Seorang karyawan toko menyekop salju di kota Aomori (Image by: Philip Fong / AFP)
Hujan salju lebat yang tidak biasa telah menewaskan sedikitnya 30 orang di Jepang dalam dua pekan terakhir. Para pejabat mengatakan pada Selasa bahwa curah salju ekstrem terutama melanda wilayah utara, membuat banyak warga kesulitan beraktivitas dan bahkan tidak dapat meninggalkan rumah mereka.
Beberapa wilayah di Prefektur Aomori mencatat tumpukan salju hingga 4,5 meter, menjadikannya salah satu daerah terdampak terparah. Di wilayah ini, sejumlah kematian dilaporkan, termasuk seorang perempuan berusia 91 tahun yang ditemukan meninggal tertimbun salju setinggi sekitar tiga meter di luar rumahnya.
Orang orang beraktivitas di sepanjang jalan yang tertutup salju di Aomori 3 Februari 2026 (Image by: JIJI Press / AFP via Getty Image)
Sistem cuaca besar menyebabkan curah salju sangat tinggi di sepanjang pantai Laut Jepang dalam beberapa minggu terakhir. Beberapa daerah di bagian tengah dan utara Pulau Honshu bahkan mengalami curah salju lebih dari dua kali lipat dibandingkan rata-rata tahunan.
Pemerintah pusat telah mengerahkan pasukan untuk membantu otoritas setempat membersihkan salju. Perdana Menteri Sanae Takaichi juga menggelar rapat kabinet khusus pada Selasa, menginstruksikan para menteri untuk melakukan segala upaya guna mencegah jatuhnya korban tambahan.
Salju tebal setinggi 3 meter menutupi jalanan (Image by: Radiomoldova.md)
Gambar dari siaran televisi menunjukkan warga harus berjalan melalui parit-parit yang digali di tengah salju tebal, sementara banyak kendaraan terjebak di jalan. Sejumlah sekolah ditutup dan layanan transportasi umum dihentikan di beberapa wilayah akibat kondisi yang memburuk.
Menurut Badan Manajemen Kebakaran dan Bencana Jepang, sejak 20 Januari hingga Selasa, total 30 orang meninggal akibat insiden terkait salju. Pihak berwenang mengingatkan bahwa salju yang menumpuk di atap rumah dapat runtuh secara tiba-tiba, terutama saat suhu menghangat, dan meminta warga untuk meningkatkan kewaspadaan.