebas visa jangka pendek untuk mendaftarkan data secara online beberapa hari sebelum keberangkatan.

Di bawah aturan baru itu, pelamar harus memasukkan informasi seperti nama, tujuan kunjungan, dan lokasi yang akan dikunjungi secara daring, dan hasilnya akan menentukan apakah mereka layak naik pesawat atau kapal menuju Jepang. Maskapai dan operator kapal akan diwajibkan memverifikasi otorisasi JESTA sebelum mengizinkan penumpang bepergian, dan mereka yang ditolak tidak akan diizinkan naik.

image

Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi (kedua dari kanan) bersiap menghadiri rapat Kabinet di kantor perdana menteri di Tokyo pada 10 Maret 2026.  (Image by: Kyodonews)

Selain pengenalan JESTA, revisi undang‑undang juga mencakup peningkatan batas atas biaya permohonan izin tinggal dan perpanjangan visa bagi warga negara asing. Batas maksimal biaya yang saat ini sekitar ¥10.000 akan dinaikkan menjadi hingga ¥100.000 untuk perpanjangan atau perubahan status tinggal, dan hingga ¥300.000 untuk permohonan izin tinggal tetap, menandai kenaikan signifikan pertama sejak 1981–1982.

Rencana peningkatan biaya ini dimaksudkan untuk membantu pemerintah menutup biaya pemeriksaan visa yang lebih efisien, pembentukan layanan konsultasi, dan penanganan prosedur administrasi imigrasi lainnya, terutama karena jumlah warga asing yang tinggal di Jepang terus meningkat — mencapai sekitar 4,13 juta pada akhir 2025, rekor tertinggi sepanjang sejarah.

Rincian biaya spesifik untuk setiap jenis permohonan akan ditetapkan melalui peraturan pemerintah sebelum penerapan aturan baru, yang diharapkan berlaku pada tahun fiskal 2026. Pemerintah juga berencana memasukkan mekanisme pengurangan dan pembebasan biaya dalam kasus yang memerlukan pertimbangan kemanusiaan, termasuk bagi pelamar dengan kesulitan finansial.

Tiket Museum Jepang Naik

image

Foto tokyo national museum (Image by: soranews24.com)

Badan Urusan Kebudayaan Jepang berencana menerapkan sistem harga tiket dua tingkat di sejumlah museum nasional. Kebijakan ini memungkinkan wisatawan asing membayar tiket lebih mahal dibandingkan pengunjung domestik. Rencana tersebut muncul sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk meningkatkan pendapatan mandiri museum sekaligus mengurangi ketergantungan pada dana pemerintah.

Salah satu museum yang akan terdampak adalah Tokyo National Museum yang terletak di Ueno Park. Museum ini dikenal luas sebagai salah satu museum terbaik di Jepang karena koleksi seni dan artefak bersejarahnya yang mencakup berbagai periode penting dalam sejarah Jepang. Bagi wisatawan yang tertarik dengan budaya dan sejarah Jepang, museum ini menjadi salah satu destinasi yang paling sering dikunjungi.

Museum Nasional Tokyo merupakan bagian dari jaringan museum nasional yang berada di bawah pengelolaan pemerintah Jepang. Badan Urusan Kebudayaan yang berada di bawah Ministry of Education, Culture, Sports, Science and Technology ingin agar museum-museum tersebut meningkatkan pendapatan dari sumber mandiri seperti penjualan tiket dan merchandise. Museum yang tidak mampu memenuhi target pendapatan bahkan dapat menghadapi restrukturisasi atau kemungkinan penutupan di masa depan.

image

Foto katana Dojigiri yang berusia seribu tahun, selama pameran khusus di Museum Nasional Tokyo 

(Image by: soranews24.com)

Kebijakan ini akan memengaruhi 12 institusi yang tergabung dalam jaringan museum nasional Jepang. Di antaranya adalah Kyoto National Museum, Nara National Museum, Kyushu National Museum, National Museum of Western Art, serta National Museum of Nature and Science. Beberapa museum tersebut berada di kawasan Ueno, yang merupakan salah satu pusat budaya dan pendidikan di Tokyo.

Pemerintah menargetkan museum-museum tersebut mampu menghasilkan pendapatan setara dengan 65 persen dari biaya operasional mereka pada tahun 2030. Target ini sekitar 10 persen lebih tinggi dibandingkan capaian saat ini. Jika pada akhir tahun fiskal 2029 pendapatan museum masih berada di bawah 40 persen dari biaya operasional, maka institusi tersebut dapat menjalani proses restrukturisasi.

Selain mempertimbangkan kenaikan harga tiket, otoritas juga membahas langkah lain untuk meningkatkan jumlah pengunjung. Beberapa di antaranya adalah memperpanjang jam operasional hingga malam hari serta memperpanjang masa pameran khusus. Namun demikian, pemerintah tetap menilai bahwa sistem harga tiket dua tingkat, yang rencananya paling lambat diterapkan pada Maret 2031, merupakan solusi yang paling realistis di tengah meningkatnya jumlah wisatawan asing dan tekanan ekonomi yang dirasakan penduduk Jepang.