Badai besar melanda Indonesia ketika Gunung Ruang meletus pada pukul 8 malam waktu setempat pada hari Rabu (17/04/2024), demikian laporan Badan Meteorologi Jepang. Letusan tersebut berpotensi menghasilkan gelombang tsunami akibat gelombang tekanan udara. Pejabat agensi menyatakan bahwa tsunami yang terjadi bisa mencapai prefektur paling selatan Jepang, Okinawa, pada pukul 11 malam waktu Jepang, setidaknya demikian dari sumber NHK pada 18 April 2024.
Namun, dalam perkembangan selanjutnya pada 18 April 2024 pukul 4:32 pagi waktu setempat, Badan Meteorologi Jepang mengumumkan bahwa tidak ada dampak tsunami yang dihasilkan dari letusan gunung berapi besar tersebut. Badan Meteorologi Jepang sedang menilai risiko tsunami bagi negara tersebut menyusul letusan gunung berapi besar di Indonesia, seperti dilaporkan oleh media Jepang, termasuk Kyodo pada 17 April 2024. Meskipun begitu, portal berita Antara News pada 18 April 2024 melaporkan bahwa Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan sekitar 1.585 warga harus dievakuasi setelah letusan Gunung Ruang.
Menurut BNPB, warga yang tinggal dekat dengan wilayah pantai barat Pulau Tanggulandang berada pada risiko tinggi akibat material letusan dalam radius 2,5 kilometer dari gunung. Meskipun zona aman berada dalam radius enam kilometer dari pusat letusan, proses evakuasi masih berlangsung. Evakuasi ini melibatkan lebih dari 800 jiwa, baik yang secara mandiri meninggalkan daerah bahaya maupun yang diangkut menggunakan kapal. PVMBG telah meningkatkan status Gunung Ruang dari Level III menjadi Level IV atau "Awas", memerintahkan pengosongan daerah tersebut dari semua aktivitas masyarakat sejak Rabu malam (17/04/2024).
Dengan kondisi ini, keprihatinan media Jepang meningkat atas potensi dampak letusan Gunung Ruang terhadap wilayah mereka, terutama dengan ancaman tsunami yang bisa mencapai Okinawa. Namun, berdasarkan pengumuman Badan Meteorologi Jepang, Okinawa dan wilayah lainnya di Jepang tidak terpengaruh oleh tsunami dari letusan Gunung Ruang.

Erupsi Gunung Ruang berpotensi menimbulkan tsunami hingga Okinawa
Image by Carlos (pexels)
Pada Selasa malam (16/4) waktu lokal, sebuah peristiwa yang jarang terjadi mengganggu layanan kereta peluru di Jepang. Sebuah ular berukuran 40 sentimeter ditemukan di dalam kereta Shinkansen antara Nagoya dan Tokyo, menyebabkan penundaan layanan selama 17 menit. Dilaporkan oleh kantor berita AFP pada Rabu (17/4/2024), kehadiran ular tersebut dilaporkan oleh seorang penumpang kepada petugas keamanan.
Meskipun tidak ada laporan cedera atau kepanikan di antara penumpang, Central Japan Railway Company menyatakan bahwa pihaknya telah mengambil tindakan pencegahan dengan menghentikan operasi kereta dan menugaskan kereta lain untuk rute tersebut. Sebanyak lebih dari 600 penumpang terkena dampak dari penundaan tersebut.
Belum jelas bagaimana ular tersebut bisa masuk ke dalam kereta peluru yang sangat dijaga ketat di Jepang. Pihak perusahaan sedang melakukan penyelidikan untuk menentukan bagaimana ular itu bisa masuk ke dalam kereta.
Shinkansen, yang dikenal karena efisiensinya dan kecepatannya yang mencapai 320 kilometer per jam, telah menjadi simbol keandalan dalam transportasi Jepang. Namun, peristiwa ini menunjukkan bahwa bahkan mesin yang paling canggih sekalipun tidak terlepas dari kemungkinan gangguan.
Keamanan di dalam kereta peluru telah menjadi perhatian utama sejak insiden penikaman fatal di Shinkansen pada tahun 2018. Peningkatan patroli oleh petugas keamanan telah diterapkan, terutama mengingat persiapan untuk Olimpiade Musim Panas tahun 2021 dan pertemuan G7 tahun lalu.
Meskipun insiden ini mempengaruhi layanan, Shinkansen tetap mempertahankan reputasinya sebagai jaringan kereta peluru yang sangat aman. Sejak diluncurkan pada tahun 1964, tidak pernah ada kecelakaan yang mengakibatkan korban jiwa atau cedera, menurut Japan Railways.
Dengan demikian, kejadian ini, meskipun langka, menyoroti pentingnya tetap waspada terhadap berbagai kemungkinan gangguan dalam operasi kereta peluru yang vital bagi masyarakat Jepang.

Seekor ular sepanjang 40cm ditemukan di kereta cepat membuat jadwal tertunda 17 menit
Image by Chris Putnam
Bulan April telah tiba, menandai awal tahun ajaran baru dan juga dimulainya karier bagi banyak pemuda yang baru saja bergabung dengan dunia kerja. Namun, di tengah kegembiraan itu, terdengar suara-suara yang mengejutkan di dunia maya. Banyak pemuda karyawan baru yang memilih resign dari pekerjaannya.
"Saya baru saja mengajukan surat pengunduran diri kemarin."
"Besok aku akan mencari kesempatan kerja baru."
Suara-suara ini bukanlah dari veteran pekerja, melainkan dari para karyawan baru yang baru-baru ini bergabung dengan perusahaan. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan, apa yang sebenarnya terjadi di awal tahun ini? Pesan-pesan ini berasal dari platform media sosial X, yang dulunya dikenal sebagai Twitter, dan banyak di antaranya adalah dari mereka yang baru saja lulus dari sekolah atau universitas pada tahun ini.
Namun, bukan hanya suara-suara pengunduran diri yang terdengar. Ada juga orang-orang yang merasa ragu-ragu tentang pekerjaannya, atau yang sudah memutuskan untuk resign "pada waktu yang tepat". Di tengah polemik ini, istilah "pengunduran diri melalui agen" menjadi populer di X. Ini mengacu pada layanan agen yang membantu menyelesaikan prosedur pengunduran diri bagi karyawan yang ingin meninggalkan perusahaan.
Apa yang menjadi alasan di balik gelombang pengunduran diri ini? Para agen pengunduran diri mengungkapkan beberapa alasan yang paling umum, mulai dari perbedaan antara deskripsi pekerjaan yang dijanjikan dengan kenyataan yang ada, hingga pengalaman pelecehan atau tekanan di tempat kerja yang baru saja mereka masuki.
Menanggapi situasi ini, perwakilan dari layanan pengunduran diri, "Momory", mengatakan bahwa sementara bertahan di satu tempat merupakan hal penting, ada juga keuntungan untuk segera mencari yang baru jika situasinya tidak sesuai. Mereka melihat banyak klien mereka menghubungi mereka beberapa waktu setelah pengunduran diri dengan pernyataan bahwa mereka merasa lega telah meninggalkan pekerjaan sebelumnya dan kini hidup dengan lebih bahagia. Meskipun keputusan untuk resignasi mungkin tampak drastis bagi beberapa orang, situasi ini menggarisbawahi pentingnya kesejahteraan mental di tempat kerja dan fleksibilitas dalam memilih jalan karier yang sesuai.
Namun, apa yang sebenarnya menyebabkan lonjakan pengunduran diri ini? Para ahli menunjukkan bahwa kekurangan tenaga kerja yang berkelanjutan di banyak industri adalah salah satu faktornya. Dalam situasi di mana pekerjaan baru mudah ditemukan setelah keluar, lebih banyak orang cenderung untuk mengambil langkah tersebut jika mereka merasa situasinya tidak sesuai. Namun, di sisi lain, perusahaan juga dituntut untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih mendukung, baik dalam hal pengembangan karyawan maupun penghargaan terhadap karyawan sebagai individu. Perubahan dalam prioritas dan nilai-nilai generasi muda juga mempengaruhi cara mereka memandang karier dan pekerjaan.
Dengan lonjakan pengunduran diri yang terjadi, baik pemuda maupun perusahaan dihadapkan pada tantangan baru dalam menyesuaikan diri dengan perubahan dalam dunia kerja.

Banyak karyawan baru lulusan 2024 yang baru masuk kerja memilih resign
Image by Wako Megumi (Getty Image)
Jepang meluncurkan layanan "ride-hailing" atau taksi online pertamanya pada 8 April di tengah meningkatnya kekurangan taksi di wilayah Tokyo. Layanan "ride-hailing" ini, atau yang sering kita gunakan contohnya go-car atau grab car. Sebagai versi Jepangnya, dioperasikan oleh perusahaan taksi yang mengawasi pelatihan dan manajemen operasional. Sementara untuk para pengemudi adalah pengemudi umum yang menggunakan mobil pribadi mereka untuk mengangkut penumpang dengan biaya.
Upacara peluncuran di Tokyo dihadiri oleh Menteri Perhubungan dan Menteri Digital Jepang. Setelah pemotongan pita oleh pejabat pemerintah, sembilan kendaraan dari lima perusahaan taksi berbeda diberangkatkan. Menurut asosiasi industri, sembilan pengemudi ini terdiri dari wiraswasta dan ibu rumah tangga berusia 20-an hingga 50-an, yang akan mengoperasikan mobil pribadi mereka di bawah pengawasan ketat perusahaan taksi untuk menjaga keselamatan. Presiden Asosiasi Taksi Tokyo Hire-Taxi, Ichiro Kawanabe, mengungkapkan keinginannya untuk mengurangi kekurangan taksi dengan memperkenalkan layanan ride-hailing ini.
Untuk menggunakan layanan ini, pelanggan perlu mengunduh aplikasi pengantaran. Setelah itu memesan mobil melalui aplikasi, dan menentukan tujuan dan biaya sebelum perjalanan. Pembayaran dilakukan secara nirkontak melalui aplikasi. Pengemudi taksi ride-hailing ini tidak memerlukan lisensi khusus. Untuk menjadi pengemudi cukup dengan lisensi mengemudi reguler, berbeda dengan pengemudi taksi konvensional yang harus memiliki lisensi khusus. Kendaraan yang digunakan juga dapat menjadi mobil pribadi dengan nomor registrasi biasa.
Untuk menjaga keselamatan, perusahaan taksi bertanggung jawab atas manajemen operasional dan pengemudi harus menjalani pelatihan yang sama seperti pengemudi taksi konvensional. Mereka juga harus memiliki asuransi tambahan. Layanan ride-hailing ini hanya tersedia di wilayah tertentu di Tokyo, termasuk 23 distrik Tokyo, kota Musashino, dan kota Mitaka. Waktu operasional dibatasi pada hari dan jam tertentu, yang berbeda tergantung pada hari dalam seminggu.
Layanan ini juga diharapkan akan diperluas ke wilayah-wilayah lain di Jepang setelah evaluasi awal. Operasional taksi jenis ini juga akan dimulai di beberapa daerah di prefektur Kyoto, Aichi, dan Kanagawa pada akhir bulan ini.

Layanan Ojol-car ini sebagai langkah preventif untuk mengatasi kekurangan taksi
Image by TommL (Getty Image Signature)