Gunung Krakatau Meletus, JMA Pastikan Tak Ada Tsunami ke Jepang

(Image by: weathernews.jp)
Gunung Krakatau di Selat Sunda, Indonesia, mengalami letusan besar pada Sabtu, 5 September 2026 sekitar pukul 02.50 waktu Jepang. Informasi tersebut disampaikan berdasarkan data dari Pusat Informasi Abu Vulkanik Darwin (VAAC) dan menjadi perhatian Badan Meteorologi Jepang (JMA) karena adanya kemungkinan dampak tsunami akibat aktivitas vulkanik tersebut.
Menurut pengamatan VAAC Darwin melalui satelit cuaca Himawari-9, awan letusan Gunung Krakatau diperkirakan mencapai ketinggian sekitar 15.000 meter atau 50.000 kaki di atas permukaan laut. Data tersebut menjadi salah satu informasi yang digunakan dalam pemantauan aktivitas letusan Krakatau.

(Image by: lampungprov.go.id)
Gunung Krakatau sebelumnya juga pernah mengalami letusan besar pada Desember 2018. Saat itu, kolom letusan dilaporkan mencapai ketinggian sekitar 16.000 meter. Aktivitas vulkanik tersebut kemudian berkaitan dengan tsunami yang terjadi akibat longsoran material gunung ke laut.
Setelah letusan pada 5 September 2026, JMA mengeluarkan informasi mengenai kemungkinan tsunami yang dapat berdampak ke Jepang. JMA menyebut akan memantau kondisi tersebut dengan mempertimbangkan kemungkinan terjadinya perubahan permukaan laut, termasuk fenomena yang pernah diamati setelah letusan gunung berapi di Tonga pada Januari 2022.
Dalam informasi awalnya, JMA menyebut bahwa apabila letusan Gunung Krakatau menghasilkan tsunami yang mencapai Jepang, waktu kedatangan paling awal diperkirakan sekitar pukul 06.00 waktu Jepang di wilayah Okinawa. Pada saat itu, ketinggian maksimum gelombang tsunami belum dapat diperkirakan.

(Image by: lampungprov.go.id)
JMA juga menjelaskan bahwa citra dari satelit cuaca Himawari belum menunjukkan perubahan yang jelas yang sesuai dengan gelombang tekanan yang berkaitan dengan letusan. Hingga sekitar pukul 05.30 waktu Jepang, tidak terdapat perubahan signifikan pada permukaan laut yang dapat dikaitkan dengan letusan Krakatau di sejumlah stasiun pengukur pasang surut di luar negeri.
Pemantauan kemudian terus dilakukan oleh JMA. Hingga pukul 08.30 waktu Jepang pada 5 September, tidak ditemukan perubahan signifikan pada ketinggian air pasang yang dapat dikaitkan dengan letusan Gunung Krakatau, baik di titik pengamatan di luar negeri maupun di Jepang. JMA kemudian memperbarui informasi mengenai kondisi tersebut.
Pada sekitar pukul 12.30 waktu Jepang, JMA mengumumkan bahwa tidak ada dampak tsunami di Jepang akibat letusan Gunung Krakatau. Tidak adanya perubahan signifikan pada ketinggian air pasang yang teramati di berbagai titik pengamatan menjadi dasar pemantauan JMA terhadap kondisi tersebut. Dengan demikian, letusan Gunung Krakatau pada 5 September 2026 tidak menimbulkan dampak tsunami yang teramati di Jepang.
Sumber: Japan Meteorological Agency (JMA), Weathernews, dan TV Asahi NEWS.