Blog

Pembatasan Power Bank Penerbangan

image

Mulai 24 April Jepang Melarang Mengisi Daya Selama Penerbangan (Image by : Google)

Pemerintah Jepang mengumumkan kebijakan baru yang membatasi jumlah power bank yang boleh dibawa oleh penumpang dalam penerbangan komersial menjadi maksimal dua unit per orang. Kebijakan ini diberlakukan sebagai respons terhadap meningkatnya insiden yang melibatkan perangkat baterai portabel tersebut, seperti kasus terbakar atau mengeluarkan asap di dalam pesawat yang dianggap berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan. Pemerintah menilai bahwa pembatasan ini perlu dilakukan untuk mengurangi risiko yang dapat terjadi selama perjalanan udara, khususnya yang berkaitan dengan baterai lithium yang umum digunakan pada power bank.

Menteri Perhubungan Jepang, Yasushi Kaneko, dalam konferensi pers menyampaikan bahwa aturan baru ini akan mulai diterapkan pada tanggal 24 April. Selain membatasi jumlah power bank yang boleh dibawa, regulasi tersebut juga secara efektif melarang penumpang menggunakan power bank untuk mengisi daya perangkat elektronik mereka selama berada di dalam pesawat. Tidak hanya itu, penumpang juga tidak diperbolehkan mengisi ulang daya power bank menggunakan stopkontak listrik yang tersedia di kabin pesawat, sehingga penggunaannya akan semakin dibatasi secara ketat selama penerbangan berlangsung.

Kebijakan ini sejalan dengan standar dan rekomendasi internasional yang dikeluarkan oleh Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO). Pada bulan Maret, badan di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa tersebut telah menetapkan pedoman baru terkait pembatasan perangkat berbasis baterai lithium milik penumpang, dengan tujuan meningkatkan keselamatan penerbangan global. Jepang kemudian menyesuaikan kebijakan nasionalnya agar selaras dengan aturan internasional tersebut, sekaligus memperkuat sistem keselamatan di sektor transportasi udara.

image

Jepang Batasi PowerBank 2 Unit Per Orang (Image by : Google)


Selain pembatasan jumlah, Kementerian Perhubungan Jepang juga menegaskan bahwa power bank dengan kapasitas yang melebihi 160 watt-jam tidak diperbolehkan untuk dibawa ke dalam pesawat dalam kondisi apa pun. Aturan ini dibuat karena baterai dengan kapasitas besar dianggap memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami overheat atau kebakaran jika terjadi kerusakan atau penggunaan yang tidak sesuai standar keselamatan penerbangan. Oleh karena itu, pengawasan terhadap spesifikasi teknis perangkat yang dibawa penumpang akan diperketat.

Sebagai langkah antisipasi tambahan, pemerintah juga mengimbau para penumpang untuk lebih bijak dalam menggunakan perangkat elektronik mereka sebelum dan selama perjalanan. Penumpang disarankan untuk mengisi daya perangkat seluler langsung dari fasilitas stopkontak yang tersedia di bandara sebelum keberangkatan, sehingga tidak terlalu bergantung pada power bank selama berada di dalam pesawat. Imbauan ini bertujuan untuk mengurangi kebutuhan penggunaan baterai portabel di kabin.

Sebelumnya, pada Juli tahun lalu, pemerintah Jepang sudah mulai memberikan imbauan kepada para pelancong agar menyimpan power bank di tempat yang mudah dijangkau selama penerbangan, bukan di kompartemen bagasi atas. Selain itu, perangkat pengisi daya portabel juga telah dilarang untuk dimasukkan ke dalam bagasi terdaftar. Kebijakan baru ini merupakan kelanjutan dari upaya bertahap pemerintah dalam meningkatkan keselamatan penerbangan dengan menekan risiko yang berasal dari perangkat baterai milik penumpang.

Lonjakan Peserta JLPT Jepang

image

Ujian Kemampuan Bahasa Jepang (JLPT) (Image by : Google)

Pendaftaran untuk beberapa tingkatan Ujian Kemampuan Bahasa Jepang (JLPT), yang secara luas digunakan sebagai syarat untuk bekerja maupun melanjutkan studi di Jepang bagi warga negara asing, telah ditutup lebih awal dari jadwal yang telah ditetapkan. Hal ini disampaikan oleh penyelenggara pada hari Senin, yang menyoroti adanya lonjakan permintaan peserta ujian yang jauh melampaui kapasitas tempat ujian yang tersedia. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa banyak calon peserta tidak dapat melakukan pendaftaran tepat waktu, meskipun mereka sudah bersiap untuk mengikuti ujian tersebut sebagai bagian dari persyaratan karier atau pendidikan mereka.

Lembaga Pertukaran dan Layanan Pendidikan Jepang (JESS), yang menyelenggarakan ujian di Jepang dua kali setiap tahun, menjelaskan bahwa penutupan pendaftaran dilakukan lebih awal karena kesulitan dalam menyediakan jumlah tempat ujian yang cukup untuk menampung peningkatan signifikan jumlah peserta. Batas waktu pendaftaran untuk ujian sesi 5 Juli sebenarnya ditetapkan hingga 7 April, namun pendaftaran untuk level N4 dan N3 sudah harus dihentikan lebih awal, yakni masing-masing pada tanggal 25 dan 27 Maret. Hal ini menunjukkan bahwa tingginya permintaan tidak dapat diimbangi dengan kapasitas pelaksanaan ujian yang ada saat ini.

Di sisi lain, pemerintah Jepang menegaskan bahwa warga negara asing yang ingin bekerja di bawah skema pekerja terampil di sektor-sektor yang mengalami kekurangan tenaga kerja pada prinsipnya diwajibkan untuk lulus tes kemampuan bahasa Jepang. Oleh karena itu, penutupan pendaftaran lebih awal ini berpotensi berdampak langsung pada banyak pelamar kerja asing, terutama mereka yang sedang mengejar sertifikasi bahasa Jepang sebagai syarat administratif untuk mendapatkan pekerjaan di Jepang.

image

Tangkapan layar dari situs web resmi JLPT (Image by : Kyodo)

Penyelenggara ujian telah meminta para pemberi kerja maupun lembaga pendidikan untuk mempertimbangkan penggunaan tes bahasa Jepang alternatif sebagai pengganti sertifikasi N4 dan N3 jika memungkinkan. Namun demikian, menurut sumber pemerintah, khususnya untuk level N3 tidak terdapat pengganti yang benar-benar praktis, sehingga para pelamar yang terdampak kemungkinan besar harus menunggu hingga periode ujian berikutnya yang akan dilaksanakan pada bulan Desember. Situasi ini menambah tantangan bagi mereka yang memiliki batas waktu pengurusan visa atau kebutuhan kerja yang mendesak.


Dalam struktur JLPT, N1 merupakan tingkat paling mahir, sementara N5 adalah tingkat dasar. Level N4 mengukur kemampuan memahami percakapan sederhana yang diucapkan perlahan serta membaca teks bahasa Jepang dasar, sedangkan N3 mencerminkan kemampuan bahasa Jepang sehari-hari yang lebih praktis, termasuk memahami percakapan dengan kecepatan normal serta teks umum yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa pekerjaan seperti pengemudi bus dan taksi bahkan mensyaratkan kemampuan minimal setara N3, sehingga keterbatasan kapasitas ujian ini berdampak langsung pada peluang kerja di sektor-sektor tersebut.

Menurut data penyelenggara dan Japan Foundation yang mengelola pelaksanaan ujian di luar Jepang, jumlah pendaftar JLPT telah mencapai rekor sekitar 1,05 juta orang di seluruh dunia untuk sesi Desember tahun lalu. Sementara itu, pada sesi Juli sebelumnya, sekitar 900.000 orang mendaftar, dengan sekitar 770.000 peserta benar-benar mengikuti ujian, termasuk sekitar 220.000 peserta di level N3 dan 180.000 di level N4. JLPT sendiri telah didirikan sejak tahun 1984 sebagai sarana resmi untuk mengukur dan mensertifikasi kemampuan bahasa Jepang bagi penutur non-asli, dan hingga kini terus menjadi salah satu standar utama yang digunakan secara global untuk keperluan pendidikan, kerja, maupun imigrasi ke Jepang.

Aliansi AI Industri Jepang

image

SoftBank Corp (Image by : JapanToday)

Perusahaan-perusahaan besar Jepang, termasuk SoftBank Corp, NEC Corp, Honda Motor Co, dan Sony Group Corp, mengambil langkah strategis dengan mendirikan sebuah perusahaan baru yang berfokus pada pengembangan kecerdasan buatan (AI) skala besar. Inisiatif ini menandai keseriusan Jepang dalam memperkuat posisi mereka di tengah persaingan global yang semakin ketat di bidang teknologi AI.

Langkah tersebut tidak lepas dari kekhawatiran bahwa Jepang mulai tertinggal dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan teknologi dari Amerika Serikat dan Tiongkok yang telah lebih dahulu mengembangkan model AI canggih. Oleh karena itu, kolaborasi lintas industri ini diharapkan mampu mempercepat inovasi serta menciptakan ekosistem AI yang lebih mandiri di dalam negeri. Dukungan dari pemerintah juga dianggap krusial untuk memastikan keberhasilan proyek jangka panjang ini.

Perusahaan baru ini tidak hanya akan mengembangkan model AI untuk kebutuhan internal, tetapi juga berencana membagikan teknologi tersebut kepada berbagai perusahaan Jepang lainnya. Dengan demikian, manfaatnya dapat dirasakan secara luas oleh sektor industri, mulai dari manufaktur hingga layanan. Dalam tahap lanjutan, pengembangan juga akan diarahkan pada AI yang mampu mengoperasikan robot di lingkungan pabrik, sehingga meningkatkan efisiensi dan otomatisasi produksi.

Dari sisi sumber daya manusia, perusahaan ini menargetkan perekrutan sekitar 100 insinyur AI yang memiliki keahlian tinggi. Proyek ini akan dipimpin oleh seorang eksekutif dari SoftBank, yang diharapkan mampu mengoordinasikan berbagai pihak yang terlibat serta memastikan arah pengembangan tetap sesuai dengan visi besar perusahaan.

image

NEC Corp (Image by : JapanToday)


Selain para pendiri utama, sejumlah institusi besar juga turut memberikan dukungan investasi, di antaranya Nippon Steel Corp, Kobe Steel Ltd, MUFG Bank, Sumitomo Mitsui Banking Corp, dan Mizuho Bank. Keterlibatan berbagai sektor ini menunjukkan bahwa pengembangan AI tidak hanya menjadi kepentingan industri teknologi, tetapi juga sektor keuangan dan manufaktur.

Dalam pelaksanaannya, SoftBank dan NEC akan memimpin proses pengembangan inti, yang kemudian akan diperkuat dengan kolaborasi bersama Preferred Networks Inc, sebuah perusahaan AI yang berbasis di Tokyo. Sinergi ini diharapkan mampu menghasilkan inovasi yang kompetitif di tingkat global serta mempercepat implementasi teknologi di berbagai bidang.

Untuk mendukung pembiayaan proyek ini, perusahaan baru tersebut berencana mengajukan pendanaan kepada Organisasi Pengembangan Teknologi Energi Baru dan Industri. Lembaga publik ini diketahui menyiapkan dana hingga 1 triliun yen guna mendorong pengembangan AI dalam negeri. Jika terealisasi, dukungan ini akan menjadi salah satu investasi terbesar Jepang dalam bidang kecerdasan buatan.

Secara keseluruhan, pembentukan perusahaan ini mencerminkan upaya Jepang dalam membangun kemandirian teknologi serta memperkuat daya saing global. Dengan menggabungkan kekuatan berbagai perusahaan besar dan dukungan pemerintah, Jepang berharap dapat kembali menjadi pemain utama dalam revolusi teknologi AI di masa depan.

Visa Jepang Diperketat Lagi

image

Ilustrasi Cap Visa Imigrasi Jepang (Image by: The Japan Times)

Langkah-langkah pengendalian imigrasi Jepang yang semakin ketat menunjukkan hasil yang terukur dalam dua tahun terakhir, meskipun jumlah kedatangan warga asing mencapai rekor tertinggi. Berdasarkan data Badan Layanan Imigrasi Jepang, kedatangan warga asing pada tahun 2025 melampaui 42,4 juta, untuk pertama kalinya menembus angka 40 juta. Pada saat yang sama, jumlah penduduk asing yang tinggal di Jepang juga mencapai rekor 4,13 juta.

Lonjakan tersebut terjadi bersamaan dengan penerapan kebijakan pengetatan imigrasi yang dikenal sebagai “Rencana Nol Warga Asing Ilegal untuk Keselamatan dan Keamanan Masyarakat di Jepang” atau “Rencana Nol”. Diluncurkan pada Mei 2025, kebijakan ini bertujuan mengurangi pelanggaran izin tinggal melalui pemeriksaan yang lebih ketat, percepatan proses suaka, dan peningkatan deportasi.

Dari sisi penegakan hukum, jumlah pelanggar izin tinggal turun menjadi 68.488 orang per 1 Januari, berkurang 6.375 kasus dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini menandai tren penurunan tahunan kedua berturut-turut. Selain itu, pada tahun 2025 terdapat 18.442 kasus pelanggaran imigrasi, dengan 72,9% di antaranya terbukti bekerja secara ilegal.

Dalam hal deportasi, sebanyak 17.352 orang meninggalkan Jepang melalui deportasi atau perintah keberangkatan. Meskipun total deportasi turun 1,8%, deportasi yang didanai pemerintah dan disertai pengawalan meningkat 27,7% menjadi 318 kasus, angka tertinggi yang pernah tercatat. Selain itu, pengecualian penangguhan deportasi juga meningkat signifikan menjadi 59 kasus.

image

Ilustrasi pengunjung yang sedang berkunjung di jepang (Image by: donnykimball.com)

Pencabutan status izin tinggal warga negara asing juga meningkat menjadi 1.446 kasus pada tahun 2025, naik 262 kasus dari tahun sebelumnya. Sebagian besar kasus melibatkan peserta pelatihan teknik dan pelajar, dengan warga negara Vietnam menjadi kelompok terbesar yang terdampak.

Di sisi perbatasan, penegakan imigrasi juga semakin ketat. Sebanyak 8.546 warga asing ditolak masuk ke Jepang pada tahun 2025, terutama karena kecurigaan terhadap tujuan kedatangan yang dinyatakan. Meski demikian, arus masuk tetap meningkat, dengan Korea Selatan, Tiongkok, dan Taiwan menjadi penyumbang terbesar, didominasi pengunjung jangka pendek.

Kebijakan suaka juga mengalami perubahan signifikan. Jumlah permohonan pengungsi turun menjadi 11.298 kasus pada tahun 2025. Sementara itu, kasus “Kategori B” meningkat tajam lebih dari 20 kali lipat menjadi 1.615 kasus, akibat penyaringan yang lebih ketat terhadap klaim yang dianggap tidak memenuhi standar Konvensi Pengungsi.

Dengan target pemerintah untuk memangkas waktu proses suaka menjadi enam bulan pada 2030 dan menekan imigrasi ilegal hingga nol, Jepang diperkirakan akan terus memperketat kebijakan imigrasi. Namun, tantangan tetap muncul terkait keseimbangan antara penegakan hukum dan kebutuhan tenaga kerja asing di tengah penurunan populasi negara tersebut.

Pria Masuk Rel Shinkansen

image

Jalur Shinkansen Tokaido Terganggu (Image by : SoraNews24)

Jika seseorang sampai nekat turun ke rel kereta api aktif, tentu dibutuhkan alasan yang tidak biasa. Entah itu alasan yang benar-benar mendesak, atau bahkan alasan yang terdengar “gila” bagi orang lain. Tindakan seperti ini bukan hanya berbahaya bagi diri sendiri, tetapi juga bisa mengganggu sistem transportasi yang digunakan oleh ribuan orang setiap harinya.

Kereta api di Jepang terkenal dengan ketepatan waktunya yang hampir sempurna. Sistemnya yang terorganisir dengan baik membuat keterlambatan menjadi hal yang sangat jarang terjadi. Namun, bukan berarti gangguan tidak pernah ada. Bahkan layanan cepat seperti Shinkansen pun bisa terhenti jika terjadi situasi darurat, termasuk kejadian yang tidak terduga seperti seseorang memasuki rel.

Insiden tersebut terjadi pada Selasa sore sekitar pukul 4 di Stasiun Shizuoka, yang merupakan salah satu titik penting di jalur Shinkansen Tokaido. Jalur ini menghubungkan kota-kota besar seperti Tokyo, Kyoto, dan Osaka, sehingga gangguan sekecil apa pun dapat berdampak luas. Pada saat itu, seorang pria terlihat melompat dari peron Shinkansen dan berjalan di atas rel menuju arah timur laut, memicu penghentian sementara layanan demi keselamatan.

Sekitar 30 menit kemudian, pria tersebut terdeteksi berada di Stasiun Higashi Shizuoka, yang merupakan stasiun berikutnya di jalur kereta biasa (non-Shinkansen). Ia terlihat melompati pagar sebagai upaya keluar dari area rel dan kembali ke lingkungan stasiun. Aksinya akhirnya dihentikan oleh petugas peron yang langsung mengamankannya sebelum situasi menjadi lebih berbahaya.

Pria tersebut diketahui merupakan warga negara Brasil berusia 39 tahun dengan nama keluarga Yamaguchi. Setelah diamankan, ia mengakui perbuatannya, namun memberikan alasan yang cukup mengejutkan. Ia mengaku sedang dikejar oleh yakuza dan merasa terpaksa turun ke rel untuk menyelamatkan diri dari ancaman tersebut.


Meski demikian, hingga saat ini belum ada bukti maupun saksi yang dapat mengonfirmasi klaim tersebut. Polisi masih terus menyelidiki kebenaran pengakuannya. Terlepas dari motif yang sebenarnya, kejadian ini menjadi pengingat bahwa di Jepang tersedia fasilitas keamanan seperti koban (pos polisi kecil) di hampir setiap stasiun besar. Dalam situasi darurat, mencari bantuan resmi tentu jauh lebih aman dibanding mengambil tindakan berisiko tinggi seperti turun ke rel kereta.

Kecelakaan Proyek Di Kawasaki

image

Scaffolding Yang Runtuh Di Kawasaki (Image by Japan Today)

Sebuah kecelakaan kerja yang tragis terjadi di lokasi pembongkaran di Kawasaki, Prefektur Kanagawa, pada Selasa sore. Runtuhnya struktur perancah (scaffolding) di area proyek tersebut menyebabkan dua pekerja kehilangan nyawa setelah dilaporkan terjatuh dari ketinggian sekitar 40 meter. Insiden ini langsung memicu kepanikan dan respons darurat, setelah laporan awal menyebutkan beberapa pekerja jatuh secara bersamaan dari struktur tinggi tersebut.

Peristiwa nahas ini terjadi sekitar pukul 16.25 di dalam kompleks pabrik baja milik JFE Steel, tepatnya di fasilitas East Japan Works yang terletak di kawasan pelabuhan. Area ini dikenal sebagai salah satu pusat industri berat, dengan aktivitas bongkar muat dan pekerjaan konstruksi skala besar yang berlangsung hampir tanpa henti setiap harinya. Karena kompleksnya pekerjaan di lokasi tersebut, standar keselamatan kerja menjadi perhatian utama, meskipun kecelakaan tetap dapat terjadi.

Selain dua korban meninggal dunia, tiga pekerja lain juga terdampak dalam insiden yang terjadi saat proses pembongkaran crane. Pihak berwenang melaporkan bahwa satu orang masih dinyatakan hilang, sementara dua lainnya telah berhasil dievakuasi dan saat ini tengah menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Kondisi korban yang selamat masih terus dipantau oleh tim medis.

Pekerja yang hilang diduga kuat terjatuh ke laut di sekitar lokasi kejadian, mengingat area proyek berada di dekat perairan. Upaya pencarian terus dilakukan oleh tim penyelamat dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk penjaga pantai dan tim penyelam. Sementara itu, salah satu korban yang berhasil diselamatkan dilaporkan sempat dalam kondisi tidak sadarkan diri dan mengalami luka serius, menunjukkan betapa kerasnya dampak kecelakaan tersebut.

Dugaan awal menyebutkan bahwa kecelakaan dipicu oleh terlepasnya beban penyeimbang (counterweight) dari crane dengan berat mencapai sekitar 500 ton. Beban besar tersebut diyakini menghantam struktur perancah sebelum akhirnya jatuh ke tanah, menyebabkan kerusakan besar dan menciptakan lubang di area kerja. Insiden ini menimbulkan pertanyaan serius terkait prosedur keselamatan, pengawasan teknis, serta kondisi peralatan yang digunakan dalam proyek tersebut.

Pada saat kejadian, wilayah Kawasaki diketahui tengah berada dalam status peringatan angin kencang, yang kemungkinan turut memperburuk situasi di lapangan. Seorang pria berusia 65 tahun yang sedang memancing di seberang lokasi mengaku terkejut mendengar suara benturan logam yang sangat keras, disusul dengan munculnya kepulan debu besar dari arah pabrik. Insiden ini terjadi di kawasan industri di pulau buatan Ogishima, yang terletak di selatan JR Ogimachi Station, dan kini tengah dalam penyelidikan lebih lanjut oleh pihak berwenang untuk memastikan penyebab pasti serta mencegah kejadian serupa di masa depan.

Kejutan Manis 7-Eleven Jepang

image

7 Cafe Bakery (Image by: soranews24.com)

7-Eleven merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari di Jepang. Di hampir setiap sudut kota, Anda bisa menemukan minimarket ini dengan mudah. Namun, meskipun terlihat seragam, tidak semua cabang menawarkan produk yang sama. Beberapa gerai tertentu menghadirkan lini 7 Cafe Bakery, di mana berbagai roti dan pastry dipanggang langsung di dalam toko, memberikan pengalaman yang lebih segar, hangat, dan terasa seperti dari toko roti profesional.

Salah satu produk yang paling menarik dari lini ini adalah Sugar Palmier, camilan yang tergolong cukup langka. Nama “palmier” sendiri berasal dari bentuknya yang menyerupai daun atau pucuk pohon palem. Biasanya, kue ini hanya dijual di toko roti kelas atas atau pastry shop, sehingga kehadirannya di 7-Eleven menjadi kejutan yang menyenangkan sekaligus terasa lebih “mewah” dibandingkan camilan minimarket pada umumnya.

Untuk menikmatinya, pembeli hanya perlu memesan di konter dengan harga sekitar 220 yen. Setelah itu, staf akan memanggang palmier tersebut langsung di oven sebelum diserahkan kepada pelanggan. Proses ini membuat kue disajikan dalam kondisi hangat, bahkan masih terasa panas saat dipegang. Sensasi ini menjadi nilai tambah tersendiri, karena memberikan pengalaman seperti membeli pastry yang baru keluar dari oven.

image

Kue ini dinamai dari bentuknya yang menyerupai daun pohon palem (Image by: soranews24.com)


Dari segi tampilan, Sugar Palmier terlihat sangat elegan dan menggugah selera. Bentuknya menyerupai hati dengan lapisan gula yang berkilau di permukaannya, menciptakan kesan manis sekaligus premium. Meski dibuat dari bahan sederhana, presentasinya mampu memberikan nuansa mewah, apalagi jika disajikan di atas piring seperti hidangan kafe.

Saat digigit, rasa palmier ini benar-benar memenuhi ekspektasi. Aroma mentega yang kaya langsung terasa, berpadu sempurna dengan manisnya gula yang sedikit karamel. Tekstur luarnya renyah seperti pai, sementara bagian dalamnya tetap lembut dan sedikit berlapis seperti Danish pastry. Kombinasi rasa dan tekstur ini menciptakan sensasi yang seimbang dan memuaskan di setiap gigitan.

Saat ini, Sugar Palmier hanya tersedia di beberapa cabang 7 Cafe Bakery di Tokyo serta wilayah sekitarnya seperti Chiba dan Kanagawa. Ketersediaannya yang terbatas justru menambah daya tarik tersendiri. Bagi Anda yang sedang berada di area tersebut, camilan ini sangat layak untuk dicoba—bukan hanya karena rasanya yang lezat, tetapi juga karena pengalaman unik menikmati pastry premium dari sebuah minimarket.

Jepang Perketat Syarat Visa

image

Pemerintah Jepang berencana memperketat persyaratan untuk memperoleh status tempat tinggal (Image by Kyodo)

Pemerintah Jepang berencana memperketat persyaratan untuk memperoleh status tempat tinggal “Insinyur, Humaniora, dan Layanan Internasional,” khususnya bagi pekerjaan yang menggunakan bahasa Jepang. Berdasarkan wawancara dengan pejabat pemerintah, ke depan akan diwajibkan adanya bukti kemampuan bahasa Jepang bagi pekerja yang menjalankan tugas dalam bahasa tersebut. Kebijakan ini diambil untuk memastikan kesesuaian antara kemampuan pekerja dan tuntutan pekerjaan.

Langkah ini juga dilatarbelakangi oleh meningkatnya kasus penyalahgunaan status visa, di mana individu masuk ke Jepang melalui jalur pekerja terampil namun kemudian bekerja pada pekerjaan sederhana yang sebenarnya tidak diperbolehkan. Kondisi ini dinilai menyimpang dari tujuan awal pemberian status tersebut.

Sebagai respons, pemerintah akan merevisi pedoman pada pertengahan April guna memperketat proses pemeriksaan. Revisi ini diharapkan dapat menutup celah yang selama ini dimanfaatkan untuk praktik yang tidak sesuai aturan, sekaligus menjaga kualitas tenaga kerja asing di Jepang.

Dalam pedoman terbaru, pemohon diwajibkan menyerahkan dokumen yang membuktikan kemampuan bahasa Jepang minimal pada level B2 berdasarkan standar internasional CEFR. Tingkatan ini setara dengan level N2 dalam Tes Kemahiran Bahasa Jepang (JLPT), yang menunjukkan kemampuan memahami dan menggunakan bahasa Jepang dalam konteks profesional.

Sebelumnya, persyaratan utama hanya mencakup latar belakang pendidikan seperti lulusan universitas atau pengalaman kerja yang relevan, tanpa kewajiban kemampuan bahasa Jepang. Aturan baru ini akan berlaku terutama bagi pendatang baru yang melamar melalui jalur pekerja terampil untuk pekerjaan berbahasa Jepang, sementara mahasiswa internasional yang ingin mengubah status visa akan dikecualikan.

Selain itu, pedoman tersebut juga memperketat ketentuan bagi perusahaan penerima tenaga kerja. Perusahaan yang pernah dikenai sanksi, seperti kasus kekerasan atau tidak membayar upah dalam program magang teknis atau keterampilan tertentu, akan dilarang menerima pekerja dengan status “Insinyur, Humaniora, dan Layanan Internasional” selama masa penangguhan hingga lima tahun.

Tokyo Perluas WiFi Gratis

image

Bilik Telepon Di Tokyo menjadi WiFi Gratis (Image by : SoraNews24)

Layanan penting yang perlu Anda ketahui jika terjadi bencana kini semakin berkembang, terutama di Jepang. Meskipun penggunaan telepon umum terus menurun di seluruh dunia karena hampir semua orang memiliki ponsel, pemerintah Jepang tetap mempertahankannya sebagai jalur komunikasi vital saat darurat. Berdasarkan undang-undang telekomunikasi, telepon umum diklasifikasikan sebagai “layanan universal” yang wajib tersedia untuk masyarakat.


Di Tokyo, kondisi ini justru dimanfaatkan sebagai peluang untuk meningkatkan konektivitas kota. Pemerintah Metropolitan Tokyo mengusung strategi “Tokyo Terhubung”, yaitu menciptakan lingkungan di mana penduduk, wisatawan, dan pelaku bisnis dapat tetap terhubung melalui jaringan 5G dan Wi-Fi publik, terutama saat bencana terjadi.

Sebagai bagian dari inisiatif ini, banyak bilik telepon umum diubah menjadi hotspot Wi-Fi gratis. Proyek ini dijalankan bekerja sama dengan Nippon Telegraph and Telephone East Corporation (NTT East), yang menargetkan sekitar 1.500 dari total lebih dari 10.000 bilik telepon untuk dilengkapi fitur Wi-Fi berbasis OpenRoaming.

OpenRoaming sendiri merupakan sistem yang memungkinkan pengguna mendapatkan akses Wi-Fi gratis dan aman di lebih dari 3,5 juta lokasi di seluruh dunia, hanya dengan satu kali pendaftaran. Setelah terdaftar, pengguna tidak perlu login ulang dan bisa langsung terhubung secara otomatis di berbagai titik yang mendukung layanan ini.

image

Setiap bilik telepon yang dilengkapi Wi-Fi memiliki poster dengan kode QR (Image by : SoraNews24)


Cara menggunakannya pun cukup mudah. Setiap bilik telepon yang sudah dilengkapi Wi-Fi memiliki poster dengan kode QR. Pengguna hanya perlu mengaktifkan Wi-Fi dan memilih jaringan “START_TOKYO_Wi-Fi”, lalu mengikuti proses pendaftaran. Setelah selesai, perangkat akan otomatis terhubung ke jaringan “TOKYO_FREE_Wi-Fi” di lokasi-lokasi yang tersedia.

Menurut Gubernur Yuriko Koike, proyek ini sangat penting karena komunikasi menjadi prioritas utama saat bencana. Selain membantu warga lokal, fasilitas ini juga memberikan kemudahan bagi wisatawan. Dengan perluasan hingga sekitar 3.600 titik dalam beberapa tahun ke depan, Tokyo memastikan bahwa akses komunikasi tetap terjaga, bahkan dalam situasi darurat.

Jepang Buka Perburuan Paus

image

Jepang Berhasil Menangkap Paus Minke Pertama Tahun Ini (Image by : Japan Today)

Jepang berhasil menangkap paus minke pertama tahun ini pada hari Rabu, menandai dibukanya musim perburuan paus komersial di lepas pantai Hokkaido. Dua ekor paus betina ditangkap di pelabuhan Nemuro, menurut laporan dari badan industri terkait. Peristiwa ini menjadi sorotan karena menandai dimulainya kembali tradisi perburuan paus yang kontroversial di Jepang.

Dua paus tersebut ditangkap di lepas pantai Hokkaido, sementara satu paus lainnya ditangkap di lepas pantai Prefektur Aomori di timur laut Jepang. Musim penangkapan paus di Aomori biasanya dimulai pada bulan Maret, sesuai jadwal yang ditetapkan oleh Asosiasi Perburuan Paus Tipe Kecil Jepang, yang bertanggung jawab atas kegiatan penangkapan ini.

Kedua paus yang ditangkap memiliki ukuran yang cukup besar, masing-masing sekitar 8,2 meter dan 7,7 meter panjangnya. Perusahaan yang menangkap paus-paus tersebut menyatakan bahwa hewan ini akan diproses di fasilitas pengolahan di Kushiro, Hokkaido, sebelum dikirim ke berbagai wilayah di seluruh Jepang.

"Kami berhasil menangkap paus yang relatif besar, menandai awal musim yang lancar. Kami berharap masyarakat di seluruh negeri dapat menikmatinya," kata Kinya Higashi, manajer operasional di Asosiasi Koperasi Perikanan Taiji, yang bekerja sama dalam penangkapan ini. Pernyataan ini menunjukkan pentingnya perburuan paus bagi industri perikanan lokal, meskipun masih menuai kritik dari kelompok konservasi internasional.

Jepang secara resmi menarik diri dari Komisi Perburuan Paus Internasional pada tahun 2019 dan melanjutkan perburuan paus komersial pada tahun yang sama. Langkah ini memicu perdebatan global terkait konservasi laut, hak hewan, dan tradisi lokal, dengan Jepang menekankan bahwa perburuan paus dilakukan sesuai kuota nasional dan standar regulasi mereka sendiri.

Menurut Badan Perikanan Jepang, kuota tangkapan nasional tahun ini ditetapkan sebanyak 145 ekor paus, dengan 33 ekor dialokasikan khusus untuk perairan di lepas pantai Nemuro dan Laut Okhotsk. Sebagai perbandingan, tahun lalu sebanyak 88 ekor paus ditangkap secara nasional dari kuota 144 ekor, menunjukkan adanya penyesuaian dalam pemanfaatan sumber daya laut yang dikelola secara resmi.