Krisis Beruang Picu Tren Kuliner

image

Image By: iStock visualspace

Lonjakan serangan beruang mematikan di Jepang mendorong fenomena tak biasa di dunia kuliner. Di Chichibu, Prefektur Saitama, restoran milik Koji Suzuki kewalahan memenuhi permintaan daging beruang panggang. Daging tersebut berasal dari beruang yang dibasmi untuk menekan ancaman terhadap warga. Tahun ini, serangan beruang telah menewaskan rekor 13 orang. Peningkatan kasus ini menjadikan beruang sorotan utama pemberitaan nasional.

image

Daging beruang cokelat yang berwarna merah (Image by: Medium.com)

Restoran Suzuki sebenarnya juga menyajikan daging rusa dan babi hutan, namun daging beruang justru paling diminati. Pemberitaan tentang beruang yang masuk rumah, sekolah, hingga supermarket memicu rasa penasaran publik. Suzuki menyebut semakin sering berita muncul, semakin banyak pelanggan berdatangan. Ia menganggap menyajikan daging beruang sebagai bentuk penghormatan terhadap hewan yang telah dibunuh. Istrinya bahkan kerap menolak pelanggan karena stok terbatas.

Salah satu pelanggan, komposer muda Takaaki Kimura, mencicipi daging beruang untuk pertama kalinya. Ia memuji rasa daging yang menurutnya semakin nikmat saat dikunyah. Para pejabat berharap pembasmian beruang dapat mengurangi ancaman di Jepang utara. Ilmuwan menilai krisis ini dipicu pertumbuhan populasi beruang, penurunan jumlah penduduk, dan gagal panen biji ek. Kondisi tersebut memaksa beruang mencari makanan ke wilayah manusia.

image

Daging beruang yang dimasak (image by: Medium.com)

Sebagai langkah darurat, pemerintah mengerahkan pasukan dan polisi anti huru hara untuk membantu perburuan. Jumlah beruang yang dibunuh pada paruh pertama tahun fiskal ini bahkan melampaui total sepanjang tahun sebelumnya. Meski bukan makanan sehari-hari, daging beruang telah lama dikonsumsi di desa-desa pegunungan Jepang. Pemerintah kini melihatnya sebagai peluang ekonomi bagi daerah pedesaan. Subsidi besar pun disiapkan untuk pengendalian populasi dan promosi konsumsi berkelanjutan.

image

Ilustrasi restoran jepang (Image by: Malaymail.com)

Di Prefektur Aomori, pengelola restoran desa Katsuhiko Kakuta mengaku kehabisan stok daging lebih cepat dari biasanya. Popularitas melonjak setelah restorannya dipromosikan oleh seorang influencer. Ia menyebut daging beruang sebagai sumber daya pariwisata lokal. Restorannya bahkan memasok daging ke hotel-hotel sekitar. Fenomena ini menunjukkan perubahan cara pandang terhadap satwa liar.

Sementara itu di Sapporo, Hokkaido, koki Prancis Kiyoshi Fujimoto menyajikan beruang dalam hidangan mewah. Populasi beruang cokelat di Hokkaido telah berlipat ganda menjadi lebih dari 11.500 ekor pada 2023. Pemerintah berencana memusnahkan 1.200 beruang per tahun selama satu dekade ke depan. Namun, minimnya fasilitas pengolahan membuat banyak daging masih terbuang. Di tengah kontroversi, krisis ini membuka perdebatan antara keselamatan, etika, dan peluang ekonomi.

 

Jepang Serap 1,23 Juta Pekerja

image

Pemerintah Jepang memutuskan untuk menerima lebih dari 1,23 juta pekerja asing melalui dua sistem berbeda, yaitu skema tenaga kerja terampil dan program pelatihan baru. Kebijakan ini diambil sebagai respons atas kekurangan tenaga kerja yang kian serius di berbagai sektor utama perekonomian. Dengan jumlah penduduk usia produktif yang terus menurun, pemerintah menilai keterlibatan tenaga kerja asing menjadi langkah yang tak terhindarkan.

image

 

Rencana tersebut telah disampaikan kepada beberapa ahli, dengan target penerimaan 231.900 pekerja asing hingga akhir Maret 2029. Target ini menjadi bagian dari upaya jangka menengah untuk menjaga keseimbangan pasar tenaga kerja. Pemerintah juga menekankan pentingnya penempatan pekerja sesuai kebutuhan nyata di lapangan.

Dalam sistem tenaga kerja terampil tertentu yang saat ini berlaku, sekitar 805.700 orang akan diterima di 19 bidang. Sektor manufaktur produk industri menjadi penyerap terbesar, diikuti oleh manufaktur makanan dan minuman serta sektor perawatan keperawatan. Ketiga sektor ini dinilai paling terdampak oleh kekurangan tenaga kerja domestik.

image

Selain itu, pemerintah berencana memperkenalkan sistem baru mulai 1 April 2027. Melalui sistem ini, pekerja asing akan dilatih agar mencapai tingkat keterampilan tertentu dalam waktu tiga tahun. Sebanyak 426.200 orang akan diterima di 17 bidang, dengan sektor konstruksi, manufaktur industri, serta manufaktur makanan dan minuman menjadi fokus utama.

Para pejabat menegaskan bahwa jumlah tersebut merupakan batas maksimum yang dianggap realistis. Perhitungan ini didasarkan pada kemampuan Jepang dalam menampung tenaga kerja asing serta proyeksi peningkatan produktivitas. Pemerintah selanjutnya akan membahas rencana ini secara internal sebelum meminta persetujuan kabinet pada bulan Januari.

 

Toples Misterius Guncang Osaka

image

Toples berisi jaringan manusia ditemukan di Pasar Osaka (Image by: SoraNews24.com)

Sampah bagi satu orang memang bisa menjadi mimpi buruk bagi orang lain. Di berbagai tempat, tempat pembuangan sering kali menjadi lokasi ditemukannya barang tak terduga, mulai dari benda bernilai hingga temuan yang mengundang kengerian. Kisah tentang “harta karun” dari sampah kerap beredar, namun tidak sedikit pula cerita yang menunjukkan sisi gelap dari kelalaian dan ketidakbertanggungjawaban manusia.

Peristiwa semacam itu terjadi di Osaka pada September lalu, ketika sejumlah besar toples kaca ditemukan di dalam kotak kardus di area Pasar Grosir Kota Osaka. Toples-toples tersebut berisi sesuatu yang diduga sebagai organ atau jaringan manusia, dengan bentuk menyerupai wadah selai atau kopi. Yang membuat temuan ini semakin mencurigakan, setiap toples dilaporkan memiliki label nama yang diyakini sebagai nama orang.

Penemuan tersebut pertama kali diketahui oleh seorang petugas kebersihan pasar. Ia menyatakan bahwa isi toples tidak sepenuhnya menyerupai organ utuh, melainkan lebih mirip jaringan tubuh yang kemungkinan diangkat melalui prosedur medis. Merasa bahwa benda-benda tersebut jelas tidak layak dibuang sebagai sampah biasa, petugas tersebut segera melaporkan temuannya kepada pihak berwenang.

image

Pasar Grosir Kota Osaka (Image by: SoraNews24)

Polisi kemudian menyelidiki kasus ini sebagai dugaan pembuangan limbah medis secara ilegal. Dugaan sementara mengarah pada rumah sakit, fasilitas penelitian, atau kontraktor pengelola limbah medis yang tidak menjalankan prosedur dengan benar. Dalam praktik normal, limbah semacam ini harus dimusnahkan melalui pembakaran khusus, namun demi menekan biaya, ada kasus di mana limbah justru dibuang sembarangan, seperti yang pernah terjadi di beberapa prefektur lain di Jepang.

Menariknya, lokasi pasar grosir diduga dipilih karena banyaknya sampah organik dari hasil laut dan pertanian yang dapat menyamarkan bau mencurigakan. Dari kejadian suram ini, muncul pula pembahasan budaya dan bahasa, termasuk etimologi kata “hormon” (ホルモン) dalam bahasa Jepang yang merujuk pada jeroan. Istilah tersebut awalnya dipopulerkan sebagai makanan bergizi tinggi, meskipun ada anggapan keliru bahwa kata itu berarti “sesuatu yang dibuang,” sebuah ironi yang kontras dengan nilai kuliner yang justru melekat hingga kini.

 

Tradisi Sushi Ehomaki Setsubun

image

Ehomaki Raksasa Khas Setsubun (Image by: SoraNews24.com)

Ehomaki adalah sushi gulung khas Jepang yang memiliki makna budaya dan spiritual yang kuat, terutama saat perayaan Setsubun yang jatuh setiap tanggal 3 Februari dan secara tradisional menandai awal musim semi. Kata maki berarti gulungan, sedangkan eho merujuk pada arah keberuntungan. Masyarakat Jepang percaya bahwa dengan memakan ehomaki sambil menghadap ke arah keberuntungan tahun tersebut, mereka dapat mengundang keberuntungan, kesehatan, dan kemakmuran bagi rumah serta keluarga sepanjang tahun.

Pada hari Setsubun, ehomaki tidak disajikan seperti sushi biasa. Hidangan ini biasanya dibuat lebih besar dan lebih mewah sebagai simbol kelimpahan. Meskipun sushi identik dengan ikan mentah, ehomaki tidak memiliki batasan isian yang ketat. Selain makanan laut, isian modern bisa berupa udang goreng, telur, hingga daging, menyesuaikan selera zaman tanpa menghilangkan makna tradisionalnya.

Menjelang Setsubun, jaringan supermarket besar Jepang, Aeon, memperkenalkan ehomaki raksasa bernama Gokubutomaki yang berarti “Gulungan Super Tebal”. Produk ini menarik perhatian karena memiliki 26 jenis isian sekaligus, termasuk berbagai jenis tuna, udang, kerang, telur salmon, salmon panggang, belut rebus, omelet Jepang, dan daun oba. Kombinasi ini menciptakan rasa yang kaya dan berlapis, seolah merangkum kekayaan hasil laut dalam satu gulungan sushi.

image

Gokubutomaki dengan harga 6.458 yen (Image by: SoraNews24.com)

Ukuran Gokubutomaki benar-benar luar biasa. Dengan lebar sekitar 14 sentimeter dan berat mencapai 1,7 kilogram, ehomaki ini menjadi yang terberat yang pernah dijual Aeon. Proses pembuatannya pun tidak sederhana; koki harus menggunakan lembaran nori yang sangat panjang dan melilitkannya lebih dari sekali agar semua isian dapat tertahan dengan rapi, sementara nasi ditata membentuk “tanggul” agar gulungan tetap stabil.

Meskipun secara tradisi ehomaki dimakan utuh tanpa dipotong, ukuran Gokubutomaki membuatnya hampir mustahil untuk dimakan oleh satu orang saja. Namun, dengan harga 6.458 yen, porsinya dianggap sangat sepadan dan cocok untuk dinikmati bersama. Untuk Setsubun 2026, arah keberuntungan adalah selatan-tenggara, sehingga siapa pun yang memilih Gokubutomaki sebagai ehomaki sebaiknya menikmatinya sambil menghadap arah tersebut dan memegangnya dengan erat agar ritual keberuntungan ini berjalan sempurna.

 

Jepang Perketat Izin Tinggal

image

Jepang Wajibkan Bahasa Jepang Sebagai Syarat Ijin Tinggal Permanen (Image by: Google)

Pemerintah Jepang tengah mempertimbangkan penambahan kemampuan berbahasa Jepang sebagai salah satu persyaratan utama untuk memperoleh izin tinggal tetap. Langkah ini diambil sebagai antisipasi terhadap meningkatnya jumlah pemohon di masa mendatang, seiring bertambahnya populasi warga negara asing di Jepang. Usulan tersebut akan dimasukkan ke dalam rancangan persyaratan baru yang disusun oleh panel Partai Demokrat Liberal (LDP) yang berkuasa dan dijadwalkan selesai pada April 2027, bersamaan dengan diberlakukannya amandemen Undang-Undang Pengendalian Imigrasi dan Pengakuan Pengungsi.

Amandemen undang-undang tersebut juga membuka kemungkinan pencabutan izin tinggal tetap bagi warga negara asing yang dengan sengaja mengabaikan kewajiban publik, seperti tidak membayar pajak, iuran asuransi sosial, atau kewajiban administratif lainnya. Kebijakan ini dimaksudkan untuk menegaskan bahwa status penduduk tetap tidak hanya memberikan hak tinggal jangka panjang, tetapi juga menuntut tanggung jawab sosial yang setara dengan warga negara Jepang.

Data Badan Layanan Imigrasi menunjukkan bahwa jumlah penduduk asing di Jepang mencapai rekor tertinggi, yakni 3,96 juta orang per akhir Juni. Dari jumlah tersebut, penduduk tetap merupakan kelompok terbesar dengan sekitar 930.000 orang atau 23,6 persen dari total populasi asing. Saat ini, warga negara asing yang mengajukan izin tinggal tetap diwajibkan telah menetap di Jepang selama sedikitnya 10 tahun, memiliki stabilitas ekonomi, serta memenuhi sejumlah persyaratan administratif lainnya.

image

Permanent Residence / Eijusha (Image by: Google)

Seiring dengan proyeksi peningkatan jumlah penduduk tetap, pemerintah dan partai berkuasa juga mendiskusikan berbagai persyaratan tambahan. Di antaranya adalah kewajiban mengikuti program orientasi yang mengajarkan aturan hidup bermasyarakat, budaya kerja, dan norma sosial di Jepang, serta kemungkinan menaikkan ambang batas pendapatan minimum. Langkah-langkah ini bertujuan untuk memperkuat integrasi penduduk asing ke dalam masyarakat lokal dan mencegah potensi masalah sosial di kemudian hari.

Selain isu izin tinggal tetap, pemerintah juga meninjau ulang kebijakan terkait mahasiswa internasional dan tenaga kerja asing. Aturan kerja paruh waktu bagi mahasiswa akan diperketat guna mencegah pelanggaran batas kerja 28 jam per minggu, sementara sistem pemberian izin kerja direncanakan beralih ke mekanisme seleksi berbasis prestasi akademik dan faktor lain. Di sisi lain, pengawasan terhadap agen penyalur tenaga kerja dan perusahaan akan diperketat menyusul meningkatnya kasus pemegang visa profesional yang dipekerjakan dalam pekerjaan kasar yang tidak sesuai dengan status izin tinggal mereka.

 

Tokyo Naik Peringkat 2 Global

image

Tokyo Tower (Image by: travel.rakuten.com)

Tokyo naik ke peringkat kedua dari 48 kota besar dunia dalam hal daya tarik keseluruhan untuk pertama kalinya setelah sembilan tahun berada di posisi ketiga. Peningkatan ini membuat Tokyo melampaui New York, didorong oleh meningkatnya jumlah wisatawan dari luar negeri. Laporan ini dirilis Rabu oleh sebuah lembaga penelitian Jepang. Keberhasilan ini menegaskan posisi Tokyo sebagai destinasi global yang semakin diminati. Kenaikan peringkat ini juga menandai perubahan penting dalam peringkat lima besar kota dunia.

Meskipun Tokyo naik ke posisi kedua, London tetap mempertahankan peringkat teratas untuk tahun ke-14 berturut-turut. Kota ini berhasil mempertahankan posisi puncak meskipun skor keseluruhan menurun. Keunggulan London terlihat pada interaksi budaya dan aksesibilitas yang kuat. Sementara itu, Tokyo terus menunjukkan perkembangan di kategori lain seperti kelayakan huni. Perubahan ini menandai pergeseran pertama di lima besar dalam sembilan tahun terakhir.

image

Kota Tokyo saat sore hari (Image By: cntraveller.com)

Indeks Kota Berdaya Global mengukur daya tarik kota berdasarkan enam kategori utama: ekonomi, penelitian dan pengembangan, interaksi budaya, kelayakan huni, lingkungan, dan aksesibilitas. Laporan tahunan ini pertama kali diterbitkan pada 2008 dan bertujuan menilai kemampuan kota menarik orang serta perusahaan dari seluruh dunia. Tokyo mencatat peningkatan skor keseluruhan meski terjadi penurunan di sektor ekonomi. Kategori kelayakan huni membuat Tokyo berada di peringkat pertama, sedangkan interaksi budaya meningkat ke peringkat kedua. Melemahnya nilai yen juga membuat Jepang lebih menarik bagi wisatawan internasional.

New York mengalami penurunan skor paling tajam di antara semua kota, sehingga kehilangan posisi kedua yang telah dipertahankannya sejak 2012. Kota ini menempati peringkat rendah dalam kelayakan huni dan menjadi yang terakhir pada indikator “tingkat harga.” London, meski turun di beberapa kategori, masih unggul berkat kekuatan budaya dan aksesibilitasnya. Peringkat kota-kota lain juga menunjukkan dinamika menarik. Osaka, misalnya, naik ke peringkat ke-18 dari sebelumnya ke-35.

image

Foto Kota Tokyo (Photo by: pongnanthee kluaythong)

Kenaikan Osaka sebagian besar didorong oleh Pameran Dunia yang menarik banyak wisatawan internasional dan meningkatkan ekonomi lokal. Sementara itu, Fukuoka berada di peringkat ke-40 di antara 48 kota besar. Perubahan peringkat ini menunjukkan dinamika daya tarik kota global yang terus berkembang. Tokyo kini semakin menonjol sebagai tujuan wisata dan bisnis internasional. Laporan ini menjadi acuan penting bagi pemerintah dan pengembang kota dalam meningkatkan daya tarik masing-masing kota.

 

Rice Burger Spesial Musim Dingin

7-Eleven Jepang tengah mempersiapkan diri menghadapi musim dingin dengan menghadirkan rangkaian menu penghangat tubuh, salah satunya lewat produk terbarunya, Rice Burger. Inovasi ini langsung mencuri perhatian karena burger nasi umumnya hanya ditemukan di jaringan restoran cepat saji besar seperti Lotteria, MOS Burger, dan McDonald’s. Ditambah lagi, 7-Eleven dikenal memiliki kualitas nasi yang unggul dibandingkan Lawson dan Family Mart berkat sistem “Rice Meister” yang telah diterapkan sejak 2015, membuat ekspektasi konsumen terhadap produk ini semakin tinggi.

Sistem Rice Meister sendiri merupakan standar khusus yang melibatkan tenaga ahli terlatih yang telah melewati seleksi dan ujian ketat. Para Rice Meister ini bertanggung jawab mengawasi seluruh proses pengolahan dan pemasakan nasi di pabrik mitra 7-Eleven, mulai dari pemilihan beras hingga teknik memasaknya. Hasilnya adalah nasi dengan tekstur konsisten, pulen, dan bercita rasa seimbang, yang menjadi fondasi utama kelezatan Rice Burger.

 

Rice Burger hadir dalam dua varian menarik, yakni Charcoal-Grilled Beef Kalbi serta Teriyaki Chicken and Garlic Mayonnaise. Kedua varian ini menggunakan “roti” unik berbahan nasi yang telah direndam kecap sebelum dipanggang. Proses ini menghasilkan lapisan luar yang sedikit renyah dan kokoh untuk menjaga bentuk burger, sementara bagian dalamnya tetap lembut dan moist, menghadirkan sensasi makan nasi hangat yang memuaskan.

image

Charcoal-Grilled Beef Kalbi (Image by: SoraNews24.com)

Varian Charcoal-Grilled Beef Kalbi menawarkan isi daging iga sapi yang dipanggang perlahan di atas arang, menghasilkan aroma smoky yang kuat dan menggugah selera. Dagingnya yang juicy dipadukan dengan saus manis pedas yang meresap, menciptakan rasa yang kaya dan berlapis di setiap gigitan. Untuk kenyamanan konsumen, burger ini dikemas dalam wadah tahan panas sehingga bisa langsung dipanaskan dan dinikmati dalam kondisi hangat.

image

Teriyaki Chicken and Garlic Mayonnaise (Image by: soranews24.com)

Sementara itu, Teriyaki Chicken and Garlic Mayonnaise menghadirkan kombinasi rasa yang lebih creamy dan berani. Ayam teriyaki dengan cita rasa manis-gurih berpadu dengan mayones bawang putih yang kaya dan aromatik, menciptakan sensasi adiktif yang membuat ingin menyantapnya berulang kali. Diposisikan sebagai “Bola Nasi Hadiah”, Rice Burger ini ditujukan sebagai sajian comfort food setelah hari yang melelahkan atau saat pulang menembus dinginnya musim dingin, bahkan bisa dilengkapi dengan burrito matcha terbaru sebagai bentuk self-reward yang sempurna.

 

Badai Salju Lumpuhkan Jepang Utara

image

Ilustrasi Imbas Badai (Image by: Google)

Sistem tekanan rendah yang berkembang pesat membawa salju basah dan lebat ke Jepang utara pada 15 Desember, terutama di Hokkaido timur. Badai ini memicu gangguan besar pada transportasi, komunitas pesisir, dan layanan publik. Angin kencang memperparah kondisi, menciptakan situasi berbahaya di banyak wilayah. Salju berat menempel pada infrastruktur seperti lampu lalu lintas dan jaringan listrik. Kondisi ini sangat berbeda dari salju ringan yang biasa dialami warga setempat. Banyak aktivitas harian pun terpaksa dihentikan.

Warga di Hokkaido timur menggambarkan salju kali ini sebagai sangat berat dan sulit dibersihkan. Hembusan angin yang kuat bahkan membuat wajah terasa sakit saat berada di luar ruangan. Banyak kendaraan terkubur salju hingga tidak dapat bergerak. Seorang warga menyebut salju kali ini terasa “dua kali lebih berat dari biasanya.” Kondisi tersebut menyebabkan kelelahan fisik hanya untuk membersihkan area sekitar rumah. Risiko kecelakaan pun meningkat di berbagai distrik.

Di wilayah pesisir, kondisi laut memburuk akibat angin kencang dan gelombang tinggi. Di Pelabuhan Monbetsu, angin silang menciptakan buih ombak yang membahayakan aktivitas pelabuhan. Kota Nemuro mencatat kecepatan angin maksimum sesaat mencapai 33,7 meter per detik. Peringatan gelombang badai sempat dikeluarkan oleh otoritas setempat. Warga diminta waspada terhadap kemungkinan banjir pesisir. Aktivitas maritim pun dibatasi demi keselamatan.

image

Ilustrasi Imbas Badai (Image by: Google)

Cuaca ekstrem ini juga berdampak besar pada sektor penerbangan. Banyak penerbangan ke dan dari Hokkaido, Tohoku, dan Hokuriku dibatalkan. Penumpang terlantar di bandara akibat pembatalan berulang dan perubahan jadwal. Seorang pelancong mengaku dua penerbangannya dibatalkan berturut-turut sebelum mendapat kursi. Japan Airlines dan All Nippon Airways melaporkan total sekitar 60 penerbangan dibatalkan. Lebih dari 4.000 penumpang terdampak akibat gangguan ini.

Di Aomori, badai terjadi hanya sepekan setelah gempa berkekuatan 6 skala Richter pada 8 Desember. Meski demikian, pasar pagi di Hachinohe tetap dibuka seperti biasa pada akhir pekan. Kehadiran pasar memberi rasa normalitas bagi warga dan wisatawan. Para pedagang mengatakan jumlah pengunjung dan kios menurun hingga sekitar setengah dari kondisi normal. Namun, mereka tetap berjualan sebagai simbol ketangguhan komunitas. Pengumuman evakuasi terus disampaikan sebagai antisipasi gempa susulan.

Dampak cuaca dan gempa juga terasa pada sektor perikanan dan pasokan makanan laut. Penangkapan hokki-gai di Oirase dihentikan sementara demi keselamatan nelayan. Restoran dan supermarket mulai kehabisan stok karena pasokan terhenti. Beberapa pemilik usaha berharap nelayan bisa segera kembali melaut. Namun, kondisi laut yang belum stabil menimbulkan ketidakpastian. Seminggu setelah gempa, badai musim dingin ini semakin memperberat tantangan bagi komunitas Jepang utara.

 

TSUTSUMU: Seni Membungkus Jepang

image

"Tamago Tsuto" Prefektur Yamagata (Difoto oleh Michikazu Sakai, dari "Tsuku" oleh Hideyuki Oka (1972, Mainichi Shimbun))

Desainer Hideyuki Oka (1905–1995) meninggalkan jejak penting dalam sejarah desain Jepang melalui konsep “TSUTSUMU” (membungkus). Sejak sebelum Perang Dunia II, ia aktif sebagai direktur seni dan menaruh perhatian besar pada kemasan tradisional Jepang yang terbuat dari bahan alami seperti kayu, bambu, jerami, tanah, dan kertas. Melalui pengumpulan dan penelitiannya, Oka melihat kemasan bukan sekadar pelindung benda, melainkan cerminan keindahan pemikiran, keterampilan, dan cara hidup masyarakat Jepang.

Ketertarikan ini terdokumentasi dalam buku foto Tsutsumi (1972, Mainichi Shimbun), yang meskipun kini sudah tidak dicetak, tetap dianggap sebagai karya penting. Dalam buku dan aktivitas pamerannya, Oka memperkenalkan istilah “kemasan tradisional” dan berupaya meningkatkan kesadaran akan hilangnya teknik serta keindahan kemasan tradisi Jepang di tengah pesatnya pertumbuhan ekonomi. Ia menemukan estetika khas Jepang dalam kesederhanaan pembungkus jerami, wadah sushi, dan kotak permen yang dibuat dengan keterampilan tinggi.

Pada pertengahan 1970-an, koleksi Oka berkembang menjadi pameran keliling internasional yang menarik perhatian luas, seiring dikenalnya kata “TSUTSUMU” secara global. Pameran museum skala penuh pertama di Jepang berlangsung pada tahun 1988 dengan judul Bagaimana Lima Telur Dikemas? Kemasan Tradisional Jepang. Pada kesempatan ini, kemasan-kemasan tersebut diperoleh museum dan disimpan sebagai “Koleksi Kemasan,” yang kemudian kembali diperkenalkan dalam pameran-pameran berikutnya, termasuk pada tahun 2011 dan 2021.

image

TSUTSUMU -Traditional Japanese Packaging (Image by Google)

Menurut Oka, “memikirkan kemasan berarti memikirkan semua aspek kehidupan manusia.” Pandangan ini terasa relevan pada tahun 2021, di tengah pandemi COVID-19, ketika banyak orang meninjau ulang hubungan mereka dengan benda sehari-hari dan orang-orang terdekat. Meski kemasan-kemasan dalam pameran telah menua—memudar dan retak akibat bahan alaminya—karya-karya ini justru mengajak pengunjung merenungkan kehidupan, nilai kemanusiaan, dan makna membungkus dalam arti yang lebih luas.

Dari sudut pandang desain, kemasan tradisional yang dikumpulkan Oka terbagi menjadi dua kategori: bentuk yang lahir dari kearifan sehari-hari yang mengutamakan fungsi dan kesederhanaan, serta karya yang mewujudkan teknik pengemasan canggih dengan kepekaan estetika tinggi. Seiring waktu, fokus Oka bergeser dari keindahan bentuk menuju “semangat” Jepang yang tersembunyi di baliknya. Melalui pameran dan koleksi museum, warisan pemikiran Oka terus hidup sebagai refleksi tentang keindahan, tradisi, dan cara manusia “membungkus” kehidupannya

 

Denda Sampah Shibuya Resmi Berlaku

image

Ilustrasi Uang Yen (Source: Google.com)

Distrik Shibuya telah menyetujui peraturan baru yang mengenakan denda 2.000 yen bagi individu yang membuang sampah sembarangan. Selain itu, toko-toko yang tidak menyediakan tempat sampah dapat didenda hingga 50.000 yen. Aturan ini disahkan pada 10 Desember dan menargetkan area dekat stasiun besar seperti Shibuya, Harajuku, dan Ebisu. Tujuannya adalah mengurangi sampah dari bisnis yang menyediakan layanan bawa pulang. Masyarakat mempertanyakan apakah kebijakan ini cukup efektif untuk mengurangi sampah di jalanan. Efektivitasnya pun masih menjadi perdebatan publik.

Peraturan tersebut menetapkan bahwa denda untuk warga berlaku langsung ketika membuang sampah sembarangan di jalan umum. Sementara itu, denda untuk toko akan diberlakukan jika mereka tidak memasang tempat sampah sesuai kewajiban. Kewajiban pemasangan mulai berlaku April 2026, sedangkan penegakan denda dimulai Juni 2026. Bisnis yang menjual barang berpotensi menghasilkan sampah menjadi target utama. Pemerintah distrik ingin memastikan bahwa setiap toko memiliki fasilitas pembuangan yang memadai. Hal ini diharapkan dapat mengurangi penumpukan sampah dari aktivitas komersial.

image

Ilustrasi Penumpukan Sampah (Source: Google.com)

Data Shibuya menunjukkan bahwa minimarket adalah penyumbang terbesar dengan 62,7 persen sampah yang dapat diidentifikasi. Kafe berada di posisi kedua dengan 12 persen kontribusi. Sebagian besar minimarket dinilai sudah menyediakan tempat sampah. Namun, sekitar 32 persen tempat makan belum memiliki tempat sampah. Situasi ini memperlihatkan masih adanya ketidakseimbangan fasilitas pembuangan sampah di kawasan tersebut. Kondisi tersebut menjadi perhatian utama dalam penyusunan aturan baru.

Beberapa toko menyampaikan keberatan terkait kewajiban tersebut. Kedai teh Koufukudou mengatakan bahwa jika mereka memasang tempat sampah, sampah dari toko lain bisa ikut dibuang di sana. Mereka juga khawatir pelanggan tidak akan memilah sampah dengan benar. Selain itu, mereka menyoroti biaya tambahan untuk pembuangan sampah. Toko tersebut berpendapat bahwa masalah sampah bukan hanya berasal dari pelanggan mereka.

image

Ilustrasi Tempat Sampah di Jepang (Source: Google.com)

Kekhawatiran ini menunjukkan beban nyata yang dirasakan bisnis kecil. Walikota Shibuya menyatakan bahwa sampah yang dihasilkan dari penjualan produk harus menjadi tanggung jawab bisnis, bukan pemerintah. Ia menegaskan bahwa distrik tidak berencana menambah tempat sampah umum baru. Alasannya, tempat sampah umum di Tokyo memang sudah minim karena kebijakan keamanan. Namun kebijakan ini menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas penegakan denda tanpa dukungan infrastruktur publik. Beberapa komentator menilai pendekatan ini terlalu membebani sektor swasta. Perdebatan mengenai peran pemerintah dan bisnis pun semakin menguat.

Sebagai perbandingan, Kota Yufu di Prefektur Oita telah menerapkan mekanisme serupa dengan hasil positif. Tempat sampah umum ditambah, dan bisnis disediakan tempat sampah gratis melalui program “Otagai Bako”. Pemerintah kota menyatakan bahwa sampah jalanan hampir hilang berkat pendekatan ini. Para komentator menilai keberhasilan Yufu karena pemerintah terlebih dahulu membangun infrastruktur publik. Tradisi gotong royong komunitas juga memengaruhi keberhasilan kebijakan tersebut. Hal ini membuat banyak pihak mempertanyakan apakah Shibuya bisa mencapai hasil serupa.