Pembelajar Bahasa Jepang Meroket

image

Jumlah Pembelajar Bahasa Jepang Capai Rekor Baru (Image by KyodoNews)

Jumlah pembelajar bahasa Jepang di Jepang mencapai rekor 294.198 orang pada tahun lalu, berdasarkan survei terbaru Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olahraga, Sains, dan Teknologi Jepang. Angka tersebut merupakan titik tertinggi sepanjang sejarah survei dilakukan, sekaligus menandai lonjakan kebutuhan akan pendidikan bahasa Jepang di tengah meningkatnya kedatangan warga asing. Peningkatan ini juga menunjukkan pemulihan signifikan setelah penurunan tajam pada masa pandemi COVID-19, ketika mobilitas internasional dibatasi dan banyak lembaga pendidikan membatasi kegiatan tatap muka.

image

Mahasiswa Asing Dominasi Lonjakan Pembelajar Jepang (Image by KyodoNews)

Dari total tersebut, mahasiswa asing mendominasi dengan porsi sekitar dua pertiga dari keseluruhan jumlah pembelajar. Warga asal Tiongkok tercatat sebagai kelompok terbesar, diikuti oleh pendatang dari Nepal dan Vietnam yang dalam beberapa tahun terakhir terus meningkat seiring minat belajar dan bekerja di Jepang. Survei yang dilakukan pada November 2024 ini melibatkan 2.669 fasilitas pendidikan, mulai dari universitas, sekolah bahasa bersertifikat pemerintah, pusat pelatihan kotamadya, hingga perusahaan swasta yang menyelenggarakan pelajaran bahasa Jepang bagi staf asing mereka. Dibandingkan survei 2023, jumlah pembelajar bertambah 31.028 orang, menandai pertumbuhan hampir lima kali lipat sejak tahun 1990. Dalam beberapa tahun terakhir, Jepang menghadapi tantangan demografis berupa penuaan penduduk dan kekurangan tenaga kerja, yang mendorong negara tersebut meningkatkan penerimaan pekerja asing. Namun, kebijakan ini kini tengah dievaluasi kembali oleh pemerintahan Perdana Menteri Sanae Takaichi, yang menjabat pada Oktober lalu. Di tengah dinamika kebijakan imigrasi tersebut, kemampuan berbahasa Jepang menjadi faktor penting bagi integrasi sosial serta produktivitas tenaga kerja asing. Pemerintah dan pemerintah daerah pun dituntut untuk memperluas akses pendidikan bahasa Jepang agar pendatang dapat beradaptasi lebih cepat di lingkungan kerja maupun kehidupan sehari-hari.

image

Akses Kelas Bahasa Jepang Masih Timpang (Image by KyodoNews)

Survei juga mengungkapkan bahwa akses pembelajaran bahasa Jepang masih belum merata. Dari 1.892 wilayah cakupan yang diteliti, 38,2 persen di antaranya tidak menyediakan kelas bahasa Jepang bagi penduduk asing non-pelajar. Kelompok yang terdampak paling besar meliputi pekerja asing, keluarga yang menyertai, serta peserta pelatihan teknis di bawah skema transfer keterampilan pemerintah. Ketimpangan akses ini menunjukkan bahwa banyak pendatang masih menghadapi hambatan bahasa yang signifikan dalam berkomunikasi, mendapatkan layanan publik, maupun memahami aturan dan budaya lokal. Prefektur Hyogo menjadi satu-satunya dari 47 prefektur yang sepenuhnya memiliki akses pembelajaran tanpa area “kosong”. Di sisi lain, beberapa prefektur menghadapi tantangan paling berat. Okinawa memiliki persentase wilayah tanpa fasilitas pembelajaran bahasa Jepang yang paling tinggi, yakni 80,5 persen, disusul Tottori sebesar 73,7 persen dan Hokkaido sebesar 70,7 persen. Kondisi ini diperburuk oleh keterbatasan jumlah pengajar, di mana dari total 50.309 guru bahasa Jepang yang tercatat, mayoritas merupakan sukarelawan, dengan hanya 13,6 persen yang bekerja penuh waktu. Minimnya tenaga pengajar profesional memperlihatkan perlunya peningkatan pendanaan, pelatihan, dan pengembangan kurikulum agar sistem pendidikan bahasa Jepang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat asing yang terus bertambah. Ketimpangan ini menjadi perhatian penting dalam upaya Jepang menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan ramah bagi penduduk multinasional.

Sotetsu Jual Gerbang Tiket Asli

image

Barang bekas milik Sotetsu akan menjadi harta karun orang lain (Image by SoraNews24)

Ketika sebuah kereta api berhenti beroperasi di Jepang, operator biasanya tidak membiarkannya begitu saja menjadi rongsokan. Sebaliknya, berbagai bagian kereta tersebut dijual sebagai kenang-kenangan kepada para penggemar. Tradisi ini sudah lama menjadi bagian dari budaya perkeretaapian Jepang, di mana benda sederhana seperti tali tangan, bantalan kursi, hingga plat tujuan dapat memiliki nilai emosional yang besar. Bagi sebagian orang, benda-benda itu menjadi pengingat perjalanan berkesan, sementara bagi yang lain menjadi simbol kedekatan mereka dengan kereta yang menemani rutinitas harian.

Namun, Perusahaan Kereta Api Sagami lebih dikenal sebagai Sotetsu baru-baru ini mengambil langkah yang jauh lebih berani dengan menawarkan suvenir “super premium”. Perusahaan yang mengoperasikan tiga jalur utama di Prefektur Kanagawa, wilayah selatan Tokyo, mengumumkan bahwa mereka menjual gerbang tiket otomatis bekas pakai dari stasiun mereka. Ini bukan suvenir kecil, melainkan peralatan stasiun berukuran besar yang biasanya hanya dilihat penumpang saat tap masuk atau keluar stasiun.

image

Sotetsu menyarankan untuk membeli satu set untuk mendapatkan pengalaman sepenuhnya (Image by SoraNews24)

Gerbang tiket yang dijual adalah dua unit dari seri Omron PG-R, masing-masing dilengkapi panel untuk menerima tiket fisik maupun pembayaran non-tunai. Karena kedua unit tersebut dirancang bekerja sebagai satu lorong dua arah, pembeli disarankan mengambil satu set lengkap untuk menciptakan kembali pengalaman layaknya pintu masuk stasiun sungguhan. Mengingat tingkat kompleksitasnya, harga yang ditetapkan pun tidak main-main: 200.000 yen (sekitar US$1.335) per unit, atau 400.000 yen untuk satu set. Untuk mempermudah pembeli, Sotetsu bahkan menambahkan roda kecil di bagian bawah setiap unit agar gerbang ini bisa dipindahkan di dalam rumah atau lokasi lainnya tanpa terlalu merepotkan.

image

Meski harga yang ditawarkan cukup tinggi tetapi permintaan justru melebihi persediaan (Image by SoraNews24)

Meskipun harganya tergolong tinggi dan ukurannya tidak kecil, penawaran ini justru mendapat sambutan luar biasa dari publik. Dalam periode pendaftaran 14–24 November, Sotetsu menerima setidaknya tujuh permohonan pembelian, jumlah yang melebihi ketersediaan gerbang yang dilepas pada batch kali ini. Karena peminat lebih banyak daripada unit yang tersedia, perusahaan pun memutuskan memilih pembeli melalui undian acak. Fenomena ini menunjukkan betapa besarnya dedikasi para penggemar kereta di Jepang bahkan untuk barang yang tidak lazim ditempatkan di rumah. Sayangnya, banyak penggemar baru mengetahui kabar ini ketika pendaftaran sudah ditutup. Namun, peluang serupa kemungkinan besar akan terbuka lagi. Sotetsu telah merencanakan renovasi besar-besaran terhadap gerbang tiket mereka hingga setidaknya musim semi tahun 2027. Artinya, lebih banyak unit gerbang tiket otomatis kemungkinan akan dinonaktifkan dan dilepas untuk dijual. Bagi para kolektor dan penggemar kereta api, ini bisa menjadi kesempatan langka untuk memiliki bagian asli dari infrastruktur perkeretaapian Jepang dan sekaligus menambah warna pada hobi mereka.

Jepang Perketat Status Warga Asing

image

Ilustrasi meningkatnya penduduk asing di Jepang (Image by Google)

Pemerintah Jepang sedang mempertimbangkan langkah-langkah baru untuk memperketat pemeriksaan terhadap warga negara asing yang ingin memperoleh kewarganegaraan Jepang. Menurut sumber yang dekat dengan isu tersebut, pemerintah meninjau kemungkinan memperpanjang persyaratan masa tinggal minimum yang saat ini ditetapkan selama lima tahun. Upaya ini merupakan bagian dari evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan terkait warga asing, yang akan dirampungkan sebelum paket kebijakan komprehensif dirilis pada Januari.

image

Perdana Menteri Sanae Takaichi juga segera mengambil langkah tegas dalam menghadapi isu isu terkait (Image by Google)

Perdana Menteri Sanae Takaichi juga disebut sedang mengkaji tindakan yang lebih tegas terkait riwayat pemohon, termasuk kasus ketidakpatuhan seperti tidak membayar pajak atau premi asuransi sosial. Pemerintah ingin memastikan bahwa hanya pemohon yang telah memenuhi kewajiban publik secara konsisten yang dapat melanjutkan proses naturalisasi. Instruksi ini disampaikan Takaichi dalam sebuah rapat kabinet awal bulan ini, ketika ia meminta Menteri Kehakiman Hiroshi Hiraguchi untuk mempertimbangkan pengetatan aturan naturalisasi.

Pertimbangan pengetatan ini muncul setelah sebuah kelompok studi di bawah Kementerian Kehakiman menyampaikan temuan bahwa persyaratan naturalisasi dinilai lebih longgar dibanding syarat mendapatkan status penduduk tetap. Untuk memperoleh izin tinggal tetap, pemohon wajib tinggal di Jepang setidaknya selama sepuluh tahun dan harus menunjukkan kepatuhan penuh terhadap pembayaran pajak serta asuransi nasional. Perbandingan ini memunculkan kekhawatiran bahwa standar naturalisasi perlu diselaraskan dengan persyaratan izin tinggal tetap yang lebih ketat.

image

Pertimbangan kebijakan ini dimulai dari maraknya kasus overstay warga asing di Jepang (Image by Google)

Situasi ini juga dipengaruhi oleh meningkatnya sorotan publik terhadap berbagai isu terkait warga asing, termasuk kasus penyalahgunaan visa dan ketidakpatuhan pembayaran premi asuransi. Dalam pemilu Dewan Perwakilan Rakyat pada Juli lalu, sebuah partai populis dengan kampanye “Japanese First” mendapatkan dukungan yang signifikan, mencerminkan meningkatnya sentimen publik terhadap pengawasan imigrasi yang lebih ketat. Pemerintah pusat menyatakan komitmennya untuk membangun masyarakat yang aman, tertib, dan inklusif bagi warga negara Jepang maupun warga asing yang tinggal di negara tersebut.

image

Ilustrasi Penolakan Permohonan Naturalisasi oleh Imigrasi Jepang (Image by Google)

Berdasarkan Undang-Undang Kebangsaan Jepang, persyaratan dasar untuk naturalisasi mencakup tinggal minimal lima tahun, berperilaku baik, serta memiliki kemampuan finansial yang memadai. Namun, meski persyaratan minimum ini terpenuhi, persetujuan naturalisasi tetap berada di tangan otoritas imigrasi. Pada 2024, Kementerian Kehakiman mencatat 12.248 pengajuan naturalisasi; 8.863 permohonan disetujui dan 639 ditolak. Angka-angka ini menunjukkan bahwa pemerintah tetap selektif, dan kemungkinan besar akan memperketat standar lebih lanjut dalam waktu dekat.

Jepang Naikkan Tarif Visa Asing

image

Kebijakan ini diambil atas beberapa pertimbangan, termasuk peningkatan kualitas hidup penduduk asing dan program imigrasi lainnya (Image by Google)

Para pendukung rencana kenaikan biaya perpanjangan visa di Jepang menyatakan bahwa dana tambahan diperlukan untuk meningkatkan kualitas hidup penduduk asing serta memperkuat program identifikasi dan deportasi imigran ilegal. Kebijakan ini muncul bersamaan dengan indikasi terbaru bahwa pemerintah Jepang juga mempertimbangkan peningkatan signifikan pada pajak keberangkatan internasional. Akibatnya, baik wisatawan maupun penduduk asing diperkirakan akan menghadapi biaya yang lebih tinggi untuk dapat tinggal atau bepergian dari Jepang.

Saat ini, Badan Layanan Imigrasi Jepang mengenakan biaya 6.000 yen bagi warga negara asing yang memperpanjang atau mengubah status visa mereka, angka yang baru saja naik dari 4.000 yen pada April tahun ini. Namun, beberapa politisi Jepang dikabarkan ingin menaikkan biaya tersebut menjadi 30.000 hingga 40.000 yen, yang berarti peningkatan hingga lima kali lipat. Karena banyak penduduk asing hanya mengantongi visa satu tahun, mereka mungkin terpaksa membayar biaya besar ini secara rutin setiap tahun.

image

Namun kebijakan ini menuai pro dan kontra menyusul dampaknya juga bagi wisatawan lokal (Image by Google)

Kenaikan yang lebih drastis juga direncanakan untuk permohonan status penduduk tetap. Biaya yang saat ini ditetapkan sebesar 10.000 yen disebut-sebut akan melonjak menjadi 100.000 yen. Perlu ditekankan bahwa biaya ini berlaku hanya untuk pengajuan dan tidak menjamin persetujuan, sehingga pemohon berpotensi kehilangan uang dalam jumlah besar tanpa mendapatkan hasil yang diharapkan. Selain itu, karena visa berlaku per individu, keluarga ekspatriat akan menghadapi beban biaya yang jauh lebih besar.

Beberapa politisi mengklaim bahwa kenaikan biaya diperlukan untuk menyesuaikan diri dengan inflasi atau menyelaraskan harga dengan negara-negara Barat, seperti Jerman, Amerika Serikat, dan Inggris yang mengenakan biaya lebih tinggi. Namun, kritik menyebut alasan tersebut tidak masuk akal mengingat biaya operasional pemerintah tidak meningkat hingga 400 persen. Di sisi lain, para pendukung berpendapat bahwa dana tambahan akan digunakan untuk mempercepat proses administrasi, meningkatkan layanan pembelajaran bahasa Jepang, serta memperkuat sistem pengawasan imigrasi. Ironisnya, hampir empat juta penduduk asing legal di Jepang akan menanggung biaya untuk mengawasi sekitar 70.000 imigran ilegal—kelompok yang justru tidak membayar biaya visa sama sekali.

image

Di sisi lain, rencana kenaikan tarif ini belum dapat diberlakukan tanpa perubahan undang-undang (Image by Google)

Di tengah kontroversi ini, undang-undang imigrasi Jepang saat ini membatasi biaya perpanjangan visa dan permohonan izin tinggal permanen pada angka maksimal 10.000 yen. Artinya, rencana kenaikan drastis tersebut memerlukan amandemen undang-undang yang berlaku. Usulan perubahan diperkirakan akan diajukan secara resmi di Parlemen pada awal tahun fiskal berikutnya, sehingga perdebatan mengenai masa depan penduduk asing di Jepang kemungkinan akan terus berlanjut.

Tokyo Hidupkan Kembali Dapur Gaza

image

Tokyo hadirkan acara memasak Kuliner Gaza yang Menarik (Image by JapanToday)

Saat Gaza mulai bangkit pasca-gencatan senjata antara Israel dan Hamas, sebuah acara memasak di Tokyo menawarkan kesempatan langka bagi warga Jepang untuk terhubung dengan kehidupan masyarakat Gaza melalui makanan. Di Laboratorium Koto milik Orangepage Inc., para peserta memasak hidangan dari The Gaza Kitchen: A Palestinian Culinary Journey, buku masak yang baru diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang. Sesi terbaru yang digelar pada Oktober ini bertepatan dengan dua tahun invasi Israel ke Gaza, wilayah yang kini diperkirakan mengalami kerusakan lebih dari 80 persen bangunan.

image

Aki Komatsu, Ahli Masakan Arab sedang menyiapkan hidangan Gaza "Fogaiyya" (Image by JapanToday)

Ahli kuliner Arab, Aki Komatsu, memimpin sesi memasak tersebut dengan memperkenalkan hidangan tradisional Gaza. Karena beberapa bahan sulit didapat di Jepang, ia membuat penyesuaian kreatif, seperti mengganti lobak Swiss dengan komatsuna untuk memasak fogaiyya, semur khas Gaza. Sebagian peserta mengaku sempat merasa tidak nyaman menikmati makanan dari Gaza di tengah kondisi kekurangan pangan di wilayah itu, namun pemaparan para penerjemah buku membantu mereka memahami nilai budaya di balik setiap hidangan.

image

Hikaru Fujii, Dosen dari Universitas Tokyo memberikan tanggapan positif tentang acara tersebut (Image by JapanToday)

Hikaru Fujii, dosen Universitas Tokyo yang memimpin tim penerjemah, mengatakan bahwa proyek ini membuka matanya terhadap detail kehidupan sehari-hari di Gaza yang jarang diketahui publik. Bersama tiga mahasiswa pascasarjana, ia menerjemahkan buku karya Laila El-Haddad dan Maggie Schmitt tersebut sebagai upaya mendekatkan pembaca Jepang pada budaya kuliner Gaza dan kehidupan warganya sebelum kehancuran. Buku ini tidak hanya memuat resep, tetapi juga foto dan kisah masyarakat Gaza yang kini banyak berubah atau hilang.

Secara historis, Gaza merupakan pusat perdagangan yang mempertemukan Afrika dan Asia, sehingga warisan kulinernya kaya dan beragam. Profesor Mari Oka dari Universitas Waseda bahkan menyebut masakan Gaza sebagai “museum masakan Arab.” Orangepage menyatakan proyek ini sejalan dengan misi mereka memperkenalkan makanan rumahan dari berbagai belahan dunia, sekaligus menghidupkan kembali kenangan budaya yang terancam hilang.

Bagi banyak peserta, acara ini membuat konflik yang jauh terasa lebih dekat dan manusiawi. Mereka merasakan bagaimana makanan dapat menjadi jembatan pemahaman lintas budaya dan politik. The Gaza Kitchen, bagi sebagian orang, hanyalah buku resep; namun bagi lainnya, ia menjadi bentuk kesaksian hidup yang membantu memulihkan gambaran tentang Gaza sebagai tempat di mana keluarga—meski dalam kesulitan—pernah berkumpul, berbagi makanan, dan merayakan kebersamaan.

Jumlah Pengunjung Mancanegara ke Jepang Meningkat

image

Image by: google.com

Berdasarkan perkiraan Organisasi Pariwisata Nasional Jepang (JNTO), jumlah pengunjung mancanegara ke Jepang mencapai rekor tertinggi dengan jumlah hampir 3,9 juta kedatangan. Angka ini menunjukkan peningkatan 17,6% dibandingkan periode tahun lalu.
image

Image by: NHK World

Korea Selatan menjadi penyumbang terbesar dengan 867.200 pengunjung, naik 18,4 persen dari tahun sebelumnya. Cina menyusul dengan 715.700 pengunjung, meningkat 22,8 persen dibandingkan tahun lalu.

Jumlah wisatawan dari Taiwan juga meningkat signifikan sebesar 24,4 persen menjadi 595.900 orang, sementara dari Amerika Serikat naik 20,6 persen menjadi 335.700 orang. Sebaliknya, jumlah pengunjung dari Hong Kong turun tipis 1,4 persen menjadi 196.000 orang.

image

Image by: honichi.com

Secara total, Jepang telah menerima sekitar 35,5 juta wisatawan mancanegara dari Januari hingga Oktober. Peningkatan ini diyakini dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk pelemahan yen yang membuat biaya perjalanan ke Jepang menjadi lebih terjangkau.

Namun, situasi wisata dari Cina berpotensi berubah setelah pemerintah Cina pada Jumat (14/11/2025) meminta warganya menahan diri dari bepergian ke Jepang. Seruan tersebut disampaikan sebagai respons terhadap pernyataan Perdana Menteri Jepang Takaichi Sanae mengenai kemungkinan keadaan darurat Taiwan.

Sejak imbauan tersebut, sejumlah pembatalan tur dari Cina mulai dilaporkan. Pemerintah Jepang menyatakan akan terus memantau secara tenang perkembangan tindakan Cina terkait situasi ini.

Konser Langsung Ghibli Di Kereta

image

Gerbong Kelas Satu Chuo Rapid Line Hadirkan Pengalaman Mewah Bulan Ini (Image by Google)

Awal tahun ini, East Japan Railway Company (JR East) resmi menambahkan Gerbong Hijau (Green Car) ke Jalur Chuo Rapid Line di Tokyo. Meski tampil dengan warna perak bergaris oranye yang sama seperti gerbong reguler, Gerbong Hijau menawarkan pengalaman yang sangat berbeda. Sebagai kelas satu dalam sistem kereta Jepang, gerbong ini menyediakan kursi individual yang nyaman, lengkap dengan baki lipat dan kantong penyimpanan pribadi, memberikan kenyamanan yang jauh melampaui gerbong komuter standar yang umumnya menggunakan kursi bangku dan pegangan untuk penumpang berdiri.

image

Konser musisi profesional dengan sentuhan lagu Ghibli kini hadir di Green Car Chuo Rapid Line (Image by Google)

Bulan November ini, kenyamanan tersebut ditingkatkan menjadi pengalaman yang lebih mewah melalui pertunjukan musik langsung yang diadakan di sejumlah perjalanan Chuo Rapid Line. Pada hari Sabtu, Minggu, dan hari libur, penumpang Green Car tertentu dapat menikmati penampilan dari dua musisi profesional yang membawakan medley lagu menggunakan instrumen seperti seruling, biola, gitar akustik, klarinet, harpa, saksofon, mandolin, hingga viola. Repertoar lagu tidak terbatas pada musik klasik; beberapa pertunjukan bahkan menyertakan komposisi dari film-film Studio Ghibli, menjadikannya suguhan istimewa bagi pecinta musik dan anime.

image

Setiap akhir pekan, Gerbong 5 Chuo Rapid Line berubah menjadi panggung musik bergerak (Image by Google)

Pertunjukan berlangsung di area tempat duduk lantai satu Gerbong 5, di mana para musisi duduk berhadapan di tengah lorong. Pengaturan ini tetap menyediakan sekitar 30 kursi bagi penumpang yang ingin menikmati konser. Setiap akhir pekan, satu rangkaian kereta pulang-pergi akan menjadi panggung bergerak, dengan keberangkatan dari Stasiun Toyoda pukul 13.41 menuju Stasiun Tokyo, lalu kembali ke Toyoda dengan keberangkatan pukul 14.42.

image

Konser 40 menit di tengah rute Chuo Rapid ini bisa dinikmati dari Tachikawa–Shinjuku (Image by Google)

Konser musik berlangsung di segmen tengah perjalanan, yaitu antara Stasiun Tachikawa dan Shinjuku, dengan durasi sekitar 40 menit. Secara teori, penumpang bisa naik di salah satu stasiun tersebut hanya untuk menikmati konser. Namun, karena kursi Green Car bersifat non-reserved, penumpang tidak dapat memilih atau memesan tempat duduk jauh-jauh hari. Untuk menjamin mendapat tempat di lantai satu Gerbong 5, naik di Stasiun Toyoda atau Stasiun Tokyo menjadi pilihan paling aman. Inisiatif ini memperlihatkan bagaimana JR East terus berinovasi dalam meningkatkan pengalaman perjalanan kereta komuter di Tokyo. Dengan memadukan kenyamanan premium dan hiburan berkualitas, Green Car Chuo Rapid Line kini bukan sekadar moda transportasi, melainkan juga ruang sosial dan budaya bergerak yang menawarkan pengalaman unik di tengah hiruk-pikuk kota. Jika berkesempatan berada di Tokyo bulan ini, menikmati perjalanan dengan alunan musik Ghibli mungkin menjadi momen yang tak terlupakan.

Polemik Overwork Di Jepang

image

Gelar rapat staf pukul 3 pagi, PM Sanae Takaichi tuai kritik tajam (Image by Google)

Belum lama ini, Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi kembali menjadi sorotan publik setelah menggelar rapat staf pada pukul 03.00 dini hari sebagai bagian dari persiapan sidang parlemen. Langkah yang dianggap tidak lazim itu kembali memicu kritik terhadap budaya kerja berlebihan di Jepang. Negara yang telah lama bergulat dengan isu overwork ini bahkan memiliki istilah karoshi, yakni kematian akibat bekerja terlalu keras. Meski jadwal ekstrem itu menuai kecaman, Takaichi tetap menjalankannya sebagai bagian dari rutinitas pemerintahannya.

Dalam rapat komite legislatif pada Kamis (13/11/2025), Takaichi mengungkapkan bahwa dirinya hanya tidur dua hingga empat jam setiap malam. Ia mengakui pola tidur tersebut berdampak buruk pada kesehatan, bahkan dengan nada ringan menyebutkan bahwa kurang tidur membuat kondisi kulitnya memburuk. Pengakuan itu disampaikan ketika ia ditanya mengenai komitmen pemerintah dalam menekan jam kerja panjang yang telah lama menjadi masalah struktural di Jepang.

image

Kritik bermunculan mengingat Jepang terkenal dengan salah satu fenomena sosial "OverWork" nya (Image by Google)

Pemerintah Jepang memang telah berupaya mendorong reformasi kerja, namun tekanan terhadap pekerja tetap tinggi, terutama di sektor-sektor yang menuntut produktivitas ekstrem. Saat menjawab pertanyaan tentang rencana memperpanjang batas kerja lembur, Takaichi menjelaskan bahwa kondisi tiap pekerja dan perusahaan berbeda-beda. Ada masyarakat yang terpaksa mengambil dua pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup, sementara sebagian perusahaan masih menerapkan aturan lembur yang ketat. Ia menegaskan bahwa setiap kebijakan baru harus tetap menjaga aspek kesehatan dan keselamatan para pekerja.

Takaichi juga menyoroti pentingnya menciptakan lingkungan kerja yang memungkinkan masyarakat menyeimbangkan karier dengan kehidupan pribadi. Menurutnya, ideal bila para pekerja dapat membagi waktu antara pekerjaan, pengasuhan anak, serta menikmati waktu luang. Meskipun begitu, ia tetap menunjukkan dedikasi ekstrem terhadap jabatannya, sebuah sikap yang sudah terlihat sejak awal masa kepemimpinannya.

Takaichi resmi menjabat sebagai Perdana Menteri pada Oktober 2025 setelah terpilih sebagai Ketua Partai Demokrat Liberal (LDP). Saat itu, ia menyampaikan pernyataan tegas soal ketekunannya bekerja, menolak konsep “keseimbangan kerja dan hidup” untuk dirinya sendiri. Sejak menjabat, ia menjalani agenda padat, termasuk menghadiri berbagai pertemuan regional dan dialog bilateral dengan sejumlah pemimpin dunia seperti Presiden AS Donald Trump, Presiden China Xi Jinping, dan Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung. Pola kerja intens inilah yang kini memicu kembali perdebatan lama mengenai budaya kerja ekstrem di Jepang.

Pemerintah Kyoto Pangkas Bambu di Arashiyama

image

Image by: google.com

Pemerintah Kota Kyoto tengah menguji cara untuk mencegah wisatawan mengukir grafiti pada hutan bambu Chikurin no Komichi di Arashiyama dengan memangkas batang-batang yang berada dalam jangkauan. Pemangkasan dilakukan pada batang yang tercoret maupun yang masih utuh agar tidak dapat disentuh pengunjung.

Rencana ini disepakati dalam pertemuan antara pemerintah kota dan organisasi pelestarian Arashiyama pada 5 November. Keesokan harinya, staf pemerintah meninjau area di pintu masuk jalur tersebut dan memilih 22 batang bambu untuk dipangkas di area sepanjang 30 meter.

Pengerjaan pemangkasan akan dilakukan oleh perusahaan jasa becak lokal serta organisasi nonprofit Kyoto Hatsu Take Ryuiki Kankyo Net, yang fokus pada isu kehutanan terlantar. Keterlibatan pihak lokal ini diharapkan membantu menjaga kelestarian kawasan.

image

Image by: asahi.com

Dalam pertemuan itu, warga setempat menyampaikan pendapat, termasuk kekhawatiran bahwa membiarkan grafiti akan memicu pelaku peniru. Mereka meminta pemerintah memperkuat upaya edukasi etika berwisata. Ada pula saran untuk mengambil langkah hukum lebih tegas, seperti yang dilakukan Singapura.

image

Image by: google.com

Chikurin no Komichi dan area sekitarnya merupakan bagian dari “Zona Konservasi Khusus Ogurayama untuk Lanskap Bersejarah” yang dilindungi berdasarkan undang-undang pelestarian ibu kota kuno. Pemerintah menekankan pentingnya menjaga keindahan dan suasana khas Arashiyama.

Kasus grafiti meningkat pesat sejak musim semi. Investigasi pemerintah kota pada Oktober menemukan sekitar 350 batang bambu telah dicoret, sebagian besar menggunakan huruf Romawi, serta beberapa dalam bahasa Jepang, Mandarin, dan Hangul.

RI–Jepang Luncurkan Internet Murah

image

SURGE dan OREX SAI berkolaborasi menghadirkan Internet Rakyat (Image by Google)

OREX SAI akan menghadirkan sistem Open RAN FWA 1,4 GHz komersial pertama di dunia sebagai penyedia end-to-end utama berdasarkan perjanjian kerja sama dengan SURGE. Sistem tersebut mengintegrasikan teknologi Open RAN dan 5G Core (5GC) dari NEC Corporation, sehingga menghasilkan arsitektur jaringan yang scalable dan siap digunakan secara luas di seluruh Indonesia. Presiden Direktur SURGE, Yune Marketatmo, menyatakan bahwa kolaborasi ini menjadi pondasi pembangunan ekosistem 5G FWA berbasis teknologi inovatif.

Yune menegaskan bahwa tujuan utama kerja sama ini adalah menyediakan akses internet berkecepatan tinggi dan terjangkau untuk mewujudkan konektivitas menyeluruh. Melalui pemanfaatan infrastruktur berbasis Open RAN, SURGE berkomitmen menjembatani kesenjangan digital serta mendorong pertumbuhan ekonomi digital Indonesia. Ia menyebut kemitraan dengan OREX SAI sebagai langkah strategis untuk membawa transformasi digital ke tingkat berikutnya.

Secara paralel, WIFI melalui anak usahanya PT Telemedia Komunikasi Pratama telah menandatangani perjanjian dengan 26 distributor lokal. Langkah ini menjadi bagian dari strategi Go-To-Market awal yang menargetkan wilayah Region I, dengan tujuan mempercepat penyediaan layanan broadband terjangkau bagi rumah tangga yang belum dan kurang terlayani.

Kerja sama SURGE dan OREX SAI mulanya dimulai dari penandatanganan perjanjian komprehensif pada Maret 2025. Pada November 2025, keduanya memperkuat aliansi tersebut melalui kesepakatan ekspor teknologi infrastruktur senilai US$200 juta atau sekitar Rp3,34 triliun. Kesepakatan ini menandai komitmen jangka panjang kedua perusahaan dalam mendukung pengembangan infrastruktur digital nasional.

CEO OREX SAI, Hiroshi Kobayashi, menyampaikan bahwa pihaknya bersama SURGE telah mengembangkan solusi 5G FWA 1,4 GHz yang scalable dan siap diluncurkan secara komersial. Peluncuran inisiatif Open RAN FWA 1,4 GHz komersial pertama di dunia ini diharapkan mampu memperluas akses broadband di Indonesia. Mengingat tingkat penetrasi broadband masih rendah akibat biaya yang tinggi, SURGE akan menawarkan layanan 5G FWA dengan tarif flat sekitar Rp100.000 per bulan, kecepatan hingga 100 Mbps, tanpa batas kuota data, dan pemasangan gratis.