Data terbaru dari sebuah perusahaan riset swasta dan Institut Penelitian Jepang menyoroti bahwa angka kelahiran di Jepang mencapai titik terendah sepanjang sejarah pada tahun lalu. Tahun 2023 angka kelahiran hanya mencapai angka 726.000 kelahiran, turun sekitar 40.000 dari tahun sebelumnya. Jumlah anak per wanita selama hidupnya diperkirakan turun menjadi sekitar 1,20, melampaui rekor terendah 1,26 pada 2022, meskipun jumlah pernikahan meningkat pada 2022 untuk pertama kalinya dalam tiga tahun menjadi 504.930
Peneliti senior Jepang, Fujinami Takumi, menyoroti bahwa ketidakstabilan pekerjaan selama pandemi COVID-19 telah menyebabkan pasangan menunda atau bahkan menyerah pada pernikahan. Hal ini tentunya berdampak langsung pada angka kelahiran yang menurun. Ia menambahkan bahwa makin banyak wanita mungkin enggan memiliki anak karena mereka harus menanggung beban pekerjaan rumah tangga meski sudah memasuki dunia kerja.
Sebagai respons terhadap tren ini, pemerintah Jepang telah mengumumkan serangkaian langkah dalam pertemuan Kabinet pada Jumat (14 Februari 2024) untuk merevisi Undang-Undang Dukungan Anak dan Membesarkan Anak. Amandemen tersebut mencakup perluasan tunjangan anak dan tunjangan cuti mengurus anak, dengan menghapus batas pendapatan untuk tunjangan anak, memperluas wajib belajar hingga usia 18 tahun, dan meningkatkan tunjangan bulanan menjadi 30.000 yen setelah anak ketiga.
Langkah-langkah tambahan termasuk memperkenalkan "sistem untuk semua anak" yang memungkinkan anak-anak untuk diasuh di pusat penitipan anak bahkan jika orang tua mereka tidak bekerja. Selain itu, tunjangan mengasuh anak juga ditingkatkan. Bahkan jika kedua orang tua mengambil cuti untuk mengasuh anak selama 14 hari atau lebih, pendapatan mereka tidak berkurang hingga 28 hari. Pemerintah juga menegaskan bahwa anak-anak yang merawat anggota keluarga juga berhak mendapatkan dukungan, dengan perencanaan untuk memperkuat respons dari pemerintah pusat dan daerah.
Untuk memastikan sumber daya keuangan yang cukup untuk inisiatif-inisiatif ini, pemerintah berencana untuk membentuk "sistem dana pendukung" yang akan dibiayai melalui asuransi kesehatan publik, dengan operasi sistem yang dijadwalkan dimulai pada tahun fiskal 2026. Pemerintah Jepang menegaskan bahwa saat ini adalah kesempatan terakhir untuk membalikkan tren penurunan angka kelahiran, dan mereka bertekad untuk mendorong RUU amandemen ini melalui sesi saat ini dan terus menerapkan langkah-langkah untuk mendukung keluarga dan meningkatkan angka kelahiran hingga tahun 2030-an.

Angka Kelahiran Jepang Capai Rekor Terendah
Image by T-Kin (Getty Signature Images)