Klub Karuta Takinogawa yang berlokasi di Distrik Kita, Tokyo (Image by Google)
Selama bulan-bulan musim dingin di Jepang, berbagai turnamen karuta kompetitif digelar di berbagai daerah. Musim ini dianggap sebagai waktu yang ideal karena para pemain dapat fokus berlatih dan bertanding tanpa gangguan aktivitas luar ruangan yang padat seperti di musim panas. Karuta, khususnya yang menggunakan kartu klasik Hyakunin Isshu, bukan sekadar permainan, tetapi juga warisan budaya yang menggabungkan kecepatan, konsentrasi, dan pemahaman sastra Jepang kuno.
Salah satu ajang yang paling menarik perhatian adalah turnamen nasional untuk siswa sekolah dasar. Kompetisi ini mempertemukan anak-anak berbakat dari seluruh Jepang yang telah berlatih sejak usia dini. Meskipun masih muda, para peserta menunjukkan kemampuan luar biasa dalam menghafal ratusan puisi dan merespons dengan kecepatan tinggi saat pembacaan kartu dimulai.
Tahun ini, sorotan tertuju pada Klub Karuta Takinogawa yang berlokasi di Distrik Kita, Tokyo. Klub tersebut berhasil mencetak prestasi gemilang dengan meraih posisi juara dan runner-up dalam turnamen nasional tersebut. Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa pembinaan sejak dini serta latihan yang konsisten mampu menghasilkan pemain karuta berkualitas tinggi.
Kartu Klasik Hyakunin Isshu (Image by Google)
Fenomena ini juga menarik perhatian media. Penyiar berita Karikawa Kurumi melakukan liputan langsung dan wawancara mendalam dengan para pemain muda. Dalam liputannya, ia menggambarkan bagaimana dunia karuta yang selama ini dikenal melalui karya populer kini benar-benar hidup di dunia nyata, bahkan di kalangan anak-anak.
Popularitas karuta di kalangan generasi muda tidak lepas dari pengaruh karya seperti Chihayafuru, yang berhasil memperkenalkan permainan tradisional ini dengan cara yang menarik dan emosional. Banyak anak yang mengaku mulai tertarik bermain karuta setelah menonton anime tersebut, lalu bergabung dengan klub lokal untuk berlatih secara serius.
Dengan semakin banyaknya anak yang terlibat, karuta kini tidak hanya menjadi simbol budaya klasik, tetapi juga aktivitas kompetitif yang modern dan dinamis. Turnamen seperti ini menunjukkan bahwa tradisi dapat terus hidup dan berkembang, selama mampu beradaptasi dan menarik minat generasi berikutnya.