Produsen kembang api di Jepang berhasil mengembangkan inovasi baru berupa selongsong kembang api yang lebih ramah lingkungan. Teknologi ini dikembangkan melalui kerja sama antara Kakinoki Fireworks Industry Co. yang berbasis di Prefektur Shiga dan seorang profesor dari Universitas Ryukoku. Selongsong baru tersebut menggunakan bahan yang dapat larut dalam air sehingga diharapkan mampu mengurangi dampak limbah setelah pertunjukan kembang api.

Kembang api ramah lingkungan yang diluncurkan di Nagahama, Prefektur Shiga, pada 23 April 2026 (Image by: Kyodo)
Pada kembang api konvensional, lapisan bubuk mesiu berada di dalam selongsong luar yang akan pecah saat meledak dan serpihannya jatuh ke tanah atau perairan. Selongsong yang selama ini dibuat dari kertas kraft membutuhkan waktu sekitar enam bulan untuk terurai secara alami. Sementara itu, selongsong baru yang memadukan resin larut air dapat terurai hanya dalam waktu sekitar satu hari pada kondisi yang sesuai.
Presiden Kakinoki Fireworks Industry, Hiroyuki Kakinoki, mengatakan bahwa tujuan utama pengembangan ini adalah mempercepat proses penguraian limbah dan mengurangi beban terhadap lingkungan. Untuk kembang api udara berukuran sedang dengan diameter sekitar 12 sentimeter, serpihan selongsong dapat larut sepenuhnya pada hari berikutnya apabila terkena air dalam kondisi yang mendukung.

Foto yang diambil di Nagahama, Prefektur Shiga, pada April 2026 menunjukkan cangkang luar kembang api Ramah Lingkungan yang baru dikembangkan. (Image by: Kyodo)
Material yang digunakan merupakan resin larut air yang selama ini juga dimanfaatkan pada pelapis benih pertanian dan bahan pembenah tanah. Tim pengembang menjelaskan bahwa bahan tersebut bersifat mudah terurai dan dinilai aman bagi lingkungan, termasuk jika tidak sengaja tertelan oleh makhluk hidup. Ketika terkena kelembapan, selongsong akan menjadi lunak menyerupai karamel yang dipanaskan sebelum akhirnya larut hampir sepenuhnya di aliran air seperti sungai.
Inovasi ini dinilai relevan karena banyak festival kembang api di Jepang diselenggarakan di atas sungai, danau, maupun kawasan laut. Selain menggunakan resin yang mudah larut, pengembang juga berhasil mengurangi penggunaan kertas kraft. Jika sebelumnya satu kembang api berukuran standar memerlukan sekitar dua lembar kertas ukuran A3, kini kebutuhannya berkurang menjadi sekitar satu lembar saja.

Potret kembang api di Jepang. (Image by: Reuters)
Proses pengembangan teknologi tersebut tidak berjalan tanpa hambatan. Salah satu tantangan terbesar adalah sifat resin yang lengket sehingga mudah menempel pada mesin pembuat selongsong. Tim akhirnya menemukan solusi dengan menyesuaikan komposisi bahan pelepas (release agent), sehingga selongsong dapat diproduksi dan dilepaskan dari cetakan dengan lebih mudah.
Upaya menghadirkan kembang api yang lebih ramah lingkungan sebenarnya telah dilakukan Kakinoki Fireworks selama sekitar 25 tahun. Sebelumnya, perusahaan pernah mencoba menggunakan jenis resin biodegradable lain, tetapi proyek tersebut dihentikan karena menimbulkan sejumlah kendala, termasuk potensi terbentuknya mikroplastik. Pada 2018, perusahaan mulai bekerja sama dengan Profesor Takahiko Nakaoki, pakar ilmu polimer dari Universitas Ryukoku, hingga akhirnya berhasil menyelesaikan pengembangan selongsong baru ini.
Ke depan, Kakinoki Fireworks berencana meningkatkan jumlah produksi kembang api ramah lingkungan. Dari target sekitar 20.000 unit yang akan diproduksi tahun ini, Hiroyuki Kakinoki menargetkan separuhnya atau sekitar 10.000 unit menggunakan selongsong baru yang mudah larut dalam air. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan untuk mengurangi dampak lingkungan dari pertunjukan kembang api di Jepang.