Tokyo hadirkan acara memasak Kuliner Gaza yang Menarik (Image by JapanToday)
Saat Gaza mulai bangkit pasca-gencatan senjata antara Israel dan Hamas, sebuah acara memasak di Tokyo menawarkan kesempatan langka bagi warga Jepang untuk terhubung dengan kehidupan masyarakat Gaza melalui makanan. Di Laboratorium Koto milik Orangepage Inc., para peserta memasak hidangan dari The Gaza Kitchen: A Palestinian Culinary Journey, buku masak yang baru diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang. Sesi terbaru yang digelar pada Oktober ini bertepatan dengan dua tahun invasi Israel ke Gaza, wilayah yang kini diperkirakan mengalami kerusakan lebih dari 80 persen bangunan.
Aki Komatsu, Ahli Masakan Arab sedang menyiapkan hidangan Gaza "Fogaiyya" (Image by JapanToday)
Ahli kuliner Arab, Aki Komatsu, memimpin sesi memasak tersebut dengan memperkenalkan hidangan tradisional Gaza. Karena beberapa bahan sulit didapat di Jepang, ia membuat penyesuaian kreatif, seperti mengganti lobak Swiss dengan komatsuna untuk memasak fogaiyya, semur khas Gaza. Sebagian peserta mengaku sempat merasa tidak nyaman menikmati makanan dari Gaza di tengah kondisi kekurangan pangan di wilayah itu, namun pemaparan para penerjemah buku membantu mereka memahami nilai budaya di balik setiap hidangan.
Hikaru Fujii, Dosen dari Universitas Tokyo memberikan tanggapan positif tentang acara tersebut (Image by JapanToday)
Hikaru Fujii, dosen Universitas Tokyo yang memimpin tim penerjemah, mengatakan bahwa proyek ini membuka matanya terhadap detail kehidupan sehari-hari di Gaza yang jarang diketahui publik. Bersama tiga mahasiswa pascasarjana, ia menerjemahkan buku karya Laila El-Haddad dan Maggie Schmitt tersebut sebagai upaya mendekatkan pembaca Jepang pada budaya kuliner Gaza dan kehidupan warganya sebelum kehancuran. Buku ini tidak hanya memuat resep, tetapi juga foto dan kisah masyarakat Gaza yang kini banyak berubah atau hilang.
Secara historis, Gaza merupakan pusat perdagangan yang mempertemukan Afrika dan Asia, sehingga warisan kulinernya kaya dan beragam. Profesor Mari Oka dari Universitas Waseda bahkan menyebut masakan Gaza sebagai “museum masakan Arab.” Orangepage menyatakan proyek ini sejalan dengan misi mereka memperkenalkan makanan rumahan dari berbagai belahan dunia, sekaligus menghidupkan kembali kenangan budaya yang terancam hilang.
Bagi banyak peserta, acara ini membuat konflik yang jauh terasa lebih dekat dan manusiawi. Mereka merasakan bagaimana makanan dapat menjadi jembatan pemahaman lintas budaya dan politik. The Gaza Kitchen, bagi sebagian orang, hanyalah buku resep; namun bagi lainnya, ia menjadi bentuk kesaksian hidup yang membantu memulihkan gambaran tentang Gaza sebagai tempat di mana keluarga—meski dalam kesulitan—pernah berkumpul, berbagi makanan, dan merayakan kebersamaan.