Hiroshima Rekrut Sopir Bus Indonesia

image

Foto yang diambil di Hiroshima menunjukkan pengemudi bus Hiroshima Kotsu, Saeful Ulum (kiri) dan Thiery Corompis. (Image by: Kyodo)

Hiroshima Rekrut Sopir Bus dari Indonesia

 

Kekurangan sopir bus yang semakin parah mendorong perusahaan transportasi di Hiroshima, Jepang, merekrut tenaga kerja dari Indonesia. Hiroshima Kotsu merekrut dua warga negara Indonesia, Saeful Ulum (49) dan Thiery Corompis (36), yang bergabung sebagai calon sopir pada April 2026. Keduanya ditargetkan mulai mengemudikan bus rute reguler sebelum akhir tahun.

Hiroshima Kotsu disebut menjadi operator bus pertama di Prefektur Hiroshima yang merekrut warga negara asing sebagai calon sopir. Dalam sesi latihan di jalan umum, Ulum terlihat menjalankan bus sambil memberikan pengumuman dalam bahasa Jepang. Keduanya mulai menjalani pelatihan di jalan umum sejak Juni untuk mempersiapkan diri menjadi sopir bus rute penuh.

Hiroshima Kotsu terutama mengoperasikan layanan bus di wilayah Kota Hiroshima. Perusahaan saat ini memiliki 195 sopir, atau sekitar 20 persen lebih sedikit dibandingkan satu dekade lalu. Kekurangan tenaga kerja tersebut membuat pemeliharaan sejumlah rute semakin sulit dan menyebabkan perusahaan mengurangi layanan sebanyak dua kali pada 2024.

Selain jumlah sopir yang menurun, usia tenaga kerja juga menjadi perhatian. Rata-rata usia sopir Hiroshima Kotsu saat ini mencapai 53 tahun, sementara jumlah pekerja muda yang memasuki profesi tersebut masih terbatas. Perusahaan kemudian melihat perekrutan tenaga kerja dari luar negeri sebagai salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan sopir bus.

Presiden Hiroshima Kotsu, Tadayuki Teshima (63), bahkan melakukan perjalanan langsung ke Indonesia untuk mencari calon tenaga kerja. Indonesia dipilih antara lain karena kendaraan menggunakan posisi kemudi di sebelah kanan dan lalu lintas berjalan di sisi kiri, seperti di Jepang. Meski memiliki kesamaan tersebut, Ulum mengatakan dirinya tetap harus menyesuaikan diri dengan aturan dan kebiasaan berkendara di Jepang.

Sebelum mengikuti pelatihan sebagai sopir bus, Ulum dan Corompis juga harus mengubah SIM Indonesia mereka menjadi SIM Jepang. Proses konversi tersebut menjadi lebih ketat setelah Badan Kepolisian Nasional Jepang memperkuat pemeriksaan terhadap pemohon SIM asing pada Oktober 2025, termasuk pengetahuan mengenai aturan lalu lintas dan kemampuan mengemudi.

Corompis, yang sebelumnya bekerja sebagai sopir taksi di Indonesia, mengatakan proses konversi SIM lebih sulit dari yang diperkirakan. Sebuah sekolah mengemudi kemudian menyediakan program khusus selama 20 jam untuk membantu keduanya berlatih. Keduanya akhirnya berhasil lulus ujian praktik pada percobaan keempat dan menyelesaikan proses konversi SIM pada Juni 2026.

Kemampuan mengemudi bukan satu-satunya hal yang perlu dipersiapkan. Ulum dan Corompis sudah dapat menggunakan bahasa Jepang untuk percakapan sehari-hari dan pekerjaan dasar, tetapi masih mempelajari keterampilan pelayanan kepada penumpang, termasuk menangani pembayaran di dalam bus. Keduanya berharap dapat menjadi sopir yang dipercaya masyarakat setempat dan memberikan pelayanan yang membuat penumpang merasa nyaman. Hiroshima Kotsu juga berencana melanjutkan perekrutan warga negara asing sebagai sopir untuk mempertahankan layanan bus di tengah kekurangan tenaga kerja.

Sumber: Kyodo