Pemerintah Siapkan Telur Beku

Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan berupaya mengantisipasi potensi kekurangan telur akibat wabah flu burung yang sangat patogen dengan memperluas pemanfaatan telur olahan yang dapat disimpan dalam jangka panjang. Salah satu langkah utama yang direncanakan adalah membekukan dan menyimpan telur cair, yaitu telur tanpa cangkang seperti telur kocok, agar dapat digunakan ketika pasokan telur segar menurun. Inisiatif ini juga dimaksudkan untuk menstabilkan pasokan nasional dan mencegah lonjakan harga telur yang tajam, dengan target penerapan kebijakan ini pada tahun fiskal 2026.

 Telur cair merupakan telur yang telah dipecah dari cangkangnya dan berada dalam bentuk cair, yang dalam beberapa kasus tidak tercampur sepenuhnya antara putih dan kuning telur. Produk ini umumnya digunakan oleh industri pengolahan makanan yang membutuhkan telur dalam jumlah besar, seperti produsen roti, kue, dan permen. Telur cair yang disimpan dalam kondisi dingin biasanya hanya bertahan beberapa hari hingga sekitar satu minggu, namun jika dibekukan, masa simpannya dapat mencapai sekitar satu setengah tahun, sehingga dinilai lebih efektif sebagai cadangan pangan jangka panjang.
image

Jepang Antisipasi Kekurangan Telur Lewat Penyimpanan Telur Cair Beku (Image by: TheJapanNews.com)


 Untuk mendukung produsen telur dan pengolah telur cair, kementerian berencana memberikan subsidi hingga 50 persen dari biaya pembangunan maupun peningkatan fasilitas penyimpanan telur cair beku. Selain itu, kementerian juga akan mendorong produsen makanan agar beralih menggunakan telur cair beku dalam proses produksi berbagai produk seperti roti dan kue. Dengan cara ini, ketergantungan pada telur segar diharapkan dapat dikurangi, terutama pada saat pasokan terganggu akibat wabah penyakit.

 Pasokan telur sendiri sangat rentan terhadap penyebaran flu burung. Wabah yang berlangsung sejak musim gugur lalu hingga awal tahun ini telah menyebabkan pemusnahan sejumlah besar ayam petelur, sehingga berkontribusi pada penurunan pasokan telur nasional. Hingga saat ini, kasus flu burung masih terus dikonfirmasi secara bertahap, menimbulkan kekhawatiran akan terulangnya gangguan pasokan. Kondisi ini turut mendorong kenaikan harga telur, terutama di wilayah perkotaan dengan tingkat konsumsi yang tinggi.

 Menurut data JA.Z-Tamago Co., harga rata-rata telur ukuran M di wilayah Tokyo pada bulan November mencapai ¥340 per kilogram, tertinggi untuk periode tersebut, dan bahkan tetap tinggi di level ¥345, mendekati rekor saat “guncangan telur” pada musim semi 2023. Asosiasi Peternakan Unggas Jepang mencatat bahwa dari sekitar 2,5 juta ton telur yang diproduksi di dalam negeri pada tahun 2024, sekitar 80 persen dikonsumsi sebagai telur utuh, sementara 20 persen lainnya berupa telur olahan, termasuk telur cair. Karena permintaan telur biasanya meningkat menjelang akhir tahun dan menurun pada musim panas, kementerian menargetkan pembentukan sistem pasokan darurat dengan memproduksi telur cair pada periode permintaan rendah dan menyimpannya untuk digunakan saat pasokan mengetat.