Blog

Pendaftaran Pendakian Gunung Fuji 2026 Dibuka

Pemerintah Jepang resmi membuka pendaftaran pendakian Gunung Fuji untuk musim panas 2026. Kebijakan ini dilakukan guna mengurangi kepadatan pendaki yang dalam beberapa tahun terakhir semakin meningkat di gunung tertinggi Jepang tersebut.

Prefektur Yamanashi sejak tahun 2024 telah menerapkan sistem pengaturan jumlah pendaki melalui pemasangan gerbang di stasiun kelima Gunung Fuji serta sistem registrasi daring. Pendaki yang ingin melewati gerbang diwajibkan melakukan pendaftaran terlebih dahulu dan membayar biaya sebesar 4.000 yen per orang.

Pendaftaran untuk jalur pendakian sisi Yamanashi dibuka melalui situs resmi pendakian Gunung Fuji mulai 27 April 2026. Dalam proses registrasi, perwakilan kelompok harus mengisi jumlah anggota rombongan, jadwal pendakian, rencana menginap di pondok gunung, serta informasi lain yang berkaitan dengan keselamatan pendakian.

Selain itu, pemerintah daerah juga mewajibkan para pendaki mematuhi sejumlah aturan keselamatan. Pendaki diwajibkan mengenakan pakaian hangat karena suhu di puncak dapat turun drastis bahkan pada musim panas, menggunakan sepatu khusus pendakian, serta dilarang melakukan “bullet climbing” atau pendakian semalam tanpa istirahat yang dinilai berbahaya karena meningkatkan risiko kelelahan dan penyakit ketinggian.

Mulai tahun ini, pendaki yang memulai perjalanan dari kaki gunung menuju Stasiun Kelima Jalur Yoshida dibebaskan dari biaya pendakian tambahan. Pemerintah Prefektur Yamanashi berharap kebijakan tersebut dapat mendorong lebih banyak orang menikmati pengalaman mendaki penuh dari kaki gunung sekaligus mengurangi kemacetan di area atas gunung.

Sementara itu, Shizuoka yang juga memiliki jalur menuju Gunung Fuji, turut menerapkan biaya pendakian sebesar 4.000 yen per orang. Pendaftaran untuk jalur sisi Shizuoka dibuka mulai 8 Mei 2026.

Gunung Fuji Memiliki Empat Jalur Utama

Gunung Fuji Memiliki Empat Jalur Utama

Gunung Fuji memiliki empat jalur pendakian utama yang dibuka selama musim panas, biasanya dari awal Juli hingga awal September. Jalur tersebut meliputi:

  • Jalur Yoshida (Prefektur Yamanashi) 
  • Jalur Subashiri 
  • Jalur Gotemba 
  • Jalur Fujinomiya (ketiganya berada di Prefektur Shizuoka)  
Jalur Yoshida menjadi rute paling populer karena akses transportasi yang mudah serta banyaknya pondok gunung dan fasilitas bagi pendaki pemula. Sementara Jalur Gotemba dikenal sebagai rute terpanjang dengan jumlah pendaki lebih sedikit.
Sistem Pos dan Pondok Gunung

Di Gunung Fuji terdapat beberapa “stasiun” atau pos pendakian yang digunakan sebagai titik istirahat. Pendaki umumnya memulai perjalanan dari Stasiun Kelima yang berada di ketinggian sekitar 2.300 meter. Dari titik tersebut menuju puncak masih diperlukan waktu sekitar 5–8 jam tergantung kondisi fisik dan jalur yang dipilih. Sepanjang jalur juga tersedia pondok gunung yang menyediakan tempat beristirahat, makanan sederhana, hingga area menginap sebelum melanjutkan perjalanan untuk melihat matahari terbit atau “goraiko” di puncak Gunung Fuji.

Jepang Perketat Aturan Demi Keselamatan

Pemerintah Jepang mulai memperketat aturan pendakian setelah jumlah wisatawan asing dan pendaki domestik meningkat tajam pascapandemi. Kepadatan pendaki menyebabkan antrean panjang di jalur menuju puncak, peningkatan sampah, serta bertambahnya kasus pendaki yang mengalami hipotermia dan kelelahan akibat persiapan yang kurang memadai.

Melalui sistem registrasi dan pembatasan jumlah pendaki, pemerintah berharap pendakian Gunung Fuji dapat berlangsung lebih aman, nyaman, dan ramah lingkungan bagi seluruh pengunjung.

Kafe Malam di Jepang Jadi Tempat Curhat dan Istirahat bagi Ibu

Di Jepang, mulai bermunculan “kafe menangis malam hari” yang menjadi tempat aman bagi ibu yang kelelahan mengurus bayi di malam hari.
image

Image by: magnific.com

Ini hadir untuk membantu para ibu yang sering merasa sendirian saat menghadapi anak yang terus menangis. Kafe tersebut menyediakan ruang istirahat yang nyaman bagi ibu dan anak.

Bebarapa tempat juga memiliki area menyusui, mengganti popok, hingga tempat bermain dan tidur untuk bayi. Selain tempat beristirahat, para ibu juga bisa berbicara dan berbagi cerita dengan staf maupun relawan.

image

Image by: media.istockphoto.com

Dukungan emosional ini dinilai penting untuk membantu mengurangi rasa stres dan tekanan mental selama mengasuh anak. Ide “kafe menangis malam hari” awalnya muncul dari sebuah manga Jepang yang menceritakan tempat perlindungan bagi ibu yang kewalahan mengurus anak.

Konsep tersebut kemudian diwujudkan menjadi inisiatif nyata di berbagai daerah di Jepang. Beberapa komunitas di Hokkaido, Tokushima, dan Niigata kini mulai menjalankan program serupa.

Banyak ibu mengaku merasa lebih tenang dan terbantu setelah datang ke tempat tersebut. Meski mendapat respons positif, keberlangsungan kafe ini masih menghadapi tantangan karena bergantung pada donasi dan relawan.

Karena itu, dukungan pemerintah dan masyarakat dinilai penting agar layanan ini dapat terus membantu para ibu yang membutuhkan.

Waspada Beruang di Hutan Hokkaido

image

Pihak berwenang di Hokkaido, wilayah paling utara Jepang, mengeluarkan peringatan kepada masyarakat yang memasuki hutan untuk mencari tanaman liar yang dapat dimakan. Mereka meminta warga meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman beruang cokelat serta risiko tersesat di daerah pegunungan yang dipenuhi vegetasi lebat.

Aktivitas mencari tanaman liar biasanya meningkat pada musim semi hingga awal musim panas. Sebagai bagian dari kampanye keselamatan, sekitar 20 petugas, termasuk anggota kepolisian, turun langsung ke Kota Kitahiroshima pada Minggu, 10 Mei 2026.

Mereka membagikan selebaran kepada para pengunjung yang melewati jalur pegunungan. Kegiatan ini dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai potensi bahaya saat memasuki kawasan hutan. Dalam selebaran tersebut dijelaskan bahwa area hutan di Hokkaido memiliki banyak rumpun bambu yang tumbuh rapat sehingga jarak pandang menjadi terbatas.

Kondisi tersebut membuat orang mudah kehilangan arah ketika berada jauh di dalam hutan. Karena itu, masyarakat diminta memberi tahu keluarga atau kerabat mengenai waktu keberangkatan dan perkiraan kepulangan mereka. Selain itu, warga juga dianjurkan mengenakan pakaian berwarna mencolok seperti merah agar lebih mudah terlihat apabila terjadi keadaan darurat.

Petugas turut menyarankan masyarakat membawa peluit sebagai alat untuk meminta pertolongan ketika tersesat. Langkah-langkah sederhana tersebut dinilai dapat membantu mempercepat proses pencarian jika terjadi kecelakaan. Tidak hanya membagikan selebaran, pihak berwenang juga menggunakan helikopter untuk memberikan pengumuman dari udara.

Dalam pengumuman itu, masyarakat diimbau membawa lonceng pengusir beruang, semprotan anti beruang, dan radio komunikasi saat memasuki daerah pegunungan. Perlengkapan tersebut dianggap penting untuk mengurangi risiko serangan satwa liar.

Menurut data kepolisian, terdapat sekitar 300 kasus orang tersesat di hutan Hokkaido dalam lima tahun terakhir hingga tahun lalu. Sekitar 70 persen kasus tersebut terjadi pada bulan Mei dan Juni, saat aktivitas mencari tanaman liar sedang ramai dilakukan. Polisi berharap masyarakat lebih memperhatikan keselamatan agar kecelakaan serupa dapat dicegah.

Jelajahi Budaya Jepang ala Shogun

image

Shogun Cultural Experiences (Image by: soranews24.com)

Sebuah program wisata budaya bertajuk “Shogun Cultural Experiences” akan digelar di Tokyo pada musim panas 2026. Program ini menawarkan pengalaman mendalami budaya tradisional Jepang melalui berbagai aktivitas, mulai dari tur jalan kaki di kawasan bersejarah, workshop pembuatan wagashi, upacara minum teh, hingga pertunjukan musik tradisional Jepang.

Konsep wisata ini dirancang agar peserta dapat mengenal budaya Jepang secara langsung melalui pengalaman yang melibatkan berbagai indera sehingga tidak hanya sekadar melihat, tetapi juga ikut merasakan suasana budaya Jepang klasik. Kegiatan akan berlangsung di distrik Kagurazaka, salah satu kawasan tua di Tokyo yang masih mempertahankan suasana era Edo.

Daerah ini dikenal dengan jalan berbatu sempit, gang tradisional, restoran khas Jepang, serta bangunan bersejarah yang masih terjaga hingga sekarang. Kagurazaka juga memiliki hubungan sejarah dengan Tokugawa Ieyasu dan perkembangan awal Keshogunan Edo sehingga kawasan tersebut sering dijadikan tujuan wisata budaya oleh wisatawan lokal maupun mancanegara.

image

Kagurazaka Cultural Walk (Image by: soranews24.com)

Suasana tenang dan nuansa tradisional yang masih kuat membuat kawasan ini berbeda dibandingkan area modern lain di Tokyo. Program dimulai sejak pukul 07.30 pagi dengan tur berjalan kaki sambil mempelajari sejarah Kagurazaka dan budaya tradisional Jepang dari pemandu wisata.

Peserta akan diajak menyusuri gang-gang kecil khas Jepang sambil mendengarkan penjelasan mengenai sejarah kawasan tersebut. Setelah itu, peserta akan mengikuti workshop membuat wagashi bersama Takeshi Inoue, generasi keempat pemilik toko manisan Baikatei yang dikenal pernah memasok wagashi untuk keluarga kekaisaran Jepang.

image

Tea Ceremony Experience (Image by: soranews24.com)

Peserta juga akan mencoba upacara minum teh matcha tradisional sambil mempelajari tata cara dan etika minum teh di Jepang. Sebagai penutup, peserta akan menikmati pertunjukan alat musik tradisional Jepang bernama kokyu yang dimainkan oleh Daisuke Kiba, musisi yang ikut berkontribusi dalam penggarapan musik serial “Shogun” tahun 2024.

Pengunjung juga diberi kesempatan mencoba memainkan alat musik tersebut secara langsung sehingga pengalaman budaya terasa lebih interaktif dan mendalam. Program ini hanya dibatasi untuk delapan peserta di setiap sesi dan dijadwalkan berlangsung pada 21 Juni serta 12 Juli 2026.

image

Kokyu Performance and Hands-on Session (Image by: soranews24.com)

Stok Beras Jepang Cetak Rekor

image

Ilustrasi Beras Jepang (Image by: cnnindonesia.com)

Stok beras di gudang penyimpanan Jepang dilaporkan mencapai tingkat tertinggi dalam sejarah setelah banyak konsumen dan restoran mulai mengurangi pembelian akibat harga yang terus melonjak.

Kenaikan harga beras dalam beberapa bulan terakhir membuat masyarakat mencari alternatif yang lebih murah, termasuk mengganti menu makanan atau memilih produk impor dengan harga lebih terjangkau. Kondisi tersebut menyebabkan permintaan beras domestik menurun tajam meski pasokan di pasar tetap tersedia.

Pemerintah Jepang sebelumnya telah melepas sebagian cadangan beras nasional untuk membantu menstabilkan harga dan menjaga distribusi pangan. Namun, langkah itu belum memberikan dampak besar terhadap peningkatan konsumsi.

Banyak pelaku usaha restoran juga memilih menekan penggunaan beras atau menyesuaikan porsi demi mengurangi biaya operasional yang semakin tinggi. Sejumlah supermarket di Jepang bahkan mulai membatasi promosi produk beras premium karena daya beli masyarakat melemah.

image

Ilustrasi Supermarket Jepang (Image by: livejapan.com)

Banyak pelaku usaha restoran juga memilih menekan penggunaan beras atau menyesuaikan porsi demi mengurangi biaya operasional yang semakin tinggi. Sejumlah supermarket di Jepang bahkan mulai membatasi promosi produk beras premium karena daya beli masyarakat melemah.

Sejumlah supermarket di Jepang bahkan mulai membatasi promosi produk beras premium karena daya beli masyarakat melemah. Akibat menurunnya permintaan, stok beras terus menumpuk di gudang penyimpanan di berbagai wilayah Jepang.

Akibat menurunnya permintaan, stok beras terus menumpuk di gudang penyimpanan di berbagai wilayah Jepang.

Situasi ini memicu kekhawatiran di kalangan petani, distributor, dan industri pangan karena penjualan melambat sementara biaya produksi tetap tinggi.

Selain kenaikan harga, melemahnya daya beli masyarakat dan perubahan pola konsumsi disebut menjadi faktor utama yang memperburuk kondisi pasar beras Jepang saat ini.Situasi ini memicu kekhawatiran di kalangan petani, distributor, dan industri pangan karena penjualan melambat sementara biaya produksi tetap tinggi.

image

Ilustrasi Beras Jepang (Image by: japanesestation.com)

Selain kenaikan harga, melemahnya daya beli masyarakat dan perubahan pola konsumsi disebut menjadi faktor utama yang memperburuk kondisi pasar beras Jepang saat ini. Selain kenaikan harga, melemahnya daya beli masyarakat dan perubahan pola konsumsi disebut menjadi faktor utama yang memperburuk kondisi pasar beras Jepang saat ini.

Para pengamat juga menilai kondisi ini dapat berdampak pada stabilitas sektor pertanian Jepang apabila penurunan konsumsi terus berlangsung dalam jangka panjang.

Program FamilyMart Kurangi Limbah

TOKYO – Jaringan minimarket FamilyMart mulai mengambil langkah baru dalam mengurangi limbah dengan menyediakan kotak pengumpulan pakaian dan barang rumah tangga bekas di sejumlah tokonya di Tokyo. Program ini juga diharapkan dapat menarik lebih banyak pelanggan yang peduli lingkungan.

Program uji coba ini dilakukan bersama Bookoff Group Holdings, perusahaan yang bergerak di bidang jual beli barang bekas. Sekitar 30 toko FamilyMart di area permukiman Tokyo telah dipasangi kotak khusus untuk menampung barang bekas yang masih layak pakai.

Barang-barang yang terkumpul nantinya akan dipilah. Sebagian akan dijual kembali, termasuk ke luar negeri seperti Malaysia. Sementara itu, pakaian yang sudah tidak layak pakai akan diolah ulang menjadi serat baru untuk digunakan kembali dalam industri tekstil.

Langkah ini merupakan proyek kolaborasi pertama sejak perusahaan induk FamilyMart, Itochu Corporation, menjalin kerja sama modal dengan Bookoff pada Februari lalu.

♻️ Melanjutkan Program Ramah Lingkungan
Sebelumnya, FamilyMart juga telah menjalankan program donasi makanan (food drive) di sekitar 4.900 dari total 16.400 tokonya di seluruh Jepang. Dalam program ini, masyarakat dapat menyumbangkan makanan berlebih untuk disalurkan kepada yang membutuhkan.

Ke depan, FamilyMart berencana memperluas program pengumpulan barang bekas ini ke seluruh Jepang. Targetnya, program ini dapat mengurangi limbah pakaian hingga sekitar 4.000 ton per tahun.

Berdasarkan data dari Kementerian Lingkungan Jepang, sekitar 560.000 ton pakaian dibuang setiap tahun, atau setara dengan 70% dari total pakaian baru yang beredar di pasar. Angka ini menunjukkan betapa besarnya masalah limbah tekstil di Jepang.

🌏 Upaya Serupa dari Perusahaan Lain
Beberapa perusahaan besar di Jepang juga telah lebih dulu menjalankan inisiatif serupa:

Fast Retailing (pemilik Uniqlo dan GU) mengumpulkan pakaian bekas untuk didaur ulang atau disumbangkan kepada pengungsi. Aeon Co. telah memasang sekitar 700 kotak pengumpulan pakaian di toko dan fasilitasnya.

💡 Fun Fact: Jepang & Budaya Daur Ulang
Jepang dikenal memiliki sistem pemilahan sampah yang sangat ketat, bahkan di beberapa daerah bisa mencapai 10 kategori berbeda. Konsep “mottainai” (もったいない) menjadi filosofi penting—artinya merasa sayang jika sesuatu terbuang sia-sia. Banyak kota di Jepang memiliki toko khusus barang bekas berkualitas tinggi, seperti Bookoff, yang sangat populer di kalangan masyarakat.

🚀 Langkah Lain Jepang dalam Mengurangi Limbah
Selain pengumpulan pakaian bekas, Jepang juga menerapkan berbagai strategi lain:

  • Daur ulang botol PET menjadi pakaian atau produk baru.
  • Program zero waste city, seperti di Kamikatsu yang menargetkan nol sampah.
  • Pengurangan plastik sekali pakai di toko ritel.
  • Teknologi insinerator canggih untuk mengolah sampah menjadi energi.

🔎 Kesimpulan
Langkah FamilyMart ini menunjukkan bahwa minimarket pun bisa berperan besar dalam isu lingkungan. Dengan menggandeng perusahaan daur ulang dan memanfaatkan jaringan toko yang luas, program ini berpotensi menjadi solusi nyata untuk mengurangi limbah tekstil di Jepang—sekaligus mengedukasi masyarakat agar lebih peduli terhadap keberlanjutan.
Kalau program ini sukses, bukan tidak mungkin model serupa juga bisa diterapkan di negara lain, termasuk Indonesia.


FamilyMart Kumpulkan Pakaian Bekas untuk Daur Ulang
FamilyMart Kumpulkan Pakaian Bekas untuk Daur Ulang

Yen Naik Cepat 10 Menit

image

Ilustrasi mata uang yen (Image by: vibiznews.com)

Pergerakan tajam yen memicu spekulasi bahwa pemerintah Jepang kembali melakukan intervensi di pasar valuta asing. Pada hari Senin, mata uang Jepang sempat melemah hingga menyentuh kisaran 155 per dolar AS.

Sekitar tengah hari waktu Jepang, yen diperdagangkan di kisaran 157. Namun, menjelang pukul 1 siang, terjadi lonjakan aksi beli yang cukup signifikan.

Lonjakan tersebut mendorong yen menguat hingga ke level 155 per dolar AS. Dalam waktu sekitar 10 menit, mata uang ini naik sekitar 1,5 yen, menunjukkan pergerakan yang sangat cepat.

Saat ini Jepang sedang berada dalam periode libur musim semi. Para pengamat menilai bahwa volume perdagangan yang lebih rendah selama liburan bisa menjadi salah satu faktor yang memperbesar fluktuasi pasar.

image

Ilustrasi lonjakan Yen (Image by: www.zoomex.com)

Meski demikian, sebagian pelaku pasar menduga adanya campur tangan pemerintah. Dugaan ini muncul karena sebelumnya telah terjadi intervensi oleh pemerintah dan bank sentral Jepang pada 30 April.

Seorang sumber pasar menyebut bahwa Mimura Atsushi, Wakil Menteri Keuangan untuk Urusan Internasional, sempat mengisyaratkan kemungkinan intervensi selama periode liburan.

Sumber tersebut menambahkan bahwa belum ada kepastian apakah pergerakan tajam ini benar disebabkan oleh intervensi. Namun, para investor tetap dalam kondisi waspada tinggi terhadap kemungkinan langkah lanjutan dari otoritas.

Sementara itu, Menteri Keuangan Katayama Satsuki yang sedang berada di Uzbekistan menolak memberikan komentar langsung. Ia hanya menegaskan bahwa posisi pemerintah tetap jelas, serta menyebut bahwa pergerakan spekulatif di pasar belakangan ini memang terlihat cukup mencolok.

Angin Kencang Landa Jepang Timur

Sistem tekanan rendah yang sedang berkembang menyebabkan angin kencang, terutama di Jepang bagian timur. Kondisi ini dipicu oleh sistem tekanan rendah yang disertai front dan bergerak ke arah timur melintasi Laut Jepang.

image

Ilustrasi badai di Jepang (Image by: darilaut.id)

Di wilayah Tohoku, terdapat risiko angin kencang hingga mencapai kekuatan badai mulai malam ini. Oleh karena itu, masyarakat diminta untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gangguan, terutama pada sektor transportasi.

Menurut Badan Meteorologi Jepang, angin kencang telah terpantau di berbagai wilayah Jepang bagian timur sejak pagi hari. Fenomena ini terjadi seiring dengan perkembangan sistem tekanan rendah yang semakin menguat.

image

Ilustrasi badai di Jepang (Image by: cdns.klimg.com)

Kecepatan angin sesaat maksimum yang tercatat dalam tiga jam hingga pukul 09.00 antara lain mencapai 28,5 meter per detik di Kota Chiba, 24,7 meter per detik di Bandara Haneda Tokyo, 24,5 meter per detik di Mercusuar Tomogashima di Kota Wakayama, serta 23,7 meter per detik di Distrik Edogawa, Tokyo.

Ke depan, sistem tekanan rendah diperkirakan akan terus berkembang saat bergerak menuju Hokkaido. Akibatnya, wilayah Tohoku berpotensi mengalami angin kencang dengan kecepatan sesaat maksimum hingga 30 meter per detik, baik di sisi Laut Jepang maupun Samudra Pasifik.

Selain itu, udara dingin yang menyerupai kondisi awal April diperkirakan akan mengalir ke Hokkaido. Hal ini berpotensi menyebabkan turunnya salju basah yang dapat menumpuk, terutama di sepanjang pantai Laut Okhotsk, sehingga masyarakat diimbau untuk memperhatikan dampaknya terhadap lalu lintas dan aktivitas sehari-hari.

LIBURAN GOLDEN WEEK MENURUN

image

Golden Week tahun ini tidak lagi semeriah biasanya bagi banyak orang Jepang (Image by : SoraNews24)

Musim liburan musim semi di Jepang yang biasanya penuh kesenangan terlihat sedikit berbeda akhir-akhir ini. Jepang memiliki tiga periode liburan utama, tetapi dua di antaranya disertai kewajiban sosial, yaitu Oshogatsu (Tahun Baru) dan Obon, di mana masyarakat biasanya pulang ke kampung halaman untuk bertemu keluarga besar. Di antara keduanya, Golden Week yang berlangsung dari akhir April hingga awal Mei menjadi periode liburan yang paling “bebas” dari kewajiban budaya tersebut.

Golden Week seharusnya menjadi waktu paling ideal untuk bersantai atau bepergian. Namun, survei menunjukkan bahwa tahun ini sekitar sepertiga responden tidak memiliki rencana khusus selama liburan tersebut. Bahkan dari mereka yang memiliki rencana, banyak yang memilih kegiatan sederhana seperti tinggal di rumah atau aktivitas ringan, bukan perjalanan atau hiburan besar.

Survei yang dilakukan oleh perusahaan riset Intage di Tokyo terhadap 5.000 responden berusia 15–79 tahun menunjukkan bahwa 41,2 persen tidak memiliki rencana apa pun. Sementara itu, 35,1 persen memilih untuk menghabiskan waktu di rumah. Aktivitas lain seperti makan di luar, berbelanja, dan olahraga juga dipilih dalam persentase yang lebih kecil, menunjukkan tren liburan yang lebih hemat dan sederhana.

image

35,1 persen memilih untuk menghabiskan waktu di rumah (Image by : SoraNews24)

Rata-rata anggaran Golden Week tahun ini hanya sekitar 27.660 yen (sekitar US$179), turun 5,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini terjadi di tengah meningkatnya biaya hidup di Jepang serta melemahnya nilai yen, yang membuat masyarakat lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang mereka, termasuk untuk liburan yang biasanya menjadi momen konsumsi tinggi.

Rendahnya minat perjalanan juga terlihat jelas, baik domestik maupun internasional. Perjalanan ke luar negeri menurun karena nilai yen yang lemah dan faktor keamanan global, sementara perjalanan dalam negeri ikut tertekan karena kenaikan harga hotel dan jasa wisata akibat tingginya permintaan dari turis asing. Kondisi ini membuat liburan domestik terasa kurang terjangkau bagi sebagian warga Jepang.

Akibat berbagai faktor tersebut, Golden Week tahun ini tidak lagi semeriah biasanya bagi banyak orang Jepang. Kombinasi tekanan ekonomi, kenaikan harga, dan perubahan industri pariwisata membuat masyarakat lebih memilih menghemat pengeluaran. Harapannya, kondisi ekonomi dapat membaik sehingga Golden Week di masa depan bisa kembali menjadi periode liburan yang benar-benar dinanti dan dinikmati.

Cuci Boneka Profesional Jepang

image

Masakazu Shimura, seorang profesional pencucian kering, menyikat boneka mainan di fasilitas Cleaning Yonmarusan di kota Fuefuki, Prefektur Yamanashi, pada tanggal 27 April (Image by : AFP)

Boneka Pikachu yang sudah usang, boneka beruang yang tampak lelah, hingga boneka binatang yang bernoda, semuanya ternyata bisa mendapatkan kehidupan baru melalui layanan laundry di Jepang yang secara khusus merawat mainan kesayangan agar kembali bersih dan layak dipeluk. Di tangan para profesional kebersihan, boneka-boneka ini tidak sekadar dicuci, tetapi diperlakukan dengan kehati-hatian tinggi seolah-olah mereka adalah barang berharga yang menyimpan nilai emosional. Proses perawatan ini membuat mainan yang tadinya kusam dan kotor bisa kembali terlihat segar, bersih, dan “hidup” seperti baru dibeli.

Masakazu Shimura, seorang profesional kebersihan dengan pengalaman sekitar tiga dekade, menjadi salah satu sosok penting dalam proses ini. Ia dengan teliti memandikan salah satu boneka Pokémon yang sudah dalam kondisi baik menggunakan uap panas, kemudian menyikatnya secara perlahan setelah dibersihkan dengan busa lembut. Gerakannya penuh kehati-hatian, hampir menyerupai seseorang yang sedang merawat bayi yang baru lahir, karena setiap bahan dan bagian boneka harus diperlakukan berbeda agar tidak rusak selama proses pembersihan berlangsung.

Video-video yang memperlihatkan proses perawatan detail terhadap boneka-boneka lucu di tempat kerjanya, Cleaning Yonmarusan, telah menarik perhatian luas di media sosial. Banyak penonton yang terpukau melihat bagaimana kain dan isian boneka ditangani dengan teknik khusus dan kesabaran tinggi. Hal ini kemudian membuat layanan laundry tersebut menjadi viral, sekaligus meningkatkan popularitasnya secara signifikan, hingga mampu menarik pelanggan tidak hanya dari Jepang, tetapi juga dari berbagai negara lain yang ingin merasakan layanan unik tersebut.

image

Ilustrasi Plushie yang beredar di jepang (Image by : Yume Twins)

Dengan mengandalkan keahlian bertahun-tahun dalam membersihkan berbagai jenis bahan, mulai dari kemeja hingga tenda kemah, Shimura mampu menyesuaikan teknik pencucian untuk kain-kain halus yang digunakan pada boneka. Ia menjelaskan bahwa saat mencuci tangan, ia akan meraba dan menilai jenis bahan terlebih dahulu, kemudian menentukan cara penanganan yang paling aman. Proses ini dilakukan sambil memijat perlahan bagian-bagian boneka agar kotoran terangkat tanpa merusak struktur atau bentuk aslinya.

Shimura merupakan salah satu dari sekitar selusin profesional kebersihan bersertifikat yang bekerja di Yonmarusan, sebuah jaringan layanan laundry regional yang berbasis di Prefektur Yamanashi. Meski perusahaan ini sebenarnya sudah lama menangani pembersihan mainan lunak selama beberapa dekade, perkembangan bisnisnya meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir berkat unggahan media sosial yang viral. Tren ini juga didorong oleh minat generasi muda terhadap boneka plush, serta budaya Jepang yang sangat menghargai hal-hal imut dan penuh karakter.

Saat ini, layanan tersebut mampu membersihkan lebih dari 10.000 mainan lunak setiap tahunnya, meningkat drastis dibandingkan sekitar 1.200 boneka per tahun satu dekade sebelumnya. Bahkan, ada pelanggan yang datang langsung ke Jepang khusus untuk membersihkan boneka mereka, sambil menjadikan perjalanan tersebut sebagai bagian dari wisata. Menurut Hisako Mori, manajer hubungan masyarakat perusahaan, banyak pelanggan yang menikmati perjalanan keliling Jepang selama proses pembersihan berlangsung, lalu mengambil kembali boneka mereka sebelum pulang ke negara asal.

Shimura juga menekankan bahwa setiap boneka sering kali memiliki nilai emosional yang sangat dalam bagi pemiliknya, sehingga beberapa klien bahkan meminta agar goresan atau tanda tertentu pada boneka tetap dipertahankan. Menurutnya, tanda-tanda tersebut sering menjadi bagian dari kenangan berharga yang tidak ingin dihapus. Ia menambahkan bahwa boneka dianggap seperti anggota keluarga oleh banyak pelanggan, sehingga proses pembersihannya harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab dan ketelitian. Baginya, kepuasan pelanggan saat melihat boneka mereka kembali bersih adalah pencapaian terbesar dari pekerjaannya.