Jepang Hadapi Lonjakan Pendaftar JLPT

Seorang wanita menerima pelajaran bahsa Jepang di Osaka pada 25 September 2026. (Image by: Kyodo)
Pemerintah Jepang meminta sekolah-sekolah bahasa Jepang di seluruh negeri mempertimbangkan penggunaan ujian kemampuan bahasa selain JLPT. Permintaan tersebut disampaikan setelah jumlah pendaftar meningkat tajam dan mulai menimbulkan kendala dalam penyediaan tempat serta penyelenggaraan ujian.
Peningkatan jumlah pendaftar terjadi setelah pemerintah Jepang memperluas persyaratan kemampuan bahasa Jepang untuk berbagai jenis pekerjaan sejak Oktober tahun lalu. Kebijakan tersebut diterapkan di tengah meningkatnya kebutuhan Jepang terhadap tenaga kerja asing.
Ujian yang terdiri dari lima tingkat ini diselenggarakan dua kali dalam setahun oleh Japan Foundation dan Japan Educational Exchanges and Services (JEES). Tes tersebut banyak digunakan oleh warga negara asing untuk memenuhi persyaratan bahasa dalam berbagai status tinggal, termasuk untuk bekerja dan belajar di Jepang.
Jumlah pendaftar terus meningkat setiap tahun setelah pandemi COVID-19. Berdasarkan perhitungan sementara, sebanyak 943.671 orang di Jepang dan luar negeri mendaftar untuk ujian pada Juli tahun ini. Jumlah tersebut menjadi rekor tertinggi untuk pelaksanaan sesi Juli.
Lonjakan pendaftar juga berdampak pada ujian sesi Desember. Pendaftaran untuk sesi tersebut bahkan ditutup lebih awal dari jadwal yang telah ditentukan. Sejumlah tes kemampuan bahasa Jepang lainnya juga menghadapi peningkatan jumlah peserta dan keterbatasan kapasitas.
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olahraga, Sains dan Teknologi Jepang (MEXT) menyampaikan kondisi tersebut dalam dokumen bertanggal 11 September yang dikirim kepada sekitar 100 lembaga pendidikan bahasa Jepang yang telah mendapatkan sertifikasi pemerintah. MEXT menjelaskan bahwa peningkatan pendaftar membuat penyediaan tempat yang mencukupi serta pelaksanaan ujian secara tepat menjadi semakin sulit.
MEXT kemudian meminta lembaga-lembaga tersebut mempertimbangkan ujian alternatif, salah satunya BJT Business Japanese Proficiency Test. Badan Layanan Imigrasi Jepang juga menyampaikan permintaan serupa kepada sekitar 800 sekolah bahasa Jepang lainnya yang belum termasuk dalam lembaga pendidikan bersertifikasi pemerintah.
Sementara itu, penyelenggara Test of Practical Japanese atau J.TEST, yang dilaksanakan enam kali dalam setahun, juga memperingatkan bahwa pendaftaran untuk sesi November dapat ditutup sebelum batas waktu apabila jumlah pendaftar mencapai kapasitas yang tersedia. Yoshihisa Saito, associate professor di Kobe University yang meneliti kebijakan terkait warga negara asing, mengatakan peningkatan pendaftar seharusnya sudah dapat diperkirakan setelah persyaratan kemampuan bahasa Jepang diberlakukan untuk sejumlah status tinggal. Ia juga menyatakan bahwa pemerintah perlu memastikan ujian dapat diakses oleh seluruh peserta yang membutuhkannya.