Wabi-Sabi: Filsafat Ketidaksempurnaan

Di era media sosial yang terkurasi sempurna, dengan deretan produk, layanan, dan orang baru yang tak ada habisnya, sulit untuk berhenti sejenak dan menghargai apa yang kita miliki. Bagaimana kita bisa merasa puas jika terus-menerus menginginkan sesuatu yang tampaknya tak terjangkau? Mungkin ideologi tradisional Jepang, "Wabi-Sabi", dapat memberikan pandangan baru. Konsep "Wabi-Sabi" mencakup banyak hal, mulai dari estetika hingga kuil, taman klasik, dan keramik. Namun, untuk saat ini, mari kita anggap "Wabi-Sabi" sebagai lensa yang dapat membantu kita lebih fokus dan menghargai kehidupan sehari-hari.

APA ITU WABI-SABI?

Woman repairing broken pottery at home. Kintsugi.

Image by iStock: BighCircle

Jika Anda pernah mendengar istilah "Wabi-Sabi", kemungkinan besar itu berkaitan dengan estetika Jepang. Salah satu contoh yang populer adalah "Kintsugi", seni memperbaiki tembikar yang retak dengan pernis berlapis emas. Teknik ini merayakan usia dan kerusakan, alih-alih menyembunyikan ketidaksempurnaan. Awalnya, "wabi" dan "sabi" adalah dua konsep yang terpisah, keduanya berasal dari cara menggambarkan kesepian hidup di alam terbuka. - 侘 (wabi): Istilah ini digunakan untuk mengekspresikan penghargaan terhadap keindahan dalam kesederhanaan yang elegan dan bersahaja. - 寂 (sabi): Dahulu, "sabi" menggambarkan pengaruh waktu terhadap kemerosotan, seperti pergantian musim atau halaman buku antik yang menua. Keindahan terletak pada ketidakkekalan dan penuaan. Bersama-sama, kedua konsep ini menciptakan pandangan yang lebih holistik tentang kehidupan yang sederhana namun tak kekal. Wabi-Sabi dalam Pandangan Arsitektur dan Filosofi Arsitek terkenal Jepang, Tadao Ando, menggambarkan "wabi-sabi" dalam bukunya The Wabi-Sabi House: The Japanese Art of Imperfect Beauty sebagai estetika sederhana yang semakin kuat dengan mengurangi hal-hal yang tidak penting. Leonard Koen, dalam bukunya Wabi-Sabi: untuk Seniman, Desainer, Penyair & Filsuf, menjelaskan bahwa "Wabi-Sabi" adalah keindahan dalam hal-hal yang tidak sempurna, tidak kekal, dan tidak lengkap—sebuah antitesis dari gagasan klasik Barat yang melihat keindahan sebagai sesuatu yang sempurna, abadi, dan monumental. Meskipun ada banyak interpretasi mengenai *wabi-sabi*, tidak ada catatan resmi tentang filosofi ini. Ajaran *wabi-sabi* diwariskan secara tidak langsung, dari guru ke murid, sehingga maknanya terus berkembang.

WABI-SABI DAN BUDDHISME

Japanese-style image

Image by iStock: Gyro

Jika kita menelusuri akar *wabi-sabi*, kita akan menemukan kaitannya dengan ajaran Buddha, terutama tentang "Tiga Tanda Keberadaan" (sanboin), yang mencakup: 1. Merangkul Ketidakkekalan: Penerimaan bahwa segala sesuatu berubah seiring berjalannya waktu, dan keindahannya muncul dari ketidakkekalan itu. Peringatan seperti festival bunga sakura (hanami) dan dedaunan musim gugur (koyo) di Jepang adalah contoh bagaimana ketidakkekalan dirayakan. 2. Menderita: Ketidakkekalan adalah bagian dari hidup kita yang terus berkembang. Meskipun sering menyakitkan, penderitaan dapat menuntun pada pertumbuhan dan pemahaman yang lebih dalam tentang kehidupan. 3. Ketidakhadiran Diri: Seperti segala sesuatu yang ada di sekitar kita, kita juga terus berubah. Menerima ketidakkekalan ini adalah bagian dari kesadaran diri yang lebih dalam.

MENERAPKAN WABI-SABI KE DALAM POLA PIKIR KESEHARIAN

Woman at Tofuku-ji Temple.

Image by iStock: AH86

Sama seperti kebangkitan "Ikigai" di masyarakat kontemporer, elemen-elemen "Wabi-Sabi" dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Banyak dari kita hidup dengan rasa kerinduan dan ketidakpuasan, terjebak dalam usaha mencapai kesempurnaan yang sulit dicapai. Media sosial sering kali membuat kita membandingkan diri dengan orang lain, mengalihkan perhatian dari hal-hal positif yang kita miliki. Di Rumah Dalam beberapa tahun terakhir, "Wabi-Sabi" telah menjadi sumber inspirasi bagi desain interior. Ini bukan tentang kesederhanaan yang dingin, tetapi tentang keseimbangan antara minimalisme dan penghargaan terhadap benda-benda yang ada. Alih-alih membeli barang-barang baru yang cepat rusak, "Wabi-Sabi" mengajak kita untuk berinvestasi pada barang yang bertahan lama dan berkembang seiring waktu—seperti meja tua yang diwariskan dari generasi ke generasi, dengan setiap goresan menambah cerita di dalamnya. Di Dapur Memasak bisa menjadi pengalaman meditatif yang penuh perhatian. Wabi-sabi mengajarkan kita untuk tidak mengutamakan kesempurnaan dalam penyajian, melainkan untuk menghargai cerita dan perhatian yang ada di balik setiap hidangan. Sederhana seperti menikmati apel yang segar atau ubi jalar panggang, kita diajak untuk menghargai makanan dalam kesederhanaannya. Di Tempat Kerja Tempat kerja sering kali dipenuhi dengan tekanan dan tenggat waktu. Alih-alih berusaha menyelesaikan banyak tugas sekaligus, coba terapkan prinsip "Wabi-Sabi" untuk fokus pada satu hal saja. Nikmati prosesnya, dan beri diri Anda waktu untuk beristirahat sejenak. Anda akan terkejut betapa produktifnya Anda saat memberi perhatian penuh pada pekerjaan yang ada. Di Dunia Kecantikan Dalam dunia kecantikan, *wabi-sabi* mengajak kita untuk menerima ketidaksempurnaan tubuh kita. Daripada stres memikirkan kerutan atau bekas luka, kita bisa menghargainya sebagai bagian dari cerita hidup kita. Keindahan tidak selalu terletak pada kesempurnaan, tetapi pada penerimaan terhadap diri sendiri yang terus berkembang. Kesimpulan "Wabi-Sabi" mengajarkan kita untuk menghargai apa yang kita miliki dan menerima ketidaksempurnaan sebagai bagian dari keindahan hidup. Ini adalah ajakan untuk hidup dengan lebih sadar, menghargai momen, dan menemukan kepuasan dalam kesederhanaan. Dalam dunia yang penuh dengan pesan tentang keinginan untuk lebih, "Wabi-Sabi" menawarkan jalan untuk berhenti sejenak, menghargai yang ada, dan menemukan keindahan dalam ketidakkekalan.


Onsen Rahasia Di Kyushu

Pulau Kyushu di Jepang sering kali diabaikan oleh banyak wisatawan mancanegara yang mengunjungi Jepang, padahal tempat ini layak untuk dimasukkan dalam rencana perjalanan Anda. Kyushu menyimpan banyak permata tersembunyi dan penemuan unik yang tidak akan Anda temukan di tempat lain. Salah satu destinasi menarik di Kyushu adalah Kota Hita, yang kaya akan sejarah dan budaya sehingga dijuluki "Kyoto Kecil Kyushu". Selama periode Edo (1603-1868), Hita berkembang sebagai pusat politik, ekonomi, dan budaya Kyushu dan dikenal sebagai "tenryo" (tanah di bawah kendali langsung Keshogunan). Saat ini, Hita juga menjadi tempat yang istimewa bagi penggemar anime *Attack on Titan*, karena kota ini merupakan kampung halaman Hajime Isayama, sang pencipta serial populer tersebut. 


Kotohira-Onsen-Yume-Sansui-Hita-City-Oita-Prefecture-secret-hot-spring-best-Japan-hotel-inn-ryokan-outdoor-rotenburo-hidden-accommodation-1

Image by SoraNews24

Hita terletak hanya sekitar satu jam perjalanan dengan mobil atau kereta api dari Bandara Fukuoka di Hakata, yang juga terkenal dengan atraksi seperti sushi raksasa di korsel bagasi. Selain itu, Hita juga terletak di jalur menuju destinasi wisata populer seperti Beppu dan Yufuin, menjadikannya tempat yang tepat untuk singgah dalam perjalanan Anda. Salah satu tempat yang wajib dikunjungi di Hita adalah Stasiun Hoshuyama di Jalur JR Kyushu Hitahikosan. Stasiun ini dikenal sebagai "Kenkyuu eki" atau "Stasiun Perbatasan Prefektur" karena peronnya membentang di perbatasan antara Prefektur Fukuoka dan Prefektur Oita. 

japan-travel-kyushu-oita_-63-e1730718704623

Image by SoraNews24

Tak jauh dari stasiun, Anda akan menemukan fasilitas onsen yang indah, hanya 10 menit berkendara dari pusat kota Hita. Onsen ini terletak di daerah selatan pusat kota yang terasa seperti tempat yang belum banyak dijelajahi. Anda bisa menemukannya dengan mengikuti papan petunjuk yang bertuliskan "Kotohira Onsen". Ini adalah penginapan sekaligus fasilitas onsen yang terbuka untuk penggunaan harian. Pengunjung dapat membayar biaya masuk di bilik penerimaan tamu bergaya retro. Biaya masuknya adalah 800 yen untuk orang dewasa (usia SMP ke atas) dan 400 yen untuk anak-anak (usia 4 hingga SD). Fasilitas ini juga menawarkan 16 "Pemandian Keluarga" yang dapat dipesan untuk penggunaan pribadi dengan tarif 2.000-2.500 yen per pemandian selama 60 menit. 

Kotohira-Onsen-Yume-Sansui-Hita-City-Oita-Prefecture-secret-hot-spring-best-Japan-hotel-inn-ryokan-outdoor-rotenburo-hidden-accommodation-3

Image by SoraNews24

Fasilitas onsen ini memiliki dua pemandian terbuka untuk pria, yaitu "Norari-yu" di sebelah kiri dan "Aun-no-yu" di sebelah kanan. Pengaturan ini memungkinkan pengunjung untuk berjalan dari satu pemandian ke pemandian lainnya, meskipun pria sering mengenakan handuk kecil untuk menutupi bagian depan tubuh mereka saat berpindah antar pemandian. Kedua pemandian terbuka ini menawarkan pemandangan alam yang luar biasa. Anda dapat menikmati keindahan Sungai Takase, yang mengalir di dekatnya, sambil merasakan air mata air yang lembut dan nyaman di kulit. *Aun-no-yu*, yang terletak lebih dekat ke sungai, menawarkan pengalaman yang lebih intens karena posisinya yang hampir setingkat dengan permukaan sungai, menciptakan suasana yang benar-benar menakjubkan. Masanuki membayangkan bahwa berendam di pemandian ini pada malam hari akan terasa sangat romantis, meskipun ia lebih memilih berkunjung pada siang hari. 

Kotohira-Onsen-Yume-Sansui-Hita-City-Oita-Prefecture-secret-hot-spring-best-Japan-hotel-inn-ryokan-outdoor-rotenburo-hidden-accommodation-7

Image by SoraNews24

Kotohira-Onsen-Yume-Sansui-Hita-City-Oita-Prefecture-secret-hot-spring-best-Japan-hotel-inn-ryokan-outdoor-rotenburo-hidden-accommodation-8

Image by SoraNews24

Fasilitas onsen ini memiliki dua pemandian terbuka untuk pria, yaitu "Norari-yu" di sebelah kiri dan "Aun-no-yu" di sebelah kanan. Pengaturan ini memungkinkan pengunjung untuk berjalan dari satu pemandian ke pemandian lainnya, meskipun pria sering mengenakan handuk kecil untuk menutupi bagian depan tubuh mereka saat berpindah antar pemandian. Kedua pemandian terbuka ini menawarkan pemandangan alam yang luar biasa. Anda dapat menikmati keindahan Sungai Takase, yang mengalir di dekatnya, sambil merasakan air mata air yang lembut dan nyaman di kulit. *Aun-no-yu*, yang terletak lebih dekat ke sungai, menawarkan pengalaman yang lebih intens karena posisinya yang hampir setingkat dengan permukaan sungai, menciptakan suasana yang benar-benar menakjubkan. Masanuki membayangkan bahwa berendam di pemandian ini pada malam hari akan terasa sangat romantis, meskipun ia lebih memilih berkunjung pada siang hari. Jika Anda memiliki lebih banyak waktu di Kyushu, sangat disarankan untuk menginap di penginapan yang terhubung dengan fasilitas onsen ini. Dengan begitu, Anda bisa menikmati pemandian sepenuhnya dan merasakan ketenangan sebelum melanjutkan perjalanan untuk mengeksplorasi lebih banyak permata tersembunyi yang ditawarkan oleh Oita.


Jepang Perketat Aturan Naik Sepeda

Pesepeda di Jepang yang menggunakan ponsel saat bersepeda kini menghadapi ancaman hukuman penjara hingga enam bulan, sesuai aturan lalu lintas baru yang mulai diberlakukan pada hari Jumat. Pelanggar undang-undang lalu lintas yang direvisi ini dapat dikenakan hukuman maksimal enam bulan penjara atau denda sebesar 100.000 yen (sekitar Rp10 juta).

Peningkatan jumlah kecelakaan yang melibatkan pesepeda mulai terlihat sejak tahun 2021. Hal ini diduga karena semakin banyak orang beralih ke sepeda sebagai alternatif transportasi umum selama pandemi, seperti dilaporkan media setempat. Kini, otoritas Jepang bergerak cepat untuk mengatur para pengguna sepeda.

Selain larangan penggunaan ponsel, aturan baru ini juga memperketat larangan bersepeda di bawah pengaruh alkohol. Pesepeda yang melanggar aturan ini dapat menghadapi hukuman hingga tiga tahun penjara atau denda maksimal 500.000 yen (sekitar Rp49 juta).

Beberapa jam setelah aturan baru tersebut berlaku, pihak berwenang di Osaka melaporkan lima kasus pelanggaran. Dua di antaranya adalah pria yang tertangkap bersepeda dalam keadaan mabuk. Salah satu pria tersebut bahkan terlibat kecelakaan dengan pesepeda lain, meskipun tidak ada yang mengalami luka.

Aturan baru ini juga menetapkan hukuman bagi pesepeda yang menyebabkan kecelakaan, dengan denda hingga 300.000 yen (sekitar Rp29 juta) atau hukuman penjara maksimal satu tahun.

Jumlah total kecelakaan lalu lintas di Jepang mungkin mengalami penurunan, tetapi kecelakaan sepeda justru meningkat. Pada tahun 2023, lebih dari 72.000 kecelakaan sepeda tercatat, menyumbang lebih dari 20% dari total kecelakaan lalu lintas di negara tersebut. Pada paruh pertama tahun 2024, terdapat satu kasus kematian dan 17 cedera serius akibat kecelakaan yang melibatkan pesepeda yang menggunakan ponsel—angka tertinggi sejak polisi mulai merekam statistik ini pada tahun 2007.

Aturan ini menjadi bagian dari serangkaian regulasi keselamatan yang bertujuan melindungi keselamatan pesepeda dan pejalan kaki. Tahun lalu, pemerintah mewajibkan semua pesepeda untuk mengenakan helm. Pada bulan Mei, parlemen Jepang mengesahkan undang-undang yang memungkinkan polisi memberikan denda untuk pelanggaran lalu lintas bagi pesepeda.

Aturan penggunaan ponsel saat bersepeda juga diberlakukan di beberapa negara lain. Di Belanda, pesepeda yang kedapatan menggunakan ponsel saat berkendara dikenakan denda yang cukup tinggi. Sementara di Inggris, meskipun tidak ada aturan spesifik, penggunaan ponsel saat bersepeda dianggap melanggar dan dapat dihukum dengan denda jika terbukti membahayakan pengguna jalan lain.


jepang perketat aturan naik sepeda

Jembatan Jogakura Dan Musim Gugur

Jembatan Jogakura di Prefektur Aomori adalah destinasi wisata populer yang dikenal karena dedaunan musim gugurnya yang memukau dan lingkungan alamnya yang asri. Jembatan lengkung dek terpanjang di Jepang ini membentang sepanjang 360 meter, dengan bentang lengkung 255 meter dan berdiri 122 meter di atas dasar lembah. Total biaya pembangunannya mencapai 87 miliar yen, dan jembatan ini dibuka pada tahun 1995, berfungsi sebagai penghubung penting antara wilayah Tsugaru dan Nanbu. Dari jembatan, pengunjung dapat menikmati pemandangan indah Pegunungan Hakkoda dan garis besar Gunung Iwaki di kejauhan. Jembatan Jogakura Ohashi terletak di Taman Nasional Towada-Hachimantai, yang meliputi sebagian Prefektur Aomori, Iwate, dan Akita. Di bawah jembatan mengalir Sungai Jogakura, dikelilingi oleh alam yang masih asli. Medan yang menantang, cuaca, dan air yang sangat asam menjaga keadaan alami kawasan ini tanpa campur tangan manusia. Selama musim gugur, pemandangan dari Jembatan Jogakura berubah menjadi panorama dedaunan merah dan kuning yang menakjubkan, dengan warna-warna dari pohon beech, oak, maple, dan birch putih mewarnai pegunungan antara pertengahan hingga akhir Oktober. Ini memberikan keindahan unik yang berbeda dari pemandangan daun musim gugur tradisional Jepang. Di depan jembatan terdapat trotoar yang mengarah ke Sukayu Onsen, yang menjadi tempat foto populer untuk jembatan dan dedaunan musim gugur. Pada bulan-bulan musim panas, jembatan ini menawarkan pengalaman yang sama memikat, dengan lingkungan hijau yang menciptakan suasana tenang dan menyegarkan. Tempat ini sangat cocok untuk pecinta alam dan fotografer. Di musim dingin, beberapa meter salju menutupi jurang di sekitarnya. Jangan lupa untuk mengunjungi Jigokunuma, kawah gunung berapi dengan air hangat dan bau belerang yang terlarang karena suhunya yang tinggi. Kawasan ini indah sepanjang tahun, terutama di musim gugur. Pengunjung juga dapat menjelajahi Pegunungan Hakkoda, dengan Kereta Gantung Hakkoda yang menawarkan perspektif lebih tinggi dari keindahan alam sekitarnya dari puncak Tamoyachidake. Ngarai Jogakura juga menyediakan tujuan menarik bagi mereka yang ingin membenamkan diri dalam keajaiban alam yang tak tersentuh. Sepanjang tahun, jembatan dan sekitarnya menawarkan kesempatan luar biasa untuk mengalami keindahan Aomori dalam semua kemegahan musimnya.


JOGAKURA

Image by PIXTA/Gaijinpot.com

Siswa SD dan SMP yang Tidak Bersekolah Capai 340.000

Kementerian Pendidikan Jepang melaporkan bahwa jumlah siswa sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) yang tidak bersekolah pada tahun ajaran lalu mencapai lebih dari 340 ribu, menandai peningkatan selama 11 tahun berturut-turut dan merupakan jumlah tertinggi yang pernah ada.

Peningkatan Jumlah Siswa yang Tidak Bersekolah: SD Meningkat 5 Kali Lipat, SMP 2,2 Kali Lipat

Menurut data, sebanyak 346.482 siswa SD dan SMP di seluruh Jepang absen selama lebih dari 30 hari berturut-turut tahun lalu. Jumlah ini meningkat sekitar 47 ribu atau 15% dibandingkan tahun sebelumnya. Dari jumlah tersebut, sebanyak 130.370 adalah siswa SD, naik 5 kali lipat dari 10 tahun yang lalu, sementara siswa SMP mencapai 216.112, meningkat 2,2 kali lipat. Selain itu, jumlah siswa SMA yang tidak bersekolah juga meningkat selama 3 tahun berturut-turut, mencapai 68.770 siswa.

Faktor Ketidakbersekolahan dan Kasus Bullying

Penyebab utama ketidakbersekolahan pada siswa adalah kurangnya motivasi untuk mengikuti kegiatan sekolah, yang mencakup 32,2% kasus, diikuti dengan kecemasan atau depresi sebesar 23,1%, dan masalah ritme kehidupan sebesar 23%. Di samping itu, jumlah kasus bullying yang tercatat juga mencapai rekor tertinggi, yaitu 732.568 kasus, meningkat lebih dari 50 ribu kasus dibandingkan tahun sebelumnya. Dari jumlah ini, 588.930 kasus terjadi di SD, 122.703 di SMP, 17.611 di SMA, dan 3.324 di sekolah khusus.

Terdapat pula peningkatan pada jumlah “insiden serius” yang disebabkan oleh bullying atau ketidakbersekolahan, dengan jumlah kasus yang diakui mencapai 1.306, tertinggi sepanjang masa. Sebanyak hampir 40% dari kasus ini tidak dikenali sebagai bullying oleh pihak sekolah hingga insiden tersebut diakui sebagai "insiden serius". Sementara itu, jumlah siswa yang melakukan bunuh diri mencapai 397 orang, angka tertinggi ketiga dalam sejarah.

Tanggapan Kementerian Pendidikan Jepang

Kementerian Pendidikan Jepang menanggapi meningkatnya jumlah siswa yang tidak bersekolah dengan menyatakan bahwa kesadaran orang tua terhadap kebutuhan pendidikan yang disesuaikan dengan kondisi anak semakin meningkat. Kementerian juga menekankan pentingnya memahami penyebab ketidakbersekolahan secara tepat untuk memberikan dukungan yang lebih terperinci. Mengenai bullying, kementerian meminta agar sekolah-sekolah lebih aktif dalam mendeteksi dan menanggapi kasus bullying secara dini untuk menghindari insiden serius.

Pandangan Ahli

Prof. Tomomi Takahashi, Kepala Pusat Penelitian Bullying dan Bimbingan Siswa di Universitas Pendidikan Joetsu, mengamati bahwa kesadaran masyarakat mulai berubah, di mana pandangan bahwa tidak masuk sekolah adalah hal yang “buruk” mulai ditinggalkan. Prof. Takahashi menjelaskan bahwa keberadaan sekolah alternatif, seperti sekolah informal atau “free school”, mulai diakui secara luas, memberikan pilihan bagi anak untuk belajar di lingkungan yang sesuai tanpa perlu merasakan tekanan.

Lebih lanjut, ia menyebut dampak dari pembelajaran daring yang marak saat pandemi COVID-19 sebagai salah satu faktor. “Saatnya kita memikirkan kembali peran sekolah,” ungkapnya.

Prof. Takahashi juga menekankan pentingnya dukungan finansial dan penyediaan tempat belajar alternatif bagi anak-anak yang tidak bersekolah. Menurutnya, kesenjangan ekonomi keluarga seharusnya tidak membatasi pilihan pendidikan bagi anak-anak. Ia menyarankan agar pemerintah memperluas program sekolah dengan kurikulum fleksibel serta memberikan dukungan finansial bagi siswa yang belajar di sekolah informal.


usia sekolah sd dan smp yang tidak sekolah capai rekor tertinggi
Penyebab tertinggi putus sekolah ada kasus bullying dan tidak ada motivasi belajar.

Suvenir Jepang : Marshmallow Akita Inu dan “Hachiko”

Merek gaya hidup asal Jepang, Felissimo, dikenal sebagai tempat untuk memenuhi kebutuhan barang-barang kucing yang lucu. Namun, kali ini, para anjing—khususnya marshmallow mini yang menghormati ras asli Jepang, Akita Inu—telah menarik perhatian kita. Akita Inu ditetapkan sebagai Monumen Alam Jepang. 

308820-productcuts-03-99999999-S

Image by Felissimo

Sub-merek Felissimo yang menggemaskan, You+More!, telah meluncurkan camilan baru bernama Too Cute to Eat Mini Akita Inu Marshmallow ala Jepang pada tanggal 17 Oktober. Camilan ini hadir dalam dua versi: satu menampilkan desain wajah Akita Inu secara umum dengan tiga pola bulu dan warna yang berbeda, sementara versi kedua mengusung desain wajah Hachiko, Akita Inu paling terkenal yang dikenal setia. Desain ini sangat mirip dengan Hachiko yang asli, termasuk telinga kirinya yang terlipat. Keduanya terbuat dari putih telur dan agar-agar, diisi dengan pasta coklat yang lezat. Anda bisa menikmatinya begitu saja atau menghias minuman hangat di dalamnya. 

308820-productcuts-06-99999999-S

Image by Felissimo

Versi kedua marshmallow dikemas dalam kotak cantik dengan ilustrasi Akita Inu, yang bisa disimpan sebagai kenang-kenangan. Felissimo juga menyarankan untuk menyajikan marshmallow Hachiko di atas makanan penutup tradisional Jepang, seperti anmitsu. Marshmallow ini dijual seharga 1.944 yen (sekitar US$12,77) per kotak. Felissimo telah bekerja sama dengan One for Akita Project untuk melindungi dan melestarikan ras Akita Inu, yang jumlahnya menurun lebih dari 8 persen dari puncaknya di Jepang. Marshmallow Akita Inu dan Hachiko dapat ditemukan di Stasiun JR Akita dan Bandara Akita, yang merupakan tempat kelahiran ras ini. Namun, marshmallow Hachiko juga tersedia di Tokyo, khususnya di Shibuya Scramble Square, dekat dengan patung Hachiko yang terkenal, di toko Hachifull Shibuya. Toko ini menawarkan berbagai barang dagangan Hachiko dan marshmallow mini ini bisa menjadi suvenir yang sempurna dari perjalanan Anda ke Jepang. Perlu diperhatikan bahwa patung Hachiko di Shibuya akan ditutup dari pandangan umum menjelang Halloween tahun ini, jadi rencanakan kegiatan belanja dan berfoto Anda di area Shibuya dengan baik.


308820-productcuts-02-99999999-S

Image by Felissimo

308788-productcuts-02-99999999-S

Image by Felissimo

Simulasi “Nyeri Menstruasi” Tingkatkan Empati

Di kalangan bisnis Jepang yang didominasi laki-laki, perempuan sering kali kurang mendapat empati dari atasan dan kolega mengenai perlunya mengambil cuti menstruasi. Namun, survei terkini oleh Kantor Kabinet menunjukkan bahwa memberikan cuti semacam itu dapat meningkatkan kondisi tempat kerja bagi perempuan. Beberapa perusahaan mulai mengambil langkah perbaikan dengan mengadakan program pelatihan, di mana pekerja pria dapat "merasakan" nyeri haid dengan menggunakan bantalan elektroda yang ditempelkan di perut bagian bawah. Inisiatif ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih nyaman bagi wanita, sekaligus mengamankan sumber daya manusia. Melalui program ini, penyelenggara berharap dapat meningkatkan pemahaman dan simpati di tempat kerja dengan membiarkan para pria merasakan sensasi nyeri haid. Pada tanggal 7 Oktober, sekitar 20 karyawan, baik pria maupun wanita, berpartisipasi dalam pelatihan yang diadakan di Kantor Pusat Global Nissan Motor Co. di Yokohama. Para peserta menempelkan bantalan elektroda dan menggunakan perangkat realitas virtual bernama "Perionoid," yang mereproduksi tiga tingkat rasa sakit: lemah, sedang, dan kuat. Tingkat yang kuat dikatakan mirip dengan rasa sakit yang dialami oleh 80 persen wanita saat menstruasi. Saat tombol "kuat" dinyalakan, peserta pria mengungkapkan ketidakmampuan mereka untuk bekerja dengan rasa sakit yang terus-menerus. Seorang karyawan laki-laki berusia 30 tahun berpartisipasi karena ingin memahami pengalaman istrinya yang menderita kram menstruasi. "Saya benar-benar bisa memahami rasa sakitnya," ujarnya. "Saya ingin membayangkan rasa sakit orang lain dan memperlakukan mereka dengan penuh kasih sayang." Pada tanggal 16 Oktober, Panasonic Connect Co. mengadakan acara pelatihan serupa dengan sekitar 50 karyawan berpartisipasi. CEO perusahaan, Yasuyuki Higuchi, yang juga merasakan penderitaan tersebut, menyatakan pentingnya memahami perasaan perempuan, yang jumlahnya masih minoritas di banyak perusahaan. Meskipun karyawan di perusahaan tersebut diizinkan mengambil cuti karena kram menstruasi, Higuchi menekankan pentingnya menciptakan budaya kerja yang memudahkan pengambilan cuti. Menurut Linkage, perusahaan berbasis di Tokyo yang menyediakan program pelatihan, dalam setahun terakhir, sesi pelatihan menggunakan Perionoid telah dilakukan di lebih dari 100 perusahaan, tanpa memandang jenis industri atau ukuran, termasuk di tempat kerja yang didominasi laki-laki. Survei yang dilakukan oleh Kantor Kabinet pada tahun fiskal 2023 tentang kesadaran kesehatan pria dan wanita menanyakan kepada 20.000 responden, “Pertimbangan seperti apa terhadap masalah kesehatan khusus wanita yang akan memudahkan Anda bekerja?” Di antara responden perempuan berusia 20 hingga 39 tahun, 28 persen menyatakan bahwa menciptakan lingkungan yang memudahkan pengambilan cuti menstruasi adalah faktor penting.


Screenshot 2024-10-30 084918

Image by Akihiro Nishiyama

Pecahkan Rekor, Gunung Fuji Tak Bersalju

Gunung Fuji tetap bebas salju hingga hari Senin, menandai tanggal terakhir lerengnya yang megah gundul sejak pencatatan dimulai 130 tahun lalu, menurut badan cuaca. Lapisan salju gunung berapi tersebut biasanya mulai terbentuk rata-rata pada tanggal 2 Oktober; tahun lalu, salju pertama kali terdeteksi pada tanggal 5 Oktober. Namun, tahun ini, cuaca hangat menyebabkan belum ada hujan salju yang teramati di gunung tertinggi di Jepang, kata Yutaka Katsuta, seorang peramal cuaca di Kantor Meteorologi Lokal Kofu. Ini menjadi tanggal terakhir sejak data perbandingan tersedia pada tahun 1894, memecahkan rekor sebelumnya pada tanggal 26 Oktober yang tercatat dua kali, yaitu pada tahun 1955 dan 2016. Katsuta menjelaskan bahwa "suhu tinggi musim panas ini, dan suhu tinggi yang berlanjut hingga September, menghalangi udara dingin" yang biasanya membawa salju. Ia juga mencatat bahwa perubahan iklim mungkin berdampak pada keterlambatan pembentukan lapisan salju. Musim panas di Jepang tahun ini merupakan yang terpanas yang pernah tercatat, menyamai level yang terlihat pada tahun 2023, akibat gelombang panas ekstrem yang dipicu oleh perubahan iklim yang melanda banyak bagian dunia. Gunung Fuji, yang tertutup salju hampir sepanjang tahun, menjadi tujuan lebih dari 220.000 pengunjung selama musim pendakian Juli-September. Banyak yang mendaki pada malam hari untuk menyaksikan matahari terbit dari puncak setinggi 3.776 meter. Namun, jumlah pendaki tahun ini menurun setelah pemerintah Jepang memberlakukan biaya masuk dan pembatasan jumlah pendaki harian untuk mengatasi kelebihan turis. Gunung simetris ini telah diabadikan dalam banyak karya seni, termasuk "Great Wave" karya Hokusai, dan terakhir kali meletus sekitar 300 tahun lalu.


6669abf227f13

Image by Ohayo Jepang

Desain Itasha Spesial 30 Tahun Aquaplus

Bulan ini, pengembang video game Aquaplus merayakan ulang tahun ke-30 mereka, sebuah tonggak yang mengesankan dalam industri game yang kompetitif, terutama bagi perusahaan yang mengkhususkan diri dalam novel visual. Aquaplus terkenal dengan waralaba seperti *To Heart*, *Utawarerumono*, *Tears to Tiara*, dan *White Album*. Untuk merayakan momen spesial ini, mereka menghadirkan tiga desain itasha, kendaraan yang dihiasi dengan ilustrasi karakter Aquaplus. Desain-desain ini dihasilkan melalui kolaborasi dengan Jio Create, sebuah perusahaan pembungkus dan kustomisasi mobil di Prefektur Saitama. Jio Create tidak hanya menempelkan stiker kecil, melainkan mengubah setiap bagian permukaan mobil menjadi kanvas seni, termasuk jendela belakang yang tetap menjaga visibilitas pengemudi. Tiga model yang dirilis mencakup GR Yaris, Suzuki Swift Sport, dan Toyota 86/BR-Z. Hanya satu mobil dari setiap desain yang akan diproduksi, dan pembeli akan ditentukan melalui sistem undian. Untuk model 86/BR-Z, pemenang dapat memilih salah satu dari kedua varian. Harga mulai dari 3 juta yen (sekitar US$20.000) untuk Suzuki Swift dan 4,5 juta yen untuk GR Yaris serta 86/BR-Z, dengan harga akhir tergantung pada opsi yang dipilih, seperti transmisi otomatis atau manual.


AP-3

Image by Soranews24

Jepang Usulkan Jadi Tuan Rumah Piala Dunia Wanita 2031

TOKYO - Jepang berambisi menjadi tuan rumah Piala Dunia Wanita 2031 untuk memacu perkembangan sepak bola wanita domestik dan mengejar ketertinggalan dari Eropa dan Amerika Utara. Tsuneyasu Miyamoto, presiden Asosiasi Sepak Bola Jepang, menekankan pentingnya meningkatkan nilai sepak bola wanita di Jepang, terutama setelah kesuksesan tim putri yang meraih gelar pada 2011. Meskipun demikian, perkembangan pesat sepak bola wanita di Eropa telah membuat Jepang tertinggal. Miyamoto berharap Piala Dunia 2031 dapat menjadi momentum untuk menghidupkan kembali minat publik terhadap sepak bola wanita. Miyamoto, yang pernah menjabat sebagai kapten tim putra Jepang saat menjadi tuan rumah Piala Dunia 2002, menghadapi tantangan untuk mendapatkan hak tuan rumah di tengah persaingan ketat dari tawaran bersama Amerika Serikat dan Meksiko, serta ketertarikan dari Inggris dan Cina. Ia mengakui bahwa liga WE wanita yang diluncurkan pada 2021 belum berhasil menarik penonton dan pendapatan yang signifikan, serta menyatakan keinginan untuk menambah jumlah pemain wanita di Jepang. Tim putri Jepang belum melampaui perempat final Piala Dunia sejak kalah dari AS di final 2015, dan Miyamoto bertekad untuk membangun budaya sepak bola yang lebih kuat di negara tersebut. Miyamoto menyoroti pentingnya mengembangkan bakat lokal meskipun banyak pemain Jepang kini berkarier di Eropa. Ia mengakui bahwa biaya transfer pemain Jepang masih rendah dibandingkan dengan pemain dari wilayah lain, yang menjadi tantangan bagi klub J.League. Dengan latar belakang sebagai mantan pemain dan pelatih, Miyamoto berambisi membawa perspektif baru dalam sepak bola Jepang, berharap generasi baru dapat memberikan kontribusi yang berarti bagi perkembangan olahraga ini.


FSDFASDF

Image by AFP