Target 500 Ribu PMI, Jepang Jadi Mitra Strategis

Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) mematangkan langkah strategis guna merealisasikan target penempatan 500.000 Pekerja Migran Indonesia (PMI) ke berbagai negara tujuan. Jepang menjadi salah satu negara mitra strategis yang dinilai memiliki peluang besar dalam penyerapan tenaga kerja Indonesia.
Wakil Menteri P2MI, Christina Aryani, menyampaikan bahwa persiapan menuju target besar tersebut dilakukan secara bertahap, terukur, dan melibatkan berbagai kementerian serta lembaga terkait. Ia menjelaskan, sejumlah tahapan awal telah dilakukan, mulai dari pemetaan lembaga vokasi, identifikasi ketersediaan tenaga kerja, hingga penentuan sumber suplai calon PMI. Langkah tersebut menjadi fondasi penting untuk memastikan kesiapan tenaga kerja Indonesia agar sesuai dengan kebutuhan pasar kerja global.
“Jumlah targetnya besar, tetapi dari sisi persiapan seperti pemetaan lembaga vokasi dan sumber suplai tenaga kerja, semuanya sudah berjalan,” ujar Christina dalam acara Indonesia Economic Summit di Jakarta, Rabu (4/2/2026).
Selain itu, Kementerian P2MI juga memperkuat koordinasi lintas kementerian, termasuk dengan Kementerian Sekretariat Negara dan Kementerian Keuangan, guna mengkaji kemungkinan pencapaian target 500.000 PMI dalam satu tahap. Sebagai pendukung program tersebut, pemerintah menyiapkan berbagai skema penguatan, salah satunya melalui program SMK Global yang tidak hanya berfokus pada pelatihan, tetapi juga memastikan lulusan siap bekerja dan terserap di luar negeri. Pemerintah juga menyediakan solusi pembiayaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) khusus PMI untuk membantu biaya penempatan.
Dari sisi negara tujuan, peluang penempatan PMI masih sangat luas. Negara konvensional seperti Malaysia tetap menjadi tujuan utama, disusul kawasan Timur Tengah dengan kebutuhan sekitar 60.000 tenaga kerja. Namun, Jepang dan Korea Selatan kini menjadi tujuan strategis baru dengan permintaan tenaga kerja terampil yang terus meningkat. Selain itu, negara-negara Eropa Timur dan Turki juga mulai menunjukkan tren peningkatan kebutuhan pekerja migran.

Kolaborasi Indonesia–Jepang Semakin Diperkuat

Penguatan kerja sama Indonesia dan Jepang dalam pengelolaan pekerja migran ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Direktur Jenderal Promosi dan Pemanfaatan Peluang Kerja Luar Negeri (P3KLN) Dwisetiawan Susanto, mewakili Kementerian P2MI, dengan Gubernur Prefektur Kagawa, Ikeda Toyohito, di Jakarta, Jumat (23/1/2026).
Kerja sama ini menjadi tonggak penting pascatransformasi kelembagaan dari Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) menjadi Kementerian P2MI. Melalui sinergi tersebut, sistem pelindungan PMI dirancang lebih menyeluruh, sehingga pekerja migran Indonesia yang bekerja di Jepang, khususnya di Prefektur Kagawa, berada dalam ekosistem yang tertata.
Menteri P2MI Mukhtarudin menegaskan bahwa perubahan status kelembagaan menjadi kementerian merupakan amanat langsung Presiden untuk memperkuat fungsi pelindungan PMI dari hulu hingga hilir.
“Sejak berdirinya Kementerian P2MI, kami menjadi satu-satunya pengampu urusan pekerja migran, mulai dari penetapan kebijakan, pelatihan, hingga pelindungan,” ujar Mukhtarudin.

Kagawa Butuhkan Ribuan Tenaga Kerja

Berdasarkan data yang dipaparkan, Prefektur Kagawa saat ini membutuhkan sekitar 2.000 hingga 2.950 tenaga kerja asing. Kebutuhan tersebut tersebar di sektor perhotelan, hospitality, manufaktur, dan konstruksi.
Data Sistem Informasi Calon Pekerja Migran Indonesia (SISKOP2MI) menunjukkan bahwa lebih dari 2.100 PMI telah bekerja di Kagawa. Komposisinya meliputi 40 persen peserta pemagangan dan 30 persen pekerja skema Specific Skilled Worker (SSW). Peningkatan jumlah pekerja SSW menandakan semakin tingginya kebutuhan tenaga kerja terampil di Jepang. Kerja sama ini juga diproyeksikan menjadi proyek percontohan bagi kerja sama antara Pemerintah Indonesia dengan prefektur-prefektur lain di Jepang.
Gubernur Ikeda Toyohito menyampaikan apresiasi atas kontribusi warga Indonesia yang bekerja di wilayahnya. Saat ini, jumlah warga Indonesia di Prefektur Kagawa mencapai sekitar 4.000 orang, sebagian besar bekerja di sektor manufaktur dan industri strategis.
“Saya berharap melalui kerja sama ini, jumlah tenaga kerja Indonesia yang datang ke Kagawa akan semakin bertambah di masa depan,” ujar Ikeda.

Sistem Baru Jepang Dibuka 2027

Dalam pertemuan tersebut, turut dibahas perubahan sistem ketenagakerjaan asing di Jepang. Mulai April 2027, sistem pemagangan teknis (Gino Jisshu) akan digantikan dengan sistem baru bernama Ikusei Shuro atau Pelatihan Kerja. Sistem tersebut akan terintegrasi dengan skema Tokutei Gino atau pekerja keterampilan spesifik, yang diharapkan membuka jalur karier lebih luas bagi PMI di Jepang melalui sistem yang lebih terstruktur.
Untuk mendukung transisi tersebut, Prefektur Kagawa berkomitmen menyediakan lingkungan kerja yang aman dan nyaman bagi pekerja migran Indonesia. Selain itu, peningkatan pendidikan bahasa Jepang juga menjadi prioritas guna menunjang kesiapan tenaga kerja.

Diplomasi Budaya Perkuat Hubungan

Menutup pertemuan, Gubernur Ikeda menyampaikan pesan persahabatan melalui pendekatan budaya kuliner. Ia menyoroti kemiripan antara Yakitori khas Kagawa dengan sate Indonesia sebagai simbol kedekatan hubungan kedua wilayah.
“Kemiripan menu ini menjadi simbol persahabatan yang semakin mempererat hubungan antara Indonesia dan Prefektur Kagawa,” ujarnya.
Kerja sama ini diharapkan menjadi langkah konkret dalam memperluas peluang karier tenaga kerja Indonesia sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam pasar tenaga kerja global.


Penandatanganan dengan Gubernur Kagawa
Penandatanganan Gubernur Prefektur Kagawa dengan Pemerintah Indonesia (source: GoNews.co)

Festival Salju Sapporo Digelar!

image

Upaca pembukan Festival Salju Sapporo diadakan di depan patung salju Gedung Furukawa Universitas Hokkaido
(Image by: KyodoNews)

SAPPORO – Festival Salju Sapporo tahunan resmi dibuka pada Rabu, menampilkan sekitar 200 patung es dan salju di tiga lokasi utama di kota terbesar Hokkaido tersebut.

Pada festival ke-76 ini, pengunjung dapat menyaksikan patung karakter Star Wars, Mandalorian dan Grogu, serta patung Kastil Tsuruga setinggi sekitar 15 meter dari Aizuwakamatsu, Prefektur Fukushima. Kedua patung raksasa itu dipamerkan di Taman Odori, pusat utama festival.

image

Orang-orang melihat patung salju kastil Tsuruga di Taman Odori di Sapporo (Image by: KyodoNews)

Selain itu, terdapat pula patung Gedung Furukawa Universitas Hokkaido yang dibuat untuk memperingati ulang tahun ke-150 institusi tersebut, yang awalnya didirikan sebagai Sekolah Tinggi Pertanian Sapporo.

Di lokasi lain, sebuah seluncuran salju dipasang di Sapporo Community Dome atau “Tsudome”, sebuah aula serbaguna yang juga menjadi salah satu area utama festival. Sementara itu, distrik hiburan Susukino menampilkan sekitar 60 patung es yang menghiasi kawasan tersebut selama festival berlangsung.

image

Pengunjung melihat lihat patung salju di Festival Salju Sapporo (Image by: TheJapanNews)

Pada hari pertama acara yang digelar selama sepekan ini, banyak pengunjung memadati Taman Odori untuk mengabadikan patung-patung raksasa yang dipamerkan. “Perhatian terhadap detail bahkan di bagian tertinggi pun sangat sempurna. Saya heran bagaimana mereka membuatnya,” ujar Yoshiaki Kuni, 70 tahun, yang mengunjungi festival tersebut untuk pertama kalinya.

Festival Salju Sapporo yang dimulai sejak 1950 ini menarik sekitar 2 juta pengunjung setiap tahun dari Jepang dan berbagai negara. Mulai 2027, Pasukan Bela Diri Darat Jepang akan mengurangi jumlah patung yang mereka buat dari dua menjadi satu.

Jepang Dilanda Salju, 30 Tewas

image

Seorang karyawan toko menyekop salju di kota Aomori (Image by: Philip Fong / AFP)

Hujan salju lebat yang tidak biasa telah menewaskan sedikitnya 30 orang di Jepang dalam dua pekan terakhir. Para pejabat mengatakan pada Selasa bahwa curah salju ekstrem terutama melanda wilayah utara, membuat banyak warga kesulitan beraktivitas dan bahkan tidak dapat meninggalkan rumah mereka.

Beberapa wilayah di Prefektur Aomori mencatat tumpukan salju hingga 4,5 meter, menjadikannya salah satu daerah terdampak terparah. Di wilayah ini, sejumlah kematian dilaporkan, termasuk seorang perempuan berusia 91 tahun yang ditemukan meninggal tertimbun salju setinggi sekitar tiga meter di luar rumahnya.

image

Orang orang beraktivitas di sepanjang jalan yang tertutup salju di Aomori 3 Februari 2026 (Image by: JIJI Press / AFP via Getty Image)

Sistem cuaca besar menyebabkan curah salju sangat tinggi di sepanjang pantai Laut Jepang dalam beberapa minggu terakhir. Beberapa daerah di bagian tengah dan utara Pulau Honshu bahkan mengalami curah salju lebih dari dua kali lipat dibandingkan rata-rata tahunan.

Pemerintah pusat telah mengerahkan pasukan untuk membantu otoritas setempat membersihkan salju. Perdana Menteri Sanae Takaichi juga menggelar rapat kabinet khusus pada Selasa, menginstruksikan para menteri untuk melakukan segala upaya guna mencegah jatuhnya korban tambahan.

image

Salju tebal setinggi 3 meter menutupi jalanan (Image by: Radiomoldova.md)

Gambar dari siaran televisi menunjukkan warga harus berjalan melalui parit-parit yang digali di tengah salju tebal, sementara banyak kendaraan terjebak di jalan. Sejumlah sekolah ditutup dan layanan transportasi umum dihentikan di beberapa wilayah akibat kondisi yang memburuk.

Menurut Badan Manajemen Kebakaran dan Bencana Jepang, sejak 20 Januari hingga Selasa, total 30 orang meninggal akibat insiden terkait salju. Pihak berwenang mengingatkan bahwa salju yang menumpuk di atap rumah dapat runtuh secara tiba-tiba, terutama saat suhu menghangat, dan meminta warga untuk meningkatkan kewaspadaan.

Aksi PMI Selamatkan Lansia Jepang

image

Lima pekerja Migran Indonesia menerima penghargaan dari kepolisian Kumamoto setelah menolong seorang lansia Jepang berusia 80 thn yang hampir mengalami hipotermia. (Image by: lihkg.com)

KUMAMOTO — Kabar membanggakan kembali datang dari diaspora Indonesia di Jepang. Lima Pekerja Migran Indonesia (PMI) perempuan menerima apresiasi dari Kepolisian Kumamoto setelah menolong seorang lansia Jepang yang hampir mengalami hipotermia di tengah suhu dingin ekstrem.

Kelima PMI tersebut adalah Puji Atun dan Widyawati Firda Saputri asal Cilacap, Novita Rohmah Danti dari Banyumas, Nira Nur Marisa asal Purwakarta, serta Elly Widyawati dari Ponorogo. Mereka bekerja di sektor pertanian di Kota Kumamoto dan sehari-hari bertugas di fasilitas sortir sayuran.

image

Lima pekerja Migran Indonesia menerima penghargaan dari kepolisian Kumamoto setelah menolong seorang lansia Jepang berusia 80 thn yang hampir mengalami hipotermia. (Image by: Google)

Peristiwa itu terjadi di wilayah Minami-ku pada 15 Januari 2026 sekitar pukul 20.30 waktu setempat. Saat itu, suhu udara berada di kisaran 10–11 derajat Celsius. Seorang wanita lanjut usia berusia sekitar 80 tahun terlihat berdiri mematung di dalam parit, tanpa sarung tangan maupun penutup kepala, dan diduga tidak mampu keluar sendiri.

Kejadian bermula ketika Puji Atun, Widyawati, dan Novita Rohmah sedang bersepeda sepulang kerja. Mereka mendengar teriakan minta tolong dari arah parit. “Sang nenek terdengar minta tolong, ‘tasukete, tasukete’. Lalu kami berhenti dan langsung membantu,” tutur Novita, seperti dikutip Tribunnews, Minggu (1/2).

Menyadari situasi darurat, ketiganya kemudian memanggil dua rekan mereka yang lebih fasih berbahasa Jepang, yakni Nira Nur Marisa dan Elly Widyawati. Keduanya berlari menuju koban terdekat yang berjarak sekitar 10 menit, namun pos tersebut sedang kosong dan hanya terdapat petunjuk untuk menghubungi nomor darurat 110.

image

Lima pekerja Migran Indonesia menerima penghargaan dari kepolisian Kumamoto setelah menolong seorang lansia Jepang berusia 80 thn yang hampir mengalami hipotermia. (Image by: lihkg.com)

Sambil menunggu bantuan, kelima PMI berupaya mencegah kondisi hipotermia pada korban. Mereka menyelimuti tubuh sang lansia dengan jas hujan, memberikan topi dan sarung tangan milik mereka sendiri, serta menutup bagian kaki agar tetap hangat. “Kami kasih sarung tangan dan topi supaya tidak kedinginan. Kakinya juga kami tutupi dengan jas hujan,” ungkap mereka.

Sekitar 30 menit kemudian, petugas kepolisian tiba di lokasi. Karena sang lansia tidak mengingat alamat rumahnya, polisi memintanya menuliskan nama dalam aksara Kanji untuk proses identifikasi sebelum akhirnya dibawa ambulans ke fasilitas kesehatan.

Aksi kemanusiaan tersebut dilaporkan kepolisian kepada perusahaan tempat para PMI bekerja, yakni Fasilitas Sortir Sayuran Kota Kumamoto JA (Japan Agricultural Cooperatives). Pada 29 Januari 2026, kelimanya diundang ke Kantor Kepolisian Kumamoto Minami dan menerima sertifikat penghargaan Kansha-jo. Pimpinan perusahaan, Uchida, menyampaikan kebanggaannya atas sikap para pekerja Indonesia yang dinilai rajin dan berdedikasi sejak perekrutan PMI dimulai pada 2023. Saat ini, kelimanya berstatus Tokutei Ginou 1 dan menargetkan peningkatan ke Tokutei Ginou 2 agar dapat bekerja lebih lama serta membawa keluarga ke Jepang.

Rekor Baru Pekerja Asing di Jepang

image

Ilustrasi pekerja asing di Jepang (image by: Tempo)

Jumlah pekerja asing di Jepang mencapai rekor tertinggi baru, menembus lebih dari 2,57 juta orang hingga akhir Oktober lalu. Data pemerintah yang dirilis Jumat menunjukkan angka ini memecahkan rekor selama 13 tahun berturut-turut, di tengah krisis kekurangan tenaga kerja yang terus dihadapi Jepang.

Total pekerja asing tercatat sebanyak 2.571.037 orang, meningkat 11,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Dari jumlah tersebut, pekerja asal Vietnam menjadi kelompok terbesar, menyumbang proporsi paling dominan di antara seluruh tenaga kerja asing.

Rilis data ini muncul di tengah kampanye pemilihan Dewan Perwakilan Rakyat yang dijadwalkan pada 8 Februari. Isu integrasi warga asing kembali menjadi sorotan, termasuk wacana pengetatan penerimaan pekerja asing serta upaya memperkuat kohesi sosial di masyarakat.

image

Foto Pekerja asing mengemas brokoli (Image by: Kyodo News)

Jumlah tempat kerja yang mempekerjakan warga negara asing juga mencetak rekor tertinggi, mencapai 371.215 lokasi. Angka ini naik 8,5 persen dari tahun sebelumnya, dengan usaha kecil yang memiliki kurang dari 30 karyawan menyumbang 63,1 persen dari total tersebut, menurut Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan.

Berdasarkan sektor industri, manufaktur menjadi sektor dengan jumlah pekerja asing terbanyak, yakni 635.075 orang atau 24,7 persen dari total. Sektor jasa non-makanan dan minuman berada di posisi berikutnya dengan 391.946 pekerja asing.

Sementara itu, sektor medis dan kesejahteraan, termasuk perawatan jangka panjang, mencatat pertumbuhan tercepat, naik 25,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Jumlah pemegang visa Pekerja Terampil Khusus juga meningkat tajam sebesar 38,3 persen menjadi 286.225 orang, dengan pekerja asal Vietnam tetap menjadi kelompok terbesar, diikuti oleh pekerja Tionghoa dan Filipina.

Isu WNA Tak Bayar Medis di Jepang

image

ilustrasi wisatawan asing di jepang (Image by: TheJapanTimes)

Isu pasien asing di rumah sakit dan klinik Jepang yang tidak membayar tagihan medis kembali mencuat setelah pemerintah memasukkannya sebagai topik utama dalam paket kebijakan terkait penduduk dan wisatawan asing. Kebijakan ini memicu perdebatan tentang seberapa besar masalah tersebut sebenarnya terjadi di lapangan.

Dalam paket kebijakan yang dirilis Jumat lalu, pemerintah berencana menurunkan ambang batas tagihan medis yang belum dibayar bagi warga negara asing dari ¥200.000 menjadi ¥10.000. Warga asing, termasuk penduduk jangka menengah dan panjang, yang memiliki tunggakan di atas jumlah tersebut pada prinsipnya dapat dilarang masuk kembali ke Jepang oleh otoritas imigrasi.

Namun, para pelaku di lapangan menilai masalah ini tidak sesederhana pasien asing yang sengaja menghindari pembayaran. Klinik dan perusahaan yang menangani pasien asing menyebutkan bahwa sebagian besar kasus tunggakan bukan disebabkan oleh niat buruk, melainkan oleh perbedaan sistem, budaya medis, dan kesalahpahaman.

Menurut data Kantor Kabinet, pada tahun fiskal 2023 total tagihan medis yang belum dibayar oleh pasien asing mencapai sekitar ¥1,3 miliar, atau hanya 1,5% dari seluruh tunggakan medis nasional. Dalam survei Kementerian Kesehatan tahun fiskal 2024, 28,9% rumah sakit yang pernah menangani pasien asing melaporkan mengalami kasus tagihan tak terbayar, meski fenomena serupa juga terjadi pada pasien warga Jepang.

image

Ilustrasi wisatawan asing di jepang (Image by: Nikkei Asia)

Salah satu faktor utama adalah perbedaan sistem perawatan kesehatan. Jepang menerapkan asuransi kesehatan universal dengan biaya yang ditetapkan secara nasional, sehingga dokter sering melakukan pemeriksaan tanpa membahas biaya terlebih dahulu. Sebaliknya, di banyak negara lain, pasien terbiasa mengetahui atau memilih biaya perawatan di muka, sehingga ketidaktahuan soal harga akhir kerap menimbulkan penolakan pembayaran.

Kesalahpahaman juga diperparah oleh perbedaan alur pelayanan, seperti kebiasaan Jepang yang mendorong pasien memulai perawatan di klinik kecil sebelum dirujuk ke rumah sakit besar. Wisatawan asing yang langsung mendatangi rumah sakit tanpa rujukan dapat dikenakan biaya tambahan dan pemeriksaan lebih banyak dari yang mereka perkirakan.

Selain itu, banyak pasien asing yang salah memahami skema asuransi perjalanan, dengan asumsi perusahaan asuransi akan membayar rumah sakit secara langsung. Pada kenyataannya, sebagian besar polis mengharuskan pasien membayar terlebih dahulu lalu mengajukan klaim penggantian, yang sering kali tidak dipahami dengan baik.

Para ahli dan pengelola klinik menilai solusi terletak pada peningkatan komunikasi dan dukungan sistemik. Rumah sakit disarankan memberikan perkiraan biaya, menjelaskan metode pembayaran secara jelas, serta menyediakan informasi tertulis multibahasa. Di sisi lain, mereka menilai pemerintah perlu berperan lebih aktif melalui subsidi, pelatihan bahasa, dan penguatan infrastruktur medis agar Jepang siap menghadapi meningkatnya jumlah wisatawan dan penduduk asing.

Aksi Tiru Zoro Berujung Penahanan

image

Ilustrasi pria yang membawa 3 pisau (Image by: ANN News)

Teknik tiga pedang sebaiknya tetap diserahkan kepada Roronoa Zoro dari serial One Piece. Di dunia nyata, membawa pisau dalam jumlah banyak—terlebih di tempat umum—bukan hanya tidak lazim, tetapi juga berpotensi menimbulkan masalah hukum.

Secara umum, jumlah pisau yang “tepat” sangat bergantung pada situasi. Dalam aktivitas sehari-hari seperti memasak atau mengukir kayu, satu pisau biasanya sudah mencukupi. Dua pisau mungkin masih bisa dibenarkan dalam konteks tertentu. Namun, membawa tiga pisau sekaligus hampir pasti akan menarik perhatian, apalagi jika salah satunya dipegang di mulut karena kehabisan tangan.

Hal inilah yang terjadi di Prefektur Saga, Jepang, akhir pekan lalu. Pada Minggu pagi, polisi menerima panggilan darurat 110 dari seorang perempuan di Kota Karatsu yang melaporkan seorang pria berjalan di jalan sambil memegang pisau di kedua tangannya. Petugas kemudian dikerahkan ke lokasi.

image

Cover manga One Piece (Image by: Soranews24)

Sekitar pukul 08.40 pagi, polisi menemukan pria tersebut. Saat itu, ia tidak hanya memegang pisau di masing-masing tangan, tetapi juga menggenggam pisau ketiga di antara giginya. Ketiga pisau tersebut merupakan pisau dapur dengan panjang sekitar 13,5 cm, 17 cm, dan 18 cm. Pisau di mulutnya dipegang pada bagian gagang, bukan mata pisau.

Ketika dimintai keterangan, pria tersebut mengatakan bahwa ia sedang dalam perjalanan ke rumah seorang kenalan untuk “mengambil sayuran”. Namun, polisi menilai alasan tersebut tidak masuk akal. Dalam hukum Jepang, membawa alat tajam sebenarnya tidak sepenuhnya dilarang, tetapi pisau harus disimpan atau diamankan saat dibawa, bukan digenggam atau dipamerkan di ruang publik.

Setelah pemeriksaan lebih lanjut, polisi menetapkan bahwa pria berusia 47 tahun tersebut, seorang pengangguran warga setempat, tidak memiliki alasan yang sah untuk membawa dan mengacungkan pisau di tempat umum. Ia pun ditangkap atas dugaan pelanggaran Undang-Undang Pengendalian Pedang dan Senjata Api Jepang.

Panda Terakhir Tinggalkan Jepang

image

Xiao Xiao dan Lei Lei dari Kebun Binatang Ueno Tokyo (image by: Asahi news)

Dua panda raksasa terakhir yang tersisa di Jepang, Xiao Xiao dan Lei Lei dari Kebun Binatang Ueno di Tokyo, berangkat ke China pada Selasa sore. Kepergian keduanya menandai momen bersejarah, karena untuk pertama kalinya dalam sekitar setengah abad Jepang tidak lagi memiliki panda raksasa.

Panda kembar berusia empat tahun tersebut—masing-masing satu jantan dan satu betina—meninggalkan kebun binatang menggunakan truk khusus. Mereka kemudian diberangkatkan dengan pesawat dari Bandara Narita di Prefektur Chiba menuju Provinsi Sichuan, Tiongkok.

image

Xiao Xiao dan Lei Lei dari Kebun Binatang Ueno Tokyo (Image by: BBC news)

Di Jepang, muncul seruan kuat dari publik agar pemerintah mengupayakan pengganti panda raksasa. Namun, hingga kini belum ada kepastian apakah China akan menyetujui peminjaman panda baru, terutama di tengah memburuknya hubungan kedua negara setelah pernyataan Perdana Menteri Sanae Takaichi mengenai potensi keadaan darurat di Taiwan.

Para ahli menilai Jepang kemungkinan akan mengalami periode panjang tanpa kehadiran panda. Padahal, selama puluhan tahun, panda raksasa dipandang sebagai simbol persahabatan dan diplomasi antara Jepang dan China.

image

Staf melepas truk yang membawa panda kembar Xiao Xiao dan Lei Lei dari Kebun Binatang Ueno, Tokyo, menuju Tiongkok pada Selasa. (image by: Reuters)

Panda raksasa pertama kali datang ke Jepang pada 1972, ketika sepasang panda bernama Kang Kang dan Lan Lan dihadiahkan oleh China kepada Kebun Binatang Ueno untuk memperingati normalisasi hubungan diplomatik kedua negara. Sejak itu, panda juga dibesarkan di Adventure World di Shirahama, Prefektur Wakayama, serta di Kebun Binatang Kobe Oji di Kota Kobe.

Seluruh panda raksasa yang pernah berada di Jepang dipinjamkan dari China untuk tujuan penelitian dan pengembangbiakan, sehingga status kepemilikannya tetap berada di China, termasuk panda yang lahir di Jepang. Xiao Xiao dan Lei Lei dijadwalkan tiba di China pada Rabu dan akan menjalani karantina di pusat konservasi Ya’an Bifengxia di Sichuan, tempat ibu mereka, Shin Shin, serta kakak perempuannya, Xiang Xiang, saat ini tinggal.

Minuman Energi Berbentuk Kartu

image

Kartu energy drink yang berkolaborasi dengan Street Fighter (Image by: makuake.com)

Para kreator di balik produk ini bekerja sama dengan franchise gim legendaris Street Fighter, dengan klaim bahwa penyaluran energi yang cepat sangat ideal untuk gamer dan pelajar yang membutuhkan fokus instan. Kolaborasi ini menyasar gaya hidup modern yang serba cepat, terutama di dunia e-sports dan aktivitas belajar intensif.

Perusahaan makanan ringan dan minuman asal Osaka, UHA Mikakuto, menggandeng penerbit gim Capcom untuk merilis total 24 kartu bergambar karakter dari Street Fighter 6. Meski tampilannya menyerupai kartu koleksi, UHA Mikakuto menegaskan bahwa mereka bukan produsen kartu atau merchandise, melainkan produsen makanan dan minuman.

image

Cara meminum kartu energy drink (Image by: makuake.com)

Yang membuat banyak orang keliru, kartu-kartu ini bukan bonus yang diselipkan dalam kemasan camilan atau cokelat. Kartu tersebut justru merupakan wadah minuman energi itu sendiri, bukan aksesori tambahan pada botol atau kaleng. Artinya, konsumen benar-benar meminum minuman energi langsung dari kartu tersebut.

Produk bernama Energy Arts ini dikembangkan bersama departemen farmasi Universitas Kindai. Minuman ini tidak mengandung kafein dan menggunakan wadah berbentuk kartu tipis. Cara meminumnya pun unik: kartu dipegang di bagian tepi, lalu dilipat ke belakang untuk membuka segel di bagian tengah sehingga cairan di dalamnya bisa langsung diminum.

image

Kartu energy drink yang berkolaborasi dengan Street Fighter (Image by: makuake.com)

Menurut UHA Mikakuto, desain ini lebih cepat dan praktis dibandingkan kemasan konvensional karena dapat digunakan dengan satu tangan dan menghasilkan lebih sedikit sampah. Karena itulah, Energy Arts dipromosikan sebagai solusi bagi mereka yang membutuhkan dorongan energi singkat saat rapat, belajar, atau bertanding dalam kompetisi e-sports—yang disebut-sebut menjadi alasan utama kolaborasi dengan Street Fighter.

Meski kapasitasnya hanya 12 mililiter, setiap kartu mengandung 1.000 miligram asam amino arginin dan sitrulin, yang diklaim setara dengan minuman energi kaleng ukuran penuh. Produk ini juga memiliki masa simpan hingga 18 bulan dan cukup kecil untuk disimpan di dompet. UHA Mikakuto menjual edisi Street Fighter Energy Arts dalam paket berisi 10 kartu seharga 3.213 yen, melalui situs crowdfunding Jepang Makuake dari 23 Januari hingga 10 Mei.

Jepang Tanggapi Wisatawan Muslim

image

Foto ruang doa di Pameran Dunia di Osaka yang diambil pada Oktober 2025 (Image by: KyodoNews)

KOCHI, Jepang — Seiring meningkatnya jumlah wisatawan Muslim ke Jepang, muncul pertanyaan yang kian terasa di bandara, pusat perbelanjaan, dan kawasan wisata: di mana para pelancong ini dapat menunaikan ibadah salat. Isu ini mungkin terdengar sederhana, namun bagi banyak pengunjung, ketersediaan ruang ibadah menjadi bagian penting dari pengalaman perjalanan.

Jumlah wisatawan asing ke Jepang mencetak rekor pada tahun lalu, termasuk dari negara-negara mayoritas Muslim yang tertarik pada kuliner, budaya pop, serta pemandangan musiman. Data Organisasi Pariwisata Nasional Jepang menunjukkan bahwa antara Januari hingga November, sekitar 560.000 wisatawan datang dari Indonesia, 540.000 dari Malaysia, dan 240.000 dari kawasan Timur Tengah.

image

Foto wanita Muslim sedang berdoa di ruang shalat yang diambil pada September 2025 di Pameran Dunia di Osaka         (Image by: KyodoNews)

Bagi sebagian wisatawan Muslim, keterbatasan fasilitas ibadah membuat perjalanan terasa kurang nyaman. Tantangannya bukan semata soal membangun masjid besar, melainkan menyediakan ruang yang fleksibel dan layak. Badan Pariwisata Jepang pun telah mengeluarkan panduan bagi hotel, pusat transportasi, dan fasilitas komersial agar, jika memungkinkan, menyediakan ruang yang tenang dan bersih untuk salat.

Di lokasi yang tidak memungkinkan adanya ruang khusus, para ahli menilai akomodasi sederhana dapat memberi dampak besar. Partisi sementara, papan penunjuk yang jelas, hingga peningkatan kesadaran staf dinilai cukup membantu, sekaligus memperkuat citra Jepang sebagai negara yang ramah terhadap keberagaman budaya dan agama.

image

Foto ruang shalat di Terminal 3 Bandara Haneda Tokyo (Image by: KyodoNews)

Upaya tersebut mulai terlihat di sejumlah tempat. Pada Pameran Dunia di Osaka tahun lalu, misalnya, sebuah ruang salat didirikan di dekat kawasan Hutan Ketenangan untuk melayani pengunjung dan staf Muslim yang menjalankan salat lima waktu. Fasilitas serupa juga tersedia di bandara-bandara besar dan kota utama. Bandara Haneda Tokyo membuka ruang salat di Terminal 3 sejak 2014, dan pada tahun fiskal 2024 fasilitas itu digunakan rata-rata hampir 2.000 orang per bulan.

Meski demikian, ketersediaan ruang ibadah masih belum merata. Di wilayah seperti Shikoku dan Kyushu, jumlah fasilitas di stasiun relatif terbatas karena keterbatasan ruang dan rendahnya permintaan. Hirofumi Tanada, profesor emeritus Universitas Waseda, menilai pendekatan fleksibel tetap diperlukan mengingat praktik ibadah saat bepergian bisa berbeda-beda. Sementara itu, Akiko Komura dari Universitas Rikkyo menekankan pentingnya melibatkan komunitas Muslim setempat untuk mengidentifikasi lokasi yang mudah diakses, seraya melihat isu ini sebagai peluang untuk memahami realitas umat Muslim di Jepang secara lebih luas.