LIBURAN GOLDEN WEEK MENURUN

image

Golden Week tahun ini tidak lagi semeriah biasanya bagi banyak orang Jepang (Image by : SoraNews24)

Musim liburan musim semi di Jepang yang biasanya penuh kesenangan terlihat sedikit berbeda akhir-akhir ini. Jepang memiliki tiga periode liburan utama, tetapi dua di antaranya disertai kewajiban sosial, yaitu Oshogatsu (Tahun Baru) dan Obon, di mana masyarakat biasanya pulang ke kampung halaman untuk bertemu keluarga besar. Di antara keduanya, Golden Week yang berlangsung dari akhir April hingga awal Mei menjadi periode liburan yang paling “bebas” dari kewajiban budaya tersebut.

Golden Week seharusnya menjadi waktu paling ideal untuk bersantai atau bepergian. Namun, survei menunjukkan bahwa tahun ini sekitar sepertiga responden tidak memiliki rencana khusus selama liburan tersebut. Bahkan dari mereka yang memiliki rencana, banyak yang memilih kegiatan sederhana seperti tinggal di rumah atau aktivitas ringan, bukan perjalanan atau hiburan besar.

Survei yang dilakukan oleh perusahaan riset Intage di Tokyo terhadap 5.000 responden berusia 15–79 tahun menunjukkan bahwa 41,2 persen tidak memiliki rencana apa pun. Sementara itu, 35,1 persen memilih untuk menghabiskan waktu di rumah. Aktivitas lain seperti makan di luar, berbelanja, dan olahraga juga dipilih dalam persentase yang lebih kecil, menunjukkan tren liburan yang lebih hemat dan sederhana.

image

35,1 persen memilih untuk menghabiskan waktu di rumah (Image by : SoraNews24)

Rata-rata anggaran Golden Week tahun ini hanya sekitar 27.660 yen (sekitar US$179), turun 5,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini terjadi di tengah meningkatnya biaya hidup di Jepang serta melemahnya nilai yen, yang membuat masyarakat lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang mereka, termasuk untuk liburan yang biasanya menjadi momen konsumsi tinggi.

Rendahnya minat perjalanan juga terlihat jelas, baik domestik maupun internasional. Perjalanan ke luar negeri menurun karena nilai yen yang lemah dan faktor keamanan global, sementara perjalanan dalam negeri ikut tertekan karena kenaikan harga hotel dan jasa wisata akibat tingginya permintaan dari turis asing. Kondisi ini membuat liburan domestik terasa kurang terjangkau bagi sebagian warga Jepang.

Akibat berbagai faktor tersebut, Golden Week tahun ini tidak lagi semeriah biasanya bagi banyak orang Jepang. Kombinasi tekanan ekonomi, kenaikan harga, dan perubahan industri pariwisata membuat masyarakat lebih memilih menghemat pengeluaran. Harapannya, kondisi ekonomi dapat membaik sehingga Golden Week di masa depan bisa kembali menjadi periode liburan yang benar-benar dinanti dan dinikmati.