Jepang Tanggapi Wisatawan Muslim
image

Foto ruang doa di Pameran Dunia di Osaka yang diambil pada Oktober 2025 (Image by: KyodoNews)

KOCHI, Jepang — Seiring meningkatnya jumlah wisatawan Muslim ke Jepang, muncul pertanyaan yang kian terasa di bandara, pusat perbelanjaan, dan kawasan wisata: di mana para pelancong ini dapat menunaikan ibadah salat. Isu ini mungkin terdengar sederhana, namun bagi banyak pengunjung, ketersediaan ruang ibadah menjadi bagian penting dari pengalaman perjalanan.

Jumlah wisatawan asing ke Jepang mencetak rekor pada tahun lalu, termasuk dari negara-negara mayoritas Muslim yang tertarik pada kuliner, budaya pop, serta pemandangan musiman. Data Organisasi Pariwisata Nasional Jepang menunjukkan bahwa antara Januari hingga November, sekitar 560.000 wisatawan datang dari Indonesia, 540.000 dari Malaysia, dan 240.000 dari kawasan Timur Tengah.

image

Foto wanita Muslim sedang berdoa di ruang shalat yang diambil pada September 2025 di Pameran Dunia di Osaka         (Image by: KyodoNews)

Bagi sebagian wisatawan Muslim, keterbatasan fasilitas ibadah membuat perjalanan terasa kurang nyaman. Tantangannya bukan semata soal membangun masjid besar, melainkan menyediakan ruang yang fleksibel dan layak. Badan Pariwisata Jepang pun telah mengeluarkan panduan bagi hotel, pusat transportasi, dan fasilitas komersial agar, jika memungkinkan, menyediakan ruang yang tenang dan bersih untuk salat.

Di lokasi yang tidak memungkinkan adanya ruang khusus, para ahli menilai akomodasi sederhana dapat memberi dampak besar. Partisi sementara, papan penunjuk yang jelas, hingga peningkatan kesadaran staf dinilai cukup membantu, sekaligus memperkuat citra Jepang sebagai negara yang ramah terhadap keberagaman budaya dan agama.

image

Foto ruang shalat di Terminal 3 Bandara Haneda Tokyo (Image by: KyodoNews)

Upaya tersebut mulai terlihat di sejumlah tempat. Pada Pameran Dunia di Osaka tahun lalu, misalnya, sebuah ruang salat didirikan di dekat kawasan Hutan Ketenangan untuk melayani pengunjung dan staf Muslim yang menjalankan salat lima waktu. Fasilitas serupa juga tersedia di bandara-bandara besar dan kota utama. Bandara Haneda Tokyo membuka ruang salat di Terminal 3 sejak 2014, dan pada tahun fiskal 2024 fasilitas itu digunakan rata-rata hampir 2.000 orang per bulan.

Meski demikian, ketersediaan ruang ibadah masih belum merata. Di wilayah seperti Shikoku dan Kyushu, jumlah fasilitas di stasiun relatif terbatas karena keterbatasan ruang dan rendahnya permintaan. Hirofumi Tanada, profesor emeritus Universitas Waseda, menilai pendekatan fleksibel tetap diperlukan mengingat praktik ibadah saat bepergian bisa berbeda-beda. Sementara itu, Akiko Komura dari Universitas Rikkyo menekankan pentingnya melibatkan komunitas Muslim setempat untuk mengidentifikasi lokasi yang mudah diakses, seraya melihat isu ini sebagai peluang untuk memahami realitas umat Muslim di Jepang secara lebih luas.