Salah satu supermarket di Kota Koshigaya, Prefektur Saitama, yang sempat dikunjungi pada akhir Agustus, menunjukkan bahwa beras sering habis menjelang sore hari. Namun, pada akhir September, berbagai merek beras seperti "Akita Komachi" dari Prefektur Ibaraki sudah tersedia di rak. Sayangnya, harga 5 kg beras dijual seharga 2990 yen, atau sekitar 1000 yen lebih mahal dibandingkan tahun sebelumnya.
Beberapa pengunjung supermarket menyatakan bahwa karena harga beras yang tinggi, mereka mulai mengurangi konsumsi nasi menjadi dua kali sehari, dan menggantinya dengan mi atau roti. Bahkan, ada yang beralih membeli paket 5 kg alih-alih 10 kg seperti biasanya.
Berdasarkan indeks harga konsumen yang dirilis oleh Kementerian Dalam Negeri, harga beras di 23 distrik Tokyo pada bulan September naik 41,4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Selain memengaruhi konsumen rumah tangga, kenaikan harga beras ini juga berdampak pada industri makanan cepat saji. Misalnya, perusahaan Skylarc Holdings yang mengelola beberapa restoran, menaikkan harga menu nasi sebesar 30 hingga 55 yen pada akhir September. Sementara itu, jaringan bento Orijin Higashishu juga mengurangi porsi nasi pada beberapa produknya mulai 1 Oktober.
Salah satu alasan utama kenaikan harga beras adalah meningkatnya biaya produksi. Petani di Kota Toyama, Shinya Ohira, yang memiliki lahan sawah seluas 15 hektar, menyatakan bahwa biaya produksi terus meningkat dari tahun ke tahun. Salah satu faktor utamanya adalah kenaikan harga pupuk, yang naik 40-50% dalam lima tahun terakhir karena ketergantungan impor bahan baku.
Selain itu, cuaca panas yang ekstrem juga berdampak pada produksi beras, sehingga petani harus membeli peralatan dan pupuk tambahan untuk menjaga kualitas panen mereka.