Ujian Kemampuan Bahasa Jepang (JLPT) (Image by : Google)
Pendaftaran untuk beberapa tingkatan Ujian Kemampuan Bahasa Jepang (JLPT), yang secara luas digunakan sebagai syarat untuk bekerja maupun melanjutkan studi di Jepang bagi warga negara asing, telah ditutup lebih awal dari jadwal yang telah ditetapkan. Hal ini disampaikan oleh penyelenggara pada hari Senin, yang menyoroti adanya lonjakan permintaan peserta ujian yang jauh melampaui kapasitas tempat ujian yang tersedia. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa banyak calon peserta tidak dapat melakukan pendaftaran tepat waktu, meskipun mereka sudah bersiap untuk mengikuti ujian tersebut sebagai bagian dari persyaratan karier atau pendidikan mereka.
Lembaga Pertukaran dan Layanan Pendidikan Jepang (JESS), yang menyelenggarakan ujian di Jepang dua kali setiap tahun, menjelaskan bahwa penutupan pendaftaran dilakukan lebih awal karena kesulitan dalam menyediakan jumlah tempat ujian yang cukup untuk menampung peningkatan signifikan jumlah peserta. Batas waktu pendaftaran untuk ujian sesi 5 Juli sebenarnya ditetapkan hingga 7 April, namun pendaftaran untuk level N4 dan N3 sudah harus dihentikan lebih awal, yakni masing-masing pada tanggal 25 dan 27 Maret. Hal ini menunjukkan bahwa tingginya permintaan tidak dapat diimbangi dengan kapasitas pelaksanaan ujian yang ada saat ini.
Di sisi lain, pemerintah Jepang menegaskan bahwa warga negara asing yang ingin bekerja di bawah skema pekerja terampil di sektor-sektor yang mengalami kekurangan tenaga kerja pada prinsipnya diwajibkan untuk lulus tes kemampuan bahasa Jepang. Oleh karena itu, penutupan pendaftaran lebih awal ini berpotensi berdampak langsung pada banyak pelamar kerja asing, terutama mereka yang sedang mengejar sertifikasi bahasa Jepang sebagai syarat administratif untuk mendapatkan pekerjaan di Jepang.
Tangkapan layar dari situs web resmi JLPT (Image by : Kyodo)
Penyelenggara ujian telah meminta para pemberi kerja maupun lembaga pendidikan untuk mempertimbangkan penggunaan tes bahasa Jepang alternatif sebagai pengganti sertifikasi N4 dan N3 jika memungkinkan. Namun demikian, menurut sumber pemerintah, khususnya untuk level N3 tidak terdapat pengganti yang benar-benar praktis, sehingga para pelamar yang terdampak kemungkinan besar harus menunggu hingga periode ujian berikutnya yang akan dilaksanakan pada bulan Desember. Situasi ini menambah tantangan bagi mereka yang memiliki batas waktu pengurusan visa atau kebutuhan kerja yang mendesak.
Dalam struktur JLPT, N1 merupakan tingkat paling mahir, sementara N5 adalah tingkat dasar. Level N4 mengukur kemampuan memahami percakapan sederhana yang diucapkan perlahan serta membaca teks bahasa Jepang dasar, sedangkan N3 mencerminkan kemampuan bahasa Jepang sehari-hari yang lebih praktis, termasuk memahami percakapan dengan kecepatan normal serta teks umum yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa pekerjaan seperti pengemudi bus dan taksi bahkan mensyaratkan kemampuan minimal setara N3, sehingga keterbatasan kapasitas ujian ini berdampak langsung pada peluang kerja di sektor-sektor tersebut.
Menurut data penyelenggara dan Japan Foundation yang mengelola pelaksanaan ujian di luar Jepang, jumlah pendaftar JLPT telah mencapai rekor sekitar 1,05 juta orang di seluruh dunia untuk sesi Desember tahun lalu. Sementara itu, pada sesi Juli sebelumnya, sekitar 900.000 orang mendaftar, dengan sekitar 770.000 peserta benar-benar mengikuti ujian, termasuk sekitar 220.000 peserta di level N3 dan 180.000 di level N4. JLPT sendiri telah didirikan sejak tahun 1984 sebagai sarana resmi untuk mengukur dan mensertifikasi kemampuan bahasa Jepang bagi penutur non-asli, dan hingga kini terus menjadi salah satu standar utama yang digunakan secara global untuk keperluan pendidikan, kerja, maupun imigrasi ke Jepang.