Inflasi Dorong Pemotongan Pajak

image

Jepang Rencana Pajak Nol (Image by : Kyodo News)

Perdana Menteri Sanae Takaichi berupaya merealisasikan janji kampanyenya dengan memberlakukan pembekuan pajak konsumsi makanan selama dua tahun, langkah yang ia sebut sebagai ambisi pribadi yang telah lama diidamkan. Kebijakan ini dirancang untuk meringankan beban inflasi yang masih dirasakan rumah tangga Jepang, sekaligus menjadi simbol komitmen pemerintah dalam menjaga daya beli masyarakat. Rencana tersebut muncul setelah kemenangan telak kubu penguasa dalam pemilihan umum, yang turut memicu ekspektasi pasar terhadap kemungkinan stimulus fiskal lebih besar. Meski demikian, para pengamat menilai dampak kebijakan ini terhadap perekonomian kemungkinan hanya bersifat sementara, dengan lonjakan awal dalam pengeluaran yang tidak bertahan lama.


Untuk merealisasikan rencana tersebut, pemerintah akan membentuk dewan nasional lintas partai guna membahas penurunan tarif pajak konsumsi makanan dari 8 persen menjadi nol persen. Kebijakan ini diperkirakan akan memangkas pendapatan pajak sekitar 5 triliun yen atau setara 33 miliar dolar AS per tahun, sehingga pemerintah harus mencari sumber pendanaan alternatif. Dewan tersebut ditargetkan menyusun laporan sementara pada Juni mendatang, bertepatan dengan penyusunan cetak biru kebijakan ekonomi tahunan yang menjadi dasar perencanaan anggaran berikutnya. Di tengah kekhawatiran mengenai penundaan rehabilitasi fiskal, Takaichi menegaskan bahwa pembekuan pajak hanya bersifat sementara hingga sistem kredit pajak yang dapat dikembalikan dapat diterapkan secara efektif.
Menteri Keuangan Satsuki Katayama menyatakan bahwa penangguhan pajak konsumsi sebaiknya berlangsung maksimal dua tahun sebelum pemerintah beralih ke skema kredit pajak yang dapat dikembalikan. Sistem tersebut dinilai lebih tepat sasaran dalam membantu rumah tangga berpenghasilan rendah dan menengah menghadapi tekanan inflasi. Namun, para ekonom meragukan efektivitas kebijakan pemotongan pajak dalam jangka panjang. Yuichi Kodama dari Institut Penelitian Meiji Yasuda memperingatkan bahwa pengurangan pajak hanya akan mendorong konsumsi untuk sementara, dengan dampak yang kemungkinan mereda setelah satu tahun dan berpotensi diikuti penurunan belanja.


Kodama juga menyoroti bahwa kebijakan ini kemungkinan baru dapat diterapkan paling cepat awal 2027, mengingat waktu yang dibutuhkan untuk pembahasan di dewan nasional serta penyesuaian sistem oleh para peritel. Dengan demikian, kebijakan tersebut tidak akan memberikan dampak langsung terhadap tekanan inflasi saat ini. Pemerintah sendiri memperkirakan inflasi akan melambat menjadi 1,9 persen pada tahun fiskal 2026 dari 2,6 persen pada tahun sebelumnya. Survei oleh Teikoku Databank menunjukkan hanya seperempat perusahaan yang memandang pembekuan pajak secara positif, terutama peritel yang berharap adanya peningkatan konsumsi, sementara hampir separuh responden tidak memperkirakan adanya dampak signifikan terhadap bisnis mereka.
Di sisi pendanaan, Takaichi menegaskan bahwa pemerintah tidak akan menerbitkan obligasi khusus untuk membiayai pemotongan pajak, melainkan akan meninjau kembali subsidi, langkah-langkah pajak khusus, serta memanfaatkan pendapatan non-pajak, termasuk kemungkinan penggunaan dana devisa di rekening khusus pemerintah. Namun, langkah tersebut memunculkan kekhawatiran baru terkait stabilitas fiskal Jepang yang sudah rapuh, dengan tingkat utang publik lebih dari dua kali ukuran ekonominya—terburuk di antara negara-negara G7. Ekonom Naohiko Baba dari Barclays Securities Japan memperingatkan bahwa pemangkasan subsidi penting atau penggunaan aset negara untuk menutup kekurangan pendapatan berisiko memperburuk kondisi fiskal dalam jangka panjang dan menghadapi hambatan politik yang tidak kecil.

JLPT 2026 Jepang Larang Turis Ikut

image

Mulai 2026, Pelamar peserta Ujian JLPT dijepang tanpa kartu izin tinggal akan dilarang mengikuti ujian JLPT

(Image by: Getty Images)

Mulai tahun 2026, wisatawan yang berkunjung ke Jepang tidak lagi diperbolehkan mengikuti Ujian Kemampuan Bahasa Jepang atau JLPT di dalam negeri. Kebijakan ini diumumkan oleh penyelenggara ujian dan akan membatasi pendaftaran hanya bagi mereka yang memiliki status tinggal jangka menengah hingga panjang atau izin tinggal tetap khusus. Pelamar wajib mencantumkan nomor kartu izin tinggal serta tanggal kedaluwarsanya saat mendaftar.

JLPT merupakan ujian bahasa Jepang berskala terbesar di dunia. Tes ini diselenggarakan oleh Japan Educational Exchanges and Services (JEES) bersama The Japan Foundation sejak tahun 1984 untuk mengukur kemampuan bahasa penutur non-asli, terutama dalam aspek membaca dan mendengarkan. Pada 2024, jumlah peserta mencapai 1,47 juta orang, tertinggi sejak ujian tersebut pertama kali diperkenalkan.

Selama ini, ujian dilaksanakan di seluruh 47 prefektur di Jepang serta di puluhan lokasi di luar negeri, biasanya pada bulan Juli dan Desember. Namun, beberapa negara hanya menyelenggarakannya sekali setahun, dan ada pula yang sempat menangguhkan pelaksanaan, seperti Wales, Portugal, dan Fiji.

image

Beberapa kelompook tertentu masih diperbolehkan untuk mengikuti JLPT meski tidak memiliki kartu izin tinggal jangka menengah (Image by: AdobeStock)

Hingga 2025, siapa pun yang bukan penutur asli bahasa Jepang dapat mengikuti JLPT di Jepang, termasuk pemegang visa turis dan pengunjung jangka pendek. Mulai 2026, pelamar tanpa kartu izin tinggal pada umumnya tidak akan diizinkan mengikuti ujian, meskipun mereka sedang berada di Jepang saat tes berlangsung.

Pihak JEES menjelaskan kepada The Japan Times bahwa perubahan aturan ini didorong oleh persoalan administratif. Sejumlah pelamar dari luar negeri diketahui menggunakan alamat di Jepang tanpa izin atau mencantumkan nomor telepon yang tidak valid, sehingga menyulitkan pengiriman voucher ujian, laporan nilai resmi, maupun komunikasi langsung dengan peserta.

Dalam sistem pendaftaran JLPT, peserta mendaftar melalui portal MyJLPT, membayar biaya ujian, lalu menerima voucher dan informasi lokasi tes melalui pos. Hasil ujian diumumkan secara daring, sementara laporan nilai cetak serta sertifikat kelulusan dikirimkan melalui pos. Meski aturan baru ini menutup peluang bagi sebagian besar pengunjung jangka pendek, beberapa kelompok tetap dikecualikan, seperti warga yang telah memperoleh kewarganegaraan Jepang namun bukan penutur asli, pemegang izin tinggal sementara, individu yang berada di bawah perjanjian pasukan AS-Jepang dan PBB, serta pemegang status tinggal “Diplomat” atau “Pejabat”.

Penyebaran Serbuk Sari Meluas

image

Peta peningkatan persebaran serbuk sari di bagian barat dan timur jepang (Image by: NHK)

Penyebaran serbuk sari tahun ini diperkirakan mencapai sekitar 1,3 kali rata-rata. Kondisi ini dipengaruhi oleh gelombang panas ekstrem pada musim panas tahun lalu. Perusahaan cuaca swasta mengimbau masyarakat untuk bersiap, karena area penyebaran diprediksi meluas dengan cepat mulai akhir Februari seiring kenaikan suhu, terutama di wilayah Jepang timur dan barat.

Menurut Weathernews, serbuk sari sudah mulai terdeteksi di Tokyo serta sembilan prefektur lainnya, termasuk Miyagi dan Fukuoka. Seiring cuaca yang menghangat pada akhir bulan ini, wilayah terdampak diperkirakan akan bertambah luas dan memasuki puncak musim penyebaran.

Jumlah serbuk sari yang dilepaskan diperkirakan sekitar 1,3 kali rata-rata. Beberapa daerah diprediksi mencatat angka di atas normal, antara lain Toyama (166%), Akita (152%), Gifu (144%), Osaka (137%), Fukuoka (122%), dan Tokyo (107%). Peningkatan ini diduga berkaitan dengan pertumbuhan bunga jantan penghasil serbuk sari yang berkembang pesat akibat suhu tinggi pada musim panas lalu.

Perusahaan cuaca mengingatkan bahwa pada hari-hari ketika suhu melampaui 15 derajat Celsius dan angin bertiup kencang, risiko konsentrasi serbuk sari tinggi akan meningkat. Masyarakat dianjurkan mengambil langkah pencegahan seperti memakai masker dan obat tetes mata, serta menepuk futon dan cucian yang dijemur di luar sebelum dibawa masuk ke dalam rumah.

image

Ilustrasi klinik yang meneriima keluhan demam hay (Image by: NHK)

Di sebuah klinik di Minato, Tokyo, jumlah pasien dengan keluhan demam hay seperti hidung berair dan mata gatal mulai meningkat sejak pekan lalu. Pada tanggal 17, pasien terus berdatangan untuk mendapatkan penanganan. Seorang perempuan berusia 60-an yang datang berobat mengaku batuknya memburuk dan memutuskan mencari obat karena sering bermain golf di luar ruangan.

Dokter Kumiko Kishimoto dari klinik tersebut menyampaikan bahwa gejala demam hay dapat diringankan dengan penanganan yang tepat, sehingga penting untuk segera memeriksakan diri. Ia juga menjelaskan bahwa kondisi alergi bisa semakin parah jika kesehatan usus terganggu, sehingga menjaga kondisi tubuh dan meningkatkan daya tahan menjadi hal yang penting.

image

Yoshio Kuramoto, Direktur Riset Regional, Lembaga Penelitian Kehutanan dan Produk Hutan, Cabang Kansai, Organisasi Penelitian dan Manajemen Kehutanan (Image by: NHK

Terkait prospek ke depan, Keisei Kuramoto, Direktur Riset Regional Cabang Kansai dari Forestry and Forest Products Research Institute yang juga anggota Komite Peninjauan Penanggulangan Demam Hay Pemerintah Metropolitan Tokyo, menjelaskan bahwa dalam sekitar 10 tahun terakhir, periode dari awal penyebaran hingga mencapai puncak menjadi semakin singkat. Selain itu, jumlah serbuk sari cenderung tetap tinggi tanpa cepat menurun, meski penyebab pastinya belum diketahui. Ada risiko musim ini akan cepat mencapai puncak dan berlangsung lama.

Ia juga menambahkan bahwa pola perbedaan tajam antara tahun dengan serbuk sari tinggi dan rendah yang dulu terlihat jelas hingga 1990-an kini semakin melemah. Perubahan iklim, termasuk gelombang panas ekstrem, diduga menjadi salah satu faktor. Cuaca kering dalam waktu dekat juga berpotensi mempercepat penyebaran. Bahkan bagi yang belum bergejala, paparan dalam jumlah besar dapat memicu keluhan, sehingga masyarakat diminta terus memantau informasi resmi dan tetap mengenakan masker sebagai langkah pencegahan.

Museum Unko Bloom 2026

Musim semi telah tiba. Di Jepang, kotoran telah lama dipandang sebagai simbol kesuburan alam yang tak terbatas sekaligus pengingat akan kefanaan hidup bahwa segala sesuatu tidak akan bertahan selamanya dan pada akhirnya akan berulang kembali. Dalam konteks budaya yang unik ini, kotoran bahkan dianggap memiliki sisi ajaibnya sendiri, mungkin hanya kalah populer dari bunga sakura yang ikonik.


Tahun ini, Museum Unko kembali menghadirkan acara spesial bertajuk Super Full Bloom!!! Unko Sakura 2026. Kata “unko” sendiri berarti kotoran dalam bahasa Jepang. Museum ini bukanlah museum sains, melainkan ruang hiburan yang merayakan sisi estetika dan desain dari kotoran melalui berbagai instalasi kreatif dan penuh warna.


Daya tarik utama museum yang berada di Tokyo, Nagoya, dan Nakagami di Okinawa adalah Gunung Berapi Unko. Selama periode 5 Maret hingga 23 April 2026, dua kali sehari gunung berapi ini akan “mekar” dengan hiasan bunga sakura, sambil memuntahkan gumpalan kecil berbentuk kotoran yang menggemaskan.

image

Super Full Bloom!!! Unko Sakura 2026 (Image by : Soranews24)


Fenomena mekarnya sakura ini hadir dalam dua versi setiap hari: pertunjukan siang dan pertunjukan malam. Keduanya menawarkan suasana dan pesona yang berbeda, menghadirkan kombinasi warna, cahaya, dan efek visual yang membuat pengalaman semakin meriah dan unik bagi para pengunjung.


Tak hanya itu, Ruang Love Unko juga mendapatkan sentuhan sakura spesial selama acara berlangsung. Di ruangan ini, pengunjung dapat merasakan sensasi duduk di toilet yang dikelilingi kelopak sakura merah muda yang tampak menari di udara. Tempat ini sangat cocok untuk pasangan yang ingin mengabadikan momen, dengan staf museum yang siap membantu mengambil foto kenangan.


Sebagai pelengkap, tersedia stiker bertema musim semi seharga 300 yen serta gantungan kunci edisi khusus seharga 500 yen melalui mesin kapsul di lokasi. Dengan suasana nyaman ber-AC dan tanpa perlu berdesakan seperti saat hanami tradisional, acara ini menawarkan cara alternatif menikmati keindahan sakura unik, jenaka, dan tentunya tak terlupakan.

Topeng Monyet Pembawa Keberuntungan

image

topeng monyet pembawa keberuntungan (Image by : Google)

 Festival Koshin pertama tahun ini digelar pada tanggal 15 di Kuil Sarutahiko yang terletak di Distrik Sawara, Kota Fukuoka. Sejak pagi hari, kawasan kuil telah dipadati para peziarah yang datang untuk mengikuti perayaan sekaligus membeli topeng monyet pembawa keberuntungan yang menjadi ciri khas festival tersebut.


 Pada pukul 9 pagi, antrean pengunjung sudah terlihat panjang di area kuil. Reporter Hirayama melaporkan bahwa banyak warga telah datang lebih awal untuk memastikan mereka dapat memperoleh topeng yang dijual terbatas pada hari pelaksanaan Festival Koshin pertama tahun ini.

image

Kuil Sarutahiko di Distrik Sawara, Kota Fukuoka (Image by : Google)


 Festival ini diselenggarakan bertepatan dengan hari Koshin pertama dalam kalender tradisional tahun ini. Pada kesempatan tersebut, kuil menyediakan topeng monyet pembawa keberuntungan dengan harga 1.500 yen per buah. Topeng tersebut dipercaya memiliki makna simbolis sebagai penolak kesialan.
 Menurut kepercayaan setempat, topeng monyet yang digantung di pintu masuk bangunan dapat menangkal nasib buruk. Selain itu, karena monyet dikenal tidak jatuh dari pohon, topeng ini juga populer sebagai simbol doa bagi para pelajar agar berhasil dan lulus dalam ujian.


 Sejumlah pengunjung menyampaikan harapan mereka saat membeli topeng tersebut. Ada yang berencana memasangnya di pintu masuk rumah dengan harapan dapat menghindarkan diri dari kesialan serta mendatangkan kebahagiaan. Pengunjung lainnya berharap tahun ini menjadi tahun yang penuh kebahagiaan bagi dirinya dan keluarga.


 Penjualan topeng monyet pembawa keberuntungan berlangsung hingga pukul 6 sore pada tanggal 15. Pihak kuil juga mengumumkan bahwa Festival Koshin berikutnya dijadwalkan akan kembali digelar pada tanggal 16 April mendatang di lokasi yang sama.

WNA Dominasi Insiden Ski Hokkaido

image

Ilustrasi ski off-piste (Image by: soranews24.com)

Hokkaido merupakan prefektur paling utara di Jepang yang terkenal dengan musim dingin panjang, suhu ekstrem, dan kualitas salju kelas dunia. Kondisi ini menjadikannya magnet bagi penggemar ski dan snowboard dari berbagai negara, terutama di tengah lonjakan wisatawan internasional ke Jepang serta pelemahan nilai tukar yen yang membuat biaya liburan relatif lebih terjangkau.

Namun, popularitas tersebut tidak hanya terjadi di jalur resmi yang dikelola resor. Sejumlah wisatawan mancanegara memilih bermain di luar batas yang ditentukan (backcountry/off-piste). Ketika kemampuan tidak sebanding dengan risiko medan, sebagian dari mereka tersesat, terluka, atau terdampar dan membutuhkan pertolongan untuk kembali dengan selamat.

image

Ilustrasi ski off-piste (Image by: soranews24.com)

Menurut data Kepolisian Prefektur Hokkaido, antara akhir November hingga 2 Februari, terdapat 58 kasus penyelamatan pemain ski dan snowboard di luar jalur resmi. Dari jumlah itu, 48 orang atau sekitar 82,8 persen merupakan warga negara asing. Artinya, lebih dari 80 persen kasus musim ini melibatkan pengunjung mancanegara.

Angka tersebut memicu perdebatan di Jepang. Situasi ini muncul setelah insiden tahun lalu di Gunung Fuji, ketika beberapa pendaki asing harus dievakuasi saat jalur resmi sedang ditutup. Salah satu kasus bahkan melibatkan penyelamatan darurat dua kali dalam satu minggu terhadap orang yang sama.

Di sisi lain, ada persepsi bahwa lonjakan wisatawan asing turut mendorong kenaikan harga di restoran, hotel, dan fasilitas sekitar area ski. Sebagian warga lokal merasa terbebani karena tidak menikmati keuntungan nilai tukar, sementara pajak daerah tetap digunakan untuk membiayai operasi penyelamatan bagi mereka yang melanggar aturan.

image

Evakuasi Pemain Ski yang Off-piste (Image by: Asahi.com)

Secara umum, jika penyelamatan dilakukan oleh polisi atau pemadam kebakaran, biaya tidak dibebankan langsung kepada korban karena layanan tersebut merupakan bagian dari layanan publik. Namun, dalam beberapa kasus—misalnya di resor yang menyewa lahan taman nasional—patroli sipil dapat dilibatkan dan mengenakan tarif tertentu.

Di sebuah resor di kota Furano, biaya penyelamatan tercatat sekitar 20.000 yen per jam kerja, ditambah 50.000 yen per jam untuk penggunaan kendaraan salju. Dalam satu operasi larut malam yang berlangsung tiga jam, total tagihan dilaporkan melebihi satu juta yen. Di beberapa wilayah, sistem hibrida antara otoritas lokal dan organisasi sipil juga diterapkan, sehingga biaya dapat dibebankan kepada pihak yang diselamatkan.

Perdebatan kini mengarah pada wacana agar pelanggar aturan keselamatan menanggung sendiri biaya penyelamatan, termasuk kemungkinan kewajiban asuransi bagi pemain ski di luar jalur resmi. Jika tren insiden terus berlanjut, bukan tidak mungkin pemerintah daerah di Hokkaido akan mempertimbangkan kebijakan baru guna mengurangi beban anggaran dan menjaga keseimbangan antara pariwisata dan kepentingan masyarakat setempat.

Tempat Sampah Pintar akan Dipakai di Akihabara

Pemerintah Distrik Chiyoda di Tokyo berencana memperkenalkan teknologi tempat sampah pintar (smart trash cans) di kawasan Akihabara, salah satu pusat wisata dan budaya pop paling terkenal di Jepang. Kebijakan ini diambil sebagai respons atas meningkatnya masalah sampah di area tersebut, yang banyak dikunjungi wisatawan mancanegara setiap harinya.

Pihak distrik mengungkapkan bahwa mereka menerima banyak keluhan dari warga lokal mengenai sampah yang dibiarkan berserakan di jalan, trotoar, dan sekitar fasilitas umum. Meskipun masyarakat setempat dan relawan kebersihan telah melakukan berbagai upaya, jumlah wisatawan yang terus meningkat membuat pengelolaan sampah menjadi semakin sulit.

Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah distrik berencana memasang sekitar 10 unit tempat sampah pintar di berbagai titik strategis di Akihabara. Perangkat ini dilengkapi teknologi pemadatan otomatis yang mampu mengurangi volume sampah hingga sekitar seperlima dari ukuran aslinya. Setiap unit dapat menampung hingga 600 liter sampah, sehingga lebih efisien dibandingkan tempat sampah konvensional.

Selain itu, tempat sampah pintar ini terhubung ke internet dan dapat mengirim data secara real-time tentang tingkat kepenuhan wadah. Dengan sistem ini, petugas kebersihan dapat mengatur jadwal pengumpulan sampah secara optimal, mengurangi biaya operasional, dan mencegah tempat sampah meluap.

Pemerintah distrik juga menekankan bahwa Akihabara bukan hanya kawasan wisata, tetapi juga permukiman bagi penduduk lokal. Mereka menyadari bahwa selama ini ada batasan dalam kemampuan warga dan sukarelawan untuk menangani sampah yang ditinggalkan oleh pengunjung. Oleh karena itu, pihak distrik menyatakan tidak lagi berpegang sepenuhnya pada prinsip tradisional Jepang bahwa orang harus membawa pulang sampah mereka sendiri.

Secara umum, Jepang memang dikenal sebagai negara yang minim tempat sampah di ruang publik. Sejak serangan gas sarin pada 1995, banyak tempat sampah umum dihapus karena alasan keamanan. Akibatnya, masyarakat Jepang terbiasa membawa pulang sampah mereka atau membuangnya di tempat khusus seperti di dalam toko atau stasiun. Namun, meningkatnya jumlah wisatawan asing yang tidak terbiasa dengan kebiasaan ini telah memicu masalah baru berupa sampah yang berserakan di area wisata populer.

Langkah pemasangan tempat sampah pintar ini dianggap sebagai bukti bahwa Jepang mulai beradaptasi dengan tantangan pariwisata massal. Pemerintah setempat berharap kebijakan ini dapat menjaga kebersihan kota sekaligus menciptakan lingkungan yang lebih nyaman bagi penduduk dan pengunjung. Mereka berharap inovasi ini menjadi contoh bagi kawasan wisata lain di Jepang dalam menghadapi peningkatan jumlah wisatawan internasional.


Tempat Sampah Pintar akan Dipakai di Akihabara
Tempat Sampah ini Rencananya akan dipakai di Akihabara

FamilyMart Buka Bioskop di Bandara

image

Peresmian Faminchu Theatre (Image by: PR Faminchu Theatre)

Bioskop permanen pertama di dalam bandara Jepang resmi dibuka dengan nama FamilyMart Lovers Theatre, atau lebih dikenal sebagai Faminchu Theatre. Kehadirannya menjadi hal baru yang cukup mengejutkan, mengingat konsep bioskop mini di dalam terminal bandara hampir belum pernah ditemui sebelumnya di Jepang.

Berbagai inovasi unik memang sering muncul di Jepang, namun bioskop di area bandara masih tergolong langka. Situasi itu berubah pada 1 Oktober, saat Faminchu Theatre mulai beroperasi di Bandara Naha, Okinawa, dan langsung menarik perhatian para pelancong.

image

Faminchu Theatre yang memliki 28 kursi penonton (Image by: PR Faminchu Theatre)

Meski Bandara New Chitose di Hokkaido telah memiliki bioskop berukuran penuh, Faminchu Theatre mencatatkan diri sebagai bioskop mini permanen pertama yang berada langsung di dalam terminal bandara Jepang. Dengan kapasitas hanya 28 kursi, bioskop ini menawarkan suasana menonton yang lebih tenang dan intim.

Bioskop tersebut terletak di lantai tiga Terminal Domestik Bandara Naha. Konsepnya ditujukan sebagai ruang budaya bagi wisatawan domestik maupun internasional, sekaligus alternatif menarik untuk mengisi waktu tunggu sebelum atau sesudah penerbangan.

image

Tampak Depan Faminchuu Theatre (Image by: PR Faminchu Theatre)

Film-film yang diputar di Faminchu Theatre berasal dari berbagai negara dan sebagian besar berdurasi pendek. Salah satu judul yang ditayangkan adalah Master Maggie, film pendek asal Amerika Serikat yang dirilis pada 2019 dan dikenal dengan pendekatan emosionalnya.

image

Film Pendek Master Maggie (Image by: PR Faminchu Theatre)

Selain itu, bioskop ini juga menayangkan The Silent Child, sebuah film pendek berbahasa isyarat asal Inggris yang mengangkat isu komunikasi dan inklusivitas. Kehadiran film ini memberi pengalaman menonton yang berbeda dari bioskop pada umumnya.

image

Film Pendek The Silent Child (Image by: PR Faminchu Theatre)

Judul lain yang turut diputar adalah Knight of Fortune, film pendek asal Denmark yang pernah masuk nominasi Academy Awards, serta Koper Merah, film dari Nepal yang menawarkan sudut pandang budaya yang kuat dan menyentuh.

image

Film Pendek Knight of Fortune (Image by: PR Faminchu Theatre)

image

Film Pendek The Red Suitcase (Image by: PR Faminchu Theatre)

Seluruh pemutaran film disediakan oleh Samansa, layanan streaming film pendek berbasis di Tokyo, dengan daftar film yang diperbarui setiap bulan. Nama “Faminchu” sendiri diambil dari istilah slang Okinawa yang menggabungkan “Fami” dari FamilyMart dan akhiran “-nchu” yang berarti orang, mencerminkan kedekatan bioskop ini dengan budaya lokal.

Tukar Kursi Shinkansen Dilarang

image

Foto shinkansen dengan background Gunung Fuji (Image by: JapanTravel.Navitime.com)

Bertukar tempat duduk di Shinkansen kerap dianggap sebagai area abu-abu dalam etiket perjalanan. Banyak penumpang merasa hal ini soal sopan santun, bukan aturan. Namun, bagi Japan Railways (JR), posisinya cukup jelas dan tegas.

Jepang dikenal menjunjung tinggi sikap saling menghormati di ruang publik, termasuk di transportasi umum. Prinsip “tidak merepotkan orang lain” sering kali membuat penumpang ragu menolak permintaan, meski itu berarti mengorbankan kenyamanan sendiri. Perdebatan soal tukar kursi di Shinkansen pun muncul secara berkala.

image

Foto Shinkansen (Image by: SoraNews 24.com)

Sebagian gerbong Shinkansen menggunakan sistem kursi reservasi, mirip dengan pesawat. Masalah muncul ketika penumpang bepergian berkelompok tetapi tidak mendapat kursi berdampingan. Ada pasangan yang ingin duduk bersama, orang tua yang ingin anaknya duduk dekat jendela, atau lansia yang lebih nyaman di kursi lorong.

Situasi ini memunculkan dua pandangan berbeda. Pihak pertama menilai kursi reservasi adalah hak pemegang tiket karena telah dibayar lebih mahal, sehingga tidak ada kewajiban untuk menyerahkannya. Di sisi lain, ada anggapan bahwa karena harga kursi dalam satu gerbong sama, bertukar tempat tidak merugikan siapa pun selama sama-sama memegang tiket reservasi.

image

Tempat duduk shinkansen (Image by: SoraNews24.com)

Japan Railways Group, khususnya JR Central selaku operator Tokaido Shinkansen, memiliki sikap resmi terkait hal ini. Mereka menyatakan bahwa kursi Shinkansen yang telah dipesan hanya boleh digunakan oleh pemegang tiket yang tertera, dan tidak dapat dialihkan ke penumpang lain.

Aturan ini berkaitan dengan sistem operasional Shinkansen yang berbeda dari pesawat. Kereta cepat berhenti di banyak stasiun, dan satu kursi bisa dipesan oleh penumpang berbeda di segmen perjalanan yang berbeda pula. Jika kursi ditukar sembarangan, penumpang yang naik di stasiun berikutnya berpotensi mendapati kursinya sudah ditempati orang lain.

image

Foto Nozomi Shinkansen (Image by: Tourjapan.co.id)

JR juga melarang penumpang kursi reservasi bertukar tempat dengan penumpang tanpa reservasi. Selain perbedaan harga tiket, hal ini menyulitkan pemeriksaan oleh petugas. Penumpang yang duduk di kursi reservasi tanpa tiket yang sesuai bisa dianggap menempati kursi orang lain, meski sebenarnya ada kesepakatan pribadi.

Meski demikian, JR mengakui bahwa dalam praktiknya, pertukaran kursi antarpenumpang dengan tiket reservasi di rute yang sama bisa saja terjadi tanpa masalah. Namun, penumpang tidak memiliki kewajiban untuk menyetujui permintaan tersebut. Jika merasa tertekan atau tidak nyaman, JR menyarankan penumpang untuk melapor kepada petugas agar perjalanan tetap aman dan nyaman.

Ramen Matcha Khas Kyoto

Ramen kini sering dianggap telah melampaui sushi sebagai ikon kuliner Jepang yang paling dikenal, baik di dalam negeri maupun di kancah internasional. Di sisi lain, teh hijau matcha bukan sekadar minuman, melainkan simbol budaya yang sarat makna historis dan spiritual. Menggabungkan dua elemen khas Jepang ini dalam satu hidangan tentu terdengar tidak biasa, namun justru itulah yang melahirkan sebuah inovasi kuliner menarik: restoran ramen khusus matcha pertama di Jepang.
image

Perpaduan Ramen Matcha Unik di Kyoto (Image by : Japan Today)


Inovasi tersebut hadir di Kyoto, kota yang dikenal sebagai pusat budaya tradisional Jepang, tepatnya di kawasan geisha Gion. Restoran ini bernama Ramen Nishiki Sui, cabang terbaru dari Ramen Nishiki yang telah lebih dulu dikenal. Perbedaan utamanya terletak pada konsep menu, di mana seluruh jenis ramen menggunakan kaldu berbasis matcha. Nama Sui dipilih karena merupakan ungkapan puitis dalam bahasa Jepang yang berarti “hijau”, selaras dengan karakter matcha sebagai elemen utama.


Sejak mulai melayani pelanggan pada akhir musim gugur lalu, Nishiki Sui menawarkan empat varian ramen dengan karakter rasa yang berbeda. Menu andalannya, Sui, menyajikan kaldu matcha bertekstur creamy yang dipadukan dengan kaldu ikan kakap (tai), menciptakan rasa yang kaya namun tetap ringan dan bersih di akhir. Hidangan ini dilengkapi topping premium seperti ikan kakap panggang teriyaki, paprika berwarna cerah sebagai kontras visual, serta jamur enoki goreng yang diberi taburan keju parmesan.

image

Matcha Tsukimi Gohan (Image by : Japan Today)


Pilihan lainnya adalah Sho, yang menghadirkan sensasi rasa lebih kompleks melalui penggunaan sansho, sejenis lada Jepang dengan rasa sepat khas, dipadukan dengan perut babi dan bunga yang dapat dimakan. Bagi pencinta rasa segar, tersedia Yuzu, yang menonjolkan aroma dan keasaman jeruk yuzu dalam kaldunya. Sementara itu, Nishiki menjadi opsi paling sederhana, menyerupai kaldu ikan kakap khas Ramen Nishiki utama, namun dengan tambahan matcha yang memberi sentuhan unik.


Meskipun porsi ramen di Nishiki Sui tidak terlalu besar, pengunjung dapat melengkapinya dengan Matcha Tsukimi Gohan, variasi tamagokakegohan berupa nasi putih panas yang dicampur telur mentah dan sentuhan matcha. Tambahan daging babi atau ikan kakap juga bisa dipesan sesuai selera. Walau bukan restoran pertama yang menyajikan ramen matcha, Nishiki Sui mengklaim sebagai restoran pertama di Jepang yang secara eksklusif menggunakan kaldu matcha, menjadikannya destinasi kuliner unik yang berpotensi memberikan pengalaman tak terlupakan bagi wisatawan Kyoto.