"Tamago Tsuto" Prefektur Yamagata (Difoto oleh Michikazu Sakai, dari "Tsuku" oleh Hideyuki Oka (1972, Mainichi Shimbun))
Desainer Hideyuki Oka (1905–1995) meninggalkan jejak penting dalam sejarah desain Jepang melalui konsep “TSUTSUMU” (membungkus). Sejak sebelum Perang Dunia II, ia aktif sebagai direktur seni dan menaruh perhatian besar pada kemasan tradisional Jepang yang terbuat dari bahan alami seperti kayu, bambu, jerami, tanah, dan kertas. Melalui pengumpulan dan penelitiannya, Oka melihat kemasan bukan sekadar pelindung benda, melainkan cerminan keindahan pemikiran, keterampilan, dan cara hidup masyarakat Jepang.
Ketertarikan ini terdokumentasi dalam buku foto Tsutsumi (1972, Mainichi Shimbun), yang meskipun kini sudah tidak dicetak, tetap dianggap sebagai karya penting. Dalam buku dan aktivitas pamerannya, Oka memperkenalkan istilah “kemasan tradisional” dan berupaya meningkatkan kesadaran akan hilangnya teknik serta keindahan kemasan tradisi Jepang di tengah pesatnya pertumbuhan ekonomi. Ia menemukan estetika khas Jepang dalam kesederhanaan pembungkus jerami, wadah sushi, dan kotak permen yang dibuat dengan keterampilan tinggi.
Pada pertengahan 1970-an, koleksi Oka berkembang menjadi pameran keliling internasional yang menarik perhatian luas, seiring dikenalnya kata “TSUTSUMU” secara global. Pameran museum skala penuh pertama di Jepang berlangsung pada tahun 1988 dengan judul Bagaimana Lima Telur Dikemas? Kemasan Tradisional Jepang. Pada kesempatan ini, kemasan-kemasan tersebut diperoleh museum dan disimpan sebagai “Koleksi Kemasan,” yang kemudian kembali diperkenalkan dalam pameran-pameran berikutnya, termasuk pada tahun 2011 dan 2021.
TSUTSUMU -Traditional Japanese Packaging (Image by Google)
Menurut Oka, “memikirkan kemasan berarti memikirkan semua aspek kehidupan manusia.” Pandangan ini terasa relevan pada tahun 2021, di tengah pandemi COVID-19, ketika banyak orang meninjau ulang hubungan mereka dengan benda sehari-hari dan orang-orang terdekat. Meski kemasan-kemasan dalam pameran telah menua—memudar dan retak akibat bahan alaminya—karya-karya ini justru mengajak pengunjung merenungkan kehidupan, nilai kemanusiaan, dan makna membungkus dalam arti yang lebih luas.
Dari sudut pandang desain, kemasan tradisional yang dikumpulkan Oka terbagi menjadi dua kategori: bentuk yang lahir dari kearifan sehari-hari yang mengutamakan fungsi dan kesederhanaan, serta karya yang mewujudkan teknik pengemasan canggih dengan kepekaan estetika tinggi. Seiring waktu, fokus Oka bergeser dari keindahan bentuk menuju “semangat” Jepang yang tersembunyi di baliknya. Melalui pameran dan koleksi museum, warisan pemikiran Oka terus hidup sebagai refleksi tentang keindahan, tradisi, dan cara manusia “membungkus” kehidupannya