Industri Anime Jepang Hadapi Tantangan Global
Industri anime Jepang terus memperluas jangkauannya ke pasar internasional. Namun, popularitas yang semakin besar juga menghadirkan tantangan baru, mulai dari perbedaan budaya dan aturan hukum hingga kritik di media sosial. Kondisi ini membuat perusahaan produksi harus mencari keseimbangan antara menjangkau penonton global dan mempertahankan kebebasan berekspresi.
Foto dari manga "Chainsmoker Cat" ciptaan Nyan Nyan Factory (Image by: Kodansha Ltd. | KyodoNews)
Salah satu contoh terjadi pada anime Yani-Neko atau Chainsmoker Cat, yang mulai tayang pada Juli dan diadaptasi dari manga terbitan Kodansha Ltd. Serial ini menampilkan karakter kucing antropomorfik yang kerap terlihat merokok. Setelah dirilis di luar Jepang, penayangannya di Hong Kong dihentikan menyusul keluhan mengenai kemunculan merek rokok berulang kali. Pihak berwenang menilai penggambaran tersebut berpotensi dianggap sebagai iklan tembakau dan melanggar peraturan setempat. Komite produksi menyatakan pada akhir Agustus bahwa pihaknya tengah berdiskusi dengan pemegang lisensi lokal untuk mencari cara distribusi yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Perdebatan tersebut mencerminkan tantangan yang semakin relevan bagi industri anime Jepang. Menurut Association of Japanese Animations, nilai pasar anime Jepang mencapai sekitar 3,8 triliun yen pada 2024, dengan pasar luar negeri melampaui 2,1 triliun yen dan lebih besar daripada pasar domestik. Pemerintah Jepang juga menargetkan peningkatan penjualan konten ke luar negeri, dari sekitar 5,8 triliun yen pada 2023 menjadi 20 triliun yen pada 2033. Seiring dengan ekspansi tersebut, kreator dan perusahaan distribusi perlu mempertimbangkan perbedaan regulasi serta norma budaya di berbagai negara.
Foto Cosplayer yang sedang berfoto di Bioskop di Shanghai November 13, 2025.(Image by: KyodoNews)
Tantangan serupa pernah dialami Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba. Pada November 2019, Aniplex Inc. menghentikan pengiriman dan menarik volume keempat Blu-ray serta DVD setelah audio azan atau panggilan salat dalam Islam digunakan secara tidak tepat pada CD bonus. Perusahaan menjelaskan bahwa audio tersebut dibuat menggunakan materi yang tersedia secara komersial, tetapi kemudian menyadari bahwa penggunaannya bersama suara lain tidak sesuai dengan sensitivitas keagamaan umat Islam. Aniplex pun menyampaikan permintaan maaf. Selain itu, desain anting karakter Tanjiro Kamado mendapat kritik di Korea Selatan karena dinilai menyerupai Bendera Matahari Terbit, sehingga desainnya diubah pada layanan streaming di negara tersebut.
Ryo Koarai, profesor madya di Miyagi Gakuin Women's University yang mengkhususkan diri pada bisnis anime, menilai bahwa karya Jepang kini menjangkau penonton internasional yang belum tentu memahami budaya Jepang secara mendalam. Menurutnya, kreator perlu semakin memperhatikan konteks budaya, agama, hukum, dan standar etika di negara tujuan. Media sosial dan fitur penerjemahan juga membuat kritik dari luar negeri lebih mudah tersebar di Jepang. Perbedaan cara pandang pun dapat memicu perdebatan, terutama ketika sebagian penggemar menekankan kebebasan kreator, sementara pihak lain menginginkan perubahan pada karya yang dianggap bermasalah.
Meski demikian, Koarai mengingatkan bahwa terlalu berfokus pada reaksi penonton berisiko menghilangkan karakter khas sebuah karya. Ia menilai bahwa tidak semua kritik yang ramai di media sosial mewakili pandangan seluruh penggemar. Sebagian penonton internasional tetap ingin menikmati anime sesuai dengan konsep aslinya. Karena itu, proses lokalisasi dinilai perlu melibatkan orang-orang yang memahami budaya dan kondisi sosial setempat, tanpa langsung menganggap bahwa pembatasan ekspresi yang lebih ketat selalu menjadi solusi terbaik.
Cosplayer yang sedang berpose di Japan Festival di Sao Paulo Brazil pada Juli 12, 2024.(Image by: KyodoNews)
Sejumlah perusahaan Jepang juga mulai membangun mekanisme untuk mengidentifikasi potensi masalah terkait ekspresi kreatif. Bandai Namco Holdings Inc. menerapkan kebijakan kelompok mengenai etika dan ekspresi, serta membentuk subkomite etika pada tahun fiskal 2019 untuk meninjau berbagai persoalan terkait produk dan karya kreatif. Di Bandai Namco Filmworks Inc., perusahaan yang memproduksi anime seperti Gundam, staf memberikan masukan kepada sutradara dan produser apabila terdapat bentuk ekspresi yang berpotensi menimbulkan persoalan. Namun, masukan tersebut bersifat konsultatif, sedangkan keputusan akhir tetap berada di tangan sutradara dan produser demi menjaga kebebasan kreatif.
Jun Takei dari bagian dukungan kekayaan intelektual di departemen hukum Bandai Namco Filmworks mengatakan bahwa perusahaan berupaya mencegah kesalahpahaman atau reaksi negatif yang tidak disengaja tanpa menghilangkan pesan utama karya. Menurutnya, tantangan untuk menyeimbangkan sensitivitas budaya dan kebebasan berekspresi tidak memiliki satu jawaban yang berlaku untuk semua situasi. Perusahaan perlu mempertimbangkan bagaimana sebuah adegan diterima oleh penonton, tetapi tetap memberi ruang bagi kreator untuk menyampaikan gagasannya. Dengan semakin luasnya pasar internasional, industri anime Jepang dituntut untuk terus mencari pendekatan yang dapat menjaga identitas karya sekaligus mempertimbangkan keragaman audiens global.
Source: KyodoNews