Jepang Siapkan AI Anti-Pembajakan Manga (Image by : The Japan Times)
Pemerintah Jepang berencana melawan maraknya manga bajakan daring yang kini diproduksi semakin cepat berkat kecerdasan buatan dengan memanfaatkan teknologi AI. Badan Urusan Kebudayaan mengumumkan pengembangan sistem berbasis AI untuk mendeteksi materi bajakan dan secara otomatis mengirimkan permintaan penghapusan, sebagai langkah menghadapi situasi yang dinilai semakin kritis.
Sisi teknis proyek ini dikerjakan oleh IBM Jepang. Menurut Katsuyoshi Kobayashi dari Badan Urusan Kebudayaan, AI akan dilatih menggunakan materi resmi agar mampu mengenali konten bajakan dengan akurat. Sistem ini ditargetkan mulai beroperasi pada akhir 2027 atau awal 2028, tergantung perkembangan dan pengujiannya, termasuk pengujian lintas bahasa.
Industri konten Jepang yang mencakup anime, manga, dan video game merupakan salah satu pilar ekspor utama negara tersebut, dengan nilai mencapai ¥6 triliun pada 2024. Namun, Lembaga Buku Resmi Jepang (ABJ) memperkirakan kerugian akibat pembajakan publikasi cetak mencapai ¥8,5 triliun per tahun, sebagian besar berasal dari manga. AI dinilai turut mempercepat penyebaran konten bajakan melalui pemindaian dan replikasi massal di berbagai situs.
Ilustrasi Manga (Image by: Google)
Laporan ABJ tahun 2025 menunjukkan bahwa pada Juni saja, 913 situs manga bajakan mencatat total 2,85 miliar kunjungan per bulan secara global. Situs berbahasa Inggris menyumbang porsi besar kerugian, mencapai sekitar US$800 juta per bulan. Survei ABJ di Indonesia bahkan menemukan sekitar 70% pembaca manga bajakan mengakses versi berbahasa Inggris, menurut Atsushi Ito dari ABJ yang juga menangani isu ini di penerbit Shueisha.
Upaya hukum pun terus dilakukan. Jepang merevisi undang-undang hak cipta pada 2021 dan menargetkan situs terkenal Mangamura, yang pernah menyediakan manga senilai ¥300 miliar secara gratis. Meski situs itu ditutup dan operatornya diperintahkan membayar ganti rugi besar, pembajakan masih berdampak serius pada industri. Menurut Ito, penurunan pendapatan penerbit dan kreator mengancam regenerasi talenta dan masa depan industri manga Jepang.