Komplek "Katedral" Di Tokyo Diperluas Guna Hadapi Perubahan Iklim
Pada 30 Agustus, air mulai membanjiri "katedral" di KASUKABE, Saitama, akibat hujan deras yang dipicu oleh Topan Shanshan. Meskipun kompleks yang disebut Saluran Pembuangan Bawah Tanah Wilayah Luar Metropolitan ini telah efektif mencegah banjir di kota metropolitan, pemanasan global menyebabkan curah hujan yang semakin ekstrem, mendorong pihak berwenang untuk melakukan peningkatan besar-besaran pada sistem tersebut.
Musim panas ini merupakan yang terpanas sejak 1898, dengan curah hujan yang meningkat dan frekuensi hujan "gerilya" yang semakin sering. Kompleks ini, yang memiliki kapasitas menampung air setara dengan hampir 100 kolam renang ukuran Olimpiade, berhasil menampung air banjir selama topan, mencegah kerugian yang lebih besar. Namun, sistem ini tidak sepenuhnya mengatasi masalah, dengan lebih dari 4.000 rumah terendam akibat hujan lebat pada Juni 2023.
Untuk mengatasi tantangan ini, pemerintah telah memulai proyek senilai 37,3 miliar yen untuk memperkuat tanggul dan drainase, serta proyek lain yang mengalirkan air banjir ke Teluk Tokyo. Sistem pembuangan limbah Tokyo dirancang untuk curah hujan hingga 75 mm per jam, tetapi dengan semakin seringnya badai yang membawa curah hujan lebih tinggi, sistem ini membutuhkan peningkatan untuk mengelola dampak cuaca ekstrem yang terus meningkat.
Image by Reuters/Issei Kato