Image By: iStock visualspace
Lonjakan serangan beruang mematikan di Jepang mendorong fenomena tak biasa di dunia kuliner. Di Chichibu, Prefektur Saitama, restoran milik Koji Suzuki kewalahan memenuhi permintaan daging beruang panggang. Daging tersebut berasal dari beruang yang dibasmi untuk menekan ancaman terhadap warga. Tahun ini, serangan beruang telah menewaskan rekor 13 orang. Peningkatan kasus ini menjadikan beruang sorotan utama pemberitaan nasional.
Daging beruang cokelat yang berwarna merah (Image by: Medium.com)
Restoran Suzuki sebenarnya juga menyajikan daging rusa dan babi hutan, namun daging beruang justru paling diminati. Pemberitaan tentang beruang yang masuk rumah, sekolah, hingga supermarket memicu rasa penasaran publik. Suzuki menyebut semakin sering berita muncul, semakin banyak pelanggan berdatangan. Ia menganggap menyajikan daging beruang sebagai bentuk penghormatan terhadap hewan yang telah dibunuh. Istrinya bahkan kerap menolak pelanggan karena stok terbatas.
Salah satu pelanggan, komposer muda Takaaki Kimura, mencicipi daging beruang untuk pertama kalinya. Ia memuji rasa daging yang menurutnya semakin nikmat saat dikunyah. Para pejabat berharap pembasmian beruang dapat mengurangi ancaman di Jepang utara. Ilmuwan menilai krisis ini dipicu pertumbuhan populasi beruang, penurunan jumlah penduduk, dan gagal panen biji ek. Kondisi tersebut memaksa beruang mencari makanan ke wilayah manusia.
Daging beruang yang dimasak (image by: Medium.com)
Sebagai langkah darurat, pemerintah mengerahkan pasukan dan polisi anti huru hara untuk membantu perburuan. Jumlah beruang yang dibunuh pada paruh pertama tahun fiskal ini bahkan melampaui total sepanjang tahun sebelumnya. Meski bukan makanan sehari-hari, daging beruang telah lama dikonsumsi di desa-desa pegunungan Jepang. Pemerintah kini melihatnya sebagai peluang ekonomi bagi daerah pedesaan. Subsidi besar pun disiapkan untuk pengendalian populasi dan promosi konsumsi berkelanjutan.
Ilustrasi restoran jepang (Image by: Malaymail.com)
Di Prefektur Aomori, pengelola restoran desa Katsuhiko Kakuta mengaku kehabisan stok daging lebih cepat dari biasanya. Popularitas melonjak setelah restorannya dipromosikan oleh seorang influencer. Ia menyebut daging beruang sebagai sumber daya pariwisata lokal. Restorannya bahkan memasok daging ke hotel-hotel sekitar. Fenomena ini menunjukkan perubahan cara pandang terhadap satwa liar.
Sementara itu di Sapporo, Hokkaido, koki Prancis Kiyoshi Fujimoto menyajikan beruang dalam hidangan mewah. Populasi beruang cokelat di Hokkaido telah berlipat ganda menjadi lebih dari 11.500 ekor pada 2023. Pemerintah berencana memusnahkan 1.200 beruang per tahun selama satu dekade ke depan. Namun, minimnya fasilitas pengolahan membuat banyak daging masih terbuang. Di tengah kontroversi, krisis ini membuka perdebatan antara keselamatan, etika, dan peluang ekonomi.