Ilustrasi ski off-piste (Image by: soranews24.com)
Hokkaido merupakan prefektur paling utara di Jepang yang terkenal dengan musim dingin panjang, suhu ekstrem, dan kualitas salju kelas dunia. Kondisi ini menjadikannya magnet bagi penggemar ski dan snowboard dari berbagai negara, terutama di tengah lonjakan wisatawan internasional ke Jepang serta pelemahan nilai tukar yen yang membuat biaya liburan relatif lebih terjangkau.
Namun, popularitas tersebut tidak hanya terjadi di jalur resmi yang dikelola resor. Sejumlah wisatawan mancanegara memilih bermain di luar batas yang ditentukan (backcountry/off-piste). Ketika kemampuan tidak sebanding dengan risiko medan, sebagian dari mereka tersesat, terluka, atau terdampar dan membutuhkan pertolongan untuk kembali dengan selamat.
Ilustrasi ski off-piste (Image by: soranews24.com)
Menurut data Kepolisian Prefektur Hokkaido, antara akhir November hingga 2 Februari, terdapat 58 kasus penyelamatan pemain ski dan snowboard di luar jalur resmi. Dari jumlah itu, 48 orang atau sekitar 82,8 persen merupakan warga negara asing. Artinya, lebih dari 80 persen kasus musim ini melibatkan pengunjung mancanegara.
Angka tersebut memicu perdebatan di Jepang. Situasi ini muncul setelah insiden tahun lalu di Gunung Fuji, ketika beberapa pendaki asing harus dievakuasi saat jalur resmi sedang ditutup. Salah satu kasus bahkan melibatkan penyelamatan darurat dua kali dalam satu minggu terhadap orang yang sama.
Di sisi lain, ada persepsi bahwa lonjakan wisatawan asing turut mendorong kenaikan harga di restoran, hotel, dan fasilitas sekitar area ski. Sebagian warga lokal merasa terbebani karena tidak menikmati keuntungan nilai tukar, sementara pajak daerah tetap digunakan untuk membiayai operasi penyelamatan bagi mereka yang melanggar aturan.
Evakuasi Pemain Ski yang Off-piste (Image by: Asahi.com)
Secara umum, jika penyelamatan dilakukan oleh polisi atau pemadam kebakaran, biaya tidak dibebankan langsung kepada korban karena layanan tersebut merupakan bagian dari layanan publik. Namun, dalam beberapa kasus—misalnya di resor yang menyewa lahan taman nasional—patroli sipil dapat dilibatkan dan mengenakan tarif tertentu.
Di sebuah resor di kota Furano, biaya penyelamatan tercatat sekitar 20.000 yen per jam kerja, ditambah 50.000 yen per jam untuk penggunaan kendaraan salju. Dalam satu operasi larut malam yang berlangsung tiga jam, total tagihan dilaporkan melebihi satu juta yen. Di beberapa wilayah, sistem hibrida antara otoritas lokal dan organisasi sipil juga diterapkan, sehingga biaya dapat dibebankan kepada pihak yang diselamatkan.
Perdebatan kini mengarah pada wacana agar pelanggar aturan keselamatan menanggung sendiri biaya penyelamatan, termasuk kemungkinan kewajiban asuransi bagi pemain ski di luar jalur resmi. Jika tren insiden terus berlanjut, bukan tidak mungkin pemerintah daerah di Hokkaido akan mempertimbangkan kebijakan baru guna mengurangi beban anggaran dan menjaga keseimbangan antara pariwisata dan kepentingan masyarakat setempat.