Bagasi Shinkansen Lebih Mudah

Penumpang Shinkansen di Jepang akan segera menikmati kemudahan baru saat bepergian dengan membawa koper berukuran besar. JR East mengumumkan layanan drop-off bagasi yang memungkinkan koper dikirim menggunakan jaringan Shinkansen sehingga penumpang tidak perlu lagi membawanya selama perjalanan. Layanan ini dirancang untuk memberikan pengalaman bepergian yang lebih nyaman, terutama bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.

image

(Image by: JR East)

Melalui layanan tersebut, penumpang cukup menyerahkan koper di lokasi yang telah ditentukan sebelum keberangkatan. Bagasi kemudian akan diangkut menggunakan Shinkansen dan dikirim ke tujuan pada hari yang sama. Dengan cara ini, penumpang dapat menikmati perjalanan tanpa harus mengangkat atau menyimpan koper besar di dalam gerbong kereta.

Program ini merupakan hasil kerja sama antara JR East dan perusahaan logistik Yamato Transport. Pada tahap awal, layanan akan mulai beroperasi 1 Agustus 2026 dengan rute yang menghubungkan Stasiun Tokyo dan Stasiun Morioka. Pengguna dapat mengirim koper dari salah satu stasiun tersebut untuk kemudian diambil di titik tujuan yang telah disediakan.

image

Bentuk Loker yang bisa digunakan untuk Drop-off bagage (Image by: JR East)

Layanan ini ditujukan untuk membantu mengurangi kepadatan bagasi di dalam kereta, khususnya pada musim liburan ketika jumlah penumpang meningkat. Selain memberikan kenyamanan bagi pengguna, sistem ini juga diharapkan dapat menciptakan ruang yang lebih lega di area penyimpanan bagasi maupun lorong gerbong Shinkansen.

Bagi wisatawan yang membawa koper besar, layanan ini menjadi alternatif selain menyimpan bagasi di rak atas, ruang penyimpanan khusus, atau loker stasiun. Penumpang dapat langsung menuju tempat wisata atau lokasi tujuan setelah turun dari kereta tanpa harus membawa koper sepanjang perjalanan.

image

Sistem Drop-off baggage (Image by: JR East)

image

Sistem Drop-off baggage (Image by: JR East)

Pengiriman bagasi dilakukan menggunakan jaringan Shinkansen sehingga proses distribusi dapat dilakukan pada hari yang sama sesuai area layanan yang tersedia. Sistem ini memanfaatkan kecepatan transportasi kereta cepat Jepang untuk mendukung layanan logistik yang lebih efisien, sekaligus memperluas pemanfaatan jaringan Shinkansen di luar angkutan penumpang.

image

Sistem Drop-off baggage (Image by: JR East)

image

Sistem Drop-off baggage (Image by: JR East)

Dalam beberapa tahun terakhir, operator kereta di Jepang terus menghadirkan berbagai inovasi untuk meningkatkan kenyamanan perjalanan. Mulai dari pengaturan bagasi berukuran besar, layanan pengiriman barang, hingga berbagai fasilitas baru di stasiun dan kereta, seluruhnya diarahkan agar pengalaman menggunakan Shinkansen menjadi semakin praktis bagi seluruh penumpang.

Dengan dimulainya layanan drop-off bagasi ini, JR East menambah pilihan bagi penumpang yang menginginkan perjalanan lebih ringan dan efisien. Apabila layanan perdana berjalan sesuai rencana, bukan tidak mungkin sistem serupa akan semakin banyak dimanfaatkan pada jaringan kereta cepat di Jepang untuk mendukung mobilitas wisatawan maupun masyarakat lokal.

 

Jepang Dilanda Panas Ekstrem

Jepang resmi mengalami hari panas ekstrem pertama atau kokushobi sejak istilah tersebut diperkenalkan oleh Badan Meteorologi Jepang (JMA) pada April 2026. Pada Selasa, 21 Juli 2026, suhu udara di tiga kota di wilayah Jepang bagian tengah menembus angka 40 derajat Celsius, menandai tingkat panas yang belum pernah tercatat dengan klasifikasi baru tersebut.

Kota Tajimi dan Gujo di Prefektur Gifu masing-masing mencatat suhu maksimum sebesar 40,3 derajat Celsius dan 40,0 derajat Celsius. Sementara itu, Kota Toyoda di Prefektur Aichi mencapai suhu 40,1 derajat Celsius. Ketiga wilayah tersebut menjadi lokasi pertama yang memenuhi kategori kokushobi sejak istilah itu mulai digunakan secara resmi.

image

Potret orang-orang di Kumagaya yang sedang berjalan menggunakan payung ditengah panas ekstrim pada Juli 21, 2026. (Image by: Kyodo)

Istilah kokushobi diperkenalkan oleh Badan Meteorologi Jepang sebagai penanda hari ketika suhu udara mencapai atau melebihi 40 derajat Celsius. Sebelumnya, Jepang telah menggunakan istilah moshobi untuk hari dengan suhu maksimum minimal 35 derajat Celsius. Penambahan kategori baru ini bertujuan memberikan peringatan yang lebih jelas kepada masyarakat mengenai risiko cuaca panas yang sangat tinggi.

Menurut Badan Meteorologi Jepang, kondisi tersebut dipicu oleh sistem tekanan udara tinggi yang menyelimuti sebagian besar wilayah Jepang sejak akhir pekan. Sistem ini menyebabkan peningkatan suhu udara, baik di permukaan maupun di lapisan atmosfer bagian atas, sehingga suhu di berbagai daerah terus mengalami kenaikan.

image

Potret anak-anak yang sedang bermain air di  Tajimi pada Juli 21, 2026. (Image by: Kyodo)

Badan Meteorologi juga memperkirakan suhu tinggi masih akan berlanjut di banyak wilayah Jepang mulai Rabu dan hari-hari berikutnya. Masyarakat diimbau untuk mengambil langkah pencegahan terhadap risiko gangguan kesehatan akibat cuaca panas, termasuk menjaga kecukupan cairan tubuh dan menghindari aktivitas luar ruangan dalam waktu yang lama.

Cuaca panas yang berlangsung beberapa hari terakhir dilaporkan telah menimbulkan korban jiwa. Dua pria, masing-masing berusia 70-an tahun di Kota Odawara, Prefektur Kanagawa, dan 40-an tahun di Kota Sanjo, Prefektur Niigata, ditemukan pingsan di jalan pada Senin dan kemudian dinyatakan meninggal dunia setelah mendapat penanganan di rumah sakit.

image

Potret Thermometer di  Stasiun JR Tajimi yang menunjukkan suhu diatas 40 derajat Celsius pada Juli 21, 2026. (Image by: Kyodo)

Pada Selasa, seorang perempuan berusia 80-an tahun di Kota Mitsuke, Prefektur Niigata, juga dilaporkan meninggal dunia akibat sengatan panas. Berdasarkan keterangan pemerintah daerah, korban ditemukan dalam kondisi tidak sadarkan diri di rumahnya ketika petugas dari pusat layanan lansia setempat melakukan kunjungan rutin.

Hingga pukul 15.00 waktu setempat, sebanyak 731 dari 914 titik pengamatan cuaca di Jepang mencatat suhu maksimum 30 derajat Celsius atau lebih. Sebanyak 272 lokasi masuk kategori moshobi, sementara beberapa wilayah lain juga mendekati suhu 40 derajat Celsius, termasuk Kota Nagoya yang mencapai 39,7 derajat Celsius serta Kota Kumagaya di Prefektur Saitama dengan suhu 38,6 derajat Celsius.

 

Wagashi Hanabi Kembali Dijual

Musim panas di Jepang selalu identik dengan festival dan pertunjukan kembang api yang menjadi tradisi tahunan di berbagai daerah. Untuk menyambut momen tersebut, toko wagashi Okamedo di Kota Toyohashi, Prefektur Aichi, kembali menghadirkan manisan tradisional bertema kembang api yang hanya dipasarkan dalam waktu terbatas selama musim panas. Tahun ini menjadi tahun keenam produk tersebut dipasarkan sejak pertama kali diperkenalkan pada masa pandemi COVID-19.

image

Foto wagashi Okamedo Uchiage Hanabi yang kembali dijual (Image by: Okamedo)

Okamedo merupakan pembuat wagashi yang telah beroperasi selama lebih dari 70 tahun. Wagashi bertema kembang api ini pertama kali diciptakan ketika banyak festival hanabi di Jepang dibatalkan akibat pandemi. Melalui produk tersebut, Okamedo ingin menghadirkan nuansa musim panas dalam bentuk manisan tradisional yang dapat dinikmati masyarakat.

Produk tersebut diberi nama Uchiage Hanabi, yang dalam bahasa Jepang merujuk pada kembang api yang ditembakkan ke langit. Desain wagashi ini dibuat untuk menggambarkan langit malam yang dihiasi cahaya kembang api, sehingga tampilannya menyerupai suasana festival hanabi yang menjadi ciri khas musim panas di Jepang.

Bagian luar wagashi dibuat menggunakan perpaduan Domyoji-kan, yaitu gel berbahan beras mochi kukus, dan kingyokukan, yaitu gel berbahan agar-agar serta gula. Kombinasi kedua bahan tersebut menghasilkan tampilan berwarna biru yang menggambarkan langit malam sebagai latar dari pertunjukan kembang api.

image

Foto wagashi Okamedo Uchiage Hanabi yang kembali dijual (Image by: Okamedo)

image

Foto wagashi Okamedo Uchiage Hanabi yang kembali dijual (Image by: Okamedo)

image

Foto wagashi Okamedo Uchiage Hanabi yang kembali dijual (Image by: Okamedo)

Untuk menggambarkan percikan cahaya kembang api, Okamedo menambahkan daun emas dan daun perak yang dapat dimakan ke dalam wagashi tersebut. Detail tersebut menjadi salah satu elemen visual yang membuat tampilannya semakin menyerupai kembang api yang sedang bermekaran di langit malam.

Selain tampilannya yang khas, Uchiage Hanabi juga menawarkan perpaduan tekstur dari Domyoji-kan dan kingyokukan yang merupakan karakteristik khas wagashi Jepang. Kombinasi bahan tersebut menghasilkan sensasi kenyal yang menjadi salah satu daya tarik manisan tradisional ini.

image

Foto toko Okamedo yang mengeluarkan wagashi Uchiage Hanabi(Image by: Okamedo)

Seperti tahun-tahun sebelumnya, Uchiage Hanabi hanya dipasarkan selama musim panas dan tersedia dalam jumlah terbatas. Konsep musiman ini sejalan dengan tradisi wagashi di Jepang yang sering dibuat untuk merepresentasikan perubahan musim maupun perayaan tertentu sepanjang tahun.

Kembalinya Uchiage Hanabi pada musim panas tahun ini kembali menghadirkan pilihan wagashi musiman bagi masyarakat Jepang. Dengan desain yang terinspirasi dari festival kembang api, produk ini menjadi salah satu manisan tradisional yang hanya dapat dinikmati selama periode penjualannya berlangsung.

 

7 Terluka Akibat Pohon Tumbang

Tujuh orang mengalami luka-luka setelah sebuah pohon setinggi sekitar 20 meter tumbang di sebuah lapangan olahraga di Kota Gotemba, Prefektur Shizuoka, Jepang, pada Minggu (19/7). Insiden tersebut terjadi saat turnamen sepak bola tingkat sekolah dasar sedang berlangsung.

image

Foto menunjukkan sebuah pohon yang tumbang di lapangan olahraga di Prefektur Shizuoka, melukai tujuh orang selama turnamen sepak bola untuk anak-anak sekolah dasar pada hari Minggu. (Image by: Kyodo)

Menurut kepolisian, tujuh orang dibawa ke rumah sakit setelah pohon tersebut tumbang di area lapangan olahraga. Hingga laporan awal dipublikasikan, pihak berwenang belum mengungkapkan rincian mengenai tingkat keparahan cedera yang dialami para korban.

Di antara korban yang terluka terdapat dua anak perempuan usia prasekolah. Sementara itu, identitas maupun informasi lebih lanjut mengenai korban lainnya belum diumumkan oleh pihak berwenang.

Polisi dan petugas pemadam kebakaran merespons laporan mengenai insiden tersebut setelah pohon tumbang saat turnamen berlangsung. Penanganan dilakukan di lokasi, sementara para korban mendapat pemeriksaan lebih lanjut.

image

Foto menunjukkan sebuah pohon yang tumbang di lapangan olahraga di Prefektur Shizuoka, melukai tujuh orang selama turnamen sepak bola untuk anak-anak sekolah dasar pada hari Minggu. (Image by: The Yomiuri Shimbun)

Pohon yang tumbang diperkirakan memiliki tinggi sekitar 20 meter. Hingga saat ini, penyebab pasti pohon tersebut roboh masih belum diketahui.

Kepolisian Prefektur Shizuoka telah memulai penyelidikan untuk mengetahui penyebab insiden tersebut. Proses penyelidikan masih berlangsung dan hasilnya belum diumumkan kepada publik.

Peristiwa ini terjadi ketika turnamen sepak bola tingkat sekolah dasar sedang digelar di Gotemba. Hingga kini, informasi yang disampaikan otoritas masih berfokus pada penanganan korban dan penyelidikan penyebab pohon tumbang.

Otoritas menyatakan penyelidikan akan terus dilakukan untuk memastikan penyebab robohnya pohon tersebut. Informasi lebih lanjut mengenai hasil investigasi maupun perkembangan kasus akan disampaikan setelah proses pemeriksaan selesai.

 

Jepang Catat Rekor Caregiver

Jepang mencatat rekor baru dalam jumlah rumah tangga yang menjalani perawatan di rumah, di mana baik pengasuh utama maupun orang yang dirawat sama-sama berusia 75 tahun atau lebih. Data pemerintah menunjukkan kondisi tersebut terus meningkat seiring bertambahnya populasi lansia, sehingga menjadi salah satu tantangan utama bagi sistem perawatan jangka panjang di negara tersebut.

image

Ilustrasi caregiver di jepang (Image by: Google)

Berdasarkan Survei Kehidupan Masyarakat yang dirilis Kementerian Kesehatan, Perburuhan, dan Kesejahteraan Jepang, sebanyak 37,1 persen rumah tangga yang memberikan perawatan di rumah pada tahun 2025 berada dalam kategori tersebut. Angka ini naik 1,4 poin persentase dibandingkan survei tahun 2022 dan hampir dua kali lipat dibandingkan 18,7 persen yang tercatat pada tahun 2001.

Peningkatan ini terjadi seiring bertambahnya usia generasi baby boom Jepang yang lahir antara tahun 1947 hingga 1949. Kelompok tersebut kini memasuki usia akhir 70-an, sehingga kebutuhan terhadap layanan perawatan lansia terus meningkat. Kondisi ini menambah tekanan terhadap sistem kesejahteraan sosial dan layanan perawatan di Jepang.

image

Ilustrasi caregiver di jepang (Image by: Google)

Di sisi lain, jumlah warga Jepang berusia 65 tahun ke atas yang tinggal sendirian juga mencapai rekor tertinggi. Pemerintah mencatat lebih dari 9,33 juta lansia kini hidup seorang diri. Fenomena tersebut memunculkan kekhawatiran mengenai meningkatnya risiko isolasi sosial di kalangan masyarakat lanjut usia.

Survei yang sama menunjukkan bahwa 61,9 persen rumah tangga yang melakukan perawatan di rumah memiliki pengasuh dan penerima perawatan yang sama-sama berusia 65 tahun atau lebih. Meski persentase ini turun 1,6 poin dibandingkan tahun 2022, proporsinya masih tergolong tinggi dan menunjukkan dominasi lansia dalam aktivitas perawatan keluarga.

Pemerintah menilai kondisi tersebut dapat meningkatkan beban para pengasuh lansia, terutama ketika kesehatan orang yang dirawat memburuk atau ketika pengasuh sendiri mulai mengalami gangguan kesehatan, termasuk demensia. Situasi ini menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi kualitas perawatan yang diberikan di lingkungan keluarga.

image

Ilustrasi caregiver di jepang (Image by: Google)

Survei Kehidupan Masyarakat telah dilaksanakan setiap tahun sejak 1986 dan menjadi salah satu statistik utama pemerintah Jepang dalam penyusunan kebijakan sosial. Setiap tiga tahun sekali, survei dilakukan dalam cakupan yang lebih luas dengan jumlah responden lebih banyak serta tambahan pertanyaan mengenai kesehatan dan layanan keperawatan.

Pelaksanaan survei tersebut sempat dihentikan pada tahun 2020 akibat pandemi COVID-19, namun kini kembali menjadi dasar penting dalam memantau perubahan kondisi masyarakat Jepang. Data terbaru ini memperlihatkan bahwa penuaan penduduk terus menjadi tantangan besar yang harus dihadapi Jepang, terutama dalam menjaga keberlanjutan sistem perawatan lansia di masa mendatang.

 

Jepang Larang Salat di Taman

Sebuah keputusan pemerintah Kota Ichikawa di Prefektur Chiba, yang berada di kawasan dekat Tokyo, menjadi sorotan setelah sebuah masjid setempat tidak mendapat izin untuk menggelar salat berjamaah di taman publik yang selama ini digunakan dalam acara keagamaan rutin. Kebijakan tersebut memicu diskusi mengenai praktik hidup berdampingan dalam masyarakat multikultural di Jepang.

image

Potret orang-orang yang sedang menikmati festival keagamaan (Image by: Kyodo)

Permasalahan ini bermula pada Mei 2026 ketika sebuah masjid di Ichikawa mengajukan izin penggunaan taman yang berada di area permukiman warga untuk mengadakan festival keagamaan. Selama bertahun-tahun, acara tersebut telah diselenggarakan dengan persetujuan pemerintah kota, termasuk kegiatan salat berjamaah yang dilakukan di area taman.

Namun, keputusan berbeda diambil setelah muncul kritik di media sosial terhadap kegiatan salat yang berlangsung di taman tersebut pada musim gugur tahun lalu. Menyusul berbagai tanggapan yang masuk, pemerintah kota sempat mempertimbangkan pembatalan seluruh festival sebelum akhirnya mencapai kesepakatan dengan pihak penyelenggara.

Melalui kompromi tersebut, festival tetap diizinkan berlangsung, tetapi tanpa kegiatan salat berjamaah di ruang terbuka. Acara yang digelar pada pagi hari kerja itu tetap menghadirkan warga yang mengenakan pakaian tradisional, berbagi makanan, serta berfoto bersama sebagai bagian dari kegiatan sosial dan budaya.

image

Potret orang-orang yang sedang sholat berjamaah di sebuah Masjid (Bangunan Putih) di Ichikawa,  Prefektur Chiba pada tanggal 27 Mei 2026 (Image by: Kyodo)

Abdullah Miyazawa, perwakilan masjid berusia 56 tahun yang berasal dari Pakistan, menjelaskan bahwa festival tersebut telah diadakan dua kali setiap tahun selama sekitar 30 tahun. Menurutnya, panitia selalu berupaya menjaga hubungan baik dengan masyarakat sekitar dan menjalankan kegiatan dengan memperhatikan ketertiban lingkungan. Pada Maret lalu, sekitar 200 orang dilaporkan mengikuti salat berjamaah di taman tersebut.

Setelah kritik bermunculan di dunia maya, Balai Kota Ichikawa menerima berbagai tanggapan dari masyarakat, baik yang mendukung maupun yang menolak penggunaan taman untuk kegiatan salat. Dengan alasan pertimbangan keselamatan dan penggunaan fasilitas publik, pemerintah kota meminta pihak masjid menarik permohonan penggunaan taman untuk kegiatan ibadah. Karena tidak tersedia lokasi alternatif di area taman, salat kemudian dilaksanakan secara bergelombang di dalam bangunan masjid yang memiliki kapasitas terbatas.

image

Walikota Ichikawa, Ko Tanaka mengadakan konferensi press di Ichikawa City Hall Prefektur Chiba (Image by: Kyodo)

Wali Kota Ichikawa, Ko Tanaka, menyatakan bahwa keputusan tersebut merupakan keputusannya sendiri setelah mempertimbangkan informasi yang beredar di media sosial serta pembahasan di dewan kota. Ia menilai bahwa kegiatan salat berjamaah dalam jumlah besar dapat menimbulkan rasa tidak nyaman bagi sebagian warga karena merupakan hal yang belum familiar. Sementara itu, pihak pemerintah kota juga menyebut penggunaan sebagian area taman untuk salat dinilai berpotensi mengganggu akses masyarakat umum terhadap fasilitas publik tersebut.

Di sisi lain, kebijakan tersebut mendapat perhatian dari kalangan akademisi yang meneliti isu multikulturalisme di Jepang. Masami Wakayama, ilmuwan politik dari University of Shizuoka, mempertanyakan apakah pemerintah kota telah memiliki dasar yang cukup kuat sebelum mengambil keputusan tersebut. Menurutnya, pemerintah seharusnya melakukan kajian yang lebih mendalam dan menjelaskan alasan objektif kepada masyarakat. Meski sebagian warga mengaku masih merasa canggung melihat kerumunan besar untuk kegiatan keagamaan, Wakayama menilai bahwa peningkatan interaksi antara komunitas Muslim dan masyarakat lokal dapat menjadi langkah penting untuk memperkuat pemahaman dan hidup berdampingan di Jepang.

 

Nissin Rilis Cup Noodle Dingin

Nissin Foods memperkenalkan inovasi terbaru untuk lini Cup Noodle dengan meluncurkan produk pertama dalam sejarah merek tersebut yang dirancang khusus untuk diseduh menggunakan air dingin. Produk ini menjadi terobosan baru karena selama lebih dari 55 tahun, seluruh varian Cup Noodle selalu disiapkan menggunakan air panas. Peluncuran ini ditujukan untuk memberikan pilihan menikmati mi instan yang lebih menyegarkan selama musim panas di Jepang.

image

Varian baru Nissin Cup Noodle dengan inovasi bisa diseduh dengan air dingin (Image by: Nissin | Essential-japan)

Berbeda dari Cup Noodle pada umumnya, kemasan produk baru ini secara jelas menginstruksikan konsumen agar tidak menggunakan air mendidih. Sebagai gantinya, pengguna cukup menuangkan air dingin hingga batas yang ditentukan, kemudian menunggu sekitar lima menit hingga mi siap disantap. Nissin menyebut metode ini menghasilkan tekstur mi yang tetap kenyal sekaligus halus meski tanpa proses penyeduhan air panas.

Pada tahap awal peluncurannya, tersedia dua pilihan rasa, yaitu Cold Cup Noodle Spicy Kimchi dan Cold Cup Noodle Chicken Salt Lemon. Kedua varian tersebut dikembangkan dengan cita rasa yang dinilai lebih cocok disantap dalam kondisi dingin, berbeda dengan karakter kuah hangat yang menjadi ciri khas Cup Noodle selama ini.

image

 Potret isian Cup Noodle dingin, dengan rasa Spicy Kimchi (kiri) dan Chicken Salt Lemon (kanan)
(Image by: Nissin | Sora News 24)

Untuk mendukung pengalaman makan menggunakan air dingin, Nissin juga melakukan penyesuaian pada mi yang digunakan. Perusahaan menjelaskan bahwa formula mi telah dirancang agar tetap memiliki tekstur yang baik setelah direndam air dingin, sehingga tidak mengandalkan suhu tinggi seperti produk Cup Noodle konvensional.

Kedua varian baru tersebut dijual dengan harga 313 yen termasuk pajak. Nissin menjadwalkan produk ini mulai tersedia secara nasional di Jepang pada 20 Juli 2026, sehingga konsumen di berbagai wilayah dapat membelinya melalui jaringan penjualan yang berpartisipasi.

Peluncuran ini menandai salah satu perubahan terbesar dalam sejarah Cup Noodle sejak pertama kali diperkenalkan pada tahun 1971. Selama puluhan tahun, cara penyajian produk tersebut hampir tidak berubah, yakni dengan menuangkan air mendidih ke dalam kemasan dan menunggu beberapa menit sebelum dikonsumsi.

image

Varian baru Nissin Cup Noodle dengan inovasi bisa diseduh dengan air dingin (Image by: Nissin | Sora News 24)

Inovasi tersebut juga menarik perhatian karena mengubah kebiasaan lama masyarakat dalam menikmati mi instan. Jika sebelumnya air panas menjadi komponen utama dalam proses penyajian, kini konsumen dapat menikmati Cup Noodle hanya dengan menggunakan air dingin tanpa memerlukan pemanas air maupun kompor.

Melalui peluncuran produk ini, Nissin menghadirkan alternatif baru bagi pecinta mi instan, khususnya pada musim panas. Dengan dua varian rasa yang disiapkan untuk penyajian dingin dan metode penyeduhan yang berbeda dari biasanya, Cold Cup Noodle menjadi produk pertama dalam sejarah merek tersebut yang memang dikembangkan khusus untuk dikonsumsi menggunakan air dingin.

 

Turis Asing Dijebak di Tokyo

Kepolisian Metropolitan Tokyo menangkap seorang pria berusia 53 tahun berkewarganegaraan Nigeria yang diduga melakukan praktik ajakan pelanggan secara ilegal di kawasan hiburan Kabukicho, Shinjuku. Penangkapan ini dilakukan setelah polisi menilai pria tersebut melanggar peraturan anti-gangguan (anti-nuisance ordinance) yang berlaku di Tokyo.

image

(image by: Pakutaso)

Menurut keterangan kepolisian, insiden tersebut terjadi pada dini hari 9 Juli 2026 di area Kabukicho 1-chome. Tersangka diduga menghampiri pejalan kaki, termasuk wisatawan asing, sambil menawarkan untuk mengunjungi tempat makan dan minum atau tempat hiburan. Dalam beberapa kesempatan, ia disebut menggunakan kalimat seperti, "Don't be scared. I love you," untuk menarik perhatian calon pelanggan.

Polisi menyebut tindakan tersebut merupakan bagian dari praktik "touting", yaitu aktivitas menawarkan atau mengarahkan orang di jalan menuju suatu tempat usaha. Di Jepang, praktik seperti ini dibatasi oleh peraturan daerah karena kerap dikaitkan dengan berbagai keluhan dari pengunjung, terutama di kawasan hiburan malam seperti Kabukicho.

Kasus ini menjadi perhatian karena dalam beberapa waktu terakhir terdapat peningkatan laporan dari wisatawan asing yang mengaku diarahkan oleh calo jalanan menuju bar atau tempat hiburan tertentu. Sejumlah korban kemudian melaporkan dikenai tagihan yang sangat tinggi atau mengalami masalah lainnya setelah mengikuti ajakan tersebut.

Pihak Kepolisian Metropolitan Tokyo diketahui sedang memperketat pengawasan terhadap praktik ajakan pelanggan di Kabukicho. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari upaya menciptakan lingkungan yang lebih aman, terutama di tengah meningkatnya jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Jepang.

image

(image by: Pakutaso)

Kabukicho sendiri merupakan salah satu kawasan hiburan terbesar di Tokyo yang dipenuhi restoran, bar, klub, serta berbagai tempat hiburan malam. Meski menjadi destinasi populer bagi wisatawan, kawasan ini juga telah lama menjadi fokus pengawasan aparat karena adanya praktik calo jalanan dan berbagai bentuk pelanggaran yang berkaitan dengan tempat hiburan.

Otoritas Jepang maupun sejumlah pemerintah asing sebelumnya juga telah mengingatkan wisatawan agar tidak mengikuti ajakan orang yang menawarkan tempat hiburan di jalan. Wisatawan disarankan memilih restoran atau bar yang telah diketahui reputasinya serta menghindari lokasi yang direkomendasikan oleh calo jalanan.

Hingga berita ini ditulis, proses penyelidikan terhadap kasus tersebut masih berlangsung. Kepolisian belum mengumumkan adanya dakwaan tambahan selain dugaan pelanggaran terhadap peraturan anti-gangguan Tokyo, sementara penyidik terus mendalami aktivitas tersangka dan kemungkinan keterkaitannya dengan praktik serupa di kawasan Kabukicho.

Source: Sora News 24, Tokyo Metropolitan Police

 

WNI Jadi Damkar di Jepang

Dua warga negara Indonesia (WNI) asal Jawa Timur, Deni Saputra (26) dan Ahmad Ubaidilla (25), resmi bergabung sebagai anggota korps pemadam kebakaran sukarela (Shobodan) di Kota Hasami, Prefektur Nagasaki, Jepang. Keduanya menjadi warga negara asing pertama yang dipercaya menjadi anggota Shobodan di kota tersebut, sebuah langkah yang mendapat perhatian dari masyarakat setempat maupun media Jepang.

image

Potret Deni Saputra dan Ahmad Ubaidilla yang bergabung dengan Pemadam Kebakaran di Jepang (Image by: Nagasaki TV)

Deni dan Ahmad datang ke Jepang pada Mei 2024 sebagai peserta program magang teknis di bidang konstruksi. Sebelum berangkat, keduanya menjalani pelatihan bahasa Jepang selama sekitar enam bulan di Indonesia. Saat ini mereka bekerja di perusahaan konstruksi Kamiyama Kensetsu yang berada di Kota Hasami.

Dalam wawancara dengan media Jepang, Deni mengaku tertarik datang ke Jepang karena menyukai anime. Sementara itu, Ahmad mengatakan keinginannya berangkat ke Jepang muncul setelah mendengar pengalaman temannya yang pernah bekerja di negara tersebut. Ketertarikan tersebut kemudian membawa keduanya mengikuti program magang hingga menetap dan bekerja di Hasami.

Kesempatan bergabung dengan Shobodan bermula ketika pihak perusahaan tempat mereka bekerja mengusulkan nama keduanya kepada pemerintah daerah. Perusahaan menilai Deni dan Ahmad memiliki semangat bekerja yang baik, mampu berkomunikasi dengan lingkungan sekitar, serta aktif berbaur dengan masyarakat setempat sehingga dianggap layak menjadi bagian dari korps pemadam kebakaran sukarela.

image

Potret Deni Saputra (26) yang bekerja di salah satu perusahaan Konstruksi di Jepang (Image by: Nagasaki TV)

image

Potret Ahmad Ubaidilla (25) yang bekerja di salah satu perusahaan Konstruksi di Jepang (Image by: Nagasaki TV)

Sebagai anggota Shobodan, Deni dan Ahmad ditempatkan pada Divisi 3 Korps Pemadam Kebakaran Sukarela Kota Hasami. Dalam sistem yang diterapkan di kota tersebut, mereka akan menjalankan peran sebagai pendukung operasional atau rear support, sehingga tidak bertugas melakukan pemadaman api secara langsung. Meski demikian, keduanya tetap mengikuti pelatihan mengenai penggunaan peralatan pemadam kebakaran, prosedur evakuasi, serta penanganan kondisi darurat.

Pemerintah Kota Hasami menjelaskan bahwa perekrutan anggota baru menjadi salah satu upaya mengatasi berkurangnya jumlah anggota Shobodan akibat penurunan populasi. Dari kebutuhan sekitar 330 anggota, jumlah personel yang tersedia masih belum mencukupi. Oleh karena itu, pemerintah mulai membuka kesempatan bagi warga asing yang tinggal dan bekerja di wilayah tersebut untuk ikut berkontribusi sebagai relawan.

image

Potret Deni dan Ubai yang sedang melakukan pelatihan Pemadam Kebakaran (Image by: Nagasaki TV)

Dalam keterangannya kepada media Jepang, Deni menyampaikan harapannya agar dapat menjadi sosok yang berguna bagi masyarakat di tempat ia tinggal. Ia mengaku ingin membantu apabila terjadi keadaan darurat dan berusaha menjalankan tanggung jawab yang diberikan dengan sebaik-baiknya. Ahmad juga menyatakan kesiapannya untuk belajar dan berkontribusi melalui peran barunya sebagai anggota Shobodan.

Kepercayaan yang diberikan kepada Deni Saputra dan Ahmad Ubaidilla menjadi catatan baru bagi Kota Hasami sekaligus menunjukkan semakin terbukanya partisipasi warga asing dalam kegiatan kemasyarakatan di Jepang. Selain menjalankan pekerjaan sebagai peserta magang teknis, keduanya kini turut berperan mendukung sistem kesiapsiagaan masyarakat melalui korps pemadam kebakaran sukarela setempat.

Source by: Nagasaki TV,  FNN Prime Online</p style="text-align:>

Dessert Terbaru Ghibli Park

Ghibli Park di Prefektur Aichi, Jepang, kembali menghadirkan menu baru yang menarik perhatian para penggemar Studio Ghibli. Kali ini, taman hiburan bertema karya-karya Studio Ghibli tersebut meluncurkan sebuah dessert berupa minuman yang terinspirasi dari impian pendiri Studio Ghibli, Hayao Miyazaki, tentang dunia penerbangan.

image

Porco Rosso, anime buatan Studio Ghibli yang di sutradarai oleh Hayao Miyazaki 1992 (Image by: Ghibli)

Minuman penutup tersebut tersedia di kafe Transcontinental Flight Café yang berada di area Ghibli's Grand Warehouse. Menu baru ini mengambil inspirasi dari film Porco Rosso, karya Hayao Miyazaki yang mengangkat kisah seorang pilot dan memiliki hubungan erat dengan kecintaan sang sutradara terhadap dunia aviasi.

Dessert tersebut merupakan versi yang dapat diminum dari hidangan penutup yang sebelumnya sudah tersedia di Ghibli Park. Minuman ini memadukan susu, jeli kopi, dan es krim vanila sehingga menghasilkan tampilan berlapis yang menyerupai langit dan awan. Penyajiannya juga dibuat untuk mencerminkan nuansa dunia penerbangan yang menjadi ciri khas Porco Rosso.

image

Foto Ghibli Park (Image by: Ghibli Park)

Menurut penjelasan Ghibli Park, konsep minuman ini juga terhubung dengan gambaran Hayao Miyazaki mengenai sebuah tempat singgah bagi para pilot setelah mereka meninggal dunia. Ide tersebut pernah dituangkan Miyazaki dalam sebuah ilustrasi berjudul The Age of the Flying Boat, yang menggambarkan para pilot berkumpul dan menikmati minuman bersama di langit.

Nama kafe, Transcontinental Flight Café, dipilih untuk menyesuaikan tema tersebut. Suasana di dalam kafe juga dirancang agar menghadirkan kesan seperti tempat persinggahan para penerbang, sehingga pengunjung dapat menikmati makanan dan minuman sambil merasakan atmosfer yang terinspirasi dari karya-karya Hayao Miyazaki.

image

Foto menu baru yang di release di  Ghibli Park (Image by: Ghibli Park)

image

Foto menu baru yang di release di  Ghibli Park (Image by: Ghibli Park)

Dessert baru ini mulai dijual di Ghibli Park dengan jumlah terbatas setiap harinya. Pengunjung yang ingin mencicipinya disarankan datang lebih awal karena menu musiman seperti ini biasanya menjadi salah satu incaran para penggemar Studio Ghibli yang berkunjung ke taman hiburan tersebut.

image

Foto menu baru yang di release di  Ghibli Park (Image by: Ghibli Park)

Sejak dibuka, Ghibli Park memang dikenal rutin menghadirkan makanan, minuman, dan merchandise eksklusif yang hanya dapat ditemukan di dalam area taman. Strategi tersebut membuat setiap kunjungan menawarkan pengalaman yang berbeda, terutama bagi penggemar yang datang kembali untuk menikmati berbagai menu edisi terbatas.

Peluncuran dessert baru ini menjadi tambahan daya tarik bagi Ghibli Park di musim panas tahun ini. Selain menikmati berbagai area bertema film Studio Ghibli, pengunjung kini juga dapat mencicipi minuman unik yang terinspirasi langsung dari imajinasi Hayao Miyazaki, sekaligus menjadi penghormatan terhadap kecintaannya pada dunia penerbangan.