Kasus SFTS Jepang Meningkat
image

Ilustrasi Kutu (image by: Istock)

TOKYO — Jepang mengalami peningkatan kasus Severe Fever with Thrombocytopenia Syndrome (SFTS), penyakit menular yang disebabkan oleh virus dan paling sering ditularkan melalui gigitan kutu. Berdasarkan data awal lembaga penelitian kesehatan nasional Jepang, jumlah kasus SFTS tahun ini telah melampaui angka pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Institut Keamanan Kesehatan Jepang melaporkan sebanyak 72 kasus SFTS telah tercatat hingga 7 Juni. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang mencatat 68 kasus. Pada tahun lalu, Jepang mencatat rekor tertinggi kasus SFTS tahunan dengan total 192 kasus.

Menteri Kesehatan Jepang Kenichiro Ueno mengatakan jumlah pasien SFTS menunjukkan tren peningkatan. Dalam konferensi pers pada Selasa, ia menyampaikan bahwa masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit yang dapat berakibat fatal tersebut.

image

Foto arsip Kyodo yang menunjukkan gambar mikroskopis dari virus penyebab SFTS (Severe Fever with Thrombocytopenia Syndrome) (image by: KyodoNews)

"Kewaspadaan di seluruh negeri sangat diperlukan, dan kami akan terus memantau situasi infeksi," kata Ueno.

SFTS merupakan penyakit menular yang terutama menyebar melalui gigitan kutu yang membawa virus penyebab infeksi. Selain melalui kutu, penularan juga dapat terjadi melalui kontak dengan darah dari manusia maupun hewan yang terinfeksi.

Gejala SFTS biasanya muncul setelah masa inkubasi sekitar enam hingga 14 hari. Pasien dapat mengalami demam, muntah, diare, hingga penurunan kesadaran. Penyakit ini memiliki tingkat kematian yang diperkirakan berada pada kisaran 10 hingga 30 persen.

image

Data penduduk yang terjangkit SFTS disease di Juni 2026 ini (image by: KyodoNews)

Hingga saat ini belum tersedia vaksin untuk mencegah infeksi SFTS. Namun, obat antivirus telah disetujui di Jepang untuk membantu pengobatan pasien yang terinfeksi penyakit tersebut.

Karena kutu lebih aktif selama musim semi hingga musim gugur, pemerintah Jepang mengimbau masyarakat untuk melakukan pencegahan saat berada di area berumput. Warga disarankan menggunakan pakaian yang menutupi kulit serta memakai obat anti serangga pada hewan peliharaan seperti anjing dan kucing.

Jepang pertama kali mengonfirmasi kasus SFTS pada 2013 pada seorang wanita di Prefektur Yamaguchi, wilayah Jepang bagian barat. Jumlah kasus tahunan umumnya masih berada di bawah 100 kasus hingga 2021, tetapi sejak itu kasus SFTS Jepang terus melampaui angka tersebut setiap tahun. Hingga kini, laporan kasus lebih banyak ditemukan di wilayah Jepang bagian barat dibandingkan wilayah timur.