Fasilitas Tidur Siang Di SD Jepang
202308150751-main.cropped_1692060697

Image by SoraNews24.com

Mendapatkan tidur yang cukup sangat penting untuk kesehatan yang baik, namun para komentator merasa ragu bahwa penggunaan "tempat tidur berdiri" di sekolah dasar Jepang adalah cara terbaik untuk mencapainya. Tidur siang di prasekolah merupakan hal yang biasa, tetapi hal itu menghilang begitu anak-anak memasuki sekolah dasar. Oleh karena itu, ketika sebuah sekolah dasar di Jepang menyediakan tempat bagi anak-anak untuk tidur siang, ini tampak sebagai perhatian yang baik terhadap kesejahteraan siswa. Namun, konsep tempat tidur ini yang disebut "tachine", atau "tempat tidur berdiri" justru menimbulkan keraguan.

Desain tempat tidur ini, yang pertama kali diperkenalkan oleh Koyoju Plywood Corporation, tampaknya cukup aneh. Tempat tidur ini lebih mirip sebuah kotak berdiri, dengan kompartemen kecil yang cukup untuk satu orang duduk bersandar pada bantalan di kepala, punggung, dan tulang kering mereka. Posisi ini dimaksudkan agar orang tetap tegak meskipun tertidur tanpa sadar. Konsep tempat tidur ini, yang awalnya dibuat untuk pekerja kantor yang membutuhkan tempat tidur siang, kini dipakai di sekolah dasar sebagai bagian dari kurikulum kesehatan yang baru diterapkan, yang berfokus pada pentingnya tidur yang cukup.

Namun, meskipun niatnya baik, banyak orang yang meragukan efektivitas dan kenyamanan dari tempat tidur berdiri ini. Beberapa orang merasa bahwa posisi tidur seperti itu bisa membahayakan kesehatan, terutama untuk anak-anak. Beberapa komentar daring menyebutkan bahwa tubuh manusia tidak dirancang untuk tidur dalam posisi tegak, dan ada kekhawatiran mengenai risiko kesehatan jangka panjang, seperti masalah tulang belakang. Selain itu, ada yang merasa takut terjebak dalam kompartemen kecil tersebut.

066729800_1691827829-hl

Image by SoraNews24.com

Selain itu, ada juga yang berpendapat bahwa daripada memaksa anak-anak untuk tidur dalam posisi tidak alami, seharusnya lebih fokus pada menciptakan masyarakat di mana tidur siang tidak lagi dianggap aneh, atau bahkan mengurangi beban kerja yang membuat anak-anak kelelahan. Beberapa orang berpendapat bahwa anak-anak seharusnya tidur di meja mereka jika merasa lelah, seperti yang banyak dilakukan siswa di sekolah-sekolah. Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya, masalah utama adalah menciptakan waktu tidur yang cukup bagi anak-anak di tengah jadwal sekolah yang padat.

Yoshito Nohara, direktur Koyoju, yang mendesain tempat tidur ini, menjelaskan bahwa tidur dengan posisi tegak dapat meningkatkan kecepatan pemulihan dan produktivitas. Ia berharap bahwa dengan mengenalkan tidur siang sebagai kebiasaan sejak dini, anak-anak akan tumbuh menjadi orang dewasa yang lebih menghargai tidur siang dan menjadikannya bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun, apakah tujuan ini tercapai masih menjadi tanda tanya, mengingat banyaknya kritik yang dilontarkan.

Keberadaan bilik tidur siang di sekolah, yang akan ada hingga Februari, setidaknya memberi anak-anak kesempatan untuk tidur lebih banyak daripada tidak adanya fasilitas sama sekali. Namun, masih belum jelas apakah tempat tidur ini akan tersedia secara teratur untuk siswa, atau hanya pada acara khusus terkait pelajaran kesehatan. Sementara itu, mungkin lebih penting untuk memastikan bahwa anak-anak mendapatkan cukup tidur secara keseluruhan, melalui penyesuaian kurikulum dan waktu tidur yang lebih baik, daripada sekadar menyediakan tempat tidur berdiri yang kontroversial ini.