Jepang Peringatkan Bahaya Jamur Beracun
Foto jamur beracun Tsukiyotake (Image by : Wikipedia)
PemerintahJepang mengimbau masyarakat untuk berhati-hati terhadap jamur beracun yang menyerupai jamur konsumsi, terutama bagi mereka yang berencana pergi ke pegunungan pada musim gugur. Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang memperingatkan bahwa sejumlah jenis jamur liar dapat menyebabkan keracunan serius hingga kematian.
Menurut data kementerian, lebih dari 540 orang mengalami keracunan makanan akibat jamur beracun selama periode 10 tahun hingga 2025. Kasus serupa terjadi setiap tahun di Jepang, terutama pada musim gugur, ketika kondisi lingkungan mendukung pertumbuhan berbagai jenis jamur.
Jamur cenderung tumbuh setelah musim panas yang terik diikuti curah hujan sedang serta suhu pagi dan malam hari yang lebih sejuk. Kondisi tersebut membuat masyarakat perlu lebih waspada saat menemukan jamur liar ketika beraktivitas di pegunungan atau kawasan hutan.
Salah satu jenis yang paling mudah tertukar dengan jamur konsumsi adalah tsukiyotake, yang dikenal sebagai moonlight mushroom atau Japanese Jack-o'-lantern. Jamur beracun ini memiliki kemiripan dengan shiitake dan jamur tiram yang umum dikonsumsi di Jepang.
Konsumsi tsukiyotake dapat menimbulkan gejala seperti muntah dan diare sekitar 30 menit hingga satu jam setelah dimakan. Selain itu, kusaurabenitake, atau wood pinkgill, juga telah menyebabkan banyak kasus keracunan karena menyerupai jamur konsumsi seperti honshimeji dan hatakeshimeji.
Kementerian juga memperingatkan bahaya tengutake, yang dikenal sebagai panther cap, serta dokutsurutake, atau destroying angel. Kedua jenis jamur tersebut dapat berakibat fatal jika dikonsumsi. Peringatan ini ditujukan kepada masyarakat agar tidak menganggap jamur liar aman hanya karena bentuknya menyerupai jenis yang biasa dimakan.
Pemerintah Jepang meminta masyarakat untuk tidak mengandalkan foto atau gambar di internet dalam menentukan apakah suatu jamur aman dikonsumsi. Jika tidak yakin dengan jenisnya, masyarakat diminta untuk tidak memetik, memakan, menjual, ataupun membagikan jamur tersebut kepada orang lain.
Masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi jamur diimbau segera mencari pertolongan medis. Peringatan ini menjadi perhatian bagi warga maupun pengunjung yang beraktivitas di alam terbuka di Jepang, khususnya selama musim gugur ketika kasus keracunan jamur kerap terjadi.
Sumber: Kyodo News