Toples berisi jaringan manusia ditemukan di Pasar Osaka (Image by: SoraNews24.com)
Sampah bagi satu orang memang bisa menjadi mimpi buruk bagi orang lain. Di berbagai tempat, tempat pembuangan sering kali menjadi lokasi ditemukannya barang tak terduga, mulai dari benda bernilai hingga temuan yang mengundang kengerian. Kisah tentang “harta karun” dari sampah kerap beredar, namun tidak sedikit pula cerita yang menunjukkan sisi gelap dari kelalaian dan ketidakbertanggungjawaban manusia.
Peristiwa semacam itu terjadi di Osaka pada September lalu, ketika sejumlah besar toples kaca ditemukan di dalam kotak kardus di area Pasar Grosir Kota Osaka. Toples-toples tersebut berisi sesuatu yang diduga sebagai organ atau jaringan manusia, dengan bentuk menyerupai wadah selai atau kopi. Yang membuat temuan ini semakin mencurigakan, setiap toples dilaporkan memiliki label nama yang diyakini sebagai nama orang.
Penemuan tersebut pertama kali diketahui oleh seorang petugas kebersihan pasar. Ia menyatakan bahwa isi toples tidak sepenuhnya menyerupai organ utuh, melainkan lebih mirip jaringan tubuh yang kemungkinan diangkat melalui prosedur medis. Merasa bahwa benda-benda tersebut jelas tidak layak dibuang sebagai sampah biasa, petugas tersebut segera melaporkan temuannya kepada pihak berwenang.
Pasar Grosir Kota Osaka (Image by: SoraNews24)
Polisi kemudian menyelidiki kasus ini sebagai dugaan pembuangan limbah medis secara ilegal. Dugaan sementara mengarah pada rumah sakit, fasilitas penelitian, atau kontraktor pengelola limbah medis yang tidak menjalankan prosedur dengan benar. Dalam praktik normal, limbah semacam ini harus dimusnahkan melalui pembakaran khusus, namun demi menekan biaya, ada kasus di mana limbah justru dibuang sembarangan, seperti yang pernah terjadi di beberapa prefektur lain di Jepang.
Menariknya, lokasi pasar grosir diduga dipilih karena banyaknya sampah organik dari hasil laut dan pertanian yang dapat menyamarkan bau mencurigakan. Dari kejadian suram ini, muncul pula pembahasan budaya dan bahasa, termasuk etimologi kata “hormon” (ホルモン) dalam bahasa Jepang yang merujuk pada jeroan. Istilah tersebut awalnya dipopulerkan sebagai makanan bergizi tinggi, meskipun ada anggapan keliru bahwa kata itu berarti “sesuatu yang dibuang,” sebuah ironi yang kontras dengan nilai kuliner yang justru melekat hingga kini.