Petani Jepang Beralih ke Kerja Malam

Petani Jepang Beralih Kerja Malam di Tengah Gelombang Panas Ekstrem

image

Motoaki Iijima, 36 tahun, pemilik perkebunan bunga Nikko Engei, memanen bunga gerbera di dalam rumah kaca yang diterangi lampu pada malam hari di Nikko, Prefektur Tochigi, Jepang, 8 Agustus 2026. (image by: REUTERS/Issei Kato)

Gelombang panas yang semakin intens di Jepang membuat sejumlah petani mengubah waktu kerja mereka ke malam hari dan pagi buta. Perubahan jadwal ini dilakukan untuk mengurangi paparan suhu tinggi yang dapat meningkatkan risiko heatstroke atau sengatan panas. Di beberapa wilayah, pekerjaan yang biasanya dilakukan pada siang hari kini dikerjakan setelah matahari terbenam atau sebelum suhu kembali meningkat.

Salah satu contohnya terjadi di Nikko, Prefektur Tochigi. Motoaki Iijima, 36 tahun, mengelola Nikko Engei, sebuah perkebunan bunga yang sebelumnya merupakan lahan sawah milik keluarganya. Sekitar satu dekade lalu, lahan tersebut dialihkan menjadi perkebunan bunga. Setelah seorang pekerja paruh waktu mengalami heatstroke saat memanen bunga matahari di rumah kaca tiga musim panas lalu, Iijima mulai menyesuaikan jadwal kerja di perkebunannya.

image

Motoaki Iijima, 36 tahun, pemilik perkebunan bunga Nikko Engei, memanen bunga gerbera di dalam rumah kaca yang diterangi lampu pada malam hari di Nikko, Prefektur Tochigi, Jepang, 8 Agustus 2026. (image by: REUTERS/Issei Kato)

Ketika suhu udara di luar mencapai lebih dari 35 derajat Celsius, suhu di dalam rumah kaca dapat meningkat hingga lebih dari 40 derajat Celsius. Untuk mengurangi paparan panas, Iijima dan para pekerjanya melakukan sebagian aktivitas pada malam hari. Dengan penerangan lampu di dalam rumah kaca, mereka memanen bunga gerbera pada malam hari, sementara pekerjaan lainnya dilakukan pada pagi hari sebelum suhu meningkat.

Perubahan jadwal juga dilakukan oleh pekerja lain di perkebunan tersebut. Sebagian pekerja datang hingga dua jam lebih awal agar pekerjaan dapat diselesaikan sebelum suhu menjadi terlalu tinggi. Miyoko Asada, 68 tahun, misalnya, datang tidak lama setelah matahari terbit dan bersama pekerja lainnya memanen bunga aster. Penyesuaian waktu kerja menjadi salah satu cara yang digunakan untuk menghadapi kondisi panas selama musim panas.

image

(image by: REUTERS/Issei Kato)

Risiko heatstroke menjadi persoalan serius bagi sektor pertanian Jepang. Menurut data yang dikutip Reuters, sebanyak 59 pekerja pertanian meninggal akibat paparan panas pada 2024, lebih dari dua kali lipat dibandingkan 2021. Sekitar 70 persen petani di Jepang juga berusia 65 tahun atau lebih. Sementara itu, survei Japan Weather Association menunjukkan hampir 60 persen petani berusia 20 hingga 50-an pernah mengalami heatstroke atau mengenal seseorang yang mengalaminya.

Dampak suhu tinggi juga dirasakan oleh peternak unggas. Tetsuya Usuba, 48 tahun, pernah kehilangan lebih dari 500 ayam petelur akibat heatstroke dalam periode tiga hari ketika suhu sangat tinggi sekitar enam tahun lalu. Saat ini, dua kandangnya menggunakan sistem otomatis yang menyalakan lampu pada pukul 02.30 untuk membangunkan sekitar 4.400 ayam agar makan sebelum suhu siang hari meningkat. Usuba juga memasang kipas tambahan, menyiram air ke atap kandang, dan menambahkan asam sitrat ke dalam air minum ayam.

image

(image by: REUTERS/Issei Kato)

Upaya tersebut belum sepenuhnya menghilangkan risiko akibat panas ekstrem. Ketika suhu kembali meningkat hingga lebih dari 35 derajat Celsius pada bulan sebelumnya, Usuba kehilangan 130 ekor ayam. Dalam salah satu pemeriksaan pada siang hari, suhu di dalam kandang tercatat mencapai 33 derajat Celsius dan sejumlah ayam terlihat terengah-engah dengan paruh terbuka.

 Pemerintah Jepang juga memperkuat langkah pencegahan heatstroke di tempat kerja. Aturan baru yang mulai diberlakukan pada 2025 mewajibkan pemberi kerja memiliki prosedur untuk melaporkan kasus heatstroke dan langkah penanganan ketika terjadi keadaan darurat. Pemerintah juga mendorong penggunaan teknologi pertanian, termasuk drone dan robot, untuk membantu mengurangi paparan panas bagi pekerja. Di lapangan, sejumlah petani tetap menyesuaikan aktivitas mereka dengan kondisi cuaca, termasuk memindahkan pekerjaan ke malam dan pagi hari ketika suhu lebih rendah.