Image by: kyodonews.net
20 Maret 2025, Jepang memperingati 30 tahun peristiwa serangan gas saraf sarin yang terjadi di sistem kereta bawah tanah Tokyo. Peristiwa ini dilakukan oleh sekte AUM Shinrikyo. Peringatan ini dihadiri oleh keluarga korban, pejabat setempat, petugas stasiun, serta masyarakat yang tetap ingin mengenang dan menghormati memori serangan terorisme terburuk yang pernah terjadi di wilayah Jepang. Acara tersebut berlangsung di Stasiun Kasumigaseki, Tokyo, pada pukul 8 pagi, waktu yang menjadi saksi saat gas sarin yang mematikan disebar di lima gerbong kereta saat jam sibuk di pagi hari tanggal 20 Maret 2025. Saat itu, ribuan orang tengah beraktivitas, dan serangan ini meninggalkan dampak yang sangat besar.
Berlokasi di Stasiun Kasumigaseki, pejabat pemerintah, keluarga korban, dan petugas stasiun turut mengheningkan cipta sebagai bentuk penghormatan kepada mereka yang telah menjadi korban dari serangan tersebut. Shizue Takahashi (78), yang kehilangan suaminya dalam insiden ini, terlihat meletakkan bunga di lokasi kejadian. Suaminya, yang merupakan seorang wakil kepala stasiun di Stasiun Kasumigaseki, turut menjadi korban. Dalam kesempatan tersebut, Shizue mengungkapkan keprihatinannya bahwa peristiwa ini jangan sampai terlupakan. Meski waktu telah berlalu, ia berharap agar ingatan tentang serangan ini tetap hidup, agar generasi mendatang tidak melupakan tragedi besar ini.
Image by: kyodonews.net
Serangan gas sarin tersebut terjadi atas instruksi dari Shoko Asahara, pendiri sekte AUM Shinrikyo, yang mengarahkan anggotanya untuk menyebarkan gas beracun tersebut di lima gerbong kereta bawah tanah di pagi hari saat jam sibuk. Akibat serangan ini, 14 orang kehilangan nyawa dan sekitar 6000 orang lainnya mengalami luka-luka. Meskipun sekte AUM Shinrikyo telah dibubarkan pada tahun 1996, serta Asahara dan 12 anggota senior sekte tersebut dieksekusi, kelompok-kelompok penerus sekte tersebut, seperti Aleph dan dua kelompok pecahannya, masih aktif hingga kini. Mereka terus berupaya merekrut anggota baru, meskipun telah dilarang oleh pemerintah Jepang.
Selain serangan di Tokyo, Asahara juga didakwa atas berbagai tindak pembunuhan, termasuk serangan gas sarin di Matsumoto, Prefektur Nagano pada tahun 1994 yang menewaskan 8 orang dan melukai lebih dari 100 orang. Selain itu, anggota sekte ini juga diketahui telah membunuh seorang pengacara bernama Tsutsumi Sakamoto pada tahun 1989. Sakamoto diketahui membantu orang-orang untuk melepaskan diri dari pengaruh sekte tersebut. Bersama dengan istri dan bayi laki-lakinya, mereka dibunuh dalam upaya untuk menutupi kejahatan yang dilakukan oleh AUM Shinrikyo.
Image by: kyodonews.net
Peristiwa ini meninggalkan trauma mendalam bagi banyak orang, terutama bagi mereka yang selamat. Banyak korban yang selamat dari serangan gas sarin ini masih menderita gangguan stres pasca-trauma dan masalah kesehatan yang berkelanjutan. Selain itu, kekacauan yang ditimbulkan oleh serangan ini juga membuat masyarakat Jepang merasa terguncang, terutama mengingat Jepang dikenal sebagai negara yang aman dan efisien. Serangan tersebut membuat banyak orang merasa khawatir tentang keselamatan mereka, bahkan di tempat-tempat yang dianggap sangat aman.
Sebagai bagian dari upaya untuk memperingati peristiwa tersebut dan memberikan peringatan kepada masyarakat, Badan Intelijen Keamanan Publik Jepang baru-baru ini membuka arsip digital yang memuat kesaksian dari keluarga korban dan foto-foto guru sekte tersebut, Shoko Asahara. Arsip ini bertujuan untuk memberi peringatan kepada masyarakat tentang bahaya yang ditimbulkan oleh sekte-sekte berbahaya seperti AUM Shinrikyo. Melalui arsip ini, diharapkan masyarakat bisa lebih berhati-hati dan memahami risiko yang ditimbulkan oleh kelompok-kelompok yang menghasut kekerasan dan terorisme, serta menjaga agar peristiwa tragis ini tidak terulang kembali di masa depan.