Demi Bertahan Hidup,Banyak Lansia melakukan “Part Time”

Semakin Banyak Lansia Melaksanakan Kerja Sambilan/Spot Work demi bertahan hidup

Tokyo - Demi bertahan hidup, seorang wanita berusia 70 tahun di distrik Itabashi, Tokyo berpindah dari satu tempat kerja ke tempat kerja lainnya hampir setiap hari menggunakan aplikasi yang telah membantu ribuan pensiunan bertahan hidup secara finansial dan sosial. Satu setengah tahun lalu ia mendaftar pada aplikasi "Spot Work" bernama Timee.

Aplikasi ini menghubungkan operator restoran dan bisnis lainnya dengan mereka yang bersedia bekerja shift. Timee akan menerima 30% dari jumlah yang dibayarkan kepada pekerja sebagai biaya penggunaan, tentunya setelah adanya tanda tangan kontrak kerja.

Wanita itu telah mengambil 480 shift melalui aplikasi tersebut, jauh lebih banyak dari siapapun di seusianya dan bekerja rata-rata 4 jam per hari.

Timee mengatakan bahwa 51.000 orang berusia 65 tahun atau lebih telah mendaftar untuk aplikasi kerja spot pada bulan Maret. Wanita  itu beralhi ke Timee setelah gagal dalam beberapa kali job hunting dan wawancara. Ia mengatakan bahwa ia tidak bisa jika hanya bergantung pada Tunjangan Jaminan Sosial saja.

Dalam satu bulan dia dapat memperoleh penghasilan sekitar 100.000 yen dan bermaksud untuk mendaftar ke lebih banyak aplikasi untuk mendapatkan tawaran pekerjaan yang lebih baik.

Wanita itu mengatakan bahwa ia memilih shift kerja tergantung pada kondisi kesehatan dan jadwalnya pada hari itu. Setiap kali melamar, ia bekerja untuk majikan dan tempat kerja yang baru.

Ia meyakini bahwa dengan bekerja atau beraktivitas akan membuatnya tetap sehat, tidak merasa terpinggirkan oleh masyarakat, dan tentunya kebutuhannya akan tercukupi karena adanya penghasilan tambahan.

Peningkatan jumlah lansia yang mendaftar melalui aplikasi kerja sambilan, yang tumbuh 2,1 kali lipat sepanjang tahun hingga Maret, menunjukkan bahwa semakin banyak lansia yang melihat aplikasi ini sebagai solusi yang bermanfaat dan menarik. Ini juga mencerminkan perubahan dalam cara pandang terhadap pekerjaan di usia tua, dengan lebih banyak fokus pada fleksibilitas dan dukungan sosial.

Secara keseluruhan, penggunaan aplikasi kerja sambilan oleh lansia menunjukkan bahwa mereka tidak hanya mencari sumber pendapatan tambahan, tetapi juga cara untuk tetap aktif, sehat, dan terhubung dengan komunitas mereka. Ini memberikan gambaran tentang bagaimana teknologi dapat berperan penting dalam mendukung kualitas hidup lansia di era modern.

Kekurangan tenaga kerja yang terus menerus di seluruh Jepang dapat memaksa pengusaha untuk lebih mengandalkan pekerja senior.

Recruit Works Institute memproyeksikan bahwa Jepang akan kekurangan 11 juta pekerja pada 2040. Beberapa ahli menyuarakan kekhawatiran bahwa merebaknya pekerjaan serabutan di kalangan orang lanjut usia akan menyebabkan lebih banyak orang bekerja keras dalam kondisi kerja yang tidak stabil.

Hideo Kinoshita, profesor emeritus hukum jaminan sosial di Universitas Osaka mengatakan bahwa pembayaran jaminan sosial standar kementrian kesejahteraan untuk pasangan yang sudah menikah adalah 230.000 yen.

Namun, jumlahnya didasarkan pada sumsi sang suami bekerja selama 40 tahun sebagai karyawan perusahaan biasa sedangkan sang istri merupakan ibu rumah tangga selama bertahun -tahun.

Pohon “Ghibli” Tumbang Setelah Topan No. 10

Pohon "Ghibli" Tumbang Setelah Topan No. 10

Pohon "Ghibli" Cedar Raksasa tumbang akibat serangan topan no 10 di hutan yang diyakini menjadi inspirasi salah satu karya Studio Ghibli yakni "Princess Mononoke".

Selama topan no 10 melanda dan menghancurkan batang pohon besar yang diperkirakan berusia 3.000 tahun tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa pohon cedar "Yayoi Sugi" berasal dari Periode Budaya Tembikar Yayoi (1000 SM - 250 M).

Tinggi maksimum pohon ini adalah 26 meter dengan lingkar batang sepanjang 8 meter. Yayoi Sugi merupakan tempat persinggahan yang terkenal bagi para wisatawan, tidak hanya karena kaitannya dengan film Ghibli, tetapi juga sebagai bagian dari hutan Warisan Dunia UNESCO. Jurang Shiratani Unsuikyo yang populer juga berada di dekatnya.

Pemandu wisata Taro Watanabe dan lainnya mengonfirmasi pada 31 Agustus bahwa pohon itu patah di batangnya sekitar 1,5 m dari tanah.

Jalan pegunungan di sekitar pohon ini menjadi tidak dapat diakses akibat kerusakan yang ditimbulkan oleh Topan No.10. "Yayoi Sugi adalah salah satu pohon besar yang paling terkenal di pulau ini," kata seorang staf senior Badan Kehutanan Pulau Yakushima.

Anggota staf bekerja di stasiun pengelolaan hutan dan merupakan bagian dari investigasi yang sedang berlangsung untuk menilai kondisi pohon. Tidak ada kerusakan yang dilaporkan pada pohon cedar raksasa lainnya di pulau itu.

Pulau Amami-Oshima Bebas dari Garangan atau Mongoose

Jepang Nyatakan Pulau Amami-Oshima Bebas dari Garangan atau Mongoose

Kementrian Lingkungan Hidup Jepang menyatakan pulau Amami-Oshima di Prefektur Kagoshima, Jepang Barat Daya, telah terbebas dari garangan atau mongoose. Pulau Amami-Oshima terdaftar sebagai Situs Warisan Dunia Alam UNESCO.

Pada awalnya mamalia ini didatangkan di pulau tersebut untuk mengurangi populasi spesies ular lokal yang sangat berbisa pada tahun 1979. 

Namun, mamalia tersebut berubah menjadi predator yang mulai memangsa spesies langka asli pulau tersebut, termasuk kelinci Amami, yang merupakan spesies yang sangat dilindungi. Populasi Garangan pernah tumbuh hingga 10.000 ekor.

Pada 2005, kementrian lingkungan hidup menetapkan spesies asing yang berbahaya bagi ekosistem dan meluncurkan unit pemberantas.

Selasa (03/09/2024) terdapat pertemuan para ahli guna menilai kemajuan unit tersebut. Para pejabat melaporkan tidak ada garangan yang terperangkap selama lebih dari enam tahun, dan hewan tersebut tidak pernah terekam oleh kamera sensor gerak yang terpasang di 579 lokasi di pulau tersebut. Para ahli menyimpulkan bahwa kemungkinan hewan tersebut telah mengalami kepunahan.

Ueda Akihiro, Direktur Jenderal Biro Konservasi Alam Kementrian Lingkungan Hidup menyatakan bahwa spesies asing tersebut telag dimusnahkan dari pulau tersebut.

Pejabat kementrian mengatakan di seluruh dunia ada sembilan kasus garangan dimusnahkan dari tempat hewan itu didatangkan. Namun, sangat jarang garangan dimusnahkan dari daerah tempatnya berkembang biak seperti Amami-Oshima.

Tokyo Uji Coba Layanan Pengiriman Barang Stasiun-Hotel

Layanan Pengiriman Barang dari Loker Stasiun ke Hotel Mulai di Uji Coba di Tokyo

Layanan uji coba yang diluncurkan oleh Seibu Holdings dan firma pengelola loker di Tokyo merupakan langkah maju yang cerdas untuk meningkatkan pengalaman wisatawan. Berikut adalah beberapa poin utama mengenai layanan ini


Uji coba dimulai pada 2 September 2024, dan layanan ini tersedia di stasiun Seibu-Shinjuku, Ikebukuro, dan Toshimaen, yang merupakan stasiun-stasiun utama di Tokyo.


Wisatawan dapat menggunakan loker di stasiun untuk menyimpan koper mereka. Biaya layanan dibayar menggunakan kartu IC yang biasa digunakan untuk transportasi umum di Jepang. Setelah koper disimpan, wisatawan dapat memilih dari sekitar 500 hotel di Tokyo dan sekitarnya sebagai tujuan pengiriman koper mereka. Jika koper disimpan sebelum pukul 2 siang, koper dapat diambil di hotel pada hari yang sama.


Layanan ini memungkinkan wisatawan untuk menjelajahi Tokyo tanpa harus mengurus koper mereka sepanjang hari. Dengan mengurangi jumlah koper di dalam kereta dan bus, layanan ini dapat membantu mengurangi kepadatan transportasi umum.

Aoki Hiroshi dari Seibu Holdings menyoroti bahwa banyak wisatawan asing membawa koper berukuran besar. Perusahaan berkomitmen untuk mempelajari kebutuhan pengguna dan berupaya meningkatkan layanan ini berdasarkan umpan balik yang diterima.


Uji coba ini direncanakan akan berlangsung hingga akhir Maret 2025. Setelah periode uji coba, operator akan mengevaluasi hasilnya dan mempertimbangkan berbagai aspek, termasuk kemungkinan memperluas metode pembayaran untuk menjangkau lebih banyak wisatawan.


Inisiatif ini dapat menjadi model untuk layanan serupa di kota-kota lain yang menghadapi tantangan serupa dengan pengelolaan koper wisatawan, dan memberikan dampak positif terhadap pengalaman wisatawan dan efisiensi transportasi umum.

Gerbong Kereta Tua diubah jadi Kamar Tamu di Lokasi Glamping

Gerbong Kereta Tua Diubah Jadi Kamar Tamu di Lokasi Glamping

ICHIHARA, Prefektur Chiba - Sebuah gerbong kereta tua yang sudah tidak dipakai lagi diubah menjadi sebuah kamar tamu di Takatakiko Glamping Resort disini.

Model KiHa 203 awalnya diperkenalkan untuk layanan oleh Kominato Railway Co. pada tahun 1963 dan beroperasi di rute pedesaan selama 57 tahun.

Gerbong kereta tersebut disumbangkan ke GR Holdings Co., yang memajangnya di lokasi glamping pada bulan Mei 2023 dan kemudian memutuskan untuk mengubahnya menjadi fasilitas akomodasi.

Sementara tali pengikat dan kabin pengemudi tetap utuh, kamar tamu dilengkapi dengan tempat tidur, wastafel dapur, dan fitur lainnya , termasuk layanan wifi berkecepatan tinggi.

Gerbong kereta disulap menjadi kamar tamu itu kini berada di bagian rel Kereta Api Kominato Lama yang membentang di sepanjang rel baru, menawarkan kesempatan kepada pengunjung untuk melihat kereta lewat dari dekat balkon.

Sayaka Kumazaki mengatakan bahwa "Kami tidak hanya ingin para penggemar kereta api, tetapi juga keluarga dan pasangan untuk menghabiskan waktu berkualitas disini".

Perusahaan kereta api tengah berjuang untuk menarik penumpang karena masyarakat lokal di sepanjang jalur tersebut mulai kehilangan penduduknya.

"Fasilitas ini telah mengubah arus wisatawan," kata Wali Kota Joji Koide dalam upacara pembukaan yang diadakan pada 26 Juli, mengacu pada lokasi glamping yang dibuka pada tahun 2021. 

Untuk reservasi dan informasi lebih lanjut silakan kunjungi situs web resmi di (https://www.takatakiko-glamping.com/).

Jepang Ingin Warganya Coba Sistem Kerja 4 Hari Seminggu

Jepang Ingin Warganya yang Pekerja Keras Coba Sistem Kerja 4 Hari Seminggu

Jepang terkenal akan para pekerjanya yang pekerja keras hingga mendapat istilah "Bekerja Sampai Mati", tengah berupaya untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja yang sangat mengkhawatirkan dengan membujuk lebih banyak orang dan perusahaan untuk mengadopsi empat hari kerja dalam seminggu.

Pemerintah Jepang pertama kali menyatakan dukungannya terhadap minggu kerja yang lebih pendek pada tahun 2021, setelah anggota parlemen menyetujui gagasan tersebut. Namun, konsep tersebut lambat diterima; sekitar 8% perusahaan di Jepang mengizinkan karyawannya mengambil cuti tiga hari atau lebih per minggu, sementara 7% memberikan karyawan mereka libur satu hari yang diwajibkan secara hukum, menurut Kementrian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan.

Pemerintah luncurkan kampanye "hatarakikata kaikaku" atau "Reformasi Gaya Kerja" atau "Berinovasi dalam cara Kita Bekerja" yang mempromosikan jam kerja yang lebih pendek dan peraturan fleksibel lainnya beserta batasan lembur dan cuti tahunan berbayar guna tarik lebih banyak peminat terutama di kalangan UMKM. Kementrian Ketenagakerjaan baru-baru ini mulai tawarkan konsultasi gratis, hibah, dan kumpulan kisah sukses yang terus bertambah motivasi.

Departemen yang mengawasi layanan dukungan baru untuk bisnis mengatakan bahwa sejauh ini baru ada tiga perusahaan yang telah mengajukan diri untuk meminta regulasi yang relevan, dan subsidi yang tersedia, yang menggambarkan tantangan yang dihadapi inisiatif tersebut.

Dari 63.000 Karyawan Panasonic Holding Corp yang memenuhi syarat untuk jadwal empat hari di perusahaan tersebut, hanya 150 karyawan saja yang memilih untuk mengambilnya. 

Dukungan resmi pemerintah terhadap keseimbangan kehidupan dan kerja yang lebih baik merupakan perubahan yang nyata di jepang, sebuah negara yang terkenal akan budaya gila kerjanya yang sangat tinggi hingga dianggap sebagai faktor utama dalam pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat pasca PD II.

Tekanan konformis untuk berkorban demi perusahaan sangat kuat. Warga biasanya mengambil liburan pada waktu yang sama sepanjang tahun dengan rekan kerja mereka yakni selama lbiur musim panas dan sekitar Tahun Baru.

Jam kerja yang panjang adalah hal yang lumrah, meskipun 85% pengusaha melaporkan memberikan pekerja mereka dua hari libur seminggu dan ada pembatasan hukum mengenai jam kerja lembur, yang dinegosiasikan dengan serikat pekerja dan dirinci lebih lanjut dalam kontrak. Akan tetapi, beberapa orang Jepang melakukan "Kerja Lembur", yang berarti tidak dilaporkan dan dilakukan tanpa kompensasi.

"Karoshi" sebuah buku putih pemerintah yang berarti "Kematian akibat terlalu banyak bekerja", mengatakan bahwa Jepang setidaknya memiliki 54 kasus kematian akibat kerja yang berlebihan setiap tahunnya, termasuk yang disebabkan oleh serangan jantung.

Masyarakat Jepang yang "Serius, Teliti, dan Pekerja Keras" cenderung menghargai hubungan mereka dengan rekan kerja dan menjalin ikatan dengan perusahaan, dan acara TV Jepang serta manga seringkali berfokus pada tempat kerja (Craig, T. Cool Japan : Studi Kasus dari Industri Budaya dan Kreatif Jepang).

Beberapa pejabat menganggap perubahan pola pikir itu penting untuk mempertahankan tenaga kerja yang layak ditengah angka kelahiran yang menurun drastis. Hal ini dikarenakan budaya yang berfokus pada pekerjaan di negara itu, popilasi usia kerja diperkirakan akan menurun 40% menjadi 45 juta orang pada 2065 dari 74 juta saat ini menurut data pemerintah.

Pendukung model libur tiga hari mengatakan hal ini akan mendorong masyarakat yang membesarkan anak-anak, merawat kerabat atau orang tua, pensiunan yang hidup dari uang pensiunan, dan orang lainnya yang mencari fleksibilitas atau penghasilan tambahan untuk tetap bekerja lebih lama.

Spelldata, sebuah perusahaan teknologi kecil di Tokyo memungkinkan karyawannya bekerja dengan jadwal empat hari, mengambil cuti pada hari Rabu, Sabtu, dan Minggu. Hari libur tambahan tersebut memungkinkan karyawan untuk melakukan kegiatan yang diinginkannya.

Fast Retailing Co, perusahaan Jepang yang memiliki Uniqlo, Theory, J Brand dan merek lainnya, perusahaan Farmasi Shionogi & Co dan perusahaan Elektronik Ricoh Co dan Hitachi juga mulai menawarkan empat hari kerja dalam seminggu beberapa tahun terakhir.

Ini Alasan Nihonjin Tidak Bau Ketiak

Mayoritas orang asal Asia Timur, seperti Korea dan Jepang, jarang mengalami masalah bau ketiak. Studi ilmiah mengungkap bahwa hal ini disebabkan oleh adanya mutasi gen ABCC11 yang umum ditemukan pada populasi Asia Timur. Mutasi ini menyebabkan ketiak orang-orang tersebut tidak menghasilkan bau yang sama seperti pada orang lain saat berkeringat atau terpapar panas. Dr. Madalyn Nguyen, seorang dokter kulit di Oregon, menjelaskan bahwa bau badan biasanya berkaitan dengan aktivitas kelenjar keringat apokrin, yang banyak ditemukan di area ketiak dan selangkangan.

Pada individu tanpa mutasi gen ABCC11, protein yang diproduksi oleh kelenjar apokrin berperan dalam mengangkut senyawa lemak atau lipid ke dalam keringat. Bakteri kulit kemudian memecah lipid tersebut, menghasilkan bau badan yang khas. Namun, pada orang dengan mutasi gen ABCC11, protein ini tidak berfungsi dengan cara yang sama, sehingga mereka cenderung memiliki bau badan yang jauh lebih ringan atau bahkan tidak berbau sama sekali.

Meski mutasi ini dominan pada orang Asia Timur, beberapa orang dari Eropa dan Afrika, sekitar 3 persen dari populasi, juga memiliki mutasi ini. Di antara orang Asia Timur, orang Korea menunjukkan prevalensi mutasi tertinggi, diikuti oleh orang China dan Vietnam.

Meskipun demikian, Dr. Nguyen menekankan bahwa memiliki mutasi gen ini bukan berarti kebersihan bisa diabaikan. Orang Korea dan Asia Timur lainnya masih perlu menjaga kebersihan tubuh, seperti mandi, karena kelenjar apokrin tetap aktif, terutama saat tubuh mengalami stres, yang memicu pelepasan senyawa katekolamin.

Studi tahun 2010 menyebut bahwa alasan mengapa mutasi ini banyak ditemukan pada orang Asia Timur mungkin terkait dengan tradisi kebersihan dan preferensi pasangan yang lebih menyukai individu dengan bau badan yang lebih sedikit, sehingga menciptakan populasi dengan gen tersebut lebih banyak. Ini merupakan contoh bagaimana manusia berevolusi berdasarkan lingkungan mereka, seperti yang juga terlihat pada orang-orang dari Skandinavia yang lebih cerah dibandingkan mereka yang tinggal di dekat garis khatulistiwa karena kebutuhan akan lebih banyak melanin untuk melindungi kulit dari sinar matahari.


kenapa orang timur tengah seperti jepang jarang bau ketiak?
Image by Odua Images

Kaum Muda Jepang Semakin Banyak Menggunakan Dating Apps

Kaum Muda Jepang Semakin Banyak yang Menggunakan Aplikasi Perjodohan (Dating Apps)

Survei pemerintah menunjukkan bahwa kaum muda Jepang kini lebih memilih mencari pasangan melalui aplikasi kencan atau aplikasi perjodohan. Hal ini membuat otoritas terkait mulai mempertimbangkan cara agar lebih banyak orang menikah dengan memanfaatkan jejaring sosial.

Badan Anak-Anak dan Keluarga melakukan jajak pendapat terhadap 20.000 orang berusia 15 hingga 39 tahun tentang pernikahan. Ini merupakan survei pertama yang dilakukan oleh badan tersebut.

Salah satu pertanyaan bagi mereka yang sudah menikah adalah bagaimana mereka bertemu dengan pasangannya. Kurang lebih seperempat jawaban menyatakan mereka bertemu pasangannya via aplikasi perjodohan.

Lebih dari 20% responden menyatakan bahwa mereka bertemu pasangannya melalui pekerjaan dan hampir 10% bertemu di sekolah. 9% mengatakan teman atau keluarga yang memperkenalkan mereka dan 5% bertemu di pesta/kegiatan lainnya.

Pemerintah melihat hasil survei tersebut membuktikan bahwa media sosial memainkan peran lebih besar dalam menyatukan pasangan muda.

Mempromosikan perjodohan yang aman melalui media sosial hanya salah satu langkah yang direncanakan untuk dibahas oleh otoritas terkait. Dukungan bagi konseling pernikahan yang dilakukan oleh sektor swasta dan pemerintah daerah juga akan diperluas.

images (6)

                                           Image by Kompasiana

Pemerintah Jepang Mengimbau Agar Tidak “Panic Buying” Beras

Warga Jepang Dihimbau untuk Tidak Panic Buying dan Membeli Beras Secara Berlebihan

Menteri pertanian Jepang Sakamoto Tetsushi menghimbau warga agar menahan diri untuk tidak membeli beras secara berlebihan karena persediaan akan segera pulih dengan panen tahun ini. Ia menyerukan hal itu karena para konsumen melaporkan kesulitan menemukan beras di toko-toko ditengah kelangkaan.

Sakamoto pada Selasa (27/08/2024) menyampaikan, "Panen padi berlangsung dengan stabil dan petani di beberapa daerah dapat memanen sekitar satu pekan lebih awal dari biasanya. Kekurangan akan teratasi secara bertahap." Ia juga menghimbau konsumen agar membeli beras dengan disesuaikan kebutuhan saja.

Sejumlah alasan kelangkaan beras di supermarket dan pengecer adalah karena stok yang menipis sebelum beredarnya hasil panen baru. Gempa dan topan baru-baru ini juga menjadi pemicu orang-orang menimbun stok.

Sakamoto menyatakan sikap hati-hati dalam mengeluarkan cadangan beras yang disimpan Jepang untuk keadaan darurat. Ia mengungkapkan hal tersebut dapat mempengaruhi keseimbangan antara pasokan dan permintaan serta harga di pasar komersial.

Alat Deteksi Tsunami berbasis AI

Sebagai langkah antisipatif terhadap potensi bencana alam di masa depan, Badan Meteorologi Jepang (JMA) mengumumkan rencana pemasangan alat pengamatan tsunami raksasa baru di 9 lokasi di seluruh negeri. Langkah ini menjadi salah satu bagian dari permintaan anggaran untuk tahun fiskal mendatang, dengan total mencapai 59,9 miliar yen, yang meningkat sekitar 5 miliar yen dibandingkan tahun sebelumnya.

Rencana ini muncul setelah gempa besar mengguncang Semenanjung Noto pada awal tahun. Alat baru ini dirancang untuk mendeteksi gelombang tsunami setinggi lebih dari 3 meter. Pemasangan akan dilakukan di berbagai lokasi pesisir strategis, termasuk di Prefektur Fukui, Yamaguchi, Saga, Hyogo, dan Oita. Penambahan ini akan meningkatkan total alat pengamatan tsunami di seluruh Jepang menjadi 101 unit, yang akan memperkuat sistem deteksi dini terhadap potensi bencana.

Selain pengawasan tsunami, JMA juga berencana memperbarui sistem pemantauan aktivitas vulkanik di Kepulauan Tokara, khususnya di Pulau Nakano, yang memiliki potensi peningkatan aktivitas vulkanik. Alat-alat seperti kamera pengawasan dan seismograf akan dipasang untuk memungkinkan pengawasan selama 24 jam penuh.

Sebagai bagian dari modernisasi operasional, JMA juga akan membentuk posisi baru yang disebut "Pejabat Strategi AI" untuk memperkuat sistem kerja menggunakan teknologi kecerdasan buatan. Hal ini diharapkan dapat membantu merespons bencana dengan lebih cepat dan efisien.

Anggaran yang diajukan ini mencakup biaya peningkatan sistem digital melalui Badan Digital Jepang, yang diharapkan dapat membawa teknologi canggih ke dalam pengawasan dan mitigasi bencana alam di negara tersebut.


jepang akan siapakan alat pendeteksi tsunami
Image by Schaferle (Pixabay)