Imbauan Tiongkok Tak Pengaruhi Kunjungan (Images by SoraNews24)
Pemerintah Tiongkok baru-baru ini mengeluarkan imbauan agar warganya tidak bepergian ke Jepang, dan pernyataan ini semakin ditekankan oleh Kedutaan Besar Tiongkok di Tokyo. Untuk melihat dampaknya secara langsung, reporter SoraNews24, Tuan Sato, memutuskan mengunjungi salah satu kawasan yang paling sering dikunjungi wisatawan Tiongkok, yaitu Pecinan Yokohama. Kawasan tersebut dikenal sebagai Pecinan terbesar di Jepang dan menjadi magnet bagi wisatawan lokal maupun internasional.
Perjalanan menuju Pecinan Yokohama memakan waktu sekitar 45 menit dari pusat kota Tokyo. Dalam perjalanan, Tuan Sato memikirkan berbagai jenis wisatawan yang biasanya datang ke sana, mulai dari pengunjung Jepang hingga wisatawan mancanegara. Berkat lokasinya yang berdekatan dengan area populer seperti Yamashita Park dan Motomachi, kawasan ini hampir selalu masuk dalam daftar kunjungan para turis.
Setibanya di Stasiun Motomachi Chukagai, ia langsung melihat banyak iklan restoran, salah satunya Hotenkaku yang terkenal dengan xiaolongbao dan antreannya yang panjang. Walau baru pukul 11 pagi di hari kerja, suasana di sekitar stasiun sudah tampak hidup. Banyak orang berjalan sambil memilih restoran untuk makan siang.
Saat memasuki jalan utama Pecinan, Tuan Sato merasakan suasana yang semakin meriah. Kerumunan orang mulai bertambah, dan ia mendengar beberapa pengunjung berbicara dalam bahasa Mandarin. Tidak jelas apakah mereka wisatawan dari Tiongkok atau warga lokal keturunan Tionghoa, namun suasananya terasa tak jauh berbeda dengan sebelum imbauan perjalanan dikeluarkan.
Semakin dekat waktu makan siang, semakin banyak orang berdatangan. Ia juga melihat rombongan anak-anak sekolah Jepang yang sedang melakukan kunjungan edukasi. Hal ini menunjukkan bahwa kawasan tersebut tetap menjadi tempat favorit untuk berbagai aktivitas.
Chinatown Yokohama tetap ramai (Images by SoraNews24)
Tuan Sato kemudian menuju Hotenkaku cabang utama, yang memang dipadati pembeli. Namun, ia menemukan cabang kedua yang letaknya lebih tersembunyi dan hampir tidak ada antrean. Kesempatan itu ia manfaatkan untuk menikmati empat butir xiaolongbao panas yang lezat.
Selain Hotenkaku, restoran lain juga tampak dipenuhi pelanggan. Jogenro, restoran bergaya Shanghai, bahkan sudah memiliki kerumunan pengunjung sebelum jam operasionalnya dimulai. Suasananya benar-benar sibuk, seolah tidak terpengaruh isu diplomatik apa pun.
Restoran lain seperti Shatenki juga menunjukkan antrean panjang di luar pintu. Dengan ciri khas papan nama bergambar Sinterklas, restoran ini terlihat menonjol dan menarik perhatian banyak orang yang ingin menikmati bubur nasi khasnya. Tuan Sato mencatat bahwa keramaian ini hampir sama seperti biasanya.
Dari kunjungan tersebut, sulit bagi Tuan Sato untuk memastikan apakah jumlah wisatawan Tiongkok benar-benar menurun. Namun, satu hal jelas: wisatawan Jepang tetap berbondong-bondong datang ke Pecinan. Bagi mereka, kelezatan kuliner dan suasana meriah tampaknya jauh lebih penting daripada perkembangan politik.
Pada akhirnya, kunjungan ini menunjukkan bahwa ketegangan diplomatik tidak selalu berdampak pada hubungan antarmasyarakat. Meskipun pemerintah dapat berselisih, masyarakat tetap memilih hal-hal yang menyatukan mereka—dan di Pecinan Yokohama, jawabannya adalah makanan lezat seperti xiaolongbao.