Image By Google.com
Polisi di Kota Toda, Prefektur Saitama, telah menangkap seorang wanita berusia 38 tahun atas dugaan membunuh putranya yang baru berusia empat bulan dengan cara menenggelamkannya di dalam bak mandi. Kasus ini mengundang perhatian publik karena diduga berkaitan dengan kondisi depresi pascapersalinan yang dialami oleh sang ibu. Menurut laporan kepolisian dan stasiun televisi NHK, tersangka bernama Hatsune Otake, seorang karyawan paruh waktu, diduga menenggelamkan anaknya yang bernama Chihiro sekitar pukul 13.00 waktu setempat pada tanggal 21 April. Setelah melakukan tindakan tersebut, Otake membawa bayinya keluar dari rumah dan meninggalkannya bersama dirinya di tempat umum.
Image By Google.com
Suaminya yang menyadari istri dan anaknya menghilang segera menghubungi pihak berwajib. Ia mengatakan kepada polisi bahwa istrinya membawa pergi anak mereka dan meninggalkan sebuah catatan perpisahan yang bernada seperti ucapan selamat tinggal. Hal ini memicu kekhawatiran besar dari pihak keluarga maupun pihak berwenang. Tidak lama kemudian, polisi berhasil menemukan Otake dan bayinya di dalam Stasiun JR Toda. Saat ditemukan, bayi dalam kondisi basah kuyup dan tidak sadarkan diri. Ia segera dilarikan ke rumah sakit, namun nyawanya tidak tertolong. Bayi Chihiro dinyatakan meninggal sekitar dua jam setelah ditemukan.
Image By Google.com
Setelah Otake mendapatkan perawatan medis dan dinyatakan cukup sehat untuk meninggalkan rumah sakit pada hari Rabu, polisi kembali melakukan interogasi. Dalam pengakuannya, Otake menyatakan bahwa ia menderita depresi pascapersalinan dan berkata, “Saya menderita depresi pascapersalinan. Itu menyakitkan,” mengindikasikan tekanan mental berat yang ia alami pasca melahirkan. Sebelumnya, pada pagi hari tanggal 21 April sekitar pukul 09.30, Otake sempat menelepon Pusat Konsultasi Anak Saitama-ken Minami. Dalam pembicaraan tersebut, ia mengungkapkan bahwa dirinya tidak percaya diri dalam membesarkan anaknya. Namun, di tengah percakapan, ia tiba-tiba menutup telepon dengan alasan bayinya menangis. Pihak pusat sempat mencoba menghubungi kembali dan merasa Otake tampak tenang, sehingga mereka sepakat untuk bertemu langsung keesokan harinya. Sayangnya, pertemuan itu tidak pernah terjadi.