Badai Salju Lumpuhkan Jepang Utara
image

Ilustrasi Imbas Badai (Image by: Google)

Sistem tekanan rendah yang berkembang pesat membawa salju basah dan lebat ke Jepang utara pada 15 Desember, terutama di Hokkaido timur. Badai ini memicu gangguan besar pada transportasi, komunitas pesisir, dan layanan publik. Angin kencang memperparah kondisi, menciptakan situasi berbahaya di banyak wilayah. Salju berat menempel pada infrastruktur seperti lampu lalu lintas dan jaringan listrik. Kondisi ini sangat berbeda dari salju ringan yang biasa dialami warga setempat. Banyak aktivitas harian pun terpaksa dihentikan.

Warga di Hokkaido timur menggambarkan salju kali ini sebagai sangat berat dan sulit dibersihkan. Hembusan angin yang kuat bahkan membuat wajah terasa sakit saat berada di luar ruangan. Banyak kendaraan terkubur salju hingga tidak dapat bergerak. Seorang warga menyebut salju kali ini terasa “dua kali lebih berat dari biasanya.” Kondisi tersebut menyebabkan kelelahan fisik hanya untuk membersihkan area sekitar rumah. Risiko kecelakaan pun meningkat di berbagai distrik.

Di wilayah pesisir, kondisi laut memburuk akibat angin kencang dan gelombang tinggi. Di Pelabuhan Monbetsu, angin silang menciptakan buih ombak yang membahayakan aktivitas pelabuhan. Kota Nemuro mencatat kecepatan angin maksimum sesaat mencapai 33,7 meter per detik. Peringatan gelombang badai sempat dikeluarkan oleh otoritas setempat. Warga diminta waspada terhadap kemungkinan banjir pesisir. Aktivitas maritim pun dibatasi demi keselamatan.

image

Ilustrasi Imbas Badai (Image by: Google)

Cuaca ekstrem ini juga berdampak besar pada sektor penerbangan. Banyak penerbangan ke dan dari Hokkaido, Tohoku, dan Hokuriku dibatalkan. Penumpang terlantar di bandara akibat pembatalan berulang dan perubahan jadwal. Seorang pelancong mengaku dua penerbangannya dibatalkan berturut-turut sebelum mendapat kursi. Japan Airlines dan All Nippon Airways melaporkan total sekitar 60 penerbangan dibatalkan. Lebih dari 4.000 penumpang terdampak akibat gangguan ini.

Di Aomori, badai terjadi hanya sepekan setelah gempa berkekuatan 6 skala Richter pada 8 Desember. Meski demikian, pasar pagi di Hachinohe tetap dibuka seperti biasa pada akhir pekan. Kehadiran pasar memberi rasa normalitas bagi warga dan wisatawan. Para pedagang mengatakan jumlah pengunjung dan kios menurun hingga sekitar setengah dari kondisi normal. Namun, mereka tetap berjualan sebagai simbol ketangguhan komunitas. Pengumuman evakuasi terus disampaikan sebagai antisipasi gempa susulan.

Dampak cuaca dan gempa juga terasa pada sektor perikanan dan pasokan makanan laut. Penangkapan hokki-gai di Oirase dihentikan sementara demi keselamatan nelayan. Restoran dan supermarket mulai kehabisan stok karena pasokan terhenti. Beberapa pemilik usaha berharap nelayan bisa segera kembali melaut. Namun, kondisi laut yang belum stabil menimbulkan ketidakpastian. Seminggu setelah gempa, badai musim dingin ini semakin memperberat tantangan bagi komunitas Jepang utara.