Hoaks Gempa Buatan di Jepang
Gelombang klaim yang menyebut gempa berkekuatan Magnitudo 7,1 di Prefektur Kumamoto, Jepang barat daya, sebagai gempa buatan ramai beredar di media sosial setelah bencana tersebut terjadi. Para ahli di Jepang menegaskan bahwa teori tersebut tidak didukung bukti ilmiah dan dinilai tidak realistis jika ditinjau dari sisi teknologi, biaya, maupun penerapannya.

Gempa Kumamoto, Jepang. (Image by: Orlandosentinel)
Pada 28 Juli, hari ketika gempa mematikan itu mengguncang Kumamoto, sebuah akun di platform X yang sebelumnya juga pernah menyebarkan informasi keliru mengenai gempa mengunggah klaim bahwa gelombang seismik yang terekam berasal dari ledakan, bukan dari aktivitas gempa bumi. Hingga Rabu, unggahan tersebut telah memperoleh sekitar tiga juta tayangan.
Data analisis dari perusahaan asal Amerika Serikat, Meltwater, menunjukkan bahwa penyebutan istilah "gempa buatan" dalam bahasa Jepang di platform X sebenarnya sudah muncul beberapa hari sebelum gempa terjadi. Namun, jumlahnya meningkat tajam pada hari kejadian menjadi sekitar 10.000 unggahan, lalu melonjak hingga sekitar 38.000 unggahan pada hari berikutnya.

Gempa Kumamoto, Jepang. (Image by: Reuters)
Meskipun banyak pengguna media sosial yang membantah klaim tersebut, narasi mengenai dugaan gempa buatan masih terus bermunculan setiap hari dengan jumlah penyebutan yang tetap mencapai puluhan ribu. Fenomena ini menunjukkan bahwa informasi yang tidak didukung bukti ilmiah dapat menyebar luas di tengah situasi bencana.
Menanggapi isu tersebut, Seismological Society of Japan telah menambahkan penjelasan khusus pada bagian tanya jawab (FAQ) di situs resminya sejak Maret lalu. Dalam penjelasannya, organisasi tersebut menyatakan bahwa gagasan mengenai gempa buatan dengan skala seperti gempa Kumamoto merupakan sesuatu yang tidak realistis.
Menurut penjelasan organisasi tersebut, gempa Kumamoto terjadi pada kedalaman sekitar 16 kilometer. Untuk menciptakan gempa buatan pada kedalaman seperti itu, diperlukan pengeboran hingga lebih dari 10 kilometer yang memakan waktu sangat lama, membutuhkan biaya sangat besar, dan menghadapi berbagai kendala teknis. Selain itu, energi yang dibutuhkan untuk menghasilkan guncangan sebesar itu juga dinilai sangat sulit diwujudkan.

Gempa Kumamoto, Jepang. (Image by: AP/Hiro Komae)
Seismological Society of Japan juga menjelaskan bahwa meskipun uji coba nuklir pernah memicu getaran seismik dalam beberapa kasus, teknologi untuk melakukan ledakan nuklir di dasar lubang pengeboran yang sangat dalam hingga saat ini belum tersedia. Sebagai perbandingan, lubang terdalam yang pernah dibuat manusia adalah Kola Superdeep Borehole di bekas Uni Soviet dengan kedalaman sekitar 12,3 kilometer, yang proses pembuatannya memerlukan waktu sekitar 20 tahun.
Sementara itu, Japan Fact-check Center menyebut penyebaran informasi menyesatkan di media sosial dilakukan baik oleh orang yang mempercayainya maupun oleh pihak yang mengetahui bahwa informasi tersebut tidak benar. Organisasi tersebut menilai sistem penghargaan di media sosial yang memungkinkan pengguna memperoleh pendapatan dari tingginya interaksi menjadi salah satu faktor pendorong penyebaran klaim tersebut. Senada dengan itu, Profesor Reo Kimura, pakar psikologi bencana dari University of Hyogo, mengatakan bahwa ketika menghadapi situasi yang memicu kecemasan, sebagian orang cenderung lebih mudah menerima penjelasan sederhana, seperti anggapan bahwa suatu bencana sengaja diciptakan, dibandingkan penjelasan ilmiah yang lebih kompleks.
Sumber: KYODO NEWS