Harapan Anak Asing Memudar
image

“pesta menyenangkan” di Hadano Kodomo-kan (Image by : Mainichi)

Program dukungan bahasa Jepang dan akademis gratis bagi anak-anak asing di wilayah Jepang timur kini menghadapi ancaman berhenti, seiring rencana penutupan Divisi Perguruan Tinggi Junior Universitas Sophia di Hadano, Prefektur Kanagawa, pada akhir Maret tahun ini. Sejak diluncurkan pada 1988, program ini telah membantu lebih dari 400 keluarga asing dalam proses adaptasi pendidikan dan kehidupan di Jepang.

Kegiatan program ini tidak hanya berupa pembelajaran formal, tetapi juga interaksi sosial yang hangat. Dalam acara tahunan seperti “pesta menyenangkan” di Hadano Kodomo-kan, anak-anak asing dari berbagai latar belakang berkumpul untuk bernyanyi, mewarnai, dan berkomunikasi dalam bahasa Jepang maupun bahasa ibu mereka. Relasi yang terbangun antara anak-anak dan para relawan menciptakan rasa percaya dan kenyamanan yang kuat.

Mahasiswa yang terlibat memberikan dukungan dalam dua bentuk utama: kunjungan langsung ke sekolah-sekolah dasar dan menengah, serta kegiatan di fasilitas umum untuk membantu anak-anak dari prasekolah hingga SMA. Selain pelajaran bahasa Jepang, mereka juga membantu persiapan ujian, pengajuan beasiswa, dan kebutuhan pendidikan lainnya. Program ini bahkan berkembang menjadi mata kuliah resmi sejak 2019, memungkinkan mahasiswa mendapatkan kredit akademik.

image

Poster-poster yang dibuat oleh mahasiswa di Divisi Perguruan Tinggi Junior Universitas Sophia (Image by : Mainichi)

Latar belakang berdirinya program ini berawal dari keprihatinan terhadap isolasi sosial yang dialami pengungsi asing di Jepang. Insiden tragis pada 1987 yang melibatkan seorang pengungsi Kamboja di Hadano menjadi titik balik kesadaran akan pentingnya dukungan komunitas. Seorang suster dari Spanyol yang mengajar di perguruan tinggi tersebut kemudian menggagas inisiatif untuk membantu keluarga asing beradaptasi dan membangun hubungan dengan masyarakat lokal.

Seiring waktu, meningkatnya jumlah keluarga asing terutama dari Amerika Selatan membuat kebutuhan akan dukungan bahasa Jepang semakin besar. Program ini menjadi ruang aman bagi anak-anak untuk mengekspresikan identitas budaya mereka, sesuatu yang sering sulit dilakukan di sekolah umum. Di sini, mereka tidak hanya belajar, tetapi juga merasa diterima dan menjadi diri sendiri.

Namun, dengan penutupan perguruan tinggi, keberlanjutan program ini menjadi tidak pasti. Meski telah dicoba inisiatif lanjutan seperti “Proyek Bahasa Jepang Sophia,” program tersebut tidak dapat diteruskan dalam bentuk yang sama. Meski demikian, ada harapan bahwa semangat dukungan ini akan tetap hidup melalui komunitas lokal dan lembaga lain di Hadano, di tengah tantangan globalisasi dan meningkatnya isu integrasi budaya.