Kuil Gunung Koya Disorot Pajak

image

(Image by: Pakutaso)

Kuil Gunung Koya di Prefektur Wakayama, Jepang, menjadi sorotan setelah pemeriksaan pajak menemukan adanya pendapatan yang tidak dilaporkan oleh sejumlah badan keagamaan yang mengelola penginapan kuil. Kasus ini muncul di tengah meningkatnya jumlah wisatawan asing yang berkunjung dan menginap di kawasan Gunung Koya.

Gunung Koya atau Koyasan merupakan salah satu kawasan keagamaan penting di Jepang dan menjadi bagian dari situs Warisan Dunia UNESCO. Selain mengunjungi berbagai kuil, wisatawan juga dapat menginap di shukubo, yaitu penginapan yang dikelola oleh kuil dan secara tradisional digunakan oleh peziarah serta para biksu.

image

(Image by: Pakutaso)

Pemeriksaan yang dilakukan Osaka Regional Taxation Bureau mencakup lebih dari 10 badan keagamaan yang mengelola shukubo di Gunung Koya. Laporan yang muncul pada 10 September menyebutkan bahwa lebih dari setengah badan keagamaan yang diperiksa diketahui tidak melaporkan pendapatan secara tepat. Secara keseluruhan, pendapatan yang tidak dilaporkan disebut mencapai lebih dari 100 juta yen.

Salah satu kasus terbesar berkaitan dengan Kuil Sojiin. Sekitar 90 juta yen dari pendapatan yang tidak dilaporkan dikaitkan dengan kuil tersebut. Menurut laporan, pendapatan dari penginapan kuil digunakan oleh keluarga kepala pendeta untuk keperluan pribadi selama periode tiga tahun. Otoritas pajak kemudian mengenakan tambahan pajak dan denda sekitar 40 juta yen.

image

(Image by: Pakutaso)

Dalam aturan perpajakan Jepang, sumbangan dan persembahan yang berkaitan dengan kegiatan keagamaan pada umumnya tidak dikenai pajak. Namun, pendapatan dari kegiatan yang menghasilkan keuntungan, termasuk usaha akomodasi, dapat dikenai pajak. Karena itu, pendapatan yang diperoleh dari pengoperasian shukubo tetap menjadi bagian yang perlu dilaporkan kepada otoritas pajak.

Kawasan Gunung Koya memiliki sekitar 117 kuil, dengan 51 di antaranya diketahui mengoperasikan shukubo. Pada 2025, sekitar 117.500 wisatawan asing tercatat menginap di kawasan tersebut, meningkat sekitar 10 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pengalaman menginap di kuil biasanya mencakup makanan vegetarian khas Buddha, mengikuti layanan pagi, meditasi, hingga kegiatan menyalin sutra.

image

(Image by: Pakutaso)

Meningkatnya permintaan wisatawan juga diikuti perubahan harga penginapan. Beberapa kamar shukubo di Gunung Koya kini ditawarkan dengan harga lebih dari 150.000 yen untuk dua orang per malam. Asosiasi Koyasan Shukubo menyebut sekitar 40 tahun lalu harga menginap satu malam dengan dua kali makan berada di kisaran 7.000 yen. Setelah pandemi, sejumlah penginapan juga mendapat dukungan subsidi pemerintah untuk melakukan peningkatan fasilitas.

Perubahan tersebut membuat sebagian shukubo kini memiliki fasilitas yang lebih menyerupai penginapan tradisional kelas atas dibandingkan bentuk sederhana yang sebelumnya dikenal sebagai tempat tinggal peziarah. Di sisi lain, pengelola tetap harus menanggung biaya staf, makanan, perawatan bangunan, serta kebutuhan operasional lainnya. Meningkatnya jumlah wisatawan asing dan permintaan terhadap pengalaman menginap yang lebih nyaman membuat pengelolaan shukubo berada di tengah perubahan pasar pariwisata Jepang. Kasus pemeriksaan pajak tersebut sekaligus menyoroti pentingnya pelaporan pendapatan yang tepat dalam pengelolaan penginapan yang berada di lingkungan keagamaan.