Prank Hama Sushi Berujung Denda

Seorang pria di Jepang dijatuhi denda sebesar 500.000 yen setelah terbukti mengganggu operasional restoran Hama Sushi dengan mengunggah video aksi isengnya ke media sosial. Kasus ini kembali menjadi perhatian publik karena dilakukan di salah satu jaringan restoran sushi conveyor belt yang populer di Jepang.

image

Logo dari Hama-Sushi (Image by: saitama-np-co.jp)

Menurut laporan, pria berusia 43 tahun tersebut mendatangi cabang Hama Sushi di Kota Tsurugashima, Prefektur Saitama, pada 27 Mei 2026. Ia kemudian mengambil sepiring sushi tuna yang telah tiba di mejanya melalui ban berjalan, lalu mengeluarkan sebuah botol yang menyerupai wadah sabun cuci piring dan menyemprotkan cairan ke atas sushi tersebut sambil merekam aksinya.

Video itu kemudian diunggah ke media sosial. Dalam pemeriksaan, pria tersebut mengaku melakukan tindakan tersebut dengan tujuan agar videonya mendapatkan banyak penonton dan menjadi viral. Namun, aksinya justru berujung pada proses hukum setelah video tersebut diketahui oleh pihak restoran dan kepolisian.

image

Video prank viral yang terjadi di Hama-Sushi (Image by: jin115.com)

Pria itu kemudian ditangkap dengan tuduhan menghalangi kegiatan usaha secara paksa. Pengadilan Distrik Kawagoe di Prefektur Saitama akhirnya menjatuhkan hukuman berupa denda sebesar 500.000 yen, atau sekitar Rp55 juta jika dikonversikan dengan kurs saat ini.

Dalam persidangan terungkap bahwa cairan yang disemprotkan diduga hanyalah air yang sebelumnya dimasukkan ke dalam botol sabun cuci piring. Selain itu, sushi yang digunakan dalam video merupakan pesanan yang berhenti otomatis di meja pria tersebut, sehingga tidak diambil oleh pelanggan lain. Meski demikian, tindakan tersebut tetap dianggap mengganggu operasional restoran.

Setelah video beredar, pihak Hama Sushi melakukan disinfeksi pada area yang berpotensi terdampak sebagai langkah pencegahan. Karyawan restoran juga harus meluangkan waktu untuk menangani berbagai pertanyaan dan kekhawatiran pelanggan terkait insiden tersebut. Dampak terhadap operasional inilah yang menjadi salah satu dasar putusan pengadilan.

image

ilustrasi sushi (Image by: Soranews)

Kasus ini kembali mengingatkan pada pentingnya menjaga etika di restoran sushi conveyor belt yang mengandalkan kepercayaan antara pelanggan dan pengelola. Sistem penyajian makanan melalui ban berjalan hanya dapat berjalan dengan baik apabila seluruh pengunjung mematuhi aturan kebersihan dan tidak melakukan tindakan yang merugikan pihak lain.

Meski sebagian warganet Jepang menilai besaran denda tersebut masih tergolong ringan, pengadilan memutuskan bahwa hukuman tersebut sudah sesuai dengan pelanggaran yang dilakukan. Kasus ini sekaligus menjadi peringatan bahwa tindakan yang dilakukan demi konten media sosial dapat menimbulkan konsekuensi hukum apabila mengganggu kegiatan usaha maupun meresahkan masyarakat.

Source: SoraNews24