Blog

Trainee Indonesia Tewas di Hiroshima

Trainee Indonesia Meninggal Terjepit Mixer di Hiroshima

image

(Image by: katori.locaspo.com)

 

Seorang trainee asal Indonesia meninggal dunia setelah mengalami kecelakaan kerja di sebuah pabrik di Kota Otake, Prefektur Hiroshima, Jepang, pada Rabu malam, 2 September 2026. Korban diketahui bernama Indra Kurniawan, 21 tahun, dan berstatus sebagai 技能実習生 atau trainee teknis. Kecelakaan tersebut terjadi di fasilitas Toda Kogyo Corp. di wilayah Meiji Shinkai, Kota Otake.

Menurut kepolisian dan pemadam kebakaran setempat, laporan mengenai kecelakaan diterima sekitar pukul 22.15 waktu setempat. Laporan tersebut menyebut seorang pria mengalami pendarahan setelah lehernya terjepit di dalam mixer di area pabrik. Polisi dan petugas pemadam yang tiba di lokasi kemudian menemukan Kurniawan terjepit di dalam mixer yang digunakan untuk produksi cat. Kematian korban dikonfirmasi di lokasi.

Saat kejadian, trainee tersebut sedang melakukan pekerjaan yang berkaitan dengan produksi cat dan bekerja seorang diri. Menurut laporan Kyodo, mixer yang digunakan dalam pekerjaan tersebut memiliki diameter sekitar 1,5 meter dan kedalaman sekitar 1,5 meter. Tidak ada saksi yang secara langsung melihat ketika kecelakaan terjadi.

Berdasarkan penyelidikan awal, trainee Indonesia tersebut diperkirakan sedang melakukan pekerjaan untuk menghilangkan sumbatan di dalam mixer ketika kemudian terjebak oleh mesin. Namun, kepolisian masih menyelidiki bagaimana kecelakaan tersebut sebenarnya terjadi. Karena itu, dugaan mengenai aktivitas korban saat kecelakaan belum dapat disebut sebagai kronologi yang sudah dipastikan.

Polisi kini memeriksa rekaman kamera pengawas di sekitar lokasi untuk mengetahui kondisi sebelum kecelakaan dan bagaimana insiden tersebut berlangsung. Pemeriksaan dilakukan karena tidak terdapat saksi mata yang melihat langsung kejadian tersebut. Polisi juga masih mengumpulkan informasi lain yang dapat membantu mengungkap kronologi kecelakaan.

Hingga laporan ini diterbitkan, penyebab pasti kecelakaan yang menewaskan trainee Indonesia di Hiroshima tersebut masih dalam penyelidikan. Kepolisian belum menyampaikan kesimpulan mengenai faktor yang menyebabkan Kurniawan terjepit di dalam mixer. Penyelidikan terhadap kejadian di pabrik Toda Kogyo tersebut masih terus dilakukan.

Source: Kyodo News, RCC/TBS News Dig, Hiroshima Home TV

</p style="text-align:>

Jepang Longgarkan Pengawasan Lembur, Picu Kekhawatiran Kembalinya Budaya Kerja Berlebihan

TOKYO — Jepang mulai melonggarkan pengawasan terhadap jam kerja lembur sejak 1 September 2026. Kebijakan ini diambil pemerintah untuk memberikan ruang yang lebih fleksibel bagi perusahaan dalam menghadapi kekurangan tenaga kerja sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun, keputusan tersebut menuai kritik karena dianggap berisiko menghidupkan kembali budaya kerja berlebihan yang selama bertahun-tahun berusaha dikurangi Jepang.

Perubahan kebijakan ini dilakukan oleh pemerintahan Perdana Menteri Sanae Takaichi, yang sebelumnya memasukkan revisi pengawasan jam kerja dalam strategi pertumbuhan ekonomi yang disusun pada Juli 2026. Pemerintah beralasan bahwa sejumlah sektor usaha membutuhkan fleksibilitas lebih besar karena semakin sulit mendapatkan tenaga kerja. Kondisi tersebut terutama dirasakan oleh industri yang sangat bergantung pada tenaga manusia, seperti konstruksi, transportasi, serta sektor akomodasi dan restoran.

Batas 45 Jam Tidak Lagi Menjadi Fokus Pengawasan

Perubahan yang mulai berlaku pada 1 September bukan berarti Jepang menghapus batas lembur 45 jam per bulan. Sebelumnya, perusahaan yang memiliki perjanjian kerja khusus dengan pekerja dapat menggunakan ketentuan lembur dalam kondisi tertentu, tetapi kantor inspeksi ketenagakerjaan tetap mendorong perusahaan untuk menjaga lembur di bawah 45 jam per bulan.

Kini, pendekatan tersebut diubah. Kantor inspeksi ketenagakerjaan tidak lagi memberikan instruksi secara seragam kepada perusahaan untuk menekan lembur hingga maksimal 45 jam hanya berdasarkan jumlah jam lemburnya. Sebaliknya, pengawasan akan lebih berfokus pada apakah perusahaan menjalankan langkah-langkah untuk melindungi kesehatan dan kesejahteraan pekerja.

 

Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja dan Kesejahteraan Jepang (MHLW) menegaskan bahwa batas hukum lembur itu sendiri tidak berubah. Perusahaan tetap wajib mematuhi ketentuan dalam perjanjian kerja dan aturan ketenagakerjaan yang berlaku. Jika ditemukan risiko tinggi terhadap kesehatan pekerja akibat kerja berlebihan, pemerintah tetap dapat memberikan instruksi untuk mengurangi jam kerja.

Lalu, Sebenarnya Berapa Batas Lembur di Jepang?

Aturan ini penting dipahami karena perubahan terbaru sering disalahartikan sebagai penghapusan batas lembur. Sejak reformasi ketenagakerjaan diberlakukan, lembur pada prinsipnya dibatasi 45 jam per bulan dan 360 jam per tahun.

Dalam kondisi khusus yang disepakati melalui perjanjian kerja tertentu, terdapat batas tambahan, antara lain lembur maksimal 100 jam dalam satu bulan dengan ketentuan tertentu, maksimal 720 jam dalam setahun, serta rata-rata lembur dan kerja pada hari libur tidak boleh melebihi 80 jam per bulan dalam periode beberapa bulan. Lembur di atas 45 jam juga pada prinsipnya hanya diperbolehkan dalam maksimal enam bulan dalam setahun.

Dengan demikian, kebijakan September 2026 lebih tepat disebut sebagai perubahan cara pengawasan, bukan penghapusan batas hukum lembur.

 

Perusahaan yang tidak memiliki perjanjian khusus dengan pekerja tetap harus mematuhi ketentuan yang berlaku. Begitu pula, jam kerja normal berdasarkan aturan ketenagakerjaan Jepang tetap berada pada prinsip 8 jam per hari dan 40 jam per minggu.

Kekurangan Tenaga Kerja Menjadi Alasan Utama

Salah satu alasan utama perubahan pendekatan tersebut adalah tekanan yang semakin besar akibat kekurangan tenaga kerja. Survei Japan Chamber of Commerce and Industry (JCCI) yang dilakukan terhadap 1.724 perusahaan kecil dan menengah pada April–Mei 2026 menunjukkan bahwa sebagian besar perusahaan sebenarnya masih mampu beroperasi dalam batas regulasi lembur.

Sebanyak 81 persen perusahaan mengatakan rata-rata lembur per pekerja tetap berada di bawah 20 jam per bulan. Namun, sekitar 19,1 persen perusahaan mengaku pembatasan lembur telah memberikan kendala terhadap kegiatan bisnis mereka. Dampaknya jauh lebih besar pada sektor tertentu, yaitu sekitar 35,7 persen pada industri transportasi, 28,7 persen pada konstruksi, dan 24,5 persen pada sektor akomodasi dan restoran.

Bagi perusahaan yang terdampak, masalahnya bukan hanya jumlah pekerja yang kurang. Banyak pekerjaan tertentu membutuhkan tenaga dengan keahlian khusus sehingga sulit digantikan ketika seseorang mencapai batas jam kerja.

JCCI juga menemukan bahwa 72,6 persen perusahaan menginginkan sistem jam kerja yang lebih fleksibel agar dapat menghadapi periode sibuk maupun pekerjaan tidak terduga.

Kekhawatiran Kembali ke Budaya "Corporate Warrior"

Meski memiliki alasan ekonomi, kebijakan ini mendapatkan kritik dari kelompok pekerja.Jepang memiliki sejarah panjang mengenai budaya kerja ekstrem, yang sering dikaitkan dengan istilah karoshi, yaitu kematian akibat bekerja berlebihan.

Dalam beberapa dekade terakhir, pemerintah Jepang justru berusaha mengubah budaya tersebut. Reformasi besar mengenai batas lembur mulai diterapkan pada 2019 untuk perusahaan besar dan 2020 untuk perusahaan kecil dan menengah. Tujuannya adalah mengurangi jam kerja berlebihan dan meningkatkan keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan.

Karena itu, keputusan terbaru menimbulkan kekhawatiran bahwa Jepang sedang bergerak mundur dari agenda reformasi tersebut. Konfederasi Serikat Buruh Nasional Jepang, atau Zenroren, menilai perubahan tersebut sebagai langkah yang tidak dapat diterima karena dianggap menjauh dari kebijakan yang sebelumnya mendorong perusahaan mengurangi jam kerja. Kritik tersebut juga muncul karena kebijakan ini diterapkan di bawah pemerintahan Sanae Takaichi, yang dikenal secara terbuka menggambarkan dirinya sebagai sosok yang sangat berdedikasi pada pekerjaan.

Warisan Kasus Dentsu dan Perubahan Budaya Kerja Jepang

Perdebatan mengenai jam kerja di Jepang tidak bisa dilepaskan dari kasus Matsuri Takahashi, seorang karyawan berusia 24 tahun di perusahaan periklanan Dentsu yang meninggal akibat bunuh diri pada 2015 setelah mengalami tekanan dan jam kerja yang sangat panjang. Kasus tersebut menjadi salah satu simbol penting dalam perdebatan nasional mengenai budaya kerja berlebihan dan turut memperkuat dorongan pemerintah untuk melakukan reformasi ketenagakerjaan.

 

Sejak saat itu, pemerintah Jepang semakin serius mendorong perusahaan untuk mengurangi jam kerja, meningkatkan waktu istirahat, dan menciptakan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Jepang bahkan memiliki kebijakan khusus untuk mencegah masalah kesehatan yang berkaitan dengan kerja berlebihan.

Karena latar belakang tersebut, perubahan kebijakan pada September 2026 menjadi sangat sensitif. Bagi dunia usaha, fleksibilitas dapat membantu perusahaan bertahan di tengah kekurangan tenaga kerja. Namun bagi kelompok pekerja, fleksibilitas tanpa perlindungan yang kuat dapat berubah menjadi tekanan untuk bekerja lebih lama.

Pemerintah Jepang Tegaskan Kesehatan Pekerja Tetap Prioritas

Kementerian Tenaga Kerja Jepang berusaha menepis anggapan bahwa perubahan ini merupakan izin bagi perusahaan untuk memaksa pekerja bekerja tanpa batas. Mulai sekarang, pengawasan tidak hanya melihat angka lembur, tetapi juga kondisi aktual di tempat kerja dan langkah-langkah perusahaan dalam melindungi kesehatan pekerja.

 

Pemerintah juga memperkuat layanan konsultasi bagi perusahaan mengenai 36 Agreement (36協定), yaitu perjanjian antara pekerja dan perusahaan yang menjadi dasar hukum untuk melakukan lembur dan kerja pada hari libur. Jika suatu tempat kerja menunjukkan risiko tinggi terhadap gangguan kesehatan akibat kerja berlebihan, kantor inspeksi ketenagakerjaan tetap dapat meminta perusahaan melakukan perbaikan.

Dengan kata lain, pemerintah Jepang mencoba mencari titik tengah: memberikan fleksibilitas kepada perusahaan tanpa menghapus perlindungan terhadap pekerja.

Antara Pertumbuhan Ekonomi dan Risiko Karoshi

Perubahan kebijakan ini pada akhirnya memperlihatkan dilema besar yang sedang dihadapi Jepang. Di satu sisi, negara tersebut membutuhkan lebih banyak tenaga kerja dan fleksibilitas agar perusahaan tetap dapat menjalankan bisnis. Kekurangan pekerja terutama menjadi masalah serius bagi sektor transportasi, konstruksi, serta industri akomodasi dan restoran.

 

Di sisi lain, Jepang telah menghabiskan bertahun-tahun untuk mengurangi budaya kerja berlebihan yang pernah menjadi ciri khas dunia korporasi mereka. Karena itu, keberhasilan kebijakan baru ini tidak hanya akan diukur dari seberapa besar perusahaan dapat meningkatkan aktivitas bisnis, tetapi juga dari apakah peningkatan produktivitas tersebut dapat dicapai tanpa mengorbankan kesehatan pekerja.

 

Untuk saat ini, pemerintah Jepang menegaskan bahwa aturan batas lembur secara hukum tetap berlaku. Yang berubah adalah cara pemerintah mengawasi dan memberikan arahan kepada perusahaanNamun, jika fleksibilitas tersebut pada akhirnya membuat pekerja kembali terbiasa bekerja dalam waktu yang panjang, Jepang akan menghadapi pertanyaan yang jauh lebih sulit: apakah pelonggaran ini merupakan solusi terhadap kekurangan tenaga kerja, atau justru langkah mundur dari reformasi budaya kerja yang telah dibangun selama bertahun-tahun?

 

JR Jepang Hadirkan Tiket Unlimited

JR Jepang Rilis Autumn Unlimited Pass

image

(Image by: Pakutaso)

 

JR Jepang kembali menghadirkan Autumn Unlimited Pass untuk perjalanan musim gugur 2026. Tiket kereta Jepang ini memungkinkan penumpang menggunakan sejumlah layanan JR secara bebas selama tiga hari berturut-turut. Program ini dirilis oleh JR Group dalam rangka menyambut Hari Kereta Api atau Railway Day yang diperingati setiap 14 Oktober.

Untuk tahun 2026, JR Jepang menetapkan periode penggunaan Autumn Unlimited Pass mulai 3 Oktober hingga 18 Oktober 2026. Tiket berlaku selama tiga hari berturut-turut sejak tanggal mulai penggunaan yang ditentukan saat pembelian. Sementara itu, periode penjualan tiket berlangsung mulai 18 September hingga 16 Oktober 2026.

Melalui tiket ini, pengguna dapat naik dan turun dari kereta JR biasa dan rapid dengan kursi bebas di seluruh jalur JR di Jepang selama masa berlaku. Selain kereta, Autumn Unlimited Pass dari JR Jepang juga mencakup layanan BRT serta JR West Miyajima Ferry. Untuk menggunakan JR West Miyajima Ferry, penumpang tetap perlu membayar pajak kunjungan Miyajima sebesar 100 yen secara terpisah.

Harga Autumn Unlimited Pass 2026 ditetapkan sebesar 7.850 yen untuk dewasa dan 3.920 yen untuk anak-anak. Harga tersebut sama dengan tahun sebelumnya. Menurut ketentuan JR Jepang, satu tiket hanya dapat digunakan oleh satu orang dan masa berlaku selama tiga hari harus digunakan secara berurutan.

image

(Image by: Pakutaso)

Meski memiliki cakupan yang luas, tiket kereta Jepang ini tidak berlaku untuk seluruh jenis kereta. Pada dasarnya, kereta limited express dan Shinkansen tidak termasuk dalam penggunaan reguler Autumn Unlimited Pass. Namun, terdapat sejumlah pengecualian pada rute tertentu serta ketentuan khusus untuk jalur non-JR yang digunakan sebagai jalur transit.

Selain tiket reguler, JR Jepang juga menyediakan Autumn Unlimited Pass Hokkaido Shinkansen Option Ticket bagi pengguna yang ingin melanjutkan perjalanan menuju Hokkaido. Tiket tambahan ini dapat digunakan bersama Autumn Unlimited Pass untuk perjalanan satu kali dalam satu arah pada rute Hokkaido Shinkansen antara Shin-Aomori dan Kikonai, serta jalur Donan Isaribi Railway antara Kikonai dan Goryokaku.

Harga tiket tambahan tersebut adalah 4.650 yen untuk dewasa dan 2.320 yen untuk anak-anak. Periode penjualannya berlangsung dari 18 September hingga 18 Oktober 2026, sedangkan periode penggunaannya sama dengan Autumn Unlimited Pass, yaitu 3 Oktober hingga 18 Oktober 2026. Tiket tambahan ini hanya dapat digunakan bersama Autumn Unlimited Pass.

Autumn Unlimited Pass 2026 dapat dibeli di stasiun-stasiun utama JR Jepang di seluruh Jepang, termasuk melalui mesin penjual tiket reservasi, pusat perjalanan JR, serta sejumlah agen perjalanan. Dengan periode penggunaan yang berlangsung pada Oktober 2026, tiket ini kembali menjadi salah satu pilihan perjalanan yang disiapkan JR untuk musim gugur.  

 

Jepang Hadirkan “Human Fridge”

image

(Image by: Polymarket)

Jepang menghadirkan solusi unik untuk membantu pekerja menghadapi cuaca panas ekstrem yang melanda sejumlah wilayah. Sebuah perangkat pendingin berukuran seperti bilik telepon, yang dikenal sebagai “human fridge”, mulai digunakan di berbagai lokasi kerja di Jepang, seperti gudang, pabrik, dan proyek konstruksi. Perangkat tersebut dirancang untuk membantu mendinginkan tubuh pekerja setelah beraktivitas di tengah suhu tinggi.

Cara kerja “human fridge” ini cukup sederhana. Pengguna masuk ke dalam ruang pendingin dan mendapatkan paparan udara dingin untuk membantu menurunkan rasa panas setelah melakukan aktivitas fisik. Do Hiemon Box dilengkapi roda sehingga dapat dipindahkan sesuai kebutuhan. Di Jepang, perangkat ini juga dirancang dengan sistem penghentian otomatis setelah sekitar 20 menit untuk membatasi durasi penggunaan.

Perangkat bernama Do Hiemon Box ini dipasarkan oleh perusahaan distributor peralatan industri asal Tokyo, Trusco Nakayama. Di Jepang, perangkat tersebut mulai dijual pada April 2026 dan telah terjual lebih dari 300 unit. Harganya mencapai sekitar 1,5 juta yen atau sekitar US$9.400 per unit. Selain digunakan di lokasi konstruksi, perangkat ini juga telah dipasang di sejumlah pabrik dan gudang di Jepang.

Salah satu perusahaan yang menggunakan perangkat tersebut adalah Konoe, perusahaan grosir yang menangani sekrup serta peralatan survei di Higashiosaka, Prefektur Osaka. Isao Tabuchi, salah seorang pekerja di perusahaan tersebut, mengatakan dirinya sempat merasa pusing dan tidak enak badan setelah bersepeda menuju tempat kerja dalam kondisi panas. Setelah menggunakan ruang pendingin tersebut, kondisinya kembali membaik.

image

(Image by: © 2026 AFP)

Pekerja lainnya, Taichi Konishi yang berusia 24 tahun, mengatakan dirinya menggunakan perangkat tersebut sekitar tiga kali dalam sehari. Setelah memindahkan kotak-kotak berisi peralatan dan komponen logam, ia menggunakan bilik pendingin sebagai tempat beristirahat. Menurutnya, berada di dalam perangkat tersebut selama sekitar dua menit sudah cukup untuk membuat keringatnya mengering.

Penggunaan perangkat pendingin seperti ini di Jepang meningkat seiring dengan kondisi cuaca yang semakin panas. Tahun 2025 tercatat sebagai musim panas terpanas dalam sejarah pengamatan Jepang. Pada 2026, badan cuaca Jepang juga mulai menggunakan istilah “kokushobi”, yang berarti “hari yang sangat panas”, untuk kondisi ketika suhu mencapai 40 derajat Celsius. Pemerintah Jepang mengimbau masyarakat agar menghadapi kondisi panas ekstrem tersebut dengan kewaspadaan tinggi.

Dampak cuaca panas juga terlihat dari meningkatnya kasus kesehatan di Jepang. Di Tokyo, hampir 120 orang tercatat meninggal akibat panas dalam periode satu bulan hingga pertengahan Agustus 2026. Sementara itu, hampir 63.000 orang di seluruh Jepang membutuhkan penanganan darurat akibat panas pada musim panas tahun ini. Survei Teikoku Databank pada Juli juga menunjukkan sekitar 50 persen perusahaan mengaku aktivitas operasional mereka terganggu oleh panas ekstrem, sedangkan hampir 88 persen telah meningkatkan langkah perlindungan bagi pekerja.

Di tengah kondisi tersebut, perusahaan di Jepang juga menghadapi aturan yang lebih ketat terkait perlindungan pekerja dari panas. Sejumlah lokasi kerja, termasuk proyek konstruksi, perlu menyediakan perlengkapan dan tempat istirahat yang dapat membantu pekerja berlindung dari suhu tinggi. Kehadiran Do Hiemon Box menjadi salah satu pilihan tambahan bagi perusahaan di Jepang yang membutuhkan fasilitas pendinginan bagi pekerja setelah melakukan aktivitas fisik dalam cuaca panas.  

© 2026 AFP

Jepang Naikkan Biaya Izin Tinggal

pexels-213167965-32886338 (1)

(Image by: Pexels)

Pemerintah Jepang resmi menetapkan aturan baru yang menaikkan biaya pengurusan izin tinggal bagi warga negara asing. Perubahan ini disahkan melalui peraturan pemerintah pada Selasa dan akan mulai berlaku pada 1 Oktober 2026. Kenaikan tersebut mencakup biaya perpanjangan maupun perubahan status izin tinggal di Jepang.

Berdasarkan aturan baru, biaya pengurusan di loket kantor imigrasi akan disesuaikan berdasarkan lama masa tinggal yang diberikan. Untuk perpanjangan izin tinggal hingga tiga bulan, biayanya menjadi ¥10.000, sedangkan izin tinggal selama satu tahun dikenakan ¥33.000.

559243

(Image by: Pexels)

Sementara itu, perpanjangan izin tinggal untuk masa berlaku tiga tahun hingga kurang dari lima tahun akan dikenakan biaya ¥64.000. Untuk izin tinggal dengan masa berlaku lima tahun atau lebih, biaya yang harus dibayarkan mencapai ¥75.000. Sebelumnya, biaya pengurusan tersebut hanya ditetapkan sebesar ¥6.000 secara seragam.

Kenaikan biaya juga berlaku bagi warga negara asing yang mengajukan status permanent residency (PR) atau izin tinggal permanen di Jepang. Biaya pengajuan PR akan meningkat menjadi ¥200.000, jauh lebih tinggi dibandingkan biaya sebelumnya yang sebesar ¥10.000.

Perubahan biaya ini merupakan bagian dari revisi Immigration Control and Refugee Recognition Act yang telah disahkan pada Mei 2026. Undang-undang tersebut menetapkan batas maksimum biaya hingga ¥100.000 untuk prosedur izin tinggal sementara dan ¥300.000 untuk pengajuan permanent residency, sementara nominal akhirnya ditentukan melalui peraturan pemerintah terkait.

pexels-iban-lopez-luna-2159602676-37126970 (1)

(Image by: Pexels)

Di sisi lain, pemerintah Jepang juga memperluas cakupan warga negara asing yang dapat memperoleh pengurangan biaya berdasarkan kondisi kemanusiaan. Dalam pedoman awal, pengurangan biaya hanya diberikan kepada mereka yang mengalami kesulitan keuangan setara dengan penerima bantuan sosial dan membutuhkan pertimbangan kemanusiaan.

Setelah mempertimbangkan masukan dari masyarakat, cakupan tersebut diperluas. Pengurangan biaya kini juga dapat dipertimbangkan bagi warga negara asing yang secara mandiri mengasuh anak kandung warga negara Jepang atau special permanent resident, serta orang asing yang penolakan status tinggalnya dinilai dapat menimbulkan kondisi yang tidak manusiawi.

Dengan diberlakukannya aturan baru mulai Oktober, biaya pengurusan izin tinggal dan pengajuan permanent residency di Jepang akan mengalami perubahan signifikan dibandingkan tarif sebelumnya. Pemerintah menetapkan besaran biaya tersebut melalui peraturan yang menjadi dasar pelaksanaan revisi sistem biaya imigrasi.

 

FamilyMart Izinkan Staf Pakai Hijab

FamilyMart Izinkan Hijab dan Rambut Bebas Mulai 1 September

image

FamilyMart akan memperkuat upaya perekrutan melalui desain ulang seragam dan kampanye.
(Image by: Siaran pers FamilyMart)

 

TOKYO — FamilyMart akan menerapkan seragam baru dan standar penampilan baru bernama “Famima Code” mulai 1 September 2026. Kebijakan tersebut berlaku di sekitar 16.500 toko FamilyMart di Jepang dan menjadi bagian dari upaya perusahaan menciptakan lingkungan kerja yang lebih fleksibel sekaligus memperkuat perekrutan staf. Perubahan ini dilakukan bertepatan dengan peringatan 45 tahun FamilyMart.

Seragam baru FamilyMart menjadi perubahan pertama dalam sekitar 10 tahun. Jika sebelumnya menggunakan model jaket, seragam kini dibuat dalam bentuk T-shirt yang mengacu pada produk “Outer T-Shirt” dari lini Convenience Wear, yang telah terjual lebih dari 7 juta lembar. Desainnya dibuat oleh Hiromasa Ochiai, Creative Director Convenience Wear. Seragam tersedia dalam model lengan pendek dan panjang, dengan ukuran XS hingga 11L untuk memenuhi kebutuhan berbagai bentuk tubuh.

image

Foto design seragam baru pegawai FamilyMart(Image by: Siaran pers FamilyMart)

Dari sisi desain, seragam baru menggunakan warna biru kehijauan gelap yang disesuaikan dengan warna korporat FamilyMart. Bagian dada dan punggung dilengkapi logo “FamilyMart Staff”. Bahan yang digunakan adalah katun 100 persen dengan perhatian pada kenyamanan saat dipakai dalam waktu lama. Model T-shirt juga dirancang agar lebih mudah bergerak dan memungkinkan staf mengenakan pakaian tambahan di bagian dalam sesuai aturan baru.

Bersamaan dengan seragam tersebut, FamilyMart akan menerapkan standar penampilan “Famima Code”. Aturan ini tetap menempatkan kebersihan, pengelolaan higienitas, keselamatan, dan pelayanan yang baik sebagai dasar, tetapi memberikan ruang lebih besar bagi staf untuk menampilkan gaya masing-masing. Pembatasan warna rambut akan dihapus, sementara cara mengenakan seragam juga dibuat lebih bebas, termasuk penggunaan pakaian berlapis. Pakaian seperti hijab yang dikenakan karena alasan agama juga diperbolehkan.

FamilyMart juga memperkenalkan “working name”, yaitu penggunaan nama pilihan dalam huruf hiragana atau katakana pada lingkungan kerja. Selain itu, “information badge” akan diperkenalkan secara nasional bagi staf yang ingin memberi tahu pelanggan mengenai karakteristik tertentu, seperti kesulitan mendengar atau melihat. Badge tersebut dipasang di bawah name plate dan ditujukan untuk membantu komunikasi antara staf dan pelanggan.

l_sy_fami_03

Foto design seragam baru pegawai FamilyMart(Image by: Siaran pers FamilyMart)

Untuk mendukung perekrutan, FamilyMart akan memperbarui situs lowongan kerja paruh waktu dan pekerja sementara “FamJOB” mulai 1 September. Situs tersebut akan memuat informasi mengenai gaya penggunaan seragam baru serta wawancara dengan staf yang menceritakan pengalaman kerja mereka. FamilyMart juga mulai menyediakan pilihan wawancara melalui rekaman video dan Web, sehingga calon pekerja tidak harus selalu datang langsung ke toko untuk mengikuti proses wawancara.

FamilyMart juga menyiapkan program insentif “Famima de Hataraku? Welcome Point Campaign” mulai 12 September. Pelamar yang mendaftar melalui FamJOB akan menerima survei setelah mengajukan lamaran, dan responden akan mendapatkan kode hadiah Famipay senilai 200 yen. Peserta yang mengikuti wawancara juga berkesempatan mendapatkan kode hadiah Famipay senilai 500 yen melalui undian. Di sisi pelatihan, materi pembelajaran berbasis video untuk staf akan diperluas dari 20 menjadi 70 materi agar dapat dipelajari berulang kali sesuai kecepatan masing-masing.

Langkah tersebut dilakukan di tengah persoalan kekurangan tenaga kerja di sektor ritel dan layanan. FamilyMart menyebut sekitar 30 persen toko waralabanya menghadapi masalah kekurangan tenaga kerja. Perusahaan juga mencatat sekitar 40 persen pekerja yang keluar meninggalkan pekerjaan dalam waktu enam bulan, dengan 57 persen dari kelompok tersebut berhenti dalam dua bulan pertama. Melalui perubahan seragam, aturan penampilan, sistem perekrutan, dan pelatihan, FamilyMart menargetkan jumlah lamaran kerja pada tahun fiskal 2026 mencapai 150 persen dibandingkan tahun fiskal 2025.

 

Bandara Haneda Perluas Terminal 1

Haneda Tambah Enam Gate

 

Bandara Haneda di Tokyo memperkenalkan Terminal Satelit Utara (North Satellite Facility) pada Selasa, menjelang mulai beroperasi pada September 2026. Terminal tambahan dengan enam boarding gate ini dibangun untuk mendukung meningkatnya kebutuhan perjalanan udara sekaligus menambah fasilitas bagi penumpang di bandara.

image

Foto terminal baru di bandara Haneda Tokyo (Image by: Kyodo)

Terminal Satelit Utara menjadi ekspansi berskala besar pertama di Terminal 1 sejak terminal tersebut mulai beroperasi pada September 1993. Menurut Japan Airport Terminal Co., selaku operator Bandara Haneda, bangunan ini menggunakan struktur gabungan baja dan sekitar 1.800 meter kubik kayu. Penggunaan material tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya mengurangi dampak lingkungan dari pembangunan.

Terminal baru ini juga dilengkapi sejumlah fasilitas untuk meningkatkan kenyamanan penumpang. Di dalamnya tersedia lounge dan area khusus anak-anak, sehingga penumpang memiliki ruang tambahan untuk beristirahat atau menunggu sebelum penerbangan.

Untuk membantu penumpang berpindah dari satu area ke area lainnya, Terminal Satelit Utara juga menyediakan kendaraan tanpa pengemudi. Salah satunya adalah “iino”, kendaraan yang dapat membawa hingga empat orang dan dapat digunakan secara gratis oleh penumpang.

image

Foto terminal 1 Bandara Haneda yang diambil melalui helikopter Kyodo (Image by: Kyodo)

Pengembangan Bandara Haneda berlangsung di tengah meningkatnya jumlah pengguna. Pemerintah Jepang menargetkan jumlah wisatawan asing mencapai 60 juta orang pada 2030. Sementara itu, jumlah pengguna Bandara Haneda telah melampaui 90 juta orang pada tahun lalu, untuk pertama kalinya. Jumlah penerbangan yang melakukan lepas landas dan pendaratan juga mencapai sekitar 490.000 penerbangan, yang merupakan batas atas kapasitas penerbangan fasilitas tersebut.

Kepadatan di Bandara Haneda juga telah berdampak pada proses pengangkutan bagasi. Perluasan terminal yang dilakukan sebelumnya membuat waktu yang dibutuhkan untuk memindahkan bagasi menjadi lebih panjang, dan kondisi tersebut turut berkontribusi terhadap keterlambatan penerbangan.

image

Foto yang diambil pada 25 Agustus 2026, menunjukkan kendaraan tanpa pengemudi yang dapat mengangkut hingga 4 orang (Image by: Kyodo)

Untuk mengurangi keterlambatan, maskapai penerbangan Jepang mengumumkan perubahan batas waktu pemeriksaan bagasi untuk penerbangan domestik mulai September. Penumpang akan diwajibkan menyerahkan bagasi setidaknya 30 menit sebelum keberangkatan, lebih awal dibandingkan aturan sebelumnya yang menetapkan batas waktu 20 menit.

Kumiko Saito, executive officer Japan Airlines Co., mengatakan dalam acara media menjelang pembukaan terminal bahwa jarak dari titik pemeriksaan keamanan akan menjadi lebih jauh. Karena itu, penumpang Bandara Haneda diminta datang lebih awal untuk menyelesaikan proses check-in. Berdasarkan data Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, Transportasi dan Pariwisata Jepang, tingkat keberangkatan tepat waktu, yang dihitung berdasarkan penerbangan yang berangkat maksimal 15 menit dari jadwal, terus menurun dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun fiskal 2025, rata-rata tingkat keberangkatan tepat waktu dari 10 maskapai terbesar berada di angka 83 persen. Kondisi ini menjadi perhatian bagi operasional bandara seiring meningkatnya jumlah penerbangan.

 

Nike x One Piece: Sepatu Devil Fruit

Nike x One Piece Rilis Sepatu Devil Fruit

image

Logo One Piece x Nike (Image by: Nike, One Piece)

 

Nike berkolaborasi dengan One Piece untuk menghadirkan koleksi terbaru yang terinspirasi dari Devil Fruit dalam manga dan anime populer tersebut. Koleksi Nike x One Piece ini mencakup tiga desain khusus Air Max Plus serta sejumlah pakaian dan aksesori, seperti jersey, T-shirt, topi, dan vest. Jepang menjadi salah satu negara yang mendapatkan rangkaian perilisan khusus koleksi ini pada September 2026.

image

Nike x One Piece Gomu Gomu no Mi(Image by: Nike, One Piece)

image

Nike x One Piece Ope Ope no Mi (Image by: Nike, One Piece)

image

Nike x One Piece Mera Mera no Mi (Image by: Nike, One Piece)

Tiga sepatu dalam koleksi tersebut masing-masing mengambil inspirasi dari Gomu Gomu no Mi, Ope Ope no Mi, dan Mera Mera no Mi. Air Max Plus SP “Gomu Gomu” hadir dengan kombinasi warna ungu dan hijau yang merujuk pada Devil Fruit milik Monkey D. Luffy. Sementara itu, Air Max Plus SP “Ope Ope” menggunakan perpaduan warna merah berry dan hijau, sedangkan Air Max Plus SP “Mera Mera” menampilkan warna oranye, kuning, dan hijau yang menggambarkan karakteristik Mera Mera no Mi.

image

Nike x One Piece Gomu Gomu no Mi (Image by: Nike, One Piece)

image

Nike x One Piece Ope Ope no Mi (Image by: Nike, One Piece)

image

Nike x One Piece Mera Mera no Mi (Image by: Nike, One Piece)

Untuk pasar Jepang, ketiga sepatu kolaborasi Nike tersebut dibanderol dengan harga 27.500 yen per pasang. Desainnya tidak hanya menampilkan identitas One Piece, tetapi juga menggunakan detail visual yang mengambil referensi dari Devil Fruit yang menjadi sumber inspirasinya. Koleksi ini nantinya juga akan tersedia secara global dengan harga standar Amerika Serikat sebesar 210 dolar AS.

Selain sneakers, Nike x One Piece juga menghadirkan berbagai pilihan streetwear. Salah satunya adalah Solo Swoosh T-Shirt QS “Promise of Battle” yang tersedia dalam warna hitam dan putih dengan gambar bendera bajak laut milik Luffy. Ada pula T-shirt “Gomu Gomu no Ono” yang menampilkan panel manga Luffy saat menggunakan teknik tersebut. Beberapa desain pakaian lainnya juga dijadwalkan hadir sebagai bagian dari koleksi.

image

Nike x One Piece  streetwear (Image by: Nike, One Piece)

image

Nike x One Piece  streetwear (Image by: Nike, One Piece)

image

Nike x One Piece  streetwear (Image by: Nike, One Piece)

Koleksi tersebut turut dilengkapi jersey dan topi Air Max Plus dengan desain yang disesuaikan dengan tiga sepatu Devil Fruit. Nike juga menyediakan vest eksklusif seharga 45.100 yen yang hanya akan tersedia dalam acara pop-up di Tokyo. Produk ini dijadwalkan hadir di Dr. B’s RESEARCH LAB di kawasan Harajuku pada 4–6 September 2026. Akses ke acara dan pembelian produk tertentu memerlukan tiket melalui sistem undian terlebih dahulu.

Bagi penggemar One Piece di Jepang yang ingin membuat produk dengan desain mereka sendiri, Nike juga menyediakan layanan Nike By You dengan sembilan pilihan grafis bertema kolaborasi. Layanan tersebut tersedia di Harajuku pada 4–11 September, kemudian berlanjut di Umeda pada 12–19 September. Biaya grafis ditetapkan sebesar 1.000 yen untuk ukuran kecil dan 1.200 yen untuk ukuran besar, dengan pemesanan berdasarkan urutan pendaftaran hingga kapasitas terpenuhi.

Setelah acara pop-up di Tokyo, rangkaian koleksi Mera Mera dijadwalkan tersedia di Umeda, Osaka, pada 12 September 2026. Sementara itu, perilisan global melalui aplikasi Nike SNKRS dijadwalkan mulai 25 September 2026. Nike juga menyebutkan bahwa sejumlah negara lain akan mengadakan acara pop-up masing-masing mulai 12 September.

Dengan hadirnya tiga Air Max Plus bertema Devil Fruit dan berbagai produk streetwear, kolaborasi Nike x One Piece menjadi salah satu rilisan yang akan hadir di Jepang pada September 2026. Penggemar yang ingin mendapatkan produk edisi kolaborasi ini perlu memperhatikan jadwal serta lokasi penjualan karena beberapa item memiliki metode distribusi khusus, termasuk pop-up store dan sistem undian. Informasi lebih lanjut mengenai perilisan global dapat diperiksa melalui aplikasi SNKRS.    

 

Shelter Instan Didirikan di Kumamoto

Shelter Instan untuk Korban Gempa Kumamoto

image

Foto menunjukkan "Rumah Instan" yang dipasang di Hikawa, Prefektur Kumamoto, setelah gempa bumi dahsyat melanda prefektur tersebut beberapa minggu sebelumnya. (Image by : Kyodo)

 

Shelter instan mulai digunakan untuk membantu warga yang terdampak gempa di Prefektur Kumamoto, Jepang. Hunian sementara yang dikenal sebagai “Instant House” ini dirancang sebagai tempat berlindung yang dapat dipasang dengan cepat di lokasi terdampak bencana.

“Instant House” dikembangkan oleh Keisuke Kitagawa, profesor di Nagoya Institute of Technology sekaligus presiden LIFULL ArchiTech. Konsep tersebut dikembangkan sebagai hunian sementara dengan struktur ringan dan material yang relatif mudah dibawa ke wilayah yang membutuhkan bantuan.

Untuk penggunaan di luar ruangan, shelter ini menggunakan material membran yang menyerupai bahan tenda. Struktur tersebut dibentuk dengan bantuan blower yang mengisi udara ke dalam membran. Setelah bentuknya terbentuk, bagian dalamnya diberi lapisan busa poliuretan yang berfungsi sebagai insulasi.

image

Foto "Rumah instan" terlihat di dekat perumahan yang runtuh di Hikawa prefektur Kumamoto pada 6 Agustus. (Image by : Yomiuri Shinbun)

Menurut informasi dari pemerintah Jepang, versi luar ruangan dapat menampung hingga sekitar 10 orang. Proses pemasangannya juga dapat dilakukan dalam waktu sekitar satu hingga dua jam, sehingga shelter tersebut dapat digunakan sebagai tempat berlindung sementara di wilayah yang membutuhkan penanganan cepat.

Selain versi luar ruangan, terdapat pula shelter untuk penggunaan di dalam ruangan. Shelter jenis ini dibuat menggunakan material karton dan dapat dipasang di fasilitas seperti gedung olahraga yang digunakan sebagai tempat pengungsian. Struktur tersebut juga dapat memberikan ruang yang lebih privat bagi para pengungsi.

Teknologi Instant House sebelumnya telah digunakan dalam penanganan bencana, termasuk setelah gempa Noto pada Januari 2024. Saat itu, 10 unit berbahan karton dibawa ke sebuah tempat pengungsian di Wajima. Setelah mendapatkan dukungan melalui donasi, produksi kemudian diperluas sehingga sekitar 250 unit luar ruangan dan 1.250 unit dalam ruangan dipasang di berbagai tempat pengungsian di wilayah Noto.

Pengembangan Instant House bermula setelah gempa dan tsunami Jepang Timur pada 2011. Saat mengunjungi tempat pengungsian di Ishinomaki, Miyagi, Kitagawa mendapat pertanyaan mengenai mengapa pembangunan rumah sementara membutuhkan waktu yang cukup lama. Pengalaman tersebut kemudian mendorongnya mengembangkan konsep hunian yang dapat didirikan dengan lebih cepat.

Penggunaan shelter instan di Kumamoto menjadi bagian dari upaya menyediakan tempat berlindung bagi warga yang terdampak gempa dan masih menghadapi kerusakan tempat tinggal. Dengan proses pemasangan yang relatif cepat, shelter ini menjadi salah satu bentuk hunian sementara yang dapat digunakan selama proses pemulihan pascabencana.    

 

Muslim Jepang-Maroko di Shimane

Pasangan Muslim Jepang-Maroko Buka Rumah Tradisional untuk Warga di Shimane

image

Foto menunjukkan Fatih Ymran dan istrinya Nanami di rumah mereka di Yasugi, Prefektur Shimane pada 27 Mei 2026
(Image by: Kyodo)

 

Muslim Jepang-Maroko, Fatih Ymran dan Nanami, membuka rumah tradisional Jepang berusia lebih dari 100 tahun di wilayah pedesaan Prefektur Shimane sebagai tempat menerima warga dan pengunjung. Dengan mengenakan kimono, pasangan Muslim tersebut menyajikan teh matcha, mengajak pengunjung berbincang, serta memperkenalkan berbagai hidangan musiman.

Fatih Ymran, 33 tahun, merupakan insinyur teknologi informasi asal Maroko yang bekerja secara jarak jauh untuk perusahaan berbasis di Tokyo. Sementara itu, istrinya, Nanami, 35 tahun, merupakan mantan pegawai pemerintah yang memeluk agama Islam sebelum mereka menikah. Pasangan Muslim ini kini tinggal di distrik Hakuta, Yasugi, bersama putra mereka yang berusia 2 tahun, Sami.

image

Foto yang diambil pada 15 Juni 2026  memperlihatkan orang-orang di rumah pertanian tradisional milik Fatih Ymran dan Nanami (Image by: Kyodo)

Rumah yang ditempati pasangan Muslim tersebut memiliki sejumlah ciri khas rumah tradisional Jepang, termasuk lantai tanah pada bagian pintu masuk dan irori atau tungku tradisional di tengah ruangan. Rumah itu berada di dekat jalan yang dipenuhi rumah-rumah tua dan bangunan bekas tempat usaha dari zaman Edo. Di perbukitan sekitarnya juga terdapat perkebunan teh.

Fatih dan Nanami pertama kali bertemu pada 2016 ketika Fatih masih menjadi mahasiswa internasional di sebuah universitas di Kobe, sedangkan Nanami bekerja di pemerintahan Kota Kobe. Keduanya semakin dekat karena memiliki ketertarikan yang sama terhadap budaya tradisional Jepang. Pada 2018, Nanami untuk pertama kalinya menjalani Ramadan. Pengalaman berpuasa selama sebulan tersebut membuatnya memandang makanan dengan cara berbeda dan kemudian menjadi salah satu alasan yang mendorongnya memeluk Islam.

Keduanya menikah pada 2020 dan kemudian pindah ke Yasugi meskipun sebelumnya tidak memiliki hubungan dengan daerah tersebut. Pasangan Muslim itu tertarik dengan lingkungan alam di kawasan tersebut dan pada 2023 membeli rumah tradisional yang kini mereka tinggali. Sejak membuka rumah untuk masyarakat, hubungan mereka dengan warga sekitar berkembang melalui berbagai kegiatan bersama.

image

Orang-orang berkumpul di rumah pertanian tradisional milik Fatih Ymran dan Nanami pada 15 Juni 2026 (Image by: Kyodo)

Para pengunjung dapat menikmati matcha yang disiapkan langsung oleh Fatih dan Nanami serta mengikuti kegiatan membuat makanan musiman. Salah satu kegiatan tersebut adalah membuat makanan dengan membungkus beras ketan menggunakan daun bambu sebelum direbus. Warga setempat juga mulai datang untuk menikmati teh dan berbincang dengan pasangan Muslim tersebut. Seorang warga lokal, Sachiko Omichi, mengatakan rumah itu menjadi tempat seseorang dapat mulai berbicara dengan orang yang baru ditemuinya.

Rumah tersebut juga menjadi tempat singgah bagi warga asing yang tinggal di Shimane, termasuk mereka yang berasal dari Arab Saudi dan Bangladesh. Beberapa di antaranya bahkan tinggal selama beberapa hari dan menjalani aktivitas sehari-hari bersama keluarga Fatih dan Nanami. Fatih mengatakan kebiasaan menerima tetangga yang datang berkunjung merupakan sesuatu yang umum di Maroko. Bahkan ketika bekerja di depan komputer dari rumah, ia kerap tetap menerima tamu.

Di tengah laporan mengenai diskriminasi dan pelecehan daring terhadap umat Muslim di sejumlah wilayah Jepang dalam beberapa tahun terakhir, pengalaman pasangan ini di komunitas pedesaan Shimane justru berbeda. Nanami mengatakan bahwa dirinya dan Fatih tidak pernah diperlakukan berbeda oleh warga karena penampilan maupun keyakinan mereka. Menurutnya, warga setempat menerima mereka sebagai individu tanpa menjadikan perbedaan sebagai penghalang. Pengalaman tersebut ia anggap mencerminkan kehidupan berdampingan dalam masyarakat yang beragam, termasuk bagi keluarga Muslim.