Image by: soranews24.com
Partisipasi dalam olahraga di sekolah-sekolah Jepang dilaporkan terus menurun dalam beberapa tahun terakhir. Olahraga tradisional seperti melempar bola dan memanjat tali dianggap kurang menarik dibandingkan aktivitas hiburan digital seperti video game. Selain itu, olahraga konvensional kerap mengucilkan siswa dengan kemampuan fisik dan koordinasi yang kurang, sehingga pengalaman berolahraga menjadi tidak menyenangkan bagi sebagian siswa.
Untuk mengatasi tantangan tersebut dan membuat pelajaran jasmani lebih inklusif serta menarik, SMA Shizuoka Nishi di Prefektur Shizuoka mengadopsi olahraga berbasis Augmented Reality (AR) bernama Hado ke dalam kurikulum mereka mulai bulan Juni. Inisiatif ini diharapkan mampu menarik minat siswa dan membangkitkan kembali semangat olahraga di kalangan pelajar.
Image by: soranews24.com
Hado adalah permainan kompetitif tiga lawan tiga yang dikembangkan oleh perusahaan Meleap Inc., di mana pemain menggunakan headset AR dan perangkat pergelangan tangan. Salah satu tangan digunakan untuk menembakkan bola energi, sementara tangan lainnya dapat mengaktifkan perisai. Pertandingan berlangsung selama 80 detik dan poin diberikan berdasarkan jumlah target yang berhasil dikenai.
Sebelum permainan dimulai, setiap pemain dapat mengatur statistik karakter mereka dengan membagi 10 poin ke empat atribut: kecepatan peluru, ukuran peluru, kecepatan pengisian daya, dan jumlah perisai. Sistem ini memungkinkan pemain menyesuaikan kekuatan mereka, baik dengan menyeimbangkan atau memaksimalkan keunggulan tertentu, sehingga memberikan ruang untuk strategi dan permainan yang lebih adil.
Image by: google.com
Dengan sistem ini, lapangan permainan menjadi lebih setara bagi siswa dari berbagai latar belakang fisik. Anak-anak dari berbagai bentuk tubuh dan tingkat kemampuan dapat menikmati permainan sambil tetap memperoleh latihan fisik serta koordinasi mata dan tangan. Pendekatan ini menjadikan olahraga tidak hanya lebih inklusif, tetapi juga lebih menyenangkan dan futuristik.
Saat ini, Hado telah diterapkan di lebih dari 100 sekolah di Jepang dan 300 sekolah di seluruh dunia. Tidak hanya populer di kalangan pelajar, olahraga ini juga diminati oleh orang dewasa. Bahkan, turnamen Hado World Cup telah diselenggarakan di Shanghai pada 24 Mei lalu dengan partisipasi dari 18 negara, dan pertandingan ini disiarkan secara daring melalui YouTube.