Blog

Tokyo Terapkan Empat Hari Kerja untuk Tingkatkan Kelahiran

1232025852_c40897e68e_b

Image by Titipjepang.com

Kebijakan empat hari kerja yang mulai diterapkan di Tokyo pada April mendatang merupakan upaya penting untuk mendukung keluarga dan mengurangi beban kerja orang tua di Jepang. Pemerintah Metropolitan Tokyo berencana memberlakukan sistem kerja empat hari seminggu bagi lebih dari 160.000 pegawai negeri, memberikan tiga hari libur setiap minggu. Kebijakan ini diharapkan dapat membantu mengatasi masalah penurunan angka kelahiran di Jepang yang semakin mengkhawatirkan. Gubernur Tokyo, Yuriko Koike, menekankan bahwa tujuan utama dari kebijakan ini adalah menciptakan lingkungan kerja yang fleksibel, sehingga perempuan tidak perlu memilih antara karier dan kehidupan keluarga.

Koike juga menyatakan, “Kami akan terus meninjau gaya kerja untuk memastikan bahwa perempuan tidak harus mengorbankan karier mereka karena peristiwa kehidupan seperti melahirkan atau mengasuh anak.” Melalui kebijakan ini, diharapkan perempuan dapat tetap berkarier sambil merawat keluarga, tanpa harus menghadapi beban yang berlebihan. Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya untuk menciptakan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, yang sangat dibutuhkan dalam masyarakat Jepang yang semakin terdesak oleh masalah demografi.

Selain memperkenalkan minggu kerja yang lebih pendek, pemerintah Tokyo juga memberikan opsi bagi pegawai negeri yang memiliki anak di kelas satu hingga tiga sekolah dasar untuk mempersingkat jam kerja mereka hingga dua jam per hari. Meskipun pengurangan jam kerja ini dapat mempengaruhi gaji mereka, kebijakan tersebut memberi kesempatan bagi orang tua untuk lebih banyak menghabiskan waktu dengan keluarga tanpa harus meninggalkan pekerjaan sepenuhnya. Dengan cara ini, orang tua, terutama ibu bekerja, dapat merasakan manfaat yang lebih besar dalam hal waktu bersama anak-anak mereka, yang diharapkan dapat mengurangi tekanan dalam mengasuh anak.

catat-angka-kelahiran-terendah-sepanjang-masa-jepang-terancam-hilang-FnFK5sJJfv

Image by Titipjepang.com

Jepang menghadapi krisis demografis yang semakin mendalam, dengan tingkat kesuburan yang terus menurun. Pada 2023, angka kesuburan Jepang tercatat hanya 1,2, jauh di bawah tingkat penggantian populasi global yang seharusnya 2,1. Selain itu, jumlah kelahiran pun terus menurun, dengan hanya 758.631 bayi yang lahir pada tahun lalu, mencatatkan penurunan selama delapan tahun berturut-turut. Hal ini membuat para pemimpin Jepang, termasuk mantan Perdana Menteri Fumio Kishida, menganggap krisis ini sebagai masalah terbesar yang dihadapi negara tersebut.

Untuk mengatasi masalah tersebut, pemerintah Jepang telah mengalokasikan dana besar untuk berbagai program yang mendukung keluarga, seperti memperluas layanan penitipan anak, mempromosikan pembekuan sel telur, dan bahkan mengembangkan aplikasi kencan untuk mencocokkan pasangan berdasarkan pendapatan dan keinginan untuk menikah. Meskipun demikian, kebijakan-kebijakan tersebut belum cukup untuk membalikkan tren penurunan angka kelahiran secara signifikan, sehingga langkah-langkah lebih besar, seperti kebijakan empat hari kerja ini, mulai diperkenalkan untuk memberikan dorongan tambahan.

Di kawasan Asia Timur, Jepang bukanlah satu-satunya negara yang menghadapi krisis angka kelahiran yang rendah. Negara tetangga Korea Selatan juga telah menawarkan berbagai insentif finansial kepada pasangan baru dan bahkan memberikan subsidi untuk membalikkan vasektomi. Program-program ini merupakan bagian dari upaya yang lebih luas untuk menstabilkan angka kelahiran di kawasan ini. Kebijakan empat hari kerja yang diterapkan di Tokyo menjadi salah satu langkah paling ambisius yang diambil untuk mendukung keluarga. Dengan memberikan lebih banyak waktu untuk keluarga, diharapkan langkah ini dapat meringankan beban orang tua dan menciptakan lingkungan yang lebih kondusif bagi keluarga muda untuk memiliki lebih banyak anak. Apakah kebijakan ini cukup untuk membalikkan tren penurunan angka kelahiran Jepang? Hanya waktu yang akan menjawab, namun kebijakan ini jelas merupakan langkah signifikan menuju keseimbangan yang lebih baik antara kehidupan kerja dan keluarga.


Wayang Desa Timun: Hiburan Anak Jepang dari Indonesia

content_CgUyxa52TdkE5NtdnmEcqFpphxj9LL4IS2nRFZAM

Image by NHK

Tokyo Kembali Suguhkan Kejutan Budaya di Festival Film Internasional KINEKO dengan Aniwayang Desa Timun dari Indonesia. Kisah Cila, Cili, dan Cilo dalam Aniwayang Desa Timun yang Membawa Seni Wayang Indonesia ke Hati Anak-anak Jepang. 

Festival Film Internasional KINEKO di Tokyo kembali menyuguhkan pengalaman budaya yang menarik bagi anak-anak Jepang. Pada edisi tahun ini, salah satu bintang utama yang tampil mencuri perhatian adalah "Aniwayang Desa Timun", sebuah animasi unik asal Indonesia. Mengusung cerita petualangan yang penuh keceriaan, film ini berhasil memukau penonton muda Jepang dengan menyajikan kisah yang kaya akan nilai-nilai persahabatan dan keindahan budaya Indonesia, khususnya yang berasal dari desa-desa tradisional.

Aniwayang Desa Timun bukanlah animasi biasa. Film ini merupakan karya inovatif yang menggabungkan seni tradisional wayang kulit Indonesia dengan teknologi animasi modern. Diproduksi oleh Daud Nugraha, animasi ini menjadi yang pertama di Indonesia yang memanfaatkan teknik wayang kulit dalam bentuk animasi digital. Dengan sentuhan kreatif ini, karakter-karakter seperti Cila, Cili, dan Cilo, tiga anak yang energik dan penuh rasa ingin tahu, membawa penonton berkeliling desa sambil belajar tentang nilai-nilai persahabatan, keberanian, dan kehidupan sederhana yang penuh kebahagiaan.

Yang membuat Aniwayang Desa Timun semakin menarik adalah pendekatan multikultural yang dihadirkan dalam festival tersebut. Selama penayangan film di KINEKO, film ini menggunakan sulih suara (dubbing) langsung oleh seiyuu Jepang, memungkinkan penonton muda Jepang untuk merasakan kedekatan emosional dengan cerita yang disampaikan. Dengan dialog yang disesuaikan dan nuansa lokal yang dihadirkan, anak-anak Jepang dapat lebih mudah mengidentifikasi diri dengan karakter-karakter dalam cerita, meskipun berasal dari budaya yang berbeda.

content_EZKnP1ouekQRAI4gblrBKJAmGCYBT1IQTmvynGgp

Image by NHK

Keunikan film ini tidak hanya terletak pada teknik pembuatan animasi yang menggabungkan tradisi dan teknologi, tetapi juga pada pesan budaya yang dibawanya. Wayang kulit sendiri adalah seni pertunjukan yang sudah berusia ratusan tahun, dan meskipun pada umumnya dipandang sebagai warisan budaya yang lebih tua, Aniwayang Desa Timun menunjukkan bahwa seni tradisional dapat terus berkembang dan tetap relevan dengan zaman. Penyajian yang segar dan inovatif ini berhasil menarik minat anak-anak Jepang, menunjukkan bahwa budaya Indonesia, meskipun asing, tetap bisa diterima dengan antusiasme tinggi di negara yang sangat berbeda budaya.

Respon positif dari penonton KINEKO semakin menguatkan keyakinan bahwa seni tradisional bisa menembus batas-batas budaya dan zaman. Banyak penonton muda Jepang yang mengungkapkan betapa mereka menikmati film ini, baik dari segi cerita yang menarik maupun dari nilai-nilai moral yang disampaikan. Film ini tidak hanya menghibur, tetapi juga memperkenalkan mereka pada dunia yang berbeda, di mana mereka bisa belajar tentang cara hidup dan nilai-nilai masyarakat Indonesia melalui media yang mereka sukai, yaitu animasi.

content_H4SuzSk7Yo0nKoEaf8pNmqe0TclRZkNBqyvQSpcr

Image by NHK

Festival KINEKO, yang memang bertujuan untuk memperkenalkan karya-karya internasional kepada generasi muda, kembali menunjukkan relevansi seni dan budaya dalam konteks global. Aniwayang Desa Timun adalah contoh bagaimana film dan animasi dapat menjadi jembatan lintas budaya, menghubungkan anak-anak Jepang dengan tradisi Indonesia dengan cara yang menyenangkan dan edukatif. Ini adalah langkah besar dalam memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia ke dunia, terutama kepada generasi muda, yang kelak akan menjadi penjaga warisan budaya global yang lebih inklusif dan beragam.


Fasilitas Tidur Siang Di SD Jepang

202308150751-main.cropped_1692060697

Image by SoraNews24.com

Mendapatkan tidur yang cukup sangat penting untuk kesehatan yang baik, namun para komentator merasa ragu bahwa penggunaan "tempat tidur berdiri" di sekolah dasar Jepang adalah cara terbaik untuk mencapainya. Tidur siang di prasekolah merupakan hal yang biasa, tetapi hal itu menghilang begitu anak-anak memasuki sekolah dasar. Oleh karena itu, ketika sebuah sekolah dasar di Jepang menyediakan tempat bagi anak-anak untuk tidur siang, ini tampak sebagai perhatian yang baik terhadap kesejahteraan siswa. Namun, konsep tempat tidur ini yang disebut "tachine", atau "tempat tidur berdiri" justru menimbulkan keraguan.

Desain tempat tidur ini, yang pertama kali diperkenalkan oleh Koyoju Plywood Corporation, tampaknya cukup aneh. Tempat tidur ini lebih mirip sebuah kotak berdiri, dengan kompartemen kecil yang cukup untuk satu orang duduk bersandar pada bantalan di kepala, punggung, dan tulang kering mereka. Posisi ini dimaksudkan agar orang tetap tegak meskipun tertidur tanpa sadar. Konsep tempat tidur ini, yang awalnya dibuat untuk pekerja kantor yang membutuhkan tempat tidur siang, kini dipakai di sekolah dasar sebagai bagian dari kurikulum kesehatan yang baru diterapkan, yang berfokus pada pentingnya tidur yang cukup.

Namun, meskipun niatnya baik, banyak orang yang meragukan efektivitas dan kenyamanan dari tempat tidur berdiri ini. Beberapa orang merasa bahwa posisi tidur seperti itu bisa membahayakan kesehatan, terutama untuk anak-anak. Beberapa komentar daring menyebutkan bahwa tubuh manusia tidak dirancang untuk tidur dalam posisi tegak, dan ada kekhawatiran mengenai risiko kesehatan jangka panjang, seperti masalah tulang belakang. Selain itu, ada yang merasa takut terjebak dalam kompartemen kecil tersebut.

066729800_1691827829-hl

Image by SoraNews24.com

Selain itu, ada juga yang berpendapat bahwa daripada memaksa anak-anak untuk tidur dalam posisi tidak alami, seharusnya lebih fokus pada menciptakan masyarakat di mana tidur siang tidak lagi dianggap aneh, atau bahkan mengurangi beban kerja yang membuat anak-anak kelelahan. Beberapa orang berpendapat bahwa anak-anak seharusnya tidur di meja mereka jika merasa lelah, seperti yang banyak dilakukan siswa di sekolah-sekolah. Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya, masalah utama adalah menciptakan waktu tidur yang cukup bagi anak-anak di tengah jadwal sekolah yang padat.

Yoshito Nohara, direktur Koyoju, yang mendesain tempat tidur ini, menjelaskan bahwa tidur dengan posisi tegak dapat meningkatkan kecepatan pemulihan dan produktivitas. Ia berharap bahwa dengan mengenalkan tidur siang sebagai kebiasaan sejak dini, anak-anak akan tumbuh menjadi orang dewasa yang lebih menghargai tidur siang dan menjadikannya bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun, apakah tujuan ini tercapai masih menjadi tanda tanya, mengingat banyaknya kritik yang dilontarkan.

Keberadaan bilik tidur siang di sekolah, yang akan ada hingga Februari, setidaknya memberi anak-anak kesempatan untuk tidur lebih banyak daripada tidak adanya fasilitas sama sekali. Namun, masih belum jelas apakah tempat tidur ini akan tersedia secara teratur untuk siswa, atau hanya pada acara khusus terkait pelajaran kesehatan. Sementara itu, mungkin lebih penting untuk memastikan bahwa anak-anak mendapatkan cukup tidur secara keseluruhan, melalui penyesuaian kurikulum dan waktu tidur yang lebih baik, daripada sekadar menyediakan tempat tidur berdiri yang kontroversial ini.


Pemerintah Jepang akan Naikkan Gaji Perawat

Menteri Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang, Takamaro Fukuoka, menyatakan bahwa pemerintah akan mengambil langkah untuk meningkatkan gaji perawat sebagai upaya mengatasi kekurangan tenaga kerja yang signifikan.

Dalam wawancara terbaru, Fukuoka menyebutkan bahwa kekurangan staf di fasilitas perawatan merupakan masalah yang "sangat serius." Ia menyoroti rendahnya kenaikan gaji di sektor ini dan menyampaikan rencana untuk memasukkan kebijakan bantuan dalam paket ekonomi mendatang. Tujuannya adalah memastikan peningkatan upah agar fasilitas perawatan mampu menarik tenaga kerja yang memadai dan menjaga stabilitas layanan.

Mengenai reformasi sistem pensiun, Fukuoka mengungkapkan bahwa subkelompok Dewan Keamanan Sosial sedang membahas perluasan cakupan pekerja dalam program pensiun karyawan *kosei nenkin*, serta isu-isu lainnya. Diskusi ini akan terus dilanjutkan dengan berkonsultasi bersama Partai Demokrat Liberal dan mitra koalisinya, Komeito, untuk mencapai kesimpulan pada akhir tahun. "Peningkatan level pensiun dasar menjadi salah satu prioritas utama," ujarnya.

Dalam menangani kekurangan dokter di daerah pedesaan, Fukuoka mengatakan bahwa kementeriannya akan merancang langkah-langkah strategis yang disesuaikan dengan kondisi lokal, yang akan diumumkan bulan depan.

Fukuoka juga menekankan pentingnya pengembangan sistem dukungan berbasis komunitas untuk membantu lansia yang hidup sendiri. Kementerian saat ini sedang menyusun pedoman bagi perusahaan yang memberikan layanan dukungan seumur hidup kepada lansia, guna mendorong perkembangan bisnis tersebut secara sehat.


Musim Gugur Terpanas di Jepang

jepang-panas

Image by Barakata.id

Jepang mengalami musim gugur terpanas dalam sejarahnya, yang tercatat sejak pertama kali dilakukan pengukuran pada tahun 1898. Di tengah tingginya jumlah wisatawan yang datang untuk menikmati pemandangan dedaunan yang berubah warna menjadi merah dan kuning, suhu udara pada bulan September dan November lebih tinggi 1,97 derajat Celsius dibandingkan dengan rata-rata suhu musim gugur sebelumnya. Kejadian ini menjadi sorotan, mengingat dampak perubahan iklim yang semakin nyata di seluruh dunia, mengganggu pola cuaca musiman yang sudah berlangsung lama.

Gangguan musim gugur ini menyusul musim panas yang tercatat sebagai yang terpanas dalam sejarah Jepang. Pada musim panas, suhu rata-rata pada bulan Juli dan Agustus tercatat 1,76 derajat Celsius lebih tinggi dari rata-rata suhu musim panas antara tahun 1991 hingga 2020. Perubahan suhu yang ekstrem ini mengakibatkan penundaan salju di Gunung Fuji, yang biasanya mulai turun pada pertengahan Oktober. Namun, tahun ini, suhu yang lebih hangat menyebabkan salju baru turun lebih lambat, memperlihatkan dampak langsung dari krisis iklim global.

Gunung Fuji, yang merupakan ikon Jepang, biasanya sudah diselimuti salju pada pertengahan Oktober sebagai tanda dimulainya musim dingin. Namun, tahun ini, suhu hangat mempengaruhi penutupan salju di gunung tertinggi Jepang tersebut. Bahkan, pada 26 Oktober, Gunung Fuji tidak memiliki salju sama sekali, memecahkan rekor sebelumnya pada tanggal yang sama pada tahun 1955 dan 2016. Kejadian ini semakin memperjelas bagaimana perubahan cuaca yang tidak terduga akibat perubahan iklim dapat mempengaruhi fenomena alam yang sudah menjadi bagian dari tradisi Jepang.

Selain itu, peningkatan suhu di seluruh Jepang juga memengaruhi perubahan warna dedaunan musim gugur. Daerah seperti Tokyo, Nagoya, dan Sapporo mengalami suhu rata-rata yang lebih tinggi. Di Tokyo, suhu meningkat 2,4 derajat Celsius, sedangkan di Nagoya meningkat 2,9 derajat Celsius. Sapporo di bagian utara juga mengalami peningkatan suhu sekitar 1,2 derajat Celsius. Dampaknya, dedaunan tidak berubah warna secepat biasanya, mengganggu waktu yang ideal bagi wisatawan untuk menikmati pemandangan musim gugur di Jepang.

Perubahan ini berdampak pada sektor pariwisata, terutama di Kyoto, yang terkenal dengan hutan pohon maple yang memikat wisatawan. Perusahaan kereta api di Kyoto terpaksa mengubah jadwal operasional jalur kereta yang melewati hutan maple, mengingat warna dedaunan yang tidak berubah tepat waktu. Menurut Japan Meteorological Agency (JMA), waktu terbaik untuk menikmati dedaunan musim gugur di Tokyo tahun ini adalah sekitar tanggal 5 Desember, sementara di Osaka sekitar 9 Desember—keduanya lebih lambat dari waktu biasanya. Fenomena ini menggarisbawahi betapa besarnya pengaruh perubahan iklim terhadap ritme alam di Jepang.


WNI Tusuk Pasutri Jepang karena Judol

Seorang warga negara Indonesia (WNI) bernama Yogi Ageng Prayogo (24) ditangkap oleh polisi di Kota Kakegawa, Prefektur Shizuoka, Jepang. Ia diduga melakukan perampokan dan penusukan terhadap pasangan suami-istri lanjut usia (pasutri lansia) yang berusia 81 tahun dan 78 tahun. Kedua korban mengalami luka parah dan saat ini masih dirawat intensif di rumah sakit.

Menurut Kementerian Luar Negeri (Kemlu), penangkapan terjadi pada 27 November 2024. Direktur Jenderal Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia, Judha Nugraha, mengungkapkan bahwa Yogi adalah peserta magang di perusahaan bahan baku bangunan di Chihama dan telah tinggal di Jepang selama dua tahun.

"Motif pelaku melakukan perampokan ini adalah untuk memenuhi kebutuhan judi online (judol)" jelas Judha. Ia menambahkan bahwa pihak Kepolisian Kakegawa tengah melakukan investigasi mendalam, dan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tokyo akan memberikan pendampingan kekonsuleran untuk memastikan hak-hak hukum Yogi terpenuhi sesuai aturan setempat.

Sementara itu, anggota Komisi I DPR RI Sukamta turut angkat bicara terkait kasus ini. Ia menekankan pentingnya pendampingan hukum bagi Yogi, meskipun tindakan yang dilakukannya sangat disayangkan.

“Bantuan hukum adalah hak dasar yang harus diberikan kepada WNI yang tersangkut perkara di luar negeri. Pemerintah harus memastikan akses pendampingan hukum yang memadai bagi Yogi,” ujar Sukamta dalam keterangan resmi, Selasa (2/12/2024).

Namun, Sukamta menyoroti perlunya langkah preventif untuk mencegah kasus serupa di masa depan. Ia meminta pemerintah memperketat edukasi bagi WNI yang akan bekerja di luar negeri, terutama dalam pengelolaan keuangan dan nilai-nilai moral.

“Edukasi pra-keberangkatan menjadi sangat penting agar mereka tidak terjerumus dalam masalah yang merugikan diri sendiri dan mencoreng nama bangsa,” tegasnya.

Ia juga mendesak KBRI Tokyo untuk terus menjalin komunikasi dengan Kepolisian Kakegawa guna memperoleh informasi lengkap mengenai proses hukum serta kondisi para korban.

Kasus ini menjadi perhatian serius di tengah meningkatnya tantangan bagi WNI yang bekerja di luar negeri, terutama terkait risiko terjerumus dalam masalah hukum akibat tekanan ekonomi dan sosial.


Kartu Asuransi Kesehatan Digantikan oleh Kartu My Number

ilustrasi-my-number-card

Image by Pelitabaru.com

Pemerintah Jepang mengumumkan bahwa mulai hari Senin, kartu asuransi kesehatan tradisional tidak akan lagi diterbitkan. Sebagai gantinya, kartu asuransi kesehatan akan diintegrasikan dengan kartu My Number, yang telah digunakan untuk berbagai keperluan administratif di Jepang. Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya untuk menyederhanakan sistem administrasi negara, dengan menggabungkan berbagai data pribadi dalam satu kartu yang dapat digunakan untuk berbagai layanan publik. Dengan perubahan ini, warga negara Jepang diharapkan dapat mengakses layanan kesehatan secara lebih efisien melalui kartu My Number yang sudah terhubung dengan berbagai informasi pribadi.

Meskipun kartu asuransi kesehatan baru tidak akan diterbitkan lagi, mereka yang sudah memiliki kartu asuransi kesehatan yang masih berlaku dapat terus menggunakannya hingga 1 Desember 2025. Ini memberikan waktu transisi bagi mereka untuk mendaftar dan mengintegrasikan kartu My Number dengan informasi asuransi kesehatan mereka. Untuk menggunakan kartu My Number sebagai pengganti kartu asuransi kesehatan, masyarakat diharuskan mengikuti prosedur pendaftaran yang dapat dilakukan melalui beberapa cara. Pendaftaran ini dapat dilakukan secara daring di situs resmi pemerintah, melalui pembaca kartu di rumah sakit atau klinik, serta di ATM Seven Bank yang tersedia di berbagai toko swalayan.

Bagi mereka yang memiliki kartu My Number yang sudah kedaluwarsa, diperlukan pengajuan permohonan pembuatan kartu baru di kantor wilayah setempat. Kartu My Number yang baru akan terhubung langsung dengan data asuransi kesehatan, sehingga mempermudah proses verifikasi identitas dan akses ke layanan kesehatan. Proses pendaftaran ini bertujuan untuk memastikan bahwa data pribadi dan informasi kesehatan individu dapat dikelola dengan lebih baik dan lebih aman, serta meminimalisir kemungkinan kesalahan atau kebocoran informasi.

Kartu My Number yang terintegrasi ini memiliki sejumlah manfaat signifikan bagi sistem layanan kesehatan Jepang. Dengan kartu ini, institusi medis dapat mengakses data pasien secara langsung, termasuk informasi resep obat, catatan pemeriksaan kesehatan, dan data lainnya yang relevan. Hal ini memungkinkan mereka untuk memberikan pilihan perawatan yang lebih tepat sesuai dengan kondisi pasien. Proses verifikasi identitas juga lebih aman, di mana pasien dapat memverifikasi identitas mereka menggunakan kode empat digit atau melalui teknologi pengenalan wajah, yang memastikan bahwa layanan kesehatan yang diterima benar-benar sesuai dengan individu yang bersangkutan.

Namun, sistem ID My Number yang pertama kali diperkenalkan pada tahun 2016 tidak langsung diterima dengan baik oleh masyarakat Jepang. Pada awalnya, sistem ini menghadapi berbagai tantangan, termasuk kebocoran data pribadi dan kesalahan pendaftaran yang menyebabkan ketidakpercayaan di kalangan publik. Meskipun demikian, pemerintah Jepang terus berusaha untuk meningkatkan sistem ini, dan dengan adanya integrasi kartu My Number dengan asuransi kesehatan, diharapkan dapat memperbaiki efisiensi dan keamanan pengelolaan data pribadi di masa depan. Diharapkan, perubahan ini akan mempermudah akses masyarakat ke layanan kesehatan dan meningkatkan kualitas perawatan yang diberikan.


Pesona Hiroshima Yang Menawan

Landscape of Tomonoura (in Fukuyama City, Hiroshima Prefecture, Japan)

Image by JapanToday.com

Prefektur Hiroshima terletak di Jepang bagian barat, di antara Pegunungan Chugoku di utara dan Laut Pedalaman Seto di selatan. Meskipun geografinya membuat Hiroshima tampak seperti destinasi yang sulit dijangkau, kota ini mudah diakses melalui jaringan shinkansen (kereta peluru), yang memungkinkan perjalanan cepat dari Kyushu atau Kanto. Bandara Hiroshima juga melayani penerbangan domestik dengan frekuensi tinggi. Meskipun Hiroshima sering dikaitkan dengan kehancuran akibat bom atom, kota dan prefektur ini menawarkan lebih dari sekadar kenangan kelam masa perang. Dari kehidupan Edo di Takehara dengan arsitektur yang dipugar dengan cermat, hingga pabrik nihonshu (anggur beras Jepang) terkenal di Saijo, Hiroshima memiliki berbagai lanskap sejarah, budaya, dan kuliner yang menarik.

hiro02

Image by JapanToday.com

Sejarah dan Budaya Hiroshima memiliki sejarah yang kaya, dari periode Edo hingga abad ke-20, yang layak untuk dieksplorasi. "Taman Peringatan Perdamaian Hiroshima" Pada 6 Agustus 1945, Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di pusat perdagangan dan politik Hiroshima, menewaskan lebih dari 80.000 orang seketika. Hingga akhir tahun, lebih dari 140.000 orang tewas akibat ledakan tersebut. Sebagai penghormatan kepada korban, kota ini membangun Taman Peringatan Perdamaian yang mencakup berbagai monumen. Salah satunya adalah "Kubah Bom Atom", satu-satunya bangunan yang selamat dari pengeboman dan sekarang menjadi simbol kehancuran. Tugu Peringatan Korban Bom Atom memuat nama-nama korban, dan Museum Peringatan Perdamaian menyediakan wawasan lebih dalam tentang peristiwa tersebut. Kota Takehara Terletak di bagian selatan Prefektur Hiroshima, Takehara dikenal sebagai "Kyoto Kecil" berkat bangunan-bangunan yang terawat baik dari periode Edo dan Meiji. Jalan Honmachi-Dori yang sepanjang setengah kilometer dipenuhi dengan bangunan bersejarah, termasuk Kediaman Yoshii, yang dibangun pada akhir abad ke-17 oleh seorang pedagang ternama. Untuk mempelajari lebih lanjut tentang sejarah lokal, kunjungi Museum Sejarah dan Cerita Rakyat Kota Takehara. 

Takehara Townscape Conservation Area in dusk. The streets lined with old buildings from Edo, Meiji periods, a popular tourist attractions in Takehara city, Hiroshima Prefecture, Japan

Image by JapanToday.com

TEMPAT WISATA ALAM

HIRO09

Image by JapanToday.com

Itsukushima (Miyajima) Miyajima, yang terletak di Teluk Hiroshima, terkenal dengan "Kuil Itsukushima", yang sudah ada sejak abad ke-6 dan terkenal dengan gerbang torii besar yang tampak mengapung saat air pasang. Selain kuil, pulau ini menawarkan Taman Momijidani yang indah di musim gugur, Gunung Misen dengan pemandangan yang menakjubkan, serta lebih dari 1.000 rusa liar yang menghuni pulau. Okunoshima dikenal sebagai "Pulau Kelinci," Okunoshima terletak di Laut Pedalaman Seto, dan dapat dicapai melalui feri dari Tadanoumi. Pulau ini terkenal dengan populasi kelinci liar yang ramah. Namun, Okunoshima juga memiliki sejarah gelap sebagai tempat produksi senjata kimia pada Perang Dunia II. Museum Gas Racun memberikan wawasan lebih dalam tentang sejarah kelam pulau ini. 

hiro05

Image by JapanToday.com

KULINER LOKAL

hiro06

Image by JapanToday.com

Okonomiyaki ala Hiroshima, Okonomiyaki adalah hidangan khas yang populer di banyak bagian Jepang, namun di Hiroshima, cara pembuatannya sedikit berbeda. Di sini, bahan-bahannya disusun secara terpisah, dimulai dengan lapisan tepung, dan di atasnya ditambahkan bahan seperti daging, sayuran, dan mi yakisoba. Hiroshima memiliki sejumlah toko okonomiyaki per kapita tertinggi di Jepang, menjadikannya hidangan yang wajib dicoba.

hiro07

Image by JapanToday.com

Nihonshu (Sake) di Saijo, sebuah daerah di Hiroshima, dikenal sebagai salah satu ibu kota sake Jepang, dengan sejarah produksi nihonshu yang dimulai sejak abad ke-17. Saijo memiliki pabrik-pabrik sake yang terbuka untuk umum setiap bulan, memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk melihat proses pembuatan dan mencicipi sake lokal. Setiap bulan Oktober, festival nihonshu di Saijo menarik ribuan pengunjung. 

REKOMENDASI DESTINASI LAINNYA DI HIROSHIMA

hiro08

Image by JapanToday.com

1. Taman Nasional Lereng Bukit Bihoku: Menawarkan pemandangan bunga musim semi yang menakjubkan dan iluminasi liburan pada bulan November dan Desember.

2. Tiram Hiroshima: Prefektur ini menghasilkan sekitar 60-70% tiram Jepang, dan menjadi tempat yang sempurna untuk menikmati hidangan laut.

3. Shobara: Kota kecil di timur laut Hiroshima yang merupakan basis yang ideal untuk mendaki Pegunungan Chugoku, menawarkan liburan tenang jauh dari keramaian.


Pria Jepang ditangkap karena Mengubur Mayat Ibunya

Kasus unik terjadi di Jepang, di mana seorang pria berusia 71 tahun bernama Ryuichi Kurata ditangkap karena diduga "membuang" jenazah ibunya di sebuah pemakaman. Namun, sebenarnya ia tidak benar-benar membuat ibunya, melainkan menguburkan mayat ibunya yang meninggal. Hal ini memicu perdebatan tentang definisi sebenarnya dari "membuang" jenazah.

Kurata mengaku bahwa ia menguburkan jenazah ibunya di tanah yang ia sewa di pemakaman tersebut. Meskipun metode ini tidak umum, muncul pertanyaan apakah tindakannya dapat dianggap sebagai "pembuangan" jenazah mayat. Di Jepang, kremasi adalah cara yang paling lazim dilakukan, di mana abu jenazah biasanya disimpan di bawah nisan. Sebaliknya, menguburkan jenazah langsung di tanah bukanlah praktik yang biasa.

Kasus ini menimbulkan diskusi mengenai perbedaan antara "menguburkan" dan "membuang" jenazah. Apakah tindakan mengubur jenazah di tanah milik pribadi dapat dianggap melanggar hukum? Dalam kasus serupa sebelumnya, Mahkamah Agung Jepang memutuskan bahwa menyembunyikan jenazah tidak selalu berarti "membuang" jika ada niat memberikan penghormatan di kemudian hari.

Dalam kasus Kurata, pertanyaan utamanya adalah apakah tindakannya mencerminkan niat untuk menghormati ibunya. Mengingat jenazah dikubur di petak makam keluarga, ada kemungkinan tindakan ini dilakukan dengan tujuan penghormatan. Namun, keputusan akhir akan mempertimbangkan bukti dan interpretasi hukum yang berlaku.

Kasus ini menggarisbawahi kompleksitas hukum terkait penanganan jenazah di Jepang, serta pentingnya dukungan sosial bagi individu yang menghadapi kehilangan.


Mayoritas Rumah Tangga di Tokyo Lajang pada 2050

penduduk-jepang

Image by Google.com

Lebih dari 50% rumah tangga di ibu kota Jepang, Tokyo, diperkirakan akan dihuni oleh satu orang dalam waktu kurang dari 25 tahun. Perkiraan ini berdasarkan laporan terbaru dari National Institute of Population and Social Security Research (IPSS), yang dirilis pada 12 November lalu. Laporan tersebut mencakup proyeksi susunan rumah tangga di seluruh Jepang hingga tahun 2050, dengan rincian per prefektur.

Rasio rumah tangga yang dihuni oleh satu orang di wilayah metropolitan Tokyo diperkirakan akan mencapai 54,1% pada 2050, sementara 26 prefektur lainnya juga diprediksi akan mengalami peningkatan signifikan, dengan lebih dari 40% rumah tangga di prefektur-prefektur tersebut hanya dihuni oleh satu orang. Proyeksi ini mencerminkan perubahan demografi yang signifikan di Jepang, yang dipengaruhi oleh perpindahan kaum muda ke kota-kota besar, penuaan populasi, dan rendahnya angka pernikahan serta kelahiran.

Jumlah total rumah tangga di Jepang diperkirakan akan turun sebesar 5,6% pada tahun 2050, dari 55,71 juta rumah tangga pada tahun 2020 menjadi 52,61 juta rumah tangga. Penurunan terbesar diprediksi terjadi di 40 prefektur, dengan Akita mengalami penurunan rumah tangga sebesar 29,1%. Prefektur lainnya, seperti Aomori, Iwate, Yamagata, Nagasaki, Kochi, dan Tokushima, juga diperkirakan akan mengalami penurunan lebih dari 20%.

Di sisi lain, jumlah rumah tangga yang dihuni oleh satu orang akan terus meningkat. Pada tahun 2020, terdapat 21,15 juta rumah tangga satu orang, dan angka ini diperkirakan akan naik menjadi 23,30 juta pada tahun 2050. Peningkatan terbesar diperkirakan terjadi di Okinawa, Saitama, Shiga, dan Chiba, dengan rasio rumah tangga satu orang tumbuh lebih dari 20%. Secara nasional, rumah tangga yang dihuni satu orang diperkirakan akan mencakup 44,3% dari total rumah tangga pada tahun 2050, dengan Tokyo, Osaka, Kyoto, Fukuoka, Hokkaido, Kanagawa, dan Kagoshima mencatatkan angka lebih tinggi, mencapai 45%.

Selain itu, rata-rata jumlah anggota rumah tangga diprediksi akan turun di bawah dua orang pada sebagian besar prefektur pada tahun 2040. Pada tahun 2020, hanya Tokyo yang memiliki rata-rata keanggotaan rumah tangga serendah itu, tetapi pada 2040, 26 prefektur diperkirakan akan mencatatkan angka serupa, dan 34 prefektur akan mengalaminya pada 2050. Rata-rata terendah diperkirakan terjadi di Tokyo dan Hokkaido dengan 1,78 orang per rumah tangga, sementara yang tertinggi akan tercatat di Yamagata dengan 2,15 orang per rumah tangga.

Dengan menurunnya jumlah anggota rumah tangga, jumlah rumah tangga tunggal yang dihuni oleh individu berusia 65 tahun atau lebih juga diprediksi akan meningkat. Pada tahun 2020, terdapat 7,38 juta rumah tangga lansia, dan jumlah ini diperkirakan akan melonjak 46,9% menjadi 10,84 juta pada tahun 2050. Rumah tangga lansia ini akan menyumbang 20,6% dari total rumah tangga di Jepang pada 2050, dengan angka tertinggi di prefektur seperti Ehime (24,9%), Tokushima (25,3%), dan Kochi (27%).

Selain rumah tangga yang dihuni oleh lansia, jumlah rumah tangga dengan banyak anggota yang dipimpin oleh seorang lansia juga akan meningkat secara signifikan. Diperkirakan lebih dari 50% rumah tangga di 21 prefektur akan terdiri dari lansia pada pertengahan abad ini. Di luar Tokyo, lebih dari 40% rumah tangga di seluruh prefektur diprediksi akan dipimpin oleh lansia pada 2050. Proyeksi ini menandakan perubahan mendalam dalam struktur sosial Jepang, dengan meningkatnya jumlah rumah tangga tunggal dan rumah tangga yang dipimpin oleh lansia, akibat penuaan populasi yang terus berlanjut.